NovelToon NovelToon
TIRAKAT 3

TIRAKAT 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.

Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 "TEMANI AKU MALAM INI, DAYANG PUTRI..."

Singkat cerita...

Hari demi hari pun berlalu...

Tak terasa sudah dua minggu aku berada di pondok putri milik Ustadz Furqon ini...

.....

.....

Aku semakin akrab dan dekat dengan Ayu Kenconowati. Karakternya yang amat periang dan selalu jahil bercanda denganku, membuat hari-hari di masa awal perantauanku di Kediri, Jawa Timur ini, tak terasa berat lagi.

Setiap hari kami berdua kompak menjaga seluruh area pondok putri ini. Mulai dari menjaga kebersihan, menjaga keamanan, sampai kegiatan memasak dan mencuci pun kami lakukan bersama-sama. Meskipun terkadang aku ditinggal sendirian olehnya yang pulang ke rumah. Tapi aku sangat memahami alasan dirinya. Ya memang karena jarak rumahnya tak jauh dari pondok ini.

Dan bahkan, sudah tiga kali dalam rentang waktu dua minggu ke belakang ini, aku di ajak main ke rumahnya. Dikenalkan kepada kedua keluarganya.

Bahkan juga dengan asyiknya, Ayu memperkenalkan diriku kepada sebagian besar warga di desanya itu. Sungguh, semua perlakuan Ayu itu membuatku seperti berada di rumahku sendiri.

Akan tetapi, tetap saja aku rindu dengan Bapakku di Bogor sana. Aku rindu dengan dua sahabat baikku, Dinda dan Ningrum. Aku juga rindu dengan seluruh murid-murid mengajiku di sana. Farhan, Hanum, dan semuanya.

Dan aku tetap menjaga komunikasi dengan cara menelepon mereka semua. Memberi tahu tentang kabarku di sini, memberikan informasi tentang lingkungan pondok, dan semuanya aku ceritakan tanpa ada yang ku tutup-tutupi.

Dan Alhamdulillah juga, beberapa kesempatan Ustadz Furqon dan Bu Fatimah yang sudah sehat datang berkunjung. Mengobrol banyak hal denganku dan Ayu. Sambil menunggu bulan depan, di mana harapannya semakin bertambah jumlah calon santriwati yang mendaftar, sehingga bisa segera di mulai kegiatan pondok putri ini.

Hanya saja, Bu Fatimah tak bisa berlama-lama di Jawa Timur ini. Karena beliau pun harus kembali ke rumahnya di Bogor. Kembali mengurus segala kegiatannya di sana. Mengurus rumah, mengurus pengajian anak-anak, dan beragam kegiatan sosial lainnya.

.....

.....

Dan juga, aku tak lupa terhadap tirakatku...

Alhamdulillah, di beberapa kesempatan dua minggu ke belakang ini, ku laksanakan tirakat puasa mutih warisan almarhumah Ibuku...

Tetap kujaga pula segala macam wirid yang mengiringi tirakat puasa mutihku itu...

Mungkin, karena dibantu pula oleh Dayang Putri, perewanganku, segalanya berjalan dengan baik dan batinku lebih kuat.

.....

.....

Akan tetapi, aku masih merahasiakan kemampuan ghoibku dari Ayu dan semua warga di desanya... Tak ada satu pun yang tahu...

Lebih tepatnya adalah...

Alam semesta tirakatku belum mengizinkan mereka untuk tahu...

.....

.....

Dan, kali ini, sejenak aku ingin bercerita...

Tentang satu sosok yang semakin terasa dekat juga denganku...

Yaitu... Sekar Mayang...

.....

.....

🌕🌕🌕🌕🌕

🌳🌳🕌🌳🌳

Malam ini, adalah malam selasa, awal minggu ke tiga aku berada di pondok putri ini...

Dan hari sabtu, tepat tiga hari yang lalu, adalah weton kelahiranku. Sabtu Wage. Aku kembali melaksanakan tirakat puasa mutihku tiga hari ke belakang di mulai hari Sabtu Wage itu.

Sehingga, malam selasa ini, adalah malam di mana telah selesai tiga hari aku berpuasa mutih...

Dan karena malam ini Ayu tak tidur di sini, melainkan ia pulang ke rumahnya, aku minta ditemani oleh Dayang Putri...

.....

.....

🌕🌕🌕🌕🌕

Aku duduk di balkon lantai dua, menatap bulan purnama yang bulat sempurna di langit malam ini...

Cahayanya membentuk bayang-bayang dedaunan dan ranting-ranting dari barisan pohon jati di atas lantai balkon. Ditemani suara puluhan jangkrik yang saling bersahutan merdu, dan juga semilir angin kaki Gunung Kelud yang mulai terasa lebih dingin.

Ku pejamkan ke dua mataku, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan penuh ketenangan, lalu aku memanggilnya...

"Dayang Putri... Hadirlah... Temani aku malam ini..."

Masih dalam kondisi mata terpejam tenang, terasa semilir angin berhembus lebih kencang, membuat suara-suara dari dedaunan pohon jati yang bergesekan.

Dan... Tercium sangat harum... Bunga kantil...

"Aku di sini Nisa..." ucapnya.

Ku buka mataku, dan sudah hadir Dayang Putri di depanku...

Ia berdiri dengan sangat anggun, selendang kuning keemasan miliknya bergoyang seolah ikut terkena hembusan angin malam ini...

Dayang Putri menatap ke arah bulan purnama... Akan tetapi sinar bulan tak bisa menampakkan bayangan sosoknya di atas lantai balkon ini...

