NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan untuk Akhir

Tahun berlalu dengan tenang. Arka dan Nadia menikah—pernikahan sederhana di halaman rumah orang tua Arka, di bawah pohon mangga yang sama yang dia ingat dari masa kecilnya, kini lebih besar dan rimbun.

Ibu Arka, dengan kesehatan yang stabil, menangis bahagia sepanjang acara, memeluk Nadia seperti memeluk anak perempuannya sendiri.

Arka berdiri di tengah semua itu—keluarganya, teman-temannya, Nadia di sampingnya mengenakan gaun putih sederhana—dan merasakan sesuatu yang dia pikir tidak akan pernah dia rasakan: kehidupan yang penuh, yang utuh, tanpa kekosongan yang menuntut untuk diisi.

Tapi seperti semua hal baik, waktu terus berjalan. Dan dengan berjalannya waktu, datang juga hal-hal yang tidak bisa dihindari.

Lima tahun kemudian, ibu Arka mulai menua dengan cara yang alami—rambutnya semakin putih, langkahnya semakin lambat, tapi senyumnya tetap sama.

Suatu sore, saat Arka mengunjungi orang tuanya bersama putri kecilnya—Kirana, berusia tiga tahun, yang mewarisi mata ibunya—ibu Arka duduk di teras yang sama tempat dia dan Arka kecil pernah duduk bersama, di hari sebelum 14 Maret yang lama.

"Arka," kata ibunya, menggendong Kirana di pangkuannya, "Mama mau ngomong sesuatu."

"Apa, Ma?"

"Mama udah ngerasa cukup," kata ibunya, suaranya tenang. "Bukan—bukan maksudnya Mama lagi sakit atau apa. Mama sehat. Tapi Mama ngerasa... Mama udah dapet semua yang Mama butuhin. Liat kamu tumbuh, liat kamu nikah, sekarang liat cucu Mama..."

Dia mengusap kepala Kirana yang sedang asyik bermain dengan ujung dasternya.

"Mama cuma mau bilang, kalau suatu hari Mama nggak ada lagi—Mama pengen kamu tau, Mama pergi dengan damai. Bener-bener damai. Nggak ada penyesalan. Nggak ada yang kurang."

Arka menatap ibunya, merasakan campuran perasaan yang sulit dijelaskan—kesedihan yang akan datang, tapi juga kedamaian yang sama yang ibunya rasakan.

"Ma," kata Arka, suaranya lembut, "makasih. Buat semuanya."

"Harusnya Mama yang bilang itu ke kamu, sayang," kata ibunya, tersenyum. "Kamu yang... kamu yang bikin semua ini jadi mungkin. Walaupun Mama nggak tau gimana caranya."

Dua tahun setelah percakapan itu, ibu Arka meninggal dengan tenang—di usia 64 tahun, di rumahnya sendiri, dalam tidurnya, dengan ayah Arka di sampingnya.

Tidak ada kecelakaan. Tidak ada tragedi. Hanya... waktu, yang berjalan sesuai dengan jalannya, sampai akhir yang alami.

Pemakaman itu dipenuhi dengan orang-orang yang mencintainya—tetangga, teman-teman, keluarga. Arka berdiri di samping makam, menggenggam tangan Nadia di satu sisi dan Kirana (sekarang berusia lima tahun) di sisi lain.

Dia tidak menangis sebanyak yang dia kira akan dia lakukan. Bukan karena dia tidak sedih—dia sangat sedih. Tapi kesedihan itu berbeda dari kesedihan yang dia rasakan enam belas tahun yang lalu, di dunia lama.

Kesedihan ini penuh dengan rasa syukur. Kesedihan karena kehilangan seseorang yang telah memberikan—dan menerima—begitu banyak cinta. Bukan kesedihan karena penyesalan, karena kata-kata yang tidak pernah terucap.

Di pemakaman itu, Arka berdiri di depan makam ibunya, dan dengan suara pelan, dia berkata:

"Makasih, Ma. Buat tujuh belas tahun tambahan itu. Buat semua momen yang kita punya. Aku nggak akan pernah nyesel."

Setelah pemakaman, Arka pulang ke rumah—rumah lama, rumah yang sekarang dia dan Nadia tinggali bersama ayahnya yang sudah menua, setelah memutuskan untuk merawatnya.

Malam itu, setelah Kirana tertidur, Arka duduk sendirian di kamar lamanya—kamar yang sama dengan dinding kuning pudar, meski sekarang sudah dicat ulang menjadi warna netral untuk Kirana.

Dia membuka laci meja—laci yang sama tempat dia menyimpan album foto Damar bertahun-tahun lalu.

Album itu masih ada di sana. Tapi di sebelahnya, ada sesuatu yang baru—sesuatu yang Arka tidak ingat menaruhnya di sana.

Sebuah surat, dengan tulisan tangan yang familiar.

Tulisan tangan ibunya.

Arka membuka surat itu dengan tangan gemetar. Tanggal di pojok surat menunjukkan bahwa surat itu ditulis beberapa minggu sebelum ibunya meninggal.

"Arka,

Kalau kamu baca ini, mungkin Mama udah nggak ada. Tapi Mama mau kamu tau sesuatu—sesuatu yang Mama simpen lama, karena Mama nggak yakin gimana cara bilangnya, dan Mama nggak yakin kamu akan percaya.

Mama tau kamu 'berbeda', Arka. Dari kecil. Mama nggak tau caranya, atau kenapa. Tapi Mama selalu ngerasa—kamu bawa sesuatu. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang berat.

Mama nggak akan tanya apa itu. Karena Mama percaya, apapun itu, kamu udah berjuang keras buat itu. Dan Mama pengen kamu tau—apapun yang kamu lakuin, apapun keputusan yang kamu bikin, di masa lalu atau masa depan—Mama bangga sama kamu. Selalu.

Hidup ini indah, Arka. Bukan karena sempurna. Tapi karena ada orang-orang yang kita cintai di dalamnya, sebanyak yang kita bisa, selama yang kita bisa.

Mama sayang kamu. Selalu. Di dunia mana pun kamu berada.

Mama."

Arka menatap surat itu lama, air mata mengalir tanpa henti.

Di dunia mana pun kamu berada.

Apakah ibunya tahu? Benar-benar tahu, dengan cara yang melampaui kata-kata, tentang semua yang telah Arka lalui?

Atau apakah ini hanya kata-kata seorang ibu yang penuh cinta, yang—secara kebetulan—terasa seperti jawaban untuk semua pertanyaan yang Arka pernah miliki?

Mungkin tidak ada bedanya.

Karena pada akhirnya, kata-kata itu adalah yang Arka butuhkan: penerimaan tanpa syarat, cinta yang tidak butuh penjelasan, dan izin—izin terakhir—untuk menjalani hidupnya, sepenuhnya, di dunia ini, sebagai dirinya yang sekarang.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!