NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Hampir Bengek

"Tidak, Tuan. Saya tidak salah server, apalagi salah alamat," ucap Tengkorak Hideung tegas.

Ia langsung berlutut dengan satu kaki di depan Kiano, menundukkan kepalanya yang berambut gondrong. "Saya adalah pelayan Anda sejak Anda menyelamatkan saya dari belenggu sihir kutukan yang menyegel saya di kuburan itu. Mulai detik ini, saya akan mengabdi pada Anda seumur hidup saya, Tuan!"

Kiano menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Hah? Kok gue beneran gak inget sama sekali ya?"

Tengkorak Hideung mendongak. Ia melempar senyum lebar yang justru terlihat sangat mengerikan, mengalahkan seringai bos mafia kelas kakap yang siap mengeksekusi korbannya.

"Tenang, Tuan... Saya akan membantu Anda untuk mengingatnya kembali," bisik Tengkorak Hideung misterius.

WUSSSS...!

Tanpa permisi, jin berkumis tebal itu meniupkan embusan angin gaib berwarna hitam tipis tepat ke arah wajah Kiano. Seketika itu juga, tubuh Kiano mematung. Tatapan matanya mendadak kosong, tersedot masuk ke dalam lorong waktu memorinya sendiri.

Kilasan ingatan beberapa jam lalu berputar cepat, mengembalikan kesadarannya saat pertama kali menapakkan kaki di stasiun kereta cepat futuristik...

[FLASHBACK]

"Hadeuh, Papi gimana sih?! Lagi asyik-asyiknya mabar game VR sama si Raynald, malah disuruh ngambil benda antik ke rumah Opa!" gerutu Kiano kesal. Langkah kakinya menghentak-hentak lantai stasiun fusi nuklir yang super modern.

“Kereta cepat jalur Hyper-Loop tujuan Jakarta Selatan segera diberangkatkan,” suara AI stasiun menggema di udara.

Mendengar pengumuman itu, Kiano buru-buru berlari masuk ke dalam gerbong. Di sana, rumah Opanya—Dilan Galaksi, kolektor barang antik garis keras—sudah menunggu. Demi menghindari keramaian, Kiano sengaja berjalan ke arah kursi kosong paling ujung agar bisa santai sepanjang perjalanan.

Namun, impian ketenangan Kiano hancur lebur dalam hitungan detik.

Sesosok pria tua mendadak duduk tepat di seberangnya. Masalahnya bukan pada usia si bapak, melainkan aroma tubuhnya yang super aduhai semilir bin sembriwing! Bau keringat campur minyak angin kuno itu sukses membuat lambung Kiano bergejolak, menahan kombinasi wewangian tujuh rupa yang menembus masker filternya.

Kiano menahan napas sekuat tenaga. Wajah gantengnya seketika berubah warna menjadi seungu terong layu.

Sialan! Kiano tidak mau mati konyol dengan diagnosis bengek akibat kehabisan oksigen di dalam angkutan umum modern.

"P-Pak... permisi, Pak. Saya mau numpang lewat," ucap Kiano sesopan mungkin. Ia buru-buru bangkit berdiri dari kursinya dengan sisa-sisa napas terakhir.

Si bapak menoleh, tersenyum ramah memperlihatkan giginya yang tinggal dua, lalu menggeser duduknya. "Silakan, Nak..."

Dalam hati, Kiano ingin rasanya menyemprotkan satu galon parfum butik prancis ke tubuh si bapak. Kalau perlu, Kiano buatkan pabriknya sekalian di sana. Namun, ia tetap berusaha menjaga sopan santun. Sebagai anak pengusaha sukses, Kiano tidak mau dicap sebagai pemuda begajulan yang tidak tahu adat di depan orang tua.

Setelah berhasil berjalan cukup jauh dari radius zona bahaya tersebut, Kiano langsung mangap-mangap, meraup oksigen di koridor kereta sebanyak-banyaknya.

Gila! Gue hampir mati bengek membiru! batin Kiano syok.

Karena emoh kembali ke kursinya yang beraroma maut, Kiano nekat berjalan terus ke arah gerbong paling belakang. Sialnya, gerbong yang ia masuki kali ini posisinya terlalu belakang. Sebuah gerbong tersembunyi berukiran kayu jati mistis yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu yang masuk kategori spesial alias indigo.

Berhubung Kiano sudah terbiasa berinteraksi dengan si Mbah Golok yang modis di rumahnya, radar gaib di tubuhnya otomatis aktif. Itu sebabnya dia bisa melihat dan melangkah masuk ke dalam gerbong aneh ini tanpa hambatan.

