Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Malam yang semakin larut tidak membawa ketenangan ke dalam rumah keluarga Pradipta. Begitu pintu depan tertutup rapat, mengunci mereka dari dinginnya udara luar, ketegangan yang sejak tadi ditahan di kediaman Maheswara pecah seketika di ruang tengah.
Alyssa melangkah maju, berbalik menghadap kedua orang tuanya dengan napas yang memburu. Tangannya bergerak cepat merogoh tas selempangnya, mengeluarkan map hitam yang sempat ia bawa kembali, lalu menghempaskannya ke atas meja kaca dengan bunyi hantaman yang cukup keras.
"Aku tidak bisa, Ayah. Aku menolak pernikahan ini!" ujar Alyssa, suaranya naik satu oktav, memecah kesunyian rumah. Sifatnya yang berani dan berprinsip kokoh bergolak hebat di dalam dada. "Aku tahu kita sedang kesulitan, tapi pernikahan bukan alat transaksi bisnis! Aku tidak akan menyerahkan sisa hidupku untuk menjadi pion kontrak di tangan pria kejam seperti Alvaro Maheswara!"
Bianca yang sejak tadi menahan sesak, langsung melangkah maju dan merangkul pundak Alyssa erat-erat. "Ibu mendukungmu, Alyssa. Ibu berdiri di pihakmu," ucap Bianca dengan sisa-sisa air mata yang kembali mengalir. Ia menatap suaminya dengan pandangan menuntut. "Adrian, batalkan semuanya besok pagi. Aku lebih baik hidup di rumah kontrakan kecil dan makan seadanya daripada harus melihat putri sulungku digadaikan kepada keluarga monster itu!"
Di ambang tangga, Keira yang sejak tadi menunggu dengan cemas, berlari turun dan langsung menggenggam tangan Alyssa, mempertegas posisinya sebagai nomor satu yang tidak akan membiarkan kakaknya berjuang sendirian.
Namun, di tengah gelombang penolakan itu, Adrian Pradipta hanya berdiri mematung. Pria paruh baya itu tidak membantah, tidak juga marah. Sisi tegas seorang kepala keluarga yang selama ini selalu menjadi pelindung bagi mereka, kini lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang amat sangat.
"Batalkan...?" Adrian mengulang kata itu dengan suara yang teramat lirih, hampir seperti bisikan angin.
Perlahan, Adrian berjalan gontai menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia menopang kedua siku di atas lutut, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya yang kasar. Bahunya yang biasa tegak, kini bergetar hebat.
Hiks.
Sebuah suara tangisan tertahan lolos dari sela-sela jari Adrian.
Alyssa tertegun. Kalimat penolakan yang sudah tersusun rapi di ujung lidahnya mendadak terkunci rapat. Untuk pertama kalinya seumur hidup, Alyssa melihat ayahnya yang selama ini menjadi pilar terkuat di dalam hidupnya, pria yang tidak pernah mengeluh sekecil apa pun menangis di hadapannya.
"Ayah tidak sedang berbicara sebagai pengusaha yang serakah, Alyssa..." ucap Adrian di sela-sela isak tangisnya yang kian pecah. Ia mendongak, memperlihatkan mata yang merah total dan wajah yang basah oleh air mata keputusasaan. "Ayah berbicara sebagai seorang pria yang gagal. Pria yang sebentar lagi akan melihat istri dan anak-anaknya diusir ke jalanan. Pria yang akan diseret ke penjara karena utang puluhan miliar yang sengaja dililitkan oleh musuh-musuh kita."
Adrian menatap Alyssa dengan pandangan yang sarat akan kehancuran harga diri. "Telepon misterius tadi siang... orang itu mengancam akan menghabisi kita jika Ayah tidak memberikan data Maheswara. Dan Alvaro... Alvaro tadi sudah mencurigai kita. Jika kita mundur dari pernikahan ini sekarang, Maheswara akan menganggap kita bermain-main, dan si penelepon misterius itu akan menghancurkan sisa hidup kita tanpa sisa."
"Kita tidak punya pilihan lain, Alyssa... Ayah mohon..." Adrian menjatuhkan dirinya bersimpuh di lantai di depan sofa, menangis sejadi-jadinya, meratapi ketidakberdayaannya yang sudah berada di ujung tanduk.
Melihat pemandangan memilukan itu, pertahanan ego Alyssa runtuh seketika. Kemarahan dan penolakannya yang berapi-api beberapa menit lalu mendadak padam, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa mencengkeram dadanya.
