NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Gadis dengan kaus putih oversize yang jatuh longgar hingga menutupi sebagian pahanya, dipadukan dengan hotpants hitam yang nyaris tak terlihat, masih terbaring di atas tempat tidur. Selimut tipis hanya menutupi setengah tubuhnya, sementara sisanya dibiarkan terbuka, seolah ia terlalu lelah untuk sekadar merapikan diri.

Kamar itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Hanya suara detak jam dan napas pelan yang keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka.

Matanya sembab.

Bukan karena kurang tidur.

Melainkan karena terlalu lama menangis.

Jejak air mata yang mengering masih terasa perih di sudut matanya. Pipinya pun terasa berat, seolah menyimpan sisa-sisa emosi yang belum sepenuhnya hilang.

Nayla melenguh pelan.

Kelopak matanya bergerak, lalu perlahan terbuka.

Cahaya senja yang masuk dari jendela menyambutnya dengan hangat yang justru terasa dingin.

Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan kenyataan yang kembali ia hadapi.

Kenyataan yang tidak pernah berubah.

Perlahan, ia bangkit dari posisinya, duduk di atas tempat tidur. Rambutnya yang berantakan jatuh menutupi sebagian wajahnya.

Pandangan pertama yang ia cari adalah jam weker di atas nakas.

Pukul lima lewat tiga puluh.

Sore sudah hampir habis.

Dan itu berarti malam akan segera datang.

Nayla terdiam beberapa detik, menatap angka-angka digital itu dengan kosong.

Seolah waktu bukan lagi sesuatu yang berarti.

Seolah ia hanya menunggu sesuatu yang tidak pernah ia inginkan.

Tangannya bergerak perlahan.

Bukan untuk meraih sesuatu.

Melainkan untuk menyentuh lengannya sendiri.

Kulitnya memerah.

Beberapa bagian bahkan tampak sedikit lebam.

Ada bekas goresan halus yang mulai mengering.

Dan di sana sakitnya masih terasa.

Kejadian beberapa jam yang lalu kembali berputar di kepalanya.

Seperti rekaman yang dipaksa untuk terus diputar ulang.

Endra.

Wajahnya.

Suaranya.

Tangannya.

Cara ia mencengkram.

Cara ia membentak.

Cara ia menyakitinya.

Dan—

Cara ia mengobatinya setelah itu.

Kontradiksi yang tidak pernah bisa Nayla pahami.

Bagaimana seseorang bisa menjadi luka sekaligus penawar dalam waktu yang sama?

Nayla menarik napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang kembali naik ke dadanya.

Namun tetap saja matanya kembali terasa panas.

“Kenapa…” bisiknya pelan.

Tidak jelas ia bertanya pada siapa.

Mungkin pada dirinya sendiri.

Atau mungkin pada takdir yang terasa terlalu kejam.

Seperti biasa, Endra pasti sudah pulang saat Nayla terlelap.

Ia selalu seperti itu.

Datang dengan amarah.

Pergi dengan penyesalan.

Dan menghindari pertemuan dengan ayah Nayla.

Seolah ia tahu bahwa keberadaannya di rumah ini bukan sesuatu yang diinginkan.

Nayla menurunkan kakinya dari tempat tidur.

Lantai terasa dingin saat telapak kakinya menyentuh permukaan marmer.

Ia berdiri perlahan.

Tubuhnya masih terasa lelah.

Bukan hanya secara fisik.

Tapi juga mental.

Hazel, mata itu terlihat kosong saat ia berjalan menuju kamar mandi.

Langkahnya pelan.

Tidak tergesa.

Seolah tidak ada yang benar-benar ia kejar.

Di dalam kamar mandi, air mengalir.

Hangat.

Menenangkan.

Namun tidak cukup untuk menghapus rasa sakit yang tertinggal.

Beberapa menit kemudian Nayla berdiri di depan cermin rias.

Mengenakan bathrobe biru.

Rambutnya dibungkus handuk putih yang melilit rapi di atas kepalanya.

Ia menatap pantulannya.

Lama.

Sangat lama.

Wajah itu.

Wajah yang selalu dipuji.

Kulit yang mulus.

Fitur yang simetris.

Mata hazel yang indah.

Bibir yang sempurna.

Tidak ada yang kurang.

Semuanya terlihat sempurna.

Namun kenapa rasanya kosong?

Dia Nayla.

Tapi yang merasakan semua ini adalah Azalea.

Kesadaran lain yang terjebak di dalam dirinya.

Azalea menatap cermin itu melalui mata Nayla.

Dan untuk kesekian kalinya, ia merasa bingung.

Apa yang kurang dari diri Nayla?

Semua yang diinginkan orang lain ada padanya.

Kecantikan.

Kekayaan.

Keluarga.

Status.

Segalanya.

Sementara Azalea…

Jika dibandingkan, ia hanyalah seseorang yang biasa saja.

Tidak istimewa.

Tidak menonjol.

Seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar terlihat.

Namun kenapa orang-orang tetap membenci Nayla?

Kenapa hidupnya justru terasa jauh lebih menyakitkan?

Tangan Nayla bergerak membuka laci.

Ia mengambil hair dryer.

Menyalakannya.

Suara mesin itu memenuhi ruangan.

Rambutnya perlahan dikeringkan.