Di dalam gerbong gaib itu, suasana tampak sangat lengang. Penumpangnya bisa dihitung jari, hanya ada satu-dua orang yang duduk berjauhan dengan kepala menunduk dalam.

Tanpa menaruh curiga apalagi berdebat, Kiano yang masih kelelahan langsung mengempaskan bokongnya di bangku barisan tengah.

"Widih... adem bener di sini! AC-nya pake teknologi nano apa ya?" gumam Kiano takjub sambil meraba ukiran naga tradisional di tempat duduknya. "Gue baru tahu kalau kereta cepat modern tahun 2050 punya gerbong VIP bertema vintage se-estetik begini!"

Kiano memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menyandarkan kepala, berniat untuk tidur siang sejenak demi memulihkan energi sebelum keretanya sampai di stasiun tujuan.

Namun, baru juga memejamkan mata beberapa detik, sebuah aroma aneh mendadak menyeruak hebat. Bau bunga melati yang sangat pekat bercampur dengan kepulan wangi kemenyan bakar langsung menusuk hidung Kiano. Alhasil, ia pun terpaksa membuka matanya kembali sambil bersin-bersin kecil.

"Buset dah... parfum ruangan kereta cepat zaman sekarang kok bau beginian, sih? Agen pembersihnya salah beli pengharum ruangan apa gimana?" gumam Kiano heran.

Bersamaan dengan bau mistis itu, hawa di dalam gerbong mendadak berubah menjadi super dingin. Saking dinginnya, bulu kuduk di tengkuk Kiano langsung berdiri tegak. Ia menggosok tengkuknya berkali-kali untuk mengusir rasa merinding.

Karena merasa ada yang tidak beres, Kiano memutar tubuhnya, mengintip ke arah barisan kursi penumpang lain di area belakang.

Saat itulah Kiano menyadari ada sesuatu yang ganjil. Penampilan orang-orang di gerbong ini jauh dari kata modern. Tidak ada satu pun dari mereka yang memakai jaket serat karbon atau pakaian futuristik tahun 2050.

Sebaliknya, mereka semua kompak memakai kebaya kuno, kain sarung tenun, tunik, dan baju-baju adat tradisional khas Sunda zaman baheula. Wajah mereka semua juga tertunduk kaku, menghadap ke lantai kereta tanpa bergerak sedikit pun.

Lah? Ini rombongan orang mau pergi pentas seni keliling apa mau pawai pameran budaya, ya? Kok rajin amat semuanya pakai baju adat di dalam angkutan umum? batin Kiano heran sekaligus takjub dengan dedikasi melestarikan budaya dari para penumpang tersebut.

Kiano belum sadar saja, kalau anyaman bambu di kursi yang ia duduki dan baju adat yang dipakai orang-orang itu sama sekali bukan properti pertunjukan seni, melainkan kostum resmi warga alam gaib yang siap menjemput takdir barunya!

Karena rasa penasarannya sudah di ubun-ubun, Kiano memberanikan diri untuk menyapa salah satu wanita paruh baya yang duduk tak jauh dari kursinya.

"Permisi, Bu. Saya boleh tanya nggak? Saya cuma penasaran, kok kalian kompak banget pakai baju adat tradisional begini, ya?" tanya Kiano ramah dari kursinya. "Seingat saya, pameran seni terbesar di Jakarta baru aja selesai tiga bulan lalu, Bu. Dan bulan ini belum ada info acara festival budaya lagi. Maaf banget kalau saya lancang, Bu, saya cuma kepo aja."

Mendengar sapaan Kiano, wanita paruh baya itu mulai mendongakkan kepalanya secara perlahan. Ngerinya, gerakan itu diiringi suara retakan tulang leher yang sangat nyaring, mirip bunyi engsel pintu karatan yang kekurangan oli.

Krrreeeekkk...!

Kiano sontak tercengang di tempatnya. Namun, alih-alih berteriak ketakutan atau melompat kabur, Kiano justru menatap si ibu dengan pandangan simpati. Ia mengira si ibu sedang menderita asam urat akut atau encok stadium akhir akibat terlalu lama duduk di kereta fusi nuklir.

Begitu wajah si ibu mendongak dengan sempurna, Kiano langsung tersentak. Seluruh bagian mata wanita itu berwarna putih polos, tanpa ada kornea ataupun pupil hitam sama sekali.

Kok matanya putih semua? Jangan-jangan...

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!