Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koran
"Kenapa berhenti?" tantang Rayya karena sepertinya Marsel tersadar dan berangsur menjauhkan senjatanya dari leher wanita itu.
"Jangan menguji kesabaran ku. Atau aku akan benar-benar menyakitimu...," suara Marsel terdengar lembut tapi menusuk. dari balik kaca mobil Ia melihat Alex memberikan tanda ada bahaya mendekat tanpa di mengerti oleh Rayya jika kini Marsel di landa rasa was-was.
Mereka berada di tengah jalan dan di luar kawasan Cosa Nostra, jangan sampai Rayya kena imbasnya karena ini, baru saja Marsel ingin menyembunyikan pisaunya, dengan cepat Rayya merampas benda tajam tersebut dan Ia arahkan pada lehernya sendiri
"Rayya!" seru Marsel kaget, kecemasan terlihat jelas di wajah nya.
"Menjauh!" teriak Rayya masih dengan ancaman nya.
"Sial!" umpat Marsel kesal dan marah pada diri sendiri. Perbuatan nya malah mengancam nyawa Rayya, Ia hanya ingin menakuti wanita itu, tapi kenapa Rayya malah mengancam dengan nyawanya sendiri.
Marsel dengan cepat mundur karena tidak ingin wanita itu kenapa-napa dan takut Rayya nekat melukai diri sendiri.
'Dia takut aku mati...?' batin Rayya agak tidak mau percaya.
Tapi hal ini sepertinya adalah peluang untuk Ia bisa keluar dari mobil itu.
"Rayya, jangan nekat," kata Marsel khawatir dan memantau pergerakan Rayya agar ia bisa mengambil kembali belati miliknya tanpa melukai wanita nya.
"Cepat buka pintu mobilnya. Atau_"
"Baiklah-baiklah. Berikan belati itu. Kamu akan ku antar pulang setelah ini," bujuk Marsel. Ia sepertinya menyesal kenapa harus mengeluarkan benda tajam tersebut. Apalagi Rayya seakan tidak takut mati.
"Tidak. Aku mau keluar sekarang juga. Aku benci berada di sini bersama seorang pembunuh seperti mu!" marah Rayya kesal mengingat lagi kelakuan Marsel yang telah menjadi penyebab ia kehilangan adik kesayangannya.
"Alex!" panggil Marsel dan sang bawahan yang mendengar panggilan Bos nya segera kembali memasuki mobil.
"Ya, Bos."
"Rayyaku bilang ingin keluar sekarang," kata Marsel dan masih tetap tidak lepas memantau. Takut wanita itu kenapa-napa.
Alex melihat pada Rayya. Nampaknya kali ini Bosnya mendapatkan lawan yang bisa mengalahkan diri nya. Karena Marsel bahkan tidak bisa menolak gertakan kecil dari Rayya. Alex hanya takut hal ini di ketahui oleh musuh-musuh Marsel, pasti Rayya tidak akan aman jika di biarkan berkeliaran tanpa pengawasan.
Clik
Suara kunci yang terbuka.
Cepat-cepat Rayya keluar dari mobil mewah tersebut, baru saja kakinya menyentuh aspal, Rayya merasa pergelangan tangannya tertahan. Wanita itu dengan cepat mempertahankan belati pada sekitar lehernya.
"Lepaskan tanganku."
"Sebelum Rayyaku pergi, Aku ingin mengembalikan sesuatu," kata Marsel menanggapi tatapan dingin Rayya.
Pria itu mengeluarkan sebuah kain dari dalam jas nya dan rupanya Marsel ingin mengembalikan robekan syal Rayya semalam.
"Ini."
Rayya mengambil cepat pemberian itu dan segera pergi dari sana. Wanita itu pergi tanpa menoleh sedikit pun ke belakang dan setelah puluhan meter ia melangkah meninggalkan Marsel, wanita itu segera membuang belati bersama robekan syal nya ke tempat sampah yang ia temukan di jalan.
"Alex, cepat ambilkan."
Rupanya Marsel belum pergi dan tetap memandangi Rayya sampai wanita itu hilang dari pandangan. Tentu Ia melihat apa yang Rayya buang tadi.
Alex segera pergi berlari dan memungut nya di tong sampah dan segera bergegas memberikan nya kembali pada Marsel.
