Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Satu Atap, Satu Kamar
Suara pintu ruang kerja di lantai dua yang tertutup rapat menyisakan keheningan tebal di ruang tengah. Arumi kembali duduk di sofa beludru, memangku si Oyen yang mulai mendengkur halus akibat elusan ritmis di kepalanya.
Di dekatnya, Bi Sumi tampak sibuk merapikan cangkir teh dengan gerakan super hati-hati, seolah suara dentingan porselen sekecil apa pun bisa mengganggu pembicaraan rahasia di atas sana.
"Nyonya Arumi," bisik Bi Sumi pelan, matanya melirik ke arah tangga. "Tuan Muda Renard itu... sebenarnya sangat menyayangi Nyonya Besar Sofia. Sejak Nyonya Besar sakit dan harus berobat ke luar negeri, Tuan Muda bekerja dua kali lebih keras agar posisi Nyonya Besar di keluarga Wijaya tidak digoyang oleh kerabat yang lain. Beliau hanya tidak pandai menunjukkan perasaannya."
Arumi mengangguk paham. "Saya tahu, Bi. Tuan Renard memang lebih suka terlihat seperti monster pelit daripada mengakui kalau dia punya hati."
Hampir tiga puluh menit berlalu sebelum terdengar suara pintu ruang kerja kembali terbuka. Arumi menegakkan punggungnya saat melihat Mama Sofia berjalan turun dengan anggun, diikuti Renard di belakangnya. Ekspresi wajah Renard tampak luar biasa kaku—bahkan lebih kaku dari biasanya—sementara kedua daun telinganya masih menyisakan semburat merah padam yang kontras dengan warna kulitnya.
"Arumi, Sayang," sapa Mama Sofia dengan senyuman lebar begitu tiba di lantai bawah. Beliau langsung duduk di samping Arumi dan mengambil alih si Oyen ke pelukannya. "Mama sudah memutuskan. Mulai malam ini, Mama akan membatalkan reservasi hotel dan menginap di sini selama dua minggu ke depan."
Uhuk!
Arumi hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Matanya melebar sempurna menatap sang ibu mertua, lalu beralih menatap Renard dengan pandangan panik yang menuntut penjelasan.
Dua minggu? Tinggal bersama di bawah satu atap dengan ibu kandung Renard berarti setiap jengkal aktivitas mereka akan diawasi. Dan yang paling mengerikan adalah fakta bahwa selama ini mereka tidur di kamar terpisah jauh!
"Mama, bukankah sudah kukatakan tadi?" Renard mencoba menyela, suaranya terdengar berat dan penuh tekanan yang ditahan. "Fasilitas di hotel jauh lebih lengkap untuk mendukung masa pemulihan kesehatan Mama. Di rumah ini terlalu sunyi, dan aku serta Arumi sangat sibuk dengan urusan masing-masing. Mama bisa bosan."
Mama Sofia mendengus pelan, menatap putranya dengan pandangan mencemooh. "Bosan katamu? Di sini ada menantuku yang cantik dan kucing kecil yang menggemaskan ini. Justru di hotel Mama kesepian seperti di dalam penjara." Beliau lalu menoleh ke arah Arumi, menggenggam tangannya hangat. "Lagipula, Mama ingin melihat bagaimana anak kaku ini memperlakukan istrinya. Kamu tidak keberatan kan, Arumi?"
Di bawah tatapan mata Mama Sofia yang begitu tulus dan penuh harapan, Arumi tidak punya kekuatan untuk berbohong atau menolak. Ia melirik Renard sejenak, melihat bagaimana pria perkasa itu kini tampak mati kutu dan pasrah di sudut ruangan.
"T-tentu saja tidak keberatan, Mama. Rumah ini justru akan jauh lebih hidup kalau ada Mama di sini," jawab Arumi dengan senyuman yang dipaksakan sealami mungkin, meski di dalam hatinya badai kepanikan sedang mengamuk hebat.
Malam harinya, setelah jamuan makan malam yang dipenuhi dengan cerita masa kecil Renard yang memalukan—yang sengaja dibongkar Mama Sofia hingga membuat wajah sang CEO merah sempurna sepanjang malam—situasi kritis yang sebenarnya akhirnya tiba.
Mama Sofia sudah berpamitan untuk istirahat di kamar tamu VIP lantai satu. Kini, tersisa Renard dan Arumi yang berdiri mematung di koridor lantai dua, tepat di persimpangan lorong yang memisahkan kamar mereka berdua.
"Jadi..." Arumi memecah kesunyian, menatap suaminya dengan canggung. "Bagaimana dengan aturan nomor satu di kontrak kita, Tuan Muda yang terhormat? 'Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin, dan jangan berharap aku akan mengunjungi kamarmu'."
Renard memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Ia melepaskan jam tangan peraknya dengan gerakan frustrasi, lalu menatap Arumi dengan sepasang mata elangnya yang kini tampak kelelahan.
"Aturan itu ditangguhkan untuk sementara waktu, Arumi," desis Renard dengan suara rendah, memastikan suaranya tidak menggema hingga ke lantai bawah. "Ibuku bukan orang bodoh. Kalau dia sampai melihat kita keluar dari kamar yang berbeda besok pagi, dia akan langsung tahu bahwa pernikahan ini murni transaksi bisnis. Stres akibat kebohongan ini bisa memperburuk kondisi jantungnya, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Arumi melipat kedua tangannya di depan dada. "Lalu solusinya?"
Renard mengembuskan napas kasar, memalingkan wajahnya egois ke arah jendela untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang sudah berada di ubun-ubun.
"Mulai malam ini... kamu pindah ke kamarku," perintah Renard kaku, suaranya terdengar sangat terpaksa. "Asistenku sudah memindahkan beberapa pakaianmu ke dalam ruang ganti kamarku saat makan malam tadi. Tapi ingat satu hal!" Renard kembali menunjuk Arumi dengan tatapan mengancam yang tidak lagi menakutkan. "Aku tidur di ranjang, dan kamu tidur di sofa panjang dekat jendela. Jangan pernah bermimpi untuk melewati batas area itu!"
Arumi menahan senyum kuat-kuat melihat bagaimana sang miliarder berdarah dingin ini harus mengorbankan ruang pribadinya demi menjaga rahasia mereka di depan sang ibu.
"Baiklah, Tuan Renard. Saya akan menghormati wilayah kekuasaan Anda," jawab Arumi santai, berjalan mendahului Renard menuju pintu ganda kamar utama.
Malam itu, di dalam kamar megah bernuansa monokrom milik Renard Wijaya, dua orang asing yang terikat kertas bermeterai itu akhirnya terpaksa berbagi ruang yang sama. Di bawah kegelapan malam, dengan jarak yang hanya terpisah beberapa meter antara ranjang mewah dan sofa beludru, sandiwara yang mereka bangun perlahan mulai mengaburkan batasan antara apa yang tertulis di atas kontrak, dan apa yang mulai tumbuh di dalam hati.