Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Kau bebas meminta apa saja. Hal-hal mesum juga boleh...
Ruangan mewah itu mendadak hening sesaat, menyisakan suara gemerisik daun dari luar yang tertiup angin sore.
Udara di dalam kamar terasa tenang, dengan semilir angin yang merayap masuk melalui sela-sela jendela sutra, memainkan ujung rambut putih salju milik Han Ping'er.
"Xu Mu. Bagaimana menurutmu tentangku?"
Han Ping'er kembali membuka obrolan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.
Ia memiringkan kepalanya, jemari lentiknya memainkan ujung rambutnya sendiri dengan ekspresi manja yang tampak sangat alami namun penuh perhitungan.
Mata merah mudanya menatap Yun Zhu, seolah sedang menanti sebuah pujian atau pengakuan.
"Apa yang dimaksud Nona Han?"
Yun Zhu tetap bersikap tenang, duduk dengan punggung tegak tanpa sedikit pun tergoda oleh pesona wanita itu. Ia terus memindai situasi, mencari tahu ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.
"Aku memilihmu. Mengikuti keluarga besar akan mempermudah jalanmu di Makam Abadi, itukah yang kau pikirkan?"
Bibir merah Han Ping'er mulai melengkung lagi, membentuk senyuman tipis yang menyiratkan bahwa ia bisa membaca isi pikiran pemuda di depannya.
"Benar," jawab Yun Zhu singkat dan jujur.
"Tumben sekali kau jujur. Padahal sebelumnya selalu menghindari pertanyaanku."
Han Ping'er tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar seperti denting lonceng perak.
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat gaun putih tipisnya sedikit merenggang di bagian dada.
"Ada hal yang bisa kujawab, tapi tidak semuanya."
"Hee."
Tiba-tiba, cincin penyimpanan di jari manis Han Ping'er berkedip samar dengan cahaya merah yang redup. Dalam sekejap mata, sebuah belati muncul di genggamannya.
Belati itu memiliki bilah berwarna merah darah dengan urat-urat hitam yang berdenyut di permukaannya, seolah-olah benda itu memiliki nyawa sendiri.
Aura mengerikan dan bau amis darah yang samar langsung memenuhi ruangan begitu benda itu menampakkan diri.
"Itu..." Yun Zhu bergumam, matanya menyipit memperhatikan pusaka tersebut.
Han Ping'er mengulurkan tangannya, memperlihatkan belati itu lebih dekat ke wajah Yun Zhu. Cahaya matahari yang masuk dari jendela terpantul di bilah merahnya, menciptakan bayangan yang menyeramkan di dinding.
"Belati Darah Iblis. Benda ini... anggap saja sebagai perkenalan kita."
Dengan gerakan yang halus, Han Ping'er menyerahkan belati itu kepada Yun Zhu. Ia membiarkan ujung jarinya bersentuhan dengan telapak tangan Yun Zhu saat menyerahkannya, sebuah sentuhan kecil yang disengaja.
"Untuk apa?" tanya Yun Zhu sambil menatap benda itu dengan curiga. "Aku tidak ahli membunuh. Kelihatannya tidak berguna meski kumiliki."
Ucapan datar itu langsung membuat Han Ping'er tertawa lepas hingga bahunya yang mulus berguncang pelan.
"Hahaha! Itu cara yang lucu untuk menolak pemberian. Tenang saja, tidak ada racun atau kutukan di sana. Aku bukan wanita tidak tahu malu yang akan menjebak rekannya sendiri."
Meski Han Ping'er berkata demikian dengan nada yang meyakinkan, Yun Zhu tetap tidak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun.
Ia mengambil belati yang terasa dingin dan berat itu, merasakannya sejenak di telapak tangannya, lalu segera menyimpannya ke dalam cincin penyimpanannya sendiri tanpa banyak komentar lagi.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya menyisakan suara napas halus dari keduanya.
Han Ping'er tidak membiarkan jarak itu bertahan lama, ia menggeser duduknya, perlahan merayap mendekati Yun Zhu dengan keanggunan seorang predator yang sedang bermain dengan mangsanya.
"Ayolah, kenapa kau diam saja?"
Yun Zhu secara refleks memundurkan tubuhnya sedikit, menjaga jarak aman yang konsisten.
"Memangnya apa yang perlu dibicarakan?"
Han Ping'er melempar senyum menggoda yang sangat memikat. Ia memiringkan kepalanya, membiarkan beberapa helai rambut putihnya jatuh menyentuh lutut Yun Zhu yang tertutup kain celana.
"Kau sudah punya kekasih?"
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Yun Zhu tersentak sejenak. Ingatannya sekilas melayang pada sosok Yan Chu.
"Tidak tau."
"Hee."
Han Ping'er tidak berhenti di situ.
Tangan mungilnya yang halus mulai mendekat, ujung jemarinya yang lentik menyentuh dada Yun Zhu, meraba perlahan kain jubah pemuda itu tepat di atas jantungnya.
"Xu Mu... kau benar-benar sangat menarik."
Sentuhan itu justru membuat Yun Zhu semakin curiga. Ia menatap tangan Han Ping'er seolah-olah itu adalah ular berbisa yang siap mematuk.
"Bagaimana kalau kita saling membantu dalam suatu hal?"
"Apa itu?" sahut Yun Zhu cepat, mencoba