Hati Alyssa yang sekokoh karang mulai goyah.
Ia memandangi ayahnya yang bersimpuh, ibunya yang ikut menangis histeris, dan Keira yang mencengkeram tangannya dengan gemetar. Di dalam kepalanya, kilasan wajah dingin dan angkuh Alvaro Maheswara kembali terbayang, mengingatkannya pada sangkar emas yang menakutkan yang sudah siap mengurungnya besok pagi.
Namun, melihat kehancuran total keluarganya yang sudah terpampang nyata di depan mata, Alyssa tahu bahwa harga dirinya kini harus mengalah pada keadaan. Pengorbanan ini bukan lagi tentang transaksi bisnis, melainkan tentang tameng terakhir untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang paling dicintainya.
...****************...
Alyssa melangkah perlahan mendekati tubuh ringkih ayahnya yang masih bersimpuh di atas lantai. Setiap langkahnya terasa begitu berat, seolah ia sedang berjalan di atas pecahan kaca yang menusuk nadinya. Namun, kilat keraguan di matanya perlahan memudar, digantikan oleh ketegangan baru yang jauh lebih dingin dan terukur.
Ia berlutut di hadapan Adrian, lalu meraih kedua tangan ayahnya yang terasa dingin dan kasar. "Ayah... berdirilah. Tolong jangan seperti ini," bisik Alyssa. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh amarah, melainkan datar dan tenang, sebuah ketenangan yang lahir dari keputusan mutlak yang baru saja diambilnya.
Adrian mendongak dengan mata yang sembap, menatap putri sulungnya dengan tatapan penuh rasa bersalah yang amat dalam. "Alyssa... Maafkan Ayah... Maafkan Ayah..."
"Hapus air mata Ayah," potong Alyssa lembut namun tegas. Ia menyeka sisa air mata di pipi ayahnya dengan jemarinya. "Aku tidak akan membiarkan Ayah masuk penjara. Dan aku tidak akan membiarkan rumah ini disita."
Bianca yang melihat hal itu langsung menggelengkan kepala histeris, mencoba menarik tubuh Alyssa menjauh dari Adrian. "Tidak, Alyssa! Jangan katakan itu! Ibu tidak akan membiarkanmu menyerahkan dirimu pada Alvaro! Kita bisa lari, kita bisa cari bantuan hukum—"
"Bantuan hukum tidak akan mempan melawan gurita utang terstruktur dan kekuasaan Maheswara, Ibu," sela Alyssa, berdiri tegak lalu berbalik menatap ibunya dengan sorot mata yang tak tergoyahkan. Kecerdasannya kini bekerja seratus persen, memetakan realita pahit tanpa penolakan emosional lagi. "Jika kita lari, si penelepon misterius itu akan memburu kita, dan Maheswara akan memastikan kita membusuk di pengasingan. Melarikan diri bukanlah sebuah strategi. Itu adalah bunuh diri konyol."
Keira yang menggenggam erat tangan Alyssa sejak tadi, bisa merasakan ketegasan kakaknya. Sebagai nomor satu, Keira tahu bahwa ketika Alyssa sudah berbicara dengan nada sedingin ini, artinya sang kakak telah mengubur ego pribadinya demi keselamatan mereka semua.
"Kak..." cicit Keira dengan mata berkaca-kaca.
"Keira, ambilkan air minum untuk Ayah dan Ibu," perintah Alyssa pelan. Keira mengangguk patuh lalu segera bergegas menuju dapur.
Alyssa menarik napas dalam-dalam, merasakan pasokan oksigen yang terasa membakar dadanya. Ia meraba saku gaunnya, memastikan ponsel milik ayahnya yang berisi bukti spionase bisnis gagal tadi masih tersimpan aman di sana.
"Pernikahan ini tidak akan menjadi akhir bagiku," ucap Alyssa, lebih kepada dirinya sendiri untuk mempertebal dinding pertahanan di hatinya. Sifat beraninya yang menolak untuk ditindas kembali berkobar di balik dadanya. "Alvaro Regantara Maheswara mungkin mengira dia memenangkan kontrak ini dan mendapatkan boneka penurut untuk mengamankan posisinya. Tapi dia salah besar."
