Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.
Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.
Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.
Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.
Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.
Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.
~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Pernikahan Politik
Semasa kecil, Rasyid sering duduk diam mendengarkan cerita ayahnya tentang bagaimana sang kakek selalu berkata: “Jabatan itu amanah. Kalau rakyat sampai takut pada pemimpinnya, berarti ada yang salah.”
Kalimat itu melekat kuat dalam ingatan Rasyid hingga dewasa. Karena itulah saat memutuskan maju sebagai calon bupati di tanah kelahiran ayahnya, Rasyid tidak ingin menjadi pemimpin yang hanya pandai berbicara di depan kamera. Ia ingin benar-benar bekerja.
Ia tahu daerah itu menyimpan terlalu banyak masalah: kemiskinan, pengangguran, pendidikan yang tertinggal, akses jalan yang buruk, dan bantuan yang sering tidak tepat sasaran.
Semua itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan baliho besar atau pidato indah saat kampanye. Dan justru karena memahami beratnya amanah itu, Rasyid semakin yakin bahwa ia membutuhkan pasangan yang mampu menjaga hatinya tetap dekat dengan rakyat. Bukan perempuan yang sibuk menjaga gengsi. Bukan yang hanya bangga pada status sebagai istri pejabat. Melainkan seseorang yang mampu mengingatkannya pada tujuan awal perjuangannya.
Dan semakin ia mengenal Ami, semakin ia merasa gadis itu memiliki hal yang dulu dimiliki kakeknya: keberanian untuk berpihak pada rakyat kecil.
***
Pagi itu, Rasyid baru saja mulai sarapan ketika Paman Badri datang dengan wajah penuh semangat. Pria itu langsung duduk di kursi seberang sambil membawa map tebal berisi berkas kampanye.
“Syid, ada kabar bagus.”
Rasyid yang sedang menuang kopi hanya mengangkat pandangan sekilas. “Kabar apa?”
“Kita dapat dukungan baru.” Nada suara Paman Badri terdengar puas. “Dari Pak Hakim.”
Nama itu langsung membuat Rasyid berhenti sejenak. Siapa pun di daerah itu pasti mengenal Pak Hakim. Salah satu pengusaha terbesar dengan jaringan bisnis di mana-mana. Mulai dari perkebunan, distribusi bahan pokok, properti, sampai media lokal. Bahkan beberapa channel berita daerah diketahui berada di bawah pengaruhnya.
Dukungan dari orang seperti itu jelas bukan hal kecil. Paman Badri melanjutkan dengan semakin antusias. “Kalau hubungan kita dengan Pak Hakim bagus, masa depan politikmu bisa jauh lebih terjamin.”
Rasyid tetap tenang. “Saya tahu beliau berpengaruh.”
“Bukan cuma berpengaruh,” sahut Paman Badri cepat. “Beliau punya dana, jaringan, media, dan koneksi sampai pusat.” Ia menatap Rasyid serius. “Orang seperti Pak Hakim bisa membantu karier politikmu bertahun-tahun ke depan.”
Rasyid mulai bisa menebak arah pembicaraan itu. Dan benar saja.
“Kabar baiknya,” lanjut Paman Badri sambil tersenyum lebar, “putrinya sangat tertarik ingin berkenalan denganmu.”
Rasyid langsung diam.
Paman Badri tampak semakin bersemangat. “Namanya Nadin Hakim. Cantik, pintar, lulusan Jakarta. S2 juga.” Ia tertawa kecil. “Kalian cocok sekali.”
Rasyid perlahan menyandarkan tubuhnya. Namun Paman Badri belum selesai. “Dia aktif di organisasi sosial, pintar bicara di depan publik, dan sangat menjaga penampilan.” Nada suaranya terdengar penuh penilaian. “Kalau jadi pasangan calon bupati, citranya sempurna.”
Rasyid mulai kehilangan selera makannya.
Tetapi Paman Badri terus berbicara seolah sedang menawarkan masa depan ideal. “Bersikap baiklah dengannya, Syid.” Tatapan pria itu berubah serius. “Ambil hati putrinya. Maka kamu akan mendapatkan dukungan ayahnya.” Suasana ruang makan mendadak terasa lebih berat. “Paman yakin kalian akan jadi pasangan serasi,” lanjutnya. “Dan Pak Hakim juga bukan orang pelit. Kalau dia sudah mendukung penuh, dana kampanyemu akan aman.”
