Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : KAPAL YANG TIDAK DIUNDANG
Siapapun juga tahu, jika mereka telah mencoba setidaknya dua kali.
Pertama dengan bendera putih yang dikibarkan di tiang tertinggi, isyarat yang dikenal oleh hampir semua pelaut di Shenzhou sebagai tanda bahwa pihak yang mengibarkannya tidak berniat bermusuhan. Kedua dengan lampu sinyal yang dipancarkan dari dek kemudi dalam pola yang sudah menjadi standar di jalur pelayaran Long Yuan, tiga pendek dua panjang, artinya identifikasi diri dan minta konfirmasi.
Akan tetapi kapal hitam di cakrawala timur laut itu malah tidak membalas satu pun.
Tidak ada bendera balasan, tidak ada sinyal cahaya maupun perubahan arah. Ia bergerak terus ke depan dengan kecepatan seperti sudah tahu ke mana harus pergi dan tidak perlu diberitahu dua kali.
Sementara Panglima Qinghan sudah berbalik dari railing sebelum orang kedua di dek selesai memproses apa artinya keheningan itu.
"Bersiap," katanya. Satu kata, tapi cara mengucapkannya mengandung semua detail yang dibutuhkan. "Meriam ke posisi! Kru non-tempur pergi ke bawah, dan semua orang bergerak sekarang!"
Dek yang tadi setengah tenang berubah dalam waktu yang tidak banyak. Para kru berlari ke pos masing-masing, tali-tali disesuaikan, moncong-moncong meriam yang biasanya menghadap ke langit mulai diputar ke arah yang lebih horizontal.
Tianbao muncul di sisi Haifeng dari tangga dek bawah dengan ekspresi yang sangat berbeda dari ekspresi di hari-hari biasa. "Semua yang tidak bisa bertempur sudah dipindahkan ke ruang penyimpanan tengah. Wang Bi dan Liu Mao protes, tapi sudah masuk. Kakek Hua Yuan dan Hua Ling juga sudah di bawah."
"Bagus." Haifeng tidak mengangkat tatapannya dari kompas Dao di tangannya. Jarum itu masih menunjuk ke arah yang sama seperti sebelumnya, tidak berubah, tidak terpengaruh oleh kapal besar yang semakin mendekat. "Terima kasih."
Tianbao berdiri di sampingnya, menatap kapal hitam yang ukurannya semakin jelas seiring jaraknya yang semakin berkurang. "Apa yang mereka mau, menurutmu?"
"Tidak jelas." Haifeng menyimpan kompasnya. "Kerajaan Tengkorak Hitam tidak punya tujuan yang bisa diprediksi selain membuat masalah di mana pun mereka pergi. Mereka bukan seperti kekaisaran yang punya agenda politik. Mereka lebih seperti..."
"Perusuh?"
"Perusuh dengan kapal baja dan meriam."
Haifeng menoleh ke arah kakaknya yang berdiri di sisi kanan dek kemudi, memandangi kapal yang mendekat dengan ekspresi yang tidak bisa dibedakan dari ekspresinya ketika memantau perbaikan kapal beberapa hari lalu. Terlalu tenang untuk situasinya.
"Kak."
Qinghan langsung menoleh.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari salah satu dari mereka. Hanya tatapan yang berlangsung kurang dari dua hitungan, dan pada akhirnya keduanya mengangguk, satu gerakan kecil yang sudah mengandung semua yang perlu disetujui.
Adapun kapal hitam itu bergerak sampai berjejer dengan kapal mereka, dan baru di jarak sedekat itu perbedaan ukurannya terasa sepenuhnya.
Lambung kapal hitam itu menjulang di sisi mereka seperti tebing yang memutuskan untuk bergerak, dinding baja yang permukaannya tidak memantulkan cahaya dengan cara yang normal karena ada sesuatu di lapisannya yang menyerap lebih banyak daripada memantulkan. Bayangan kapal itu memanjang ke atas dek mereka, dan untuk beberapa detik cahaya matahari yang tadi terang memang benar-benar tertutup.
Di sisi lain kapal, Zhao Feng berdiri dengan tangan di pinggang menatap ke atas ke lambung kapal hitam itu. "Aku tidak suka bajak laut," katanya kepada tidak ada orang secara khusus.
"Tidak ada yang suka bajak laut," kata Sun Li.
"Aku lebih tidak suka bajak laut yang kapalnya lebih besar dari kapal kita."
"Semua bajak laut yang berbahaya punya kapal lebih besar." Ma Chao menatap ke atas dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia sedang menghitung sesuatu dan tidak menyukai hasilnya. "Kalau kapalnya lebih kecil, mereka tidak berbahaya."
