"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
"Heh, Kopral! Yang semangat dong merangkaknya! Itu yang di depan udah mau sampai garis finish, masa kamu mau kalah sama lumpur?!"
Suara cempreng nan merdu itu menggema di pinggir lapangan halang rintang pangkalan militer. Calla berdiri di bawah pohon ketapang yang rindang, mengenakan blus satin berwarna broken white yang dipadukan dengan celana kulot panjang berwarna sage. Rambutnya kini diikat tinggi model ponytail alias kucir kuda, bergoyang-goyang lincah setiap kali ia melompat kecil memberi semangat. Dengan riasan tipis dan lipstik peach pink yang ceria, penampilannya siang itu benar-benar mencerahkan pangkalan militer yang biasanya gersang dan penuh ketegangan.
Belasan prajurit muda yang sedang latihan fisik mendadak kehilangan fokus. Beberapa di antaranya bahkan hampir tersandung ban bekas karena mata mereka terus melirik ke arah teras lapangan, tempat di mana "Ibu Komandan" baru mereka sedang cengengesan sambil melambaikan tangan dengan heboh.
"Siap, terima kasih semangatnya, Ibu Komandan!" seru salah satu sersan dua dari dalam kubangan lumpur, refleks membusungkan dada mencoba tampil gagah di depan wanita tercantik yang pernah menginjakkan kaki di markas mereka.
"Wah, pinter! Ayo, Mas Sersan, nanti kalau menang aku doain dapet pacar yang cantik!" sahut Calla lagi, tertawa renyah sambil melambaikan kedua tangannya di udara.
Ehem.
Sebuah dehaman berat, dingin, dan bervolume besar mendadak memotong keriuhan itu dari arah belakang. Seluruh prajurit di lapangan seketika membeku. Sersan yang tadi membalas ucapan Calla langsung mengambil posisi siap di dalam lumpur dengan wajah pucat pasi.
Alaric Vance berdiri di sana. Seragam dinas harian (PDH) miliknya tampak sangat rapi, namun aura di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat gelap dan mencekam. Mata elangnya menatap tajam ke arah lapangan, sebelum akhirnya beralih pada istri kecilnya yang masih memegang raket nyamuk listrik di tangan kirinya—benda wajib yang ternyata diam-diam diselundupkan Calla dari rumah dinas.
"Kembali fokus pada latihan! Sersan Dua taufik, tambah porsi merangkak sepuluh putaran lagi!" perintah Alaric, suaranya menggelegar tegas tanpa bantahan.
"Siap, laksanakan, Komandan!" seru sersan malang itu, langsung kembali menenggelamkan diri ke dalam lumpur.
Alaric menghela napas panjang, lalu melangkah lebar menghampiri Calla. Ia langsung berdiri tepat di depan gadis itu, menghalangi seluruh pandangan prajurit dari sosok istrinya yang terlalu menyorot siang ini.
"Calla, apa yang saya katakan sebelum kita berangkat dari rumah Papa tadi?" tanya Alaric, menekan suaranya serendah mungkin, menahan rasa panas yang aneh di dalam dadanya.
"Uhmm... apa ya? Katanya pangkalan panas?" Calla mengerjapkan matanya polos, mendongak menatap rahang tegas Alaric yang mengeras.
"Saya menyuruhmu menunggu di dalam rumah dinas, bukan menjadi pemandu sorak di pinggir lapangan latihan," ujar Alaric kaku, matanya melirik kucir kuda Calla yang bergoyang, membuat kegemasannya sendiri hampir jebol. "Kamu mengganggu konsentrasi prajurit saya."
Calla cemberut, memundurkan langkahnya satu tapak lalu menyandarkan tubuhnya ke batang pohon ketapang. Mode cegil-nya langsung aktif saat melihat guratan cemburu yang sangat jelas di wajah sang suami. "Ih, Paksu bilang aja cemburu, kan? Takut Ismut kepincut sama brondong-brondong tentara yang perutnya kotak-kotak itu, ya?"
