"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Taring Sang Predator
Tiga hari berlalu sejak Aletta menginjakkan kaki di mansion mewah tersebut. Tiga hari pula ia hidup dalam rutinitas yang menyesakkan dada.
Di siang hari, Aletta diperlakukan bak seorang ratu. Pelayan selalu siap sedia memenuhi segala kebutuhannya, hidangan kelas atas selalu tersaji di meja, dan lemari pakaiannya terus dipenuhi oleh gaun-gaun rancangan desainer ternama. Namun, Aletta tahu betul, semua kemewahan ini tak lebih dari rantai emas yang mengikat kakinya. Ia diizinkan berkeliling di area mansion, tetapi penjagaan di setiap pintu keluar sangat ketat. Ia benar-benar terkurung.
Hubungannya dengan Xavier pun tidak lebih dari sekadar perang dingin. Pria itu selalu pergi pagi-pagi buta dan kembali larut malam. Mereka hanya bertemu di meja makan saat sarapan, di mana atmosfer selalu dipenuhi ketegangan tak kasat mata dan adu argumen berbalut sindiran tajam.
Malam ini, hujan kembali turun rintik-rintik. Jarum jam sudah menunjuk angka dua dini hari, namun mata Aletta menolak terpejam. Rasa haus yang mendera tenggorokannya memaksanya beranjak dari ranjang king-size dan keluar dari kamar menuju dapur di lantai satu.
Suasana mansion sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding antik dan rintik hujan di luar jendela. Setelah meneguk segelas air putih, Aletta berniat kembali ke kamarnya. Namun, saat melewati lorong sayap kiri—area yang dilarang keras untuk ia masuki—gadis itu menangkap suara aneh.
Suara rintihan tertahan.
Langkah Aletta terhenti. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Logikanya berteriak menyuruhnya kembali ke kamar dan tidak ikut campur, tetapi rasa penasaran yang teramat kuat mengalahkan rasa takutnya. Dengan langkah mengendap-endap tanpa alas kaki, Aletta menyusuri lorong temaram itu.
Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu baja yang sedikit terbuka, menyisakan celah cahaya selebar dua jari. Suara rintihan itu berasal dari sana.
Aletta menahan napasnya, merapatkan tubuhnya ke dinding, dan mengintip melalui celah pintu. Detik berikutnya, kedua mata gadis itu membelalak sempurna. Tangan Aletta spontan membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak.
Di dalam ruangan bawah tanah yang minim cahaya itu, aroma anyir darah menguar kuat. Seorang pria dengan kemeja compang-camping tampak terikat di sebuah kursi, wajahnya babak belur nyaris tak bisa dikenali.
Dan berdiri menjulang di hadapan pria malang itu adalah suaminya. Xavier.
Penampilan Xavier malam ini jauh berbeda dari CEO elegan yang selalu dilihat Aletta setiap pagi. Pria itu tidak mengenakan jas. Kemeja putihnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan tato naga hitam yang melingkar di lengan bawahnya. Terdapat percikan darah di kemeja putihnya yang mahal.
"Aku tanya sekali lagi, Marcos," suara Xavier mengalun sangat tenang, rendah, dan dingin bak bongkahan es. Pria itu sedang membersihkan buku-buku jarinya dengan sehelai saputangan. "Siapa yang membayarmu untuk menyelundupkan senjata di pelabuhan wilayahku?"
"S-saya tidak tahu, Bos... Ampuni saya... Saya dijebak!" rintih pria bernama Marcos itu sambil terbatuk darah.
Xavier menghela napas pendek, seolah bosan dengan kebohongan itu. Ia menoleh perlahan pada seorang pria berjas hitam di sudut ruangan. "Diego. Patahkan tiga jari tangan kanannya. Jangan biarkan dia pingsan sebelum dia menyebut sebuah nama."
Pria bernama Diego—yang Aletta kenali sebagai pria bercodet yang menodongkan pistol pada ayahnya tempo hari—langsung melangkah maju dengan sebuah tang besi di tangannya.
Melihat kengerian yang tersaji di depan matanya, tubuh Aletta gemetar hebat. Perutnya mual. Ia mundur selangkah, berniat melarikan diri dari tempat terkutuk itu. Namun, karena terlalu panik, sikunya tanpa sengaja menyenggol sebuah vas keramik antik yang terletak di atas meja konsol di dekatnya.