"Kenapa penampilanmu tak seperti di dalam mimpiku kemarin? Kemana pakaian emas kerajaanmu Dayang Putri?" tanyaku saat melihatnya kembali seperti sebelumnya yang biasa memakai baju serba hijau cerah itu.

Lantas, ia menatapku dengan senyuman yang begitu manisnya...

"Sudah ku katakan padamu Nisa, aku akan hadir seperti itu jika batinmu sudah benar-benar siap dan kuat..." ucapnya.

"Memangnya aku masih belum cukup siap dan kuatkah?" tanyaku.

"Menurutmu?" malah ia balik bertanya sambil tersenyum. Seolah dibalik senyumnya itu, mencoba kembali menguji diriku.

"Ah, Dayang Putri selalu saja begitu jika ku tanya..."

Dayang Putri berjalan mendekat padaku dengan cara melayang, dan selendang kuning keemasannya ikut melayang...

Lalu, sosoknya sedikit membungkuk, dan tangan kanannya menyentuh daguku, sampai sedikit terangkat wajahku menatap wajahnya itu.

"Bersabarlah dalam tirakatmu Nisa... Kelak, aku pasti akan selalu hadir di sisimu dengan pakaian emasku..." ucapnya dengan suara yang sangat lembut.

"Iya-iya... Aku akan sabar dalam tirakatku..." balasku dengan senyuman juga padanya.

Lalu, aku berdiri dari kursi yang ku duduki. Aku berjalan pelan menuju pagar balkon, berdiri sambil berpegangan. Membelakangi Dayang Putri. Sambil ku tatap bulan purnama di atas sana.

"Dayang Putri..."

"Ya Nisaku?"

Beberapa detik aku tak lanjutkan ucapanku. Sedikit berpikir dalam hatiku.

Lalu, aku berbalik badan, menatap Dayang Putri, dan bertanya...

"Bisakah kau ceritakan tentang Sekar Mayang padaku?"

"Untuk apa kau tanyakan dia padaku?"

"Ayolah Dayang Putri, ceritakan padaku. Atau jangan-jangan, jika kau cerita tentang Sekar Mayang, akan berdampak buruk bagi masa depanku?"

"Meskipun aku tahu tentang masa depanmu, aku tak akan memberi tahumu Nisa. Belum saatnya kau tahu itu."

Aku menarik napas agak dalam, dan kuhembuskan dengan cepat.

"Padahal aku hanya ingin tau lebih banyak tentang Sekar Mayang loh..."

Dayang Putri tak langsung menjawab. Ia menatap tajam lurus ke arah dua mataku. Dan tiba-tiba saja...

Angin malam berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Aku sampai menoleh ke kanan dan ke kiri sambil memegangi pundakku sendiri karena hawa dinginnya.

Lalu... Dayang Putri malah berkata...

"Jika kau ingin tahu tentangnya, tanyakan saja langsung padanya Nisa..."

.....

.....

Dan... Secara tiba-tiba...

Terasa satu energi kuat hadir di belakangku...

Energi itu terasa mendekat sepersekian detik...

.....

.....

Sekar Mayang hadir...

Dengan cara sosoknya menembus tubuhku dari belakang, bagaikan sebuah bayangan yang menembus kaca...

.....

.....

Langsung Sekar Mayang berdiri membelakangiku, di antaraku dan Dayang Putri, lalu berkata...

"Hihihi... Sepertinya Ratumu mulai menyukaiku ya Dayang Putri... Hihihi..."

Aku terdiam, terpaku, karena cara Sekar Mayang hadir seperti itu...

Lalu Sekar Mayang berbalik badan, menatapku dengan senyuman yang menyeringai, dan juga kini penampilannya seperti sebelumnya. Ke dua matanya merah cerah, pakaiannya dominan merah cerah.

Sosoknya langsung berjalan melayang mendekatiku, lalu memegang daguku dengan tangannya...

"Benar ternyata... Beberapa hari ke belakang, kau mulai memikirkanku Nisa... Hihihi..."

"Ah, sepertinya aku tak bisa merahasiakan masa lalu darimu Sekar Mayang. Kau selalu tahu itu..." ucapku.

Dan dengan wajahnya yang tampak centil, berkata, "Tentu... Karena itulah kemampuanku..."

1
Yeni Yeni
penasaran aku mbak🤭
SecretS
Lanjut kak👍👍👍😊😊
SecretS
👍👍👍lanjut kak, berarti sekar mayang bisa liat masa depan kayak Dayang Putri ah, menurut ku sekar mayang terlalu jahil ngak seperti Dayang Putri 😁
SecretS
Lanjut kak, 👍👍👍😁😁😁 ternyata wanita dekat toilet itu sekar mayang toh aku kira kuntilanak penunggu 😅
SecretS
Ooh, jadi ya buat tiket Nisa hilang itu sekar mayang toh. Buat yang punya kebingungan nyari tiket nya untung tuanya mau mbalikin dan kejadian nya sebelum Dayang Putri datang kalau ngak.... 😅😅 buat tuanya malu aja sekar mayang, pasti karena sekar mayang Zaki bayarin makanan nisa😁sedikit merasa bersalah akibat perewangannya. Lanjut kak 👍👍👍👍
Yeni Yeni: kodam zaki usil
total 1 replies
SecretS
Cover nya kok buat yang baca merinding ya kak 😅😅, tapi lanjutanya bagus 👍👍👍semangat 😀
Deni Komarullah: Hehehe... Terima kasih Kak atas dukungan dan komentarnya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!