Setiap helai ditata dengan hati-hati.

Seperti kebiasaan.

Seperti rutinitas yang tidak boleh berubah.

Setelah selesai, ia berjalan menuju walk-in closet.

Ruangan itu luas.

Dipenuhi berbagai pakaian mahal yang tertata rapi.

Berwarna-warni.

Elegan.

Sempurna.

Namun tidak ada satu pun yang terasa benar-benar miliknya.

Nayla memilih sebuah jumpsuit panjang berwarna ungu.

Warna itu cocok dengan kulitnya.

Menonjolkan keindahan yang sudah ada.

Namun alasan utama ia memilihnya adalah untuk menutupi.

Menutupi luka.

Di lengan.

Di kaki.

Di tubuhnya.

Luka yang tidak hanya berasal dari Endra.

Tapi juga dari masa lalu yang lebih lama.

Ia mengenakan pakaian itu dengan perlahan.

Menatap dirinya sekali lagi di cermin.

Sempurna.

Seperti biasa.

Tanpa cela.

Tanpa luka.

Setidaknya di luar.

---

Tok.

Tok.

“Nona Nayla, makan malam sudah siap.”

Suara pelayan terdengar dari luar.

Nayla tidak menjawab.

Namun beberapa detik kemudian, ia membuka pintu dan keluar.

Langkahnya tenang.

Terukur.

Seperti seseorang yang tahu bagaimana harus bersikap.

Ia menuruni tangga besar yang melingkar.

Satu per satu.

Pandangan lurus ke depan.

Dan saat ia sampai di anak tangga terakhir matanya tertuju pada meja makan.

Sudah ada beberapa orang di sana.

Keluarganya.

Lengkap.

Namun tidak ada kehangatan.

Tidak ada percakapan ringan.

Tidak ada tawa.

Yang ada hanya keheningan.

Dingin.

Menekan.

Seperti perang tanpa suara yang sudah berlangsung lama.

Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.

Ayahnya membaca sesuatu di tablet.

Ibunya duduk dengan elegan, sesekali menyesap minuman.

Kedua kakaknya diam.

Tidak ada yang benar-benar saling berinteraksi.

Kecuali jika ada orang luar.

Di depan publik mereka adalah keluarga sempurna.

Harmonis.

Hangat.

Menjadi panutan.

Namun di balik itu semuanya hanya formalitas.

Sandiwara.

Nayla menarik kursi.

Suara gesekannya cukup nyaring.

Sedikit mengganggu keheningan.

Ia duduk di samping kakak pertamanya.

Tidak ada yang menyapanya.

Tidak ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja.

Seolah kehadirannya hanyalah bagian dari rutinitas.

Seperti benda.

Yang harus ada.

Namun tidak benar-benar dianggap.

Ia baru saja mengambil makanan.

Sendok belum sempat menyentuh mulutnya—

“Berapa nilai ulangan harian kamu hari ini?”

Suara itu.

Datar.

Tegas.

Tidak perlu melihat pun, Nayla tahu itu suara ayahnya.

Bagus Raharja.

Nayla memejamkan mata sejenak.

Selalu seperti ini.

Tidak pernah berubah.

Ia bahkan belum makan.

Belum satu suap pun.

“Maaf, Pa… Nayla tadi tidak ikut ulangan,” jawabnya pelan.

Hening.

Beberapa detik.

Lalu—

“Kamu semakin lama semakin tidak tahu diri, Nayla.”

Kalimat itu jatuh seperti beban.

Berat.

Menusuk.

Nayla menunduk.

Tangannya menggenggam sendok lebih erat.

Ia tidak membantah.

Tidak pernah.

Karena ia tahu setiap kali ia mencoba melawan pada akhirnya selalu sama.

Rumah sakit.

Luka.

Dan rasa sakit yang lebih dalam.

Kedua kakaknya diam.

Padahal mereka tahu.

Mereka tahu Nayla pingsan pagi tadi.

Mereka tahu ia tidak sarapan.

Karena ayah mereka melarangnya makan. Sebagai hukuman, hanya karena nilai tugasnya tidak sempurna.

Tidak buruk.

Hanya tidak sempurna.

Namun itu sudah cukup.

Bagi Bagus Raharja, kesempurnaan bukan pilihan.Melainkan kewajiban.Dan Nayla adalah objek dari ambisi itu.

Aneh.

Karena aturan itu hanya berlaku untuk Nayla. Bukan untuk kedua kakaknya.Mereka bebas,  mereka tidak dituntut seperti dirinya.

Hanya Nayla.

Selalu Nayla.

“Ke ruang kerja saya setelah ini.”

Kalimat itu singkat.

Namun artinya jelas.

Nayla menegang.

Ia tahu apa artinya.

Ia tahu apa yang menunggunya.

Namun, ia hanya mengangguk.

“Baik, Pa.”

Dan seperti biasa, ia tetap makan.

Meski rasanya hilang.

Meski perutnya terasa sakit.

Meski hatinya sudah terlalu penuh.

Azalea yang berada di dalam dirinya, hanya bisa merasakan semuanya.Dan untuk kesekian kalinya, ia sadar.

Bahwa menjadi Nayla Arabella…

Adalah tentang bertahan.

Di dunia yang terlihat sempurna.

Namun sebenarnya perlahan menghancurkan.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!