Alyssa menatap map hitam di atas meja kaca yang kini terlihat seperti undangan resmi menuju medan pertempuran. "Jika aku harus masuk ke dalam sangkar emas itu, maka aku akan memastikan bahwa akulah yang memegang kunci kendalinya. Aku akan memanfaatkan kekuasaan Maheswara untuk memulihkan perusahaan Ayah, sekaligus mencari tahu siapa bajingan di balik telepon misterius yang mencoba menghancurkan keluarga kita."
Adrian perlahan bangkit dibantu oleh Bianca, menatap Alyssa dengan rasa takjub sekaligus ngeri melihat bagaimana putrinya yang baru berusia 23 tahun itu mendadak menjelma menjadi sosok wanita tangguh yang siap menantang badai.
"Besok jam sepuluh pagi, Alvaro akan datang menjemputku," ujar Alyssa sambil menatap jam dinding yang kini hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Waktu terus bergulir tanpa ampun, merayap pasti menuju penandatanganan takdirnya. "Aku akan menemuinya. Dan aku akan memastikan, tidak akan ada satu pun dari keluarga Maheswara yang bisa merendahkan harga diri keluarga Pradipta."
Malam itu, di dalam ruang tengah yang masih menyisakan sisa-sisa badai air mata, Alyssa Carissa Pradipta resmi menutup lembaran masa lalunya yang damai. Penolakan pertamanya telah patah oleh air mata sang ayah, namun dari patahan itu, lahir seorang Alyssa yang baru wanita bermental baja yang siap melangkah masuk ke sarang predator berbahaya besok pagi.
...****************...
Sisa malam itu dilewati Alyssa dalam keheningan yang membekukan. Setelah berhasil menenangkan Bianca dan memastikan ayahnya beristirahat, ia kembali ke kamarnya. Namun, alih-alih merebahkan tubuh di atas ranjang, Alyssa duduk di depan meja belajarnya, menatap ponsel milik Adrian yang kini tergeletak di hadapannya.
Bagaimana hasilnya?
Pesan dari nomor tidak dikenal itu masih terpampang di layar. Jemari Alyssa bergerak lincah di atas papan ketik virtual, mengetik balasan dengan sangat taktis tanpa memicu kecurigaan.
Gagal. Alvaro muncul tiba-tiba di koridor pribadi. Hampir saja kami tertangkap. Jangan hubungi nomor ini lagi sebelum situasi aman, ketik Alyssa, lalu menekan tombol kirim.
Ia tidak menunggu balasan. Detik berikutnya, Alyssa langsung menghapus pesan tersebut beserta riwayat panggilan misterius yang diterima ayahnya sejak pagi tadi. Setelah memastikan tidak ada jejak digital yang tersisa di ponsel Adrian, Alyssa beralih ke laptopnya sendiri.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul empat pagi, mata Alyssa tetap terjaga. Sifatnya yang cerdas dan jeli membimbingnya untuk menyisir kembali seluruh artikel berita finansial terkait dinamika internal Grup Maheswara. Ia mencatat nama-nama penting: Mahendra Maheswara, sang pendiri yang ambisius; Helena Maheswara, sang ibu yang misterius namun berpengaruh; dan satu nama yang membuat dahi Alyssa mengernyit dalam Arsen Maheswara.
Arsen Maheswara, adik sepupu Alvaro sekaligus calon pewaris cadangan, baca Alyssa dalam hati. Informasi dari internet menyebutkan bahwa Arsen kerap tersenyum ramah di depan media, sangat kontras dengan Alvaro yang dingin. Namun, insting bisnis Alyssa berbisik bahwa senyuman ramah di dunia korporasi sering kali menjadi topeng bagi belati yang paling tajam.
Apakah Arsen yang berada di balik telepon misterius itu? Atau ada orang lain? Alyssa menutup laptopnya dengan hentakan pelan saat semburat fajar mulai mengintip dari balik gorden kamarnya.
Pagi pun tiba dengan begitu cepat, merengguk sisa waktu kebebasan yang dimiliki Alyssa.
Tepat pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, suasana di dalam rumah Pradipta kembali menegak. Bianca berdiri di dekat jendela ruang tamu dengan wajah cemas, sementara Adrian duduk kaku di sofa, sesekali memandangi jam dinding. Keira berdiri tepat di samping Alyssa yang sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya sebuah blenderan blazer formal berwarna putih tulang yang dipadukan dengan celana kain senada, memberikan kesan profesional, bersih, dan berwibawa. Tidak ada sedikit pun kesan bahwa ia adalah komoditas yang sedang terpojok.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil yang berat dan berwibawa memecah keheningan kompleks perumahan mereka tepat pukul sepuluh kurang satu menit.