Kalimat itu membuat Rasyid perlahan meletakkan sendoknya. Entah kenapa, semakin Paman Badri berbicara tentang kecocokan, pendidikan, status sosial, dan keuntungan politik yang muncul di kepala Rasyid justru Ami. Gadis desa yang bahkan menolak bertemu dengannya. Perempuan sederhana yang tidak pernah mencoba mengambil hatinya demi keuntungan apa pun.
Rasyid menatap kopi di depannya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Paman…”
“Hm?”
“Kalau saya menikah nanti…” Tatapannya perlahan terangkat. “Saya tidak ingin itu jadi transaksi politik.”
Paman Badri tersenyum tipis, seolah menganggap Rasyid masih terlalu idealis. “Ini bukan transaksi, Syid.” Ia menepuk meja pelan. “Ini strategi.”
Namun dalam hati, Rasyid justru merasa semakin yakin bahwa dunia politik memang perlahan mencoba menentukan bahkan siapa yang boleh ia cintai.
***
Paman Badri benar-benar bergerak cepat. Tidak sampai seminggu setelah pembicaraan saat sarapan itu, ia mulai mengatur berbagai kebetulan agar Rasyid dan Nadin bisa sering bertemu.
Mulai dari acara makan malam keluarga, kunjungan kegiatan sosial, sampai menghadiri forum bisnis daerah yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dihadiri Rasyid.
Semuanya terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Dan Rasyid menyadarinya.
Malam itu, mereka kembali dipertemukan dalam sebuah acara makan malam kecil di rumah Pak Hakim. Nadin duduk tepat di hadapan Rasyid dengan senyum yang sejak tadi nyaris tidak hilang dari wajahnya.
Perempuan itu memang cantik. Kulitnya terawat, cara berpakaian elegan, tutur katanya lembut dan terlatih. Ia membawa diri seperti perempuan-perempuan kalangan atas yang terbiasa hadir di lingkungan pejabat dan pengusaha besar. Pantas saja Paman Badri begitu menyukainya.
“Nanti kalau Mas Rasyid jadi bupati,” ujar Nadin sambil tersenyum manis, “daerah ini pasti jauh lebih maju.”
Rasyid hanya membalas sopan. “Semoga.”
Sepanjang makan malam, Nadin tampak berusaha keras mengambil hati Rasyid. Ia tertawa di setiap candaan. Memuji visi politiknya. Bahkan beberapa kali sengaja menunjukkan bahwa dirinya berasal dari kalangan berpendidikan.
Namun entah kenapa, Rasyid justru merasa percakapan mereka terlalu dangkal. Terlalu dibuat-buat. Tidak ada ketulusan yang benar-benar ia rasakan. Dan semakin lama, Rasyid semakin sadar ada sesuatu yang kurang.
Saat pembicaraan mulai masuk ke isu daerah, Rasyid mencoba bertanya santai. “Menurut Mbak Nadin, masalah paling besar di daerah kita sekarang apa?”
Nadin terlihat berpikir beberapa detik. “Hmm… mungkin branding wisata?”
Rasyid diam mendengarkan.
“Kalau promosi digitalnya bagus, daerah ini pasti lebih terkenal.”
Jawaban itu tidak salah. Tetapi terlalu permukaan.
Rasyid lalu mencoba lagi. “Kalau soal pertanian?”
Nadin tersenyum kecil, sedikit kikuk. “Aku kurang mengikuti detail begitu.”
“Pendidikan desa?”
“Sejujurnya aku lebih sering di Jakarta.”
Rasyid mengangguk pelan. Dan di situlah ia semakin merasakan jarak di antara mereka. Nadin memang pintar. Berpendidikan tinggi. Cocok tampil di depan publik. Tetapi perempuan itu tidak benar-benar memahami masyarakat daerahnya sendiri.
Ia terlalu lama hidup di kota. Terlalu jauh dari persoalan rakyat kecil.
Sementara tanpa diminta, pikiran Rasyid kembali membandingkan Nadin dengan Ami. Ami mungkin hanya gadis desa lulusan SMA. Tetapi ia tahu harga pupuk petani naik. Ia tahu jalan mana yang rusak bertahun-tahun. Ia tahu bantuan mana yang sering tidak tepat sasaran. Dan yang paling penting Ami peduli. Bukan sekadar menjadikan rakyat sebagai bahan pidato.
“Mas Rasyid?” Suara Nadin membuat Rasyid tersadar dari lamunannya.
“Maaf,” katanya sopan.
Nadin tersenyum manis lagi.
Tetapi untuk pertama kalinya malam itu, Rasyid benar-benar yakin pada satu hal, perempuan yang diinginkan keluarganya mungkin memang sempurna untuk dunia politik. Namun perempuan yang diinginkan hatinya tetap Ami.