Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Ibu... Fahri, Ibu... Aku harus pulang ke Jakarta sekarang!"
Zara histeris. Ia bangkit berdiri, namun kakinya yang lemas membuat tubuhnya limbung. Beruntung, Fahri dengan cekatan menahan lengan Zara sebelum gadis itu jatuh ke lantai semen teras.
"Zara, tenang dulu! Istigfar, Zar!" bentak Fahri pelan, mencoba menyadarkan Zara yang matanya sudah kosong didera kepanikan.
"Gimana bisa tenang, Fahri?! Ibu kritis gara-gara aku! Aku anak durhaka, Fahri! Aku harus ke Jakarta malam ini juga!" Zara mencengkeram erat kemeja Fahri, air matanya tumpah ruah membasahi dadanya.
Lilis yang melihat itu ikut menangis ketakutan. "A... gimana ini, A? Kasihan Teh Zara..."
Fahri menatap layar ponsel Lilis sekali lagi. Otaknya berputar cepat. Sebagai santri yang kenyang pengalaman hidup, instingnya berteriak bahwa ini adalah jebakan. Pak Rahmad dan Reza baru saja pergi siang tadi dengan kemarahan meluap, dan beberapa jam kemudian muncul berita seolah-olah Ibu Zara di ambang maut? Terlalu pas untuk sebuah kebetulan.
"Lis, panggil Abah ke sini. Sekarang!" perintah Fahri tegas, suaranya tidak lagi menyisakan ruang untuk candaan.
Tidak butuh waktu lama, Abah Mukhlas sudah duduk di hadapan mereka setelah mendengar penjelasan singkat dari Lilis. Sang Kyai sepuh membaca pesan tersebut, lalu mengembuskan napas panjang sembari memutar tasbihnya.
"Neng Zara, dengerin Abah," ucap Abah Mukhlas lembut. "Bapakmu dan pemuda bernama Reza itu punya kuasa dan uang. Jika Neng Zara pulang ke Jakarta dalam keadaan seperti ini... sendirian, tanpa perlindungan hukum yang sah, Abah khawatir Neng Zara tidak akan pernah bisa kembali, bahkan mungkin dipaksa menikah malam itu juga di sana."
"Tapi Ibu, Abah... Kalau Ibu kenapa-napa gimana?" isak Zara, dadanya sesak luar biasa.
Fahri menatap Abah Mukhlas, lalu beralih menatap Zara. Sebuah ide gila—namun merupakan satu-satunya benteng pertahanan terkuat—terlintas di benaknya.
"Bah... kalau Fahri yang mengantar Zara ke Jakarta, gimana?" tanya Fahri memecah keheningan.
"Hah? Kamu mau antar aku?" Zara menoleh cepat dengan mata sembap.
"Iya, saya antar. Tapi..." Fahri menjeda kalimatnya, menatap Abah Mukhlas dengan pandangan meminta restu. "Masalahnya, kalau saya cuma status sebagai 'santri pesantren' atau 'orang asing', sesampainya di rumah sakit Jakarta, Pak Rahmad dan Reza punya hak penuh buat mengusir saya pakai sekuriti. Saya gak punya hak legal buat melindungi Zara di depan hukum keluarga mereka."
Abah Mukhlas menghentikan putaran tasbihnya. Beliau menatap Fahri dalam-dalam, seolah membaca ketulusan di mata santri kesayangannya itu. Senyum tipis penuh arti terukir di wajah sang Kyai.
"Lalu, apa yang kamu pikirkan, Fahri?" tanya Abah Mukhlas, menguji.
"Menikah, Bah."
"Eh?!" Zara spontan memekik, matanya membelalak sempurna di sela tangisnya. "F-Fahri?! Kamu ngomong apa sih?! Jangan bercanda di situasi kayak gini!"
"Siapa yang bercanda, Teh Jakarta? Muka saya kelihatan lagi ngelawak?" Fahri menatap Zara dengan tatapan paling serius yang pernah Zara lihat seumur hidup.
"Ini jalan satu-satunya. Kalau kita menikah secara sah malam ini di depan Abah sebagai wali hakim karena posisi Ayahmu yang tidak memedulikan kemaslahatanmu, maka secara hukum agama dan negara, saya adalah suamimu. Saya punya hak penuh atas dirimu. Pak Rahmad atau Reza gak akan bisa menyentuh atau memaksa kamu menikah lagi di Jakarta, karena kamu sudah sah jadi istri orang!"
"Astaga... tapi... tapi Fahri..." Zara mendadak kelu. Jantungnya berdegup seribu kali lebih cepat daripada saat dia mengira ibunya kritis. "Pernikahan bukan main-main, Fahri..."
"Saya gak pernah main-main soal tanggung jawab, Zara Amanta," potong Fahri mantap. "Saya tahu kamu belum cinta sama saya, dan saya juga gak menuntut itu sekarang. Anggap ini benteng perlindungan. Saya gak rela lihat kamu diseret lagi ke neraka sama si Mas Batik itu. Soal perasaan, biar waktu yang jawab. Sekarang pilihan di tangan kamu. Mau pulang sendirian dan menyerahkan diri ke serigala, atau pulang bareng saya sebagai istri yang punya pelindung?"