Keira langsung mencengkeram lengan Alyssa. "Kak... mobilnya sudah datang."
Alyssa menatap keluar jendela. Sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengilap sudah terparkir rapi di depan pagar rumah mereka. Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam langsung turun, membuka pintu penumpang belakang dengan sikap hormat yang kaku.
Dari dalam mobil, sosok tinggi tegap itu melangkah keluar. Alvaro Regantara Maheswara mengenakan kemeja hitam pekat dengan lengan yang digulung rapi hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya perlahan dilepas, menampilkan sepasang mata elang yang langsung mengunci ke arah pintu rumah keluarga Pradipta.
Aura kejam, dominan, dan berbahaya seketika menyelimuti pekarangan rumah Alyssa.
Alyssa menarik napas panjang, menegakkan bahunya, lalu menoleh ke arah keluarganya. "Ayah, Ibu, Keira... aku pergi dulu. Tetap tenang di rumah."
"Hati-hati, Sayang..." bisik Bianca dengan suara tercekat.
Alyssa membalikkan badan, melangkah dengan ritme yang konstan dan percaya diri menuju pintu depan. Ketika ia membuka pintu dan melangkah menuruni anak tangga teras, tatapan mata Alvaro langsung menyambutnya. Pria berumur 28 tahun itu tidak bergerak mendekat, ia hanya berdiri di samping mobilnya sambil melirik jam tangan dengan gestur dingin.
"Tepat waktu," ucap Alvaro datar saat Alyssa sudah berdiri beberapa langkah di hadapannya. "Setidaknya kamu tahu cara menghargai waktu pentingku."
Alyssa membalas tatapan tajam itu dengan senyuman tipis yang sarat akan ketegasan, sama sekali tidak terintimidasi oleh dominasi sang Pewaris Berbahaya. "Saya selalu menepati janji, Tuan Alvaro. Mari kita selesaikan transaksi kontrak ini."
Alvaro menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkesan dengan keberanian Alyssa yang tidak luntur sejak semalam. Tanpa membuang kata, Alvaro memberi isyarat kepada ajudannya untuk membukakan pintu mobil untuk Alyssa. Bab pertama penolakan telah usai, dan kini Alyssa resmi melangkah masuk ke dalam kendaraan yang akan membawanya menuju sangkar emas Maheswara, siap memulai babak pertempuran yang sesungguhnya.
...****************...
Alyssa melangkah masuk ke dalam kabin Rolls-Royce yang mewah namun terasa begitu dingin. Bau kulit jok premium bercampur dengan aroma parfum maskulin milik Alvaro langsung menyergap indra penciumannya, menciptakan atmosfer yang entah mengapa terasa begitu mengintimidasi. Begitu pintu ditutup dari luar, kesunyian yang pekat langsung merayap, memisahkan Alyssa dari dunia luar yang selama ini melindunginya.
Alvaro masuk dari sisi lain. Pria itu duduk dengan posisi tegap, menciptakan jarak sosial yang tegas namun dominan di samping Alyssa. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Alyssa, melainkan langsung membuka sebuah tablet digital yang menampilkan grafik pergerakan saham dan laporan korporasi yang rumit.
Mobil mulai bergerak perlahan, meninggalkan pekarangan rumah keluarga Pradipta. Melalui kaca spion samping, Alyssa bisa melihat siluet Bianca dan Keira yang berdiri di ambang pintu, menatap kepergiannya dengan pandangan yang sarat akan kekhawatiran. Alyssa mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, berjanji di dalam hati bahwa pengorbanannya tidak akan sia-sia.
"Di dalam laci di depanmu, ada draf final perjanjian pranikah," suara bariton Alvaro memecah keheningan tanpa ada basa-basi atau nada ramah sedikit pun. Matanya tetap fokus pada layar tablet. "Bacalah selama perjalanan menuju kantor notaris. Jika ada klausul yang keberatan kamu penuhi, katakan sekarang sebelum terlambat."
Alyssa tidak membuang waktu. Sifatnya yang cerdas dan jeli langsung menuntun tangannya untuk membuka laci dasbor di hadapannya, mengambil map pembungkus kertas draf tersebut. Ia membuka lembaran putih itu dengan gerakan taktis, memindai poin demi poin hukum yang tertera di sana.