Alaric menegang, telinganya langsung merona merah padam dalam sekejap. "Jangan bicara sembarangan, Callanta. Saya tidak cemburu. Ini masalah kedisiplinan pangkalan."
"Halah, bohong banget! Tuh, kuping Paksu langsung mateng kayak udang rebus!" Calla tertawa cekikikan, melangkah maju lagi hingga tubuh mungilnya hampir menempel pada dada bidang Alaric. Ia menusuk-nusuk dada suaminya dengan ujung jari telunjuknya. "Lagian ya, Paksu nggak usah khawatir. Mau sebanyak apa pun tentara muda di sini, selera Ismut tetep satu kok."
Alaric menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang kembali berantakan akibat jarak mereka yang terlalu dekat. "Apa seleramu?"
"Selera Ismut itu om-om kaku berusia tiga puluh delapan tahun yang hobinya lari maraton tengah malam cuma buat nahan nafsu!" bisik Calla frontal, tepat di depan wajah Alaric sambil memberikan kerlingan mata yang sangat genit.
Alaric langsung tersedak udaranya sendiri. Ia buru-buru mundur satu langkah, menatap sekeliling dengan panik, takut ada anak buahnya yang mendengar ucapan ajaib istrinya. "Calla! Jaga bicaramu, ini di tempat terbuka."
"Biarin! Habisnya Paksu dari tadi mukanya ditekuk terus kayak kertas gorengan. Kan Ismut cuma mau kasih semangat biar tentaranya nggak lemes," gerutu Calla, kembali mengerucutkan bibirnya yang ranum dengan lipstik peach yang segar.
Alaric memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Membawa Calla ke pangkalan benar-benar keputusan paling menantang dalam karier militernya. Ia melihat ke arah rumah dinas mereka yang terletak sekitar lima puluh meter dari lapangan.
"Ikut saya sekarang. Rapat saya sudah selesai, dan kita harus memindahkan koper-kopermu ke dalam rumah," ujar Alaric, kali ini nadanya terdengar sedikit memohon agar Calla tidak membuat huru-hara lebih lanjut.
"Oke! Tapi ada syaratnya!" Calla mengangkat raket nyamuknya tinggi-tinggi.
"Syarat apa lagi, Ismut?" Alaric menyerah, akhirnya memanggil nama julukan itu karena terdesak situasi.
"Gendong! Kaki Ismut pegel banget gara-gara tadi berdiri nyemangatin pasukan Paksu," pinta Calla tanpa tahu malu, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah Alaric.
Alaric membelalakkan matanya. "Gendong? Di tengah pangkalan siang bolong begini? Tidak boleh. Jalan sendiri, Calla."
"Oh, nggak mau? Ya udah, Calla panggil Mas Sersan yang di lumpur tadi aja buat gendong—"
"Callanta!" potong Alaric cepat dengan suara baritonnya yang meninggi.
Melihat mata elang Alaric yang berkilat panik sekaligus posesif, Calla justru tertawa puas. Sebelum suaminya benar-benar mengamuk, Calla langsung menyelinap, menyusupkan tangan kanan mudanya ke dalam sela-sela jari tangan kekar Alaric, menggandengnya dengan sangat erat dan posesif.
"Bercanda, Paksu sayang! Ayo pulang, Ismut udah laper lagi mau makan siang bareng Paksu kaku," ucap Calla riang, menarik tangan Alaric untuk berjalan berdampingan menuju rumah dinas.
Alaric hanya bisa menghela napas pasrah, membiarkan jemari kecil Calla bertautan erat dengan tangannya yang kapalan. Sambil melangkah tegap, Alaric diam-diam melirik ke samping, menatap profil wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum ceria di bawah terik matahari pangkalan. Pria berusia 38 tahun itu sadar, meski pangkalan ini miliknya, mulai hari ini, dialah yang sepenuhnya berada di bawah komando sang Ismut.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