NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan makan malam

Langkah kaki Xarena terasa berat saat menapaki lantai marmer lobi hotel bintang lima tempat jamuan makan malam itu digelar. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Malam ini, ia hanya mengenakan gaun hitam sederhana selutut—satu-satunya pakaian formal yang masih tersisa di lemarinya sejak masa kejayaan Biantoro Grup runtuh.

​Meski gaunnya sederhana, riasan wajah yang natural justru menonjolkan tulang pipinya yang tegas dan mata indahnya yang bicara banyak hal. Ia tidak butuh berlian untuk terlihat bersinar; aura keanggunan yang ia bawa sejak lahir sebagai putri pengusaha besar tidak bisa terhapus begitu saja oleh kemiskinan.

​Xarena melirik jam tangan murah di pergelangan tangannya. Ia tiba sepuluh menit lebih awal. Sesuai perintah Alan, ia harus menunggu di depan lobi.

​"Sabar, Xarena. Ini demi Ciara," bisiknya pelan, mencoba mengabaikan tatapan mata para tamu elit yang mulai berdatangan dengan setelan harga puluhan juta rupiah.

​Lima menit berlalu, sebuah Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan lobi. Petugas valet segera membukakan pintu. Jantung Xarena seolah berhenti berdetak saat melihat sosok yang keluar dari mobil itu.

​Alan turun dengan setelan jas custom-made berwarna gelap yang sangat pas membungkus tubuh atletisnya. Ia terlihat begitu gagah, jauh berbeda dengan Alan remaja yang dulu sering memakai kaos oblong pudar pemberian Xarena. Namun, yang membuat ulu hati Xarena terasa diremas adalah sosok wanita yang keluar dari pintu sebelah.

​Nyonya Monique.

​Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna merah maroon dengan potongan yang sangat elegan, berkelas, dan penuh dengan aksen permata yang berkilauan. Monique menggandeng lengan Alan dengan posesif. Meskipun kerutan halus di sekitar matanya menunjukkan bahwa usianya jauh di atas Alan, aura kekuasaan yang ia miliki membuatnya tampak mendominasi.

​Xarena mengumpat dalam hati. Pasti selama ini banyak orang yang diam-diam mencibir mereka, pikirnya sinis. Ketampanan Alan yang sedang berada di puncak kejantanan pria sangat kontras dengan Monique yang lebih pantas menjadi kakaknya, atau bahkan mungkin lebih.

​"Kau tepat waktu. Setidaknya kau belajar menjadi anjing yang patuh," suara berat Alan memecah lamunan Xarena.

​Monique menatap Xarena dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Jadi ini asisten pribadimu yang baru, Alan? Manis juga. Tapi gaunnya... oh sayang, apakah kantormu tidak membayar gaji yang cukup untuk membeli sesuatu yang lebih layak?"

​Xarena hanya bisa menunduk, mengepalkan tangan di balik lipatan gaunnya. "Selamat malam, Nyonya Monique. Saya Xarena."

​"Sudahlah, Monique. Dia di sini hanya untuk mencatat detail kontrak dan memegang tasku jika perlu. Jangan buang energimu," potong Alan dingin. Ia bahkan tidak melirik ke arah Xarena, seolah-olah wanita yang dulu pernah ia puja itu hanyalah udara kosong.

​Dengan angkuh, Alan dan Monique melangkah masuk ke ruang pesta yang megah. Xarena mengekor di belakang mereka seperti bayangan yang tak diinginkan.

​Saat mereka memasuki ballroom, perhatian para tamu langsung tertuju pada mereka. Suara denting gelas kristal dan musik klasik yang santai mengisi ruangan. Beberapa kolega bisnis menyapa Alan dengan penuh hormat.

​"Alan! Senang melihatmu datang," sapa seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu investor besar. "Dan tentu saja, Nyonya Monique yang selalu cantik."

​Di tengah percakapan santai itu, Kinan—yang ternyata juga hadir membantu bagian dokumentasi—mendekati Xarena dengan gerakan mengendap-endap.

​"Psst! Xaren!" bisik Kinan sambil membawa kamera kecil. "Gila ya, si Bos gantengnya keterlaluan malam ini. Tapi liat deh istrinya, dandanannya kayak mau ikut kontes kecantikan tujuh turunan. Kamu oke kan? Mukamu kayak mau pingsan."

​Xarena mencoba tersenyum tipis. "Aku oke, Nan. Cuma sedikit gerah."

​"Gerah apa panas hati?" goda Kinan santai, tidak tahu masa lalu sahabatnya itu. "Eh, tapi kamu sadar nggak sih? Sepatu yang kamu pakai itu... kayaknya aku pernah liat di majalah lama. Itu merk mahal kan?"

​Xarena melihat ke bawah, pada sepatu hak tinggi miliknya yang meski sudah berusia lima tahun, masih terlihat terawat. Itu adalah kado terakhir dari Papi sebelum semuanya disita. "Ini cuma sepatu lama, Nan."