Mata Alyssa menyipit tajam saat membaca beberapa pasal krusial:
Pasal 3: Hak dan Kewajiban Finansial
Pihak Kedua (Alyssa Carissa Pradipta) tidak berhak menuntut harta gono-gini atau aset pribadi milik Pihak Kesatu (Alvaro Regantara Maheswara) jika kontrak pernikahan ini berakhir di kemudian hari.
Pasal 5: Hubungan Publik dan Privasi
Pihak Kedua wajib menampilkan citra sebagai istri yang patuh dan setia di hadapan publik dan media demi menjaga stabilitas saham Maheswara Group. Segala bentuk pelanggaran privasi atau pembocoran informasi internal akan dikenakan penalti hukum yang mutlak.
Namun, ada satu pasal yang membuat gerakan tangan Alyssa terhenti.
Pasal 7: Batasan Hubungan Pribadi
Pernikahan ini murni merupakan aliansi strategis di atas kertas. Tidak ada kewajiban bagi Pihak Kesatu untuk memberikan nafkah batin, kekeluargaan emosional, ataupun hak reproduksi kepada Pihak Kedua, kecuali ditentukan lain oleh kesepakatan bersama di kemudian hari.
Alyssa menarik napas pendek, lalu melirik ke arah Alvaro dari sudut matanya. Pria ini benar-benar tidak tersentuh. Dokumen ini sengaja dirancang untuk membentengi Alvaro dari segala bentuk keterikatan emosional, menegaskan bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar pion yang dibeli untuk memuaskan ambisi sang ayah, Mahendra Maheswara.
"Bagaimana?" Alvaro akhirnya mematikan layar tabletnya, lalu memutar tubuhnya sedikit menghadap Alyssa. Sepasang mata elangnya yang dingin mengunci pandangan Alyssa, mencari setitik saja keraguan atau ketakutan dari wajah gadis 23 tahun itu. "Apa ada pasal yang membuat nyalimu ciut, Alyssa?"
Alyssa menutup draf tersebut dengan hentakan pelan, lalu menatap balik Alvaro dengan sorot mata yang tak kalah tajam dan berani. Sifatnya yang tidak mudah ditindas bergolak di balik penampilannya yang anggun.
"Semua pasal ini sangat menguntungkan posisimu, Tuan Alvaro," sahut Alyssa, suaranya terdengar jernih dan sarat akan ketegasan yang mutlak. "Tapi aku punya satu klausul tambahan yang harus dimasukkan ke dalam draf ini sebelum aku membubuhkan tanda tanganku."
Alvaro menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan kelancangan Alyssa yang berani menegosiasikan dokumen yang disusun oleh tim hukum terbaiknya. Klausul apa?
"Pemulihan total Grup Pradipta harus dilakukan dalam waktu tiga puluh hari setelah pernikahan diresmikan, dan posisi Ayahku sebagai komisaris utama tidak boleh diganggu gugat oleh pihak Maheswara," tuntut Alyssa tanpa berkedip. "Jika Maheswara Group mencoba melanggar atau menunda pemulihan aset keluargaku, maka kontrak ini batal demi hukum, dan aku berhak pergi membawa seluruh informasi yang aku ketahui."
Mendengar tuntutan berani itu, segaris senyuman tipis yang dingin dan misterius terukir di bibir tegas Alvaro. Pria berumur 28 tahun itu memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Alyssa bisa merasakan embusan napas Alvaro yang terasa membekukan.
"Kamu benar-benar wanita yang menarik, Alyssa," bisik Alvaro, suaranya merendah penuh intimidasi yang mematikan. "Kamu datang sebagai komoditas yang hampir hancur, tapi kamu berbicara seolah-olah kamu yang memegang kendali di sini."
"Karena aku tahu, Tuan Alvaro..." Alyssa membalas dengan bisikan yang tak kalah tajam, menolak untuk mundur satu jengkal pun dari dominasi sang Pewaris Berbahaya. "Pria sedingin dan sekejam dirimu tidak akan pernah mau repot-repot menjemputku hari ini jika aku tidak memiliki nilai keuntungan yang besar untuk posisimu di Maheswara Group."
Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang padat, membawa dua jiwa yang saling melempar percikan kebencian dan ambisi itu menuju takdir pernikahan yang mematikan. Penolakan pertama Alyssa memang telah patah, namun di dalam kabin mobil yang sunyi ini, perang dingin yang sesungguhnya di antara mereka baru saja resmi dikibarkan.