PRANG!
Pecahan vas itu menggema luar biasa nyaring di lorong yang sunyi.
Jantung Aletta seolah berhenti berdetak. Ia membeku. Di dalam ruangan, aktivitas penyiksaan itu mendadak berhenti. Aletta bisa melihat dari celah pintu bagaimana kepala Xavier perlahan menoleh tajam ke arah pintu. Tatapan mata kelabu pria itu menyipit, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
"Siapa di luar?" desis Xavier berbahaya.
"Lari, Aletta. Lari!" batin Aletta berteriak. Ia segera berbalik dan berlari sekuat tenaga menyusuri lorong. Namun, gaun tidur sutranya membatasi gerakannya. Baru belasan langkah ia berlari, suara derap langkah kaki sepatu pantofel yang berat dan cepat terdengar menyusulnya dari belakang.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar dan kekar mencengkeram lengannya dari belakang, memutar tubuhnya dengan kasar hingga punggungnya menabrak dada bidang seseorang.
Aletta memekik tertahan. Saat ia mendongak, napasnya tercekat. Mata kelabu sedingin badai milik Xavier kini menatapnya tepat di depan wajah.
Aroma maskulin pria itu kini bercampur dengan bau tajam darah. Rahang Xavier mengeras, napasnya sedikit memburu. Namun, ketika melihat wajah pucat pasi Aletta yang gemetar ketakutan di dalam pelukannya, kilatan membunuh di mata Xavier perlahan mereda, digantikan oleh sorot posesif yang kelam.
"Apa yang kau lakukan di luar kamarmu selarut ini, Istriku?" bisik Xavier. Suaranya sangat rendah, menggesek telinga Aletta hingga membuatnya merinding.
"A-aku... aku haus," cicit Aletta dengan suara bergetar. Matanya tak sengaja melirik ke arah buku jari Xavier yang masih menyisakan noda darah. "L-lepaskan aku... kau monster."
Bukannya melepaskan, Xavier justru merapatkan tubuh Aletta ke dinding, mengurung gadis itu di antara kedua lengannya yang kekar. Xavier menundukkan wajahnya, menghirup aroma wangi vanilla dari rambut Aletta, kontras dengan bau kematian di sekitarnya.
Ibu jari Xavier yang sedikit kasar dan bernoda darah terulur, mengusap lembut pipi Aletta yang pucat. Meninggalkan noda kemerahan yang samar di kulit putih bersih gadis itu.
"Kau ketakutan," kekeh Xavier pelan, sebuah tawa gelap yang menggetarkan dada Aletta. "Sudah kubilang sejak awal, Aletta. Ini duniaku. Dunia yang gelap, kotor, dan berdarah. Siapa pun yang berkhianat, akan berakhir di ruang bawah tanah itu."
Aletta menelan ludah dengan susah payah, memberanikan diri menatap mata suaminya. "Lalu... apa kau akan menyiksaku juga karena aku melihatnya?"
Tatapan Xavier berubah intens. Tangan besarnya turun dari pipi Aletta menuju tengkuk gadis itu, mencengkeramnya posesif.
"Tidak," bisik Xavier tepat di bibir Aletta. "Kau adalah milikku. Kau adalah ratu di kekaisaran gelapku. Aku menyiksa mereka yang mengkhianatiku, tapi aku menghancurkan dunia untuk mereka yang menjadi milikku."
Xavier menjauhkan wajahnya, menatap Aletta dengan perintah mutlak. "Kembali ke kamarmu, Sayang. Tidurlah yang nyenyak. Karena besok malam, aku akan membawamu ke pesta perayaan. Sudah saatnya dunia bawah tanah tahu, siapa wanita yang kini menyandang nama belakangku."
Xavier melepaskan kungkungannya, meninggalkan Aletta yang mematung dengan napas tersengal dan lutut yang nyaris ambruk. Bayangan kekejaman Xavier di ruang bawah tanah, dan bisikan posesif pria itu, benar-benar mengunci Aletta dalam ketakutan sekaligus pesona mematikan yang tak bisa ia hindari.