Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangaaaan!
Deana sudah tidak tahan lagi. Dadanya terasa sesak oleh fitnah keji yang keluar dari mulut pembantu itu. Mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa, si kecil itu mendongak dan berteriak sekuat tenaga.
"BOHONGGG!"
Bentakan lantang dari suara cempreng anak kecil itu menggema di seluruh ruangan, membuat semua orang terperanjat kaget. Bahkan, Baby Elvano yang baru saja agak tenang langsung menangis histeris kembali karena terkejut. Lastri dengan sigap segera mengambil Baby Elvano dari ranjang dan berusaha menenangkannya dalam gendongan.
Mila sempat agak takut melihat ledakan emosi Deana. Namun, wanita licik itu dengan cepat menguasai diri. Ia berakting lagi dan memasang wajah syok yang dibuat-buat di depan Kayden.
"Tuan Besar, lihat sendiri, kan? Nona Muda Deana sekarang mulai nakal dan suka teriak-teriak tidak sopan!"
Sambil mati-matian menahan air matanya agar tak tumpah, Deana menunjuk Mila dengan tangan yang gemetar. Ia mulai berbicara dengan terbata-bata, mencoba membela dirinya sendiri dengan kejujuran.
"Dia... dia yang bohong! Tadi... tadi Dea cuma mau liat Baby El kalena nangis telus. Tapi Bi Mila dolong Dea sampai jatuh. Bibi Mila juga... juga bilang Dea anak sial dan anak halam! Dea ndak ngalang celita, Papa..." tutur Deana jujur. Napasnya kian memburu sambil menahan tangis yang sudah di ujung mata.
Mila langsung memotong dengan nada ketus, "Jangan mengarang cerita, Nona Muda! Tuan Besar, jangan percaya—"
Mila sangat yakin Kayden akan memihaknya seperti biasa. Namun tiba-tiba, tanpa aba-aba dan tanpa peringatan apa pun—
PLAKKK!
Satu tamparan keras yang menyakitkan mendarat telak di pipi Mila hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
Suasana seketika hening mencekam. Deana, Lastri, bahkan Mila sendiri langsung syok setengah mati. Mila memegangi pipinya yang terasa panas dan kebas, tubuhnya gemetaran hebat. Ini pertama kalinya sang Tuan Kejam turun tangan sendiri dan memukul pembantu di dalam rumah, bahkan dilakukan tepat di depan mata Deana.
Sebelum Deana ataupun Mila sempat mencerna apa yang baru saja terjadi, Davin, asisten pribadi Kayden itu melangkah maju ke depan. Pria berkacamata tersebut menunjukkan sebuah tablet canggih di tangannya.
"Tuan Besar sudah tahu semuanya. CCTV tersembunyi telah merekam seluruh kejadian di ruangan ini dari awal. Ucapan Nona Deana seratus persen benar, dan kau, Mila... kau telah berbohong," ucap Davin dengan nada datar tanpa ekspresi.
"C-CCTV?!" Mila kaget bukan main. Wajahnya seketika pucat pasi. Ia tahu betul kalau kamar bayi ini sengaja tidak dipasang kamera demi privasi, lalu sejak kapan ada CCTV? Ia selalu berada di kamar ini setiap hari dan tidak pernah melihat ada orang asing yang masuk untuk memasang kamera. "S-sejak kapan ada CCTV di sini?!"
Davin membetulkan letak kacamatanya. Ia melirik ke arah anak perempuan di sudut ruangan itu.
"Kamera tersembunyi telah ditanam di kacamata yang dipakai oleh Nona Kecil. Semua tersambung langsung ke gawai milik Tuan Besar."
"Ehh?"
Deana terkejut, mulut kecilnya sedikit terbuka. Ia meraba bingkai kacamata yang bertengger di hidung mungilnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau kacamata yang diberikan Davin beberapa waktu lalu ternyata sudah dirancang khusus dengan kamera mata-mata.
Kayden tidak memedulikan keterkejutan putrinya. Sorot mata elangnya yang mematikan kini terkunci rapat pada Mila yang masih bersimpuh di lantai.
"Tangan mana yang barusan kau gunakan ketika mendorong dia?" tanya Kayden dengan suara berat yang teramat dingin. Ia tidak menyebut nama Deana, melainkan hanya menyebutnya dengan kata 'dia'.
Mila terguncang hebat. Mendengar pertanyaan itu, naluri bertahan hidupnya langsung bergejolak naik. Dengan panik, ia segera menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung, menggelengkan kepala dengan histeris.
"JAWAB!" bentak Kayden menggelegar.
BRUK!
Mila langsung jatuh bersimpuh dengan dahi yang menyentuh lantai. Kali ini dia menangis sungguhan karena ketakutan yang luar biasa. "Maaf, Tuan Besar! Maafkan saya! Saya khilaf! Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" ratap Mila sejadi-jadinya.
Sebagai pekerja di kediaman Gilbert, Mila tahu betul aturan main sang Iblis Black Valley. Konsekuensi dan risiko bagi siapa pun yang berani berbohong adalah kehilangan jemari alias potong jari.
Namun, Kayden Gilbert tidak pernah memiliki rasa belas kasih di dalam kamus hidupnya. Sekali seseorang membuat kesalahan, maka tidak akan ada kesempatan kedua. Ucapannya adalah titah yang mutlak.
Kayden mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat ke luar pintu. "Algojo, bawa wanita ini ke—"
Namun, belum sempat Kayden menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan kecil tiba-tiba berlari cepat ke depan Mila. Deana langsung berdiri tegak sambil merentangkan kedua tangan kecilnya di depan tubuh Mila yang sedang gemetar, bertindak sebagai tameng pelindung bagi pembantu itu yang baru saja menyakitinya.
"JANGAAAAAN!" teriak Deana dengan mata bulatnya yang kini menatap lurus ke arah sang ayah.
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