​Tiba-tiba, suara Monique terdengar memanggilnya dengan nada memerintah dari kejauhan. "Asisten! Ke sini sekarang. Ambilkan aku sampanye."

​Xarena menghela napas, berjalan menuju nampan minuman dan membawanya ke arah Monique. Saat ia mendekat, ia bisa melihat Alan sedang berbincang dengan beberapa rekan SMA mereka yang kini juga sukses di dunia bisnis.

​Salah seorang dari mereka, seorang pria bernama Rian yang dulu merupakan teman satu tim basket Alan, menyipitkan mata saat melihat Xarena mendekat.

​"Tunggu dulu... ini Xarena kan?" tanya Rian tiba-tiba, membuat suasana di meja itu mendadak sunyi. "Xarena Biantoro?"

​Alan yang tadinya sedang menyesap minumannya, mendadak membeku. Gelasnya berhenti di depan bibir.

​"Loh, iya! Xarena yang primadona sekolah itu kan?" sahut yang lain. "Wah, makin cantik saja kamu, Ren. Kudengar keluargamu pindah ke luar negeri setelah... ya, setelah kejadian itu?"

​Xarena merasakan wajahnya memanas. "Saya tetap di sini. Saya asisten Pak Alan sekarang."

​Rian tertawa kecil, menoleh pada Alan. "Wah, hebat kamu, Lan. Bisa mempekerjakan mantan tunangan di kantormu. Dunia benar-benar berputar ya?"

​Suasana menjadi sangat canggung. Monique yang tidak tahu detail tentang "tunangan" itu, langsung menatap Alan dengan tatapan menyelidik. "Tunangan? Apa maksudnya ini, Alan?"

​Alan meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan di atas meja. Matanya berkilat marah, namun ia tetap berusaha menjaga suaranya tetap rendah dan stabil. "Hanya cinta monyet masa kecil, Monique. Jangan terlalu dianggap serius. Rian hanya bercanda."

​"Bercanda?" Rian yang sudah sedikit mabuk menyahut santai. "Mana ada bercanda. Dulu kalian kan nempel terus kayak perangko. Sampai-sampai Xarena kerja part-time di kedai kopi demi—"

​"Cukup, Rian!" bentak Alan, suaranya naik satu oktaf membuat beberapa orang menoleh.

​Monique menyipitkan mata, tangannya semakin erat memeluk lengan Alan. Ia menatap Xarena dengan kebencian yang kini nyata. "Jadi, kau adalah gadis yang diceritakan itu? Gadis yang memilih pergi dengan pria kaya dan meninggalkan Alan saat dia sedang susah?"

​Xarena terdiam. Lidahnya kelu. Ia ingin sekali berteriak di depan wajah mereka semua. Ingin ia katakan bahwa ia tidak pernah memilih pria kaya, bahwa ia menghilang demi menyelamatkan Alan, dan bahwa ia berjuang sendirian dengan perut membesar saat itu.

​"Nyonya, saya hanya di sini untuk bekerja," jawab Xarena dengan suara bergetar.

​"Kerja atau ingin mencoba menggoda suamiku lagi?" sindir Monique tajam. "Ingat posisimu, Xarena. Kau hanya pelayan di sini. Jangan harap masa lalu bisa membantumu naik kelas kembali."

​Alan hanya diam, tidak membela sama sekali. Ia justru menatap Xarena dengan senyum kemenangan yang menyakitkan. "Dengar itu, Xarena? Bawa piring-piring kotor ini ke belakang. Sepertinya itu lebih cocok untukmu daripada berdiri di sini dan mengganggu tamu-tamuku."

​Xarena menelan ludah. Hatinya hancur berkeping-keping. Pria yang dulu pernah berjanji akan menjaganya selamanya, kini justru menjadi orang yang paling depan menghinanya di depan banyak orang.

​Ia mengambil piring-piring itu dengan tangan gemetar. Di tengah keramaian pesta yang penuh tawa dan obrolan santai tentang saham dan liburan mewah, Xarena merasa menjadi orang paling kesepian di dunia.

​Seharusnya aku yang membencimu, Alan, batinnya perih saat ia berjalan menuju dapur hotel. Seharusnya aku yang menuntut balas atas hilangnya masa mudaku, atas Ciara yang tumbuh tanpa ayah, dan atas air mata yang tak pernah berhenti mengalir selama lima tahun ini.

​Namun, kenyataan justru sebaliknya. Di gedung megah ini, di bawah lampu kristal yang menyilaukan, Alan adalah sang raja, dan Xarena hanyalah debu yang tersapu di bawah kakinya. Permainan dendam Alan baru saja dimulai, dan Xarena tahu, malam-malam berikutnya akan jauh lebih menyakitkan dari ini.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!