Zara tertegun. Ia memandang Fahri, lalu memandang Abah Mukhlas yang mengangguk pelan memberikan restu. Di tengah kepanikan dan rasa sakit hatinya pada masa lalu, sosok Fahri yang tengil namun selalu pasang badan di depannya terasa seperti satu-satunya jangkar di tengah badai.
Zara menghapus air matanya kasar, lalu mengangguk mantap. "Oke. Kita nikah. Tolong... tolong lindungi aku, Fahri."
"Bismillah," ucap Fahri lirih, ada binar kelegaan sekaligus tekad baja di matanya.
Malam itu juga, di dalam ruang tengah rumah Abah Mukhlas yang hanya diterangi lampu neon temaram, sebuah prosesi sakral yang super kilat diadakan. Tidak ada gaun mewah, tidak ada dekorasi jutaan rupiah, dan tidak ada ratusan tamu undangan.
Zara hanya mengenakan gamis hitam polos milik Lilis dan kerudung instan seadanya. Sementara Fahri hanya memakai kemeja koko putih dan peci hitam yang kali ini terpasang lurus dan rapi. Saksinya hanya Lilis, Umil, RT setempat dan pengurua KUA yang kebetulan murid Abah Mukhlas. Abah Mukhlas bertindak langsung sebagai penghulu sekaligus wali hakim.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zara Amanta binti Rahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah! Sah!"
"Alhamdulillah..."
Suasana haru seketika menyeruak. Zara memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir saat doa-doa dipanjatkan. Ia kini resmi menjadi istri dari Fahri Ahmad, santri yang baru beberapa minggu lalu didebatinya di koridor pesantren.
Setelah selesai, Fahri bergeser mendekati Zara. Ia mengulurkan tangannya yang hangat. Dengan canggung dan gemetar, Zara meraih tangan itu, lalu mencium punggung tangan suaminya untuk pertama kali.
"Selamat datang di hidup saya yang pas-pasan, Teh Jakarta," bisik Fahri pelan di telinga Zara, mencoba mencairkan ketegangan.
"Duh, sempat-sempatnya ya..." Zara merengut, tapi hatinya mendadak merasa jauh lebih aman.
"Ya udah, sekarang ayo beres-beres baju kamu seadanya. Kita berangkat ke Jakarta malam ini juga pakai mobil travel carteran," perintah Fahri sambil berdiri. "Lilis, Umil, titip pesantren ya. Saya mau ketemu mertua dulu."
"A Fahri... tong hilap oleh-oleh Jakarta nya!" celetuk Lilis di sela tangis harunya, membuat suasana yang tadinya tegang mendadak diwarnai tawa kecil.
Fahri memakai jaket jinsnya, lalu menatap lurus ke arah jalan raya luar pesantren yang gelap.
"Reza, Pak Rahmad... silakan mainkan drama kalian. Kita lihat gimana muka kalian pas tahu target buruan kalian pulang membawa pawangnya."
Suara mesin mobil Avanza carteran itu menderu konstan membelah kegelapan jalan raya jalur selatan Jawa Barat. Jam di dasbor mobil menunjukkan pukul satu dini hari. Di kursi tengah, Zara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin, menatap deretan pohon dan lampu jalan yang melesat cepat di luar.
Pikirannya kalut, cemas memikirkan kondisi ibunya, sekaligus masih syok dengan status barunya yang berubah dalam waktu kurang dari satu jam.
Di sebelahnya, Fahri duduk dengan tenang. Peci hitamnya sudah berpindah ke atas dasbor, digantikan oleh kupluk rajut hitam yang membungkus kepalanya.
"Nih, minum dulu. Dari tadi melamun terus, awas kesambet jin jalur Gentong, ngeri," celetuk Fahri sambil menyodorkan sebotol air mineral yang baru dibelinya saat mobil mengisi bensin tadi.
Zara menoleh, menerima botol itu dengan tangan yang masih terasa dingin. "Makasih, Fahri... eh, maksud aku..." Zara mendadak gugup, lidahnya mendadak kaku. "Aduh, manggilnya tetap Fahri aja kan ya?"
Fahri langsung tertawa kecil, suara tawa baritonnya terdengar renyah di tengah sunyinya kabin mobil. "Lah? Ya terserah kamu, Neng. Mau manggil Fahri boleh, mau manggil 'Aa' ya Alhamdulillah, mau manggil 'Suamiku yang tampan' atau sayang juga saya gak bakal nolak kok."
"Duh! Bisa gak sih sehariii aja gak usah narsis?" Zara mencubit lengan jaket jins Fahri kesal, tapi tak urung senyum tipis terukir di bibirnya. "Lagian... kamu kok bisa tenang banget sih? Kita ini lagi mau menuju medan perang loh. Ayah sama Reza itu kalau tahu kita... maksudnya kita udah nikah, mereka bisa ngamuk."