Setelah mendapatkan kedua benda itu lagi, Marsel kembali masuk dalam mobil dan bibir nya membentuk senyuman saat melihat tas Rayya masih ada di sana. Nampaknya tadi Rayya terlalu terburu-buru sampai meninggalkan tasnya.
"Apa perlu kita mengejar Nona Rayya, Bos?" tanya Alex saat menyadari apa yang Marsel pandangi dari balik spion.
"Kita langsung pulang," balas Marsel dan tangan nya terulur mengambil tas tersebut. Ia hendak membuka benda tersebut dan ingin melihat isinya namun urung Marsel lakukan saat menghirup aroma Rayya tertinggal di tas itu, padahal resletingnya sudah setengah yang terbuka, Marsel memilih kembali menutup tas tersebut.
_____________________
"Rayya, sarapan dulu sebelum berangkat, Nak," panggil Sella lembut pada Rayya yang menuruni tangga dengan penampilan yang telah siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Iya, Ma," sahut Rayya bergabung di meja makan dengan wajah penuh senyum.
Di sana juga ada Indah, Nenek Rayya yang tengah fokus membaca koran, Ia bahkan memperbaiki ketak kaca matanya dengan wajah serius menatap setiap kata dan kalimat yang ada di atas kertas itu.
"Ma, sarapan dulu baru lanjut baca korannya lagi," kata Rio lembut dan perhatian kepada mertuanya. Akan tetapi justru Indah malah menatap tajam Rayya dengan mata keriput nya yang terlihat jelas.
"Rayya, apa orang yang membuat cucu kesayangan ku tiada kemarin datang ke rumah sakit permata? Katanya dia mencari wanita bernama Rayya. Itu kamu kan!"
Perkataan Indah langsung membuat semua pasang mata tertuju pada Rayya.
Rayya menelan suapan pertama yang masuk dalam mulutnya dengan susah payah, dari mana Indah tahu hal ini.
"Nenek tahu dari mana?" tanya Rayya pelan dan hati-hati.
Indah memang sangat sensitif jika sesuatu yang berkaitan dengan Liam, apalagi wanita tua itu sangat sayang pada cucu lelakinya, sangat berbanding terbalik akan sikap nya pada Rayya yang seakan hanya beban di keluarga itu.
"Dari koran ini," Indah mengangkat salah satu tangan bersama koran di genggam nya.
"Apa hubungan ku dengan nya? Bukankah kamu tahu kalau cucuku mati karena orang itu!" suara Indah terdekat marah, apalagi di koran terlihat gambar Rayya pergi bersama Marsel, walau foto itu di ambil dari belakang, tapi Indah tahu perempuan yang bersama Marsel adalah Rayya. Karena Marsel hampir tidak pernah menunjukkan wajah di depan publik, akan tetapi setiap orang mendengar namanya mereka gemetar ketakutan.
"Benar Rayya? Kamu pergi dengan Marsel si Mafia itu?" tanya Sella memastikan, sedangkan Rio mengambil koran yang ada di tangan Indah untuk memastikan.
"Bukan begitu, Ma. Aku terpaksa, Si Marsel yang gila itu mengancam. Rayya tidak mau membuat orang-orang di rumah sakit ketakutan," kata Rayya berkata apa adanya.
"Tetap saja, kamu tidak boleh dekat-dekat dengan pembunuh Liam cucuku. Jika tidak jangan pernah muncul di rumah ini lagi!" marah Indah.
"Cukup, Ma. Apa maksud Mama berkata begitu? Rayya anakku dan kemana dia mau pergi jika bukan di rumah ini!" Rio menyahut tak suka ucapan Indah, dan Indah hanya berwajah jutek menanggapi nya.
"Dan kamu Rayya, jauh-jauh dari orang itu. Ingat, kamu akan segera menikah dengan Riko tidak lama lagi, jangan membuat masalah," kata Rio beralih pada Rayya.
Rayya menunduk dan merasa bersalah, apa yang Rio katakan benar, dia sudah akan menikah dengan Riko kekasihnya. Tapi Marsel malah mengganggu nya dari kemarin.
"Sudahlah, kalian jangan mengomeli Rayya lagi," kata Sella mencoba menenangkan situasi.
Ting tong.
Tiba-tiba bel berbunyi.
"Bi, tolong lihat siapa yang datang," perintah Sella pada Asisten Rumah Tangga di rumah mereka. Entah siapa yang bertamu pagi-pagi begini.