"Itu cara pandang yang sangat tidak menghibur," balas Zhao Feng.
Sebelum Sun Li bisa menjawab, suara itu datang dari atas.
Tidak dari orang tertentu yang bisa ditunjuk, layaknya suara yang keluar dari kapal hitam itu sendiri dan diperkuat oleh sesuatu, merata ke seluruh permukaan air di sekitar mereka.
"Kapal Long Yuan!" Suaranya tidak memiliki nada yang menyimpan kemungkinan negosiasi. "Kami tahu apa yang kalian bawa. Serahkan semua barang berharga kalian, tinggalkan kapal kalian, dan pergi ke arah mana pun yang kalian mau. Kami tidak akan mengejar."
Zhao Feng menoleh ke Sun Li. "Mereka pikir kita siapa."
"Orang yang mau menyerah," kata Sun Li.
"Kesalahan penilaian yang sangat besar."
Mendengar ancaman itu, Qinghan melangkah ke railing sisi kiri kapal, menghadap ke arah kapal hitam itu sepenuhnya. Suaranya tidak sekeras suara dari kapal hitam tadi, tidak diperkuat oleh apa pun, tapi nadanya mengandung sesuatu yang membuat semua orang di dek mereka sedikit menahan napas.
"Tidak," katanya.
Dari kapal hitam itu, sebuah tawa keluar. Tentu saja bukan tawa satu orang. Lebih banyak dari itu, bercampur menjadi satu suara yang terasa seperti komentar atas sesuatu yang sudah mereka duga akan terjadi.
Kemudian kapal itu bergerak menjauh, perlahan, memisahkan diri ke jarak yang lebih jauh.
Tianbao menghela napas di sisi Haifeng. "Pergi juga akhirnya."
"Belum." Haifeng sudah bergerak. "Semua orang berlindung. Sekarang!"
Tidak semua orang langsung mengerti kenapa. Tapi cara Haifeng mengucapkan kata "sekarang" itu membuat kaki bergerak mengikutinya bahkan sebelum pikiran selesai bertanya.
Asap-asap tipis mengepul dari sisi kapal hitam yang kini menghadap mereka, satu per satu, terlalu rapi untuk menjadi kebetulan, dan sesudah asap itu selalu ada jeda yang sangat singkat sebelum dentuman menyusul.
Peluru-peluru meriam itu datang seperti hujan batu yang terlalu cepat untuk diikuti oleh mata.
Beruntung Panglima Qinghan sudah lebih dulu mengangkat kedua tangannya.
Es pun terbentuk di udara tepat di depan kapal mereka, lapisan tebal yang padat dan rapat, muncul dalam hitungan yang terlalu cepat untuk dijelaskan dengan fisika biasa. Peluru pertama menghantam es itu dan berhenti di dalamnya. Peluru kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, semua menanam diri di lapisan es yang terus menebal mengikuti kebutuhan. Suara benturannya bergema berkali-kali di atas permukaan air.
Kemudian lapisan es itu mencair, seperti sesuatu yang menyelesaikan tugasnya dan kembali ke bentuk asalnya. Peluru-peluru yang tadi tertanam di dalamnya pun ikut jatuh ke laut.
Dek mereka tidak tersentuh satu pun.
Qinghan menurunkan tangannya. Matanya ke kapal hitam yang kini sudah di jarak yang lebih jauh lagi, mengambil posisi untuk putaran serangan berikutnya.
"Kakak." Haifeng berdiri di sampingnya. "Lebih baik kita mundur dulu. Ukuran mereka lebih besar, meriam mereka lebih banyak. Kita tidak harus—"
"Mundur?" Qinghan menoleh ke adiknya. Di sudut bibirnya ada sesuatu yang tidak sering muncul di sana, senyum miring yang tidak menyerupai keramahan sama sekali tapi juga tidak bisa disebut marah. "Adikku, kapal itu lebih besar dari kita."
"Iya, itu yang aku bilang."
"Artinya kalau aku tenggelamkan kapal itu, semua orang yang melihatnya dari kejauhan akan tahu bahwa Long Yuan menenggelamkan kapal yang lebih besar hanya dengan satu orang." Matanya kembali ke kapal hitam itu. "Kita tidak mundur. Kita maju. Minta nahkoda putar haluan ke kiri tiga puluh derajat."
Haifeng menatap kakaknya selama beberapa detik. Kemudian menoleh ke dek dan meneriakkan perintah itu ke nahkoda.
Kapal mereka mulai berputar, haluannya bergerak ke kiri, memotong ombak dengan sudut baru yang membawa mereka bukan menjauhi kapal hitam itu, melainkan semakin ke arahnya.