"Ya biarin aja ngamuk. Memangnya kalau mereka ngamuk, status di buku nikah kita bisa mendadak luntur? Nggak, kan?" Fahri melipat kedua tangannya di dada, bersandar santai. "Zar, denger ya. Mas Batik sama Pak Rahmad itu cuma menang di modal dan gertakan. Mereka pikir semua hal di dunia ini bisa dibeli pakai saham dan uang. Tapi mereka lupa satu hal."
"Apa?" Zara menaikkan sebelah alisnya.
"Mereka lupa kalau kamu sekarang punya suami yang ganteng, pintar, dan sabuk hitam pencak silat," ucap Fahri sambil menaik-turunkan alisnya jenaka.
"Lagian, saya ini santri, Zar. Tiap hari kerjaannya doa sama tawakal. Masa sama manusia yang modal kemeja necis doang saya harus gemeteran? Jatuh dong harga diri Tasik konta Santri!"
"Ih, sombongnya kumat!" Zara mencibir, tapi di dalam hati, ketenangan Fahri itu menular padanya. Rasa takut yang tadinya mencengkeram dada perlahan-lahan mengendur.
Mobil travel melaju semakin cepat memasuki area tol Cipularang. Angin malam berembus agak kencang, membuat suhu di dalam mobil terasa semakin dingin. Zara spontan mendekap kedua lengannya, menggosok-gosok telapak tangannya untuk mencari kehangatan.
Melihat hal itu, Fahri tanpa banyak bicara langsung melepas jaket jins tebal yang dipakainya. Dengan gerakan spontan dan santai, ia menyampirkan jaket tersebut ke atas pundak Zara. Aroma parfum maskulin khas Fahri yang bercampur wangi sisa sabun pesantren langsung menyeruak, membungkus tubuh Zara.
"Eh? Fahri, nanti kamu kedinginan gimana?" Zara agak salah tingkah, wajahnya mendadak memanas di tengah udara malam yang dingin.
"Gak usah sok perhatian, nanti malah makin beneran cinta repot," sahut Fahri tengil. "Saya mah udah biasa dingin-dinginan pas ronda malam di pesantren. Kulit saya kulit badak, beda sama kulit orang kota yang manja kayak kamu."
"Ya ampun! Niatnya mau romantis tapi ujung-ujungnya tetep aja ngeledek!" Zara cemberut, menarik jaket jins Fahri lebih erat sampai menutupi dagunya. "Tapi... ngomong-ngomong, Fahri... kamu beneran gak nyesel nikah sama aku? Maksud aku, pernikahan kita kan dadakan banget. Kamu bahkan gak tahu latar belakang aku seutuhnya."
Suasana di dalam mobil mendadak hening sejenak. Fahri tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, memperhatikan jalan tol yang membentang panjang di bawah sorot lampu mobil.
"Zar," panggil Fahri lembut, suaranya kali ini terdengar sangat dalam dan serius.
"Ya?"
"Saya emang gak tahu masa lalu kamu secara detail. Saya juga gak tahu gimana kehidupan mewah kamu di Jakarta," ucap Fahri tanpa menoleh, namun nadanya sangat mantap. "Tapi yang saya tahu, Zara Amanta yang saya lihat di pesantren adalah perempuan baik-baik yang mau sabar ngajarin anak-anak kecil ngaji meskipun dia sendiri lagi terluka. Buat saya, itu udah lebih dari cukup. Abah selalu ngajarin, kalau ada wanita baik-baik lagi butuh pertolongan, laki-laki yang punya nyali itu gak bakal mikir dua kali buat pasang badan. Apalagi jadi suaminya."
Zara tertegun. Kalimat Fahri barusan menghantam tepat di ulu hatinya, mengalirkan rasa haru yang begitu hebat hingga matanya kembali berkaca-kaca. Selama hidup di Jakarta, semua orang mendekatinya karena status, kecantikan, atau bisnis keluarganya. Baru kali ini, ada seorang laki-laki yang menerimanya dengan begitu tulus, justru di saat dirinya berada di titik terendah.
"Makasih ya, Fahri..." bisik Zara lirih, kepalanya perlahan miring, bersandar di bahu tegap Fahri tanpa sadar karena rasa kantuk dan lelah yang luar biasa.
Fahri sempat menegang sejenak saat merasakan beban hangat di bahu kirinya. Ia melirik ke bawah, mendapati Zara yang sudah memejamkan mata dengan napas yang mulai teratur. Senyum tipis dan tulus terukir di wajah santri itu. Dengan perlahan, ia memosisikan bahunya agar Zara bisa bersandar dengan lebih nyaman.
"Tidur yang nyenyak, Teh Jakarta. Simpan tenaga kamu," gumam Fahri pelan, nyaris berbisik. "Biar urusan badai di depan nanti, suamimu ini yang beresin."
Mobil terus melaju membelah sisa malam, mendekati lampu-lampu kota Jakarta yang mulai berkerlap-kerlip di kejauhan. Di dalam kabin yang hangat itu, dua hati yang baru saja diikat janji suci bergerak bersama menuju sebuah pembuktian di tengah drama yang sudah menanti di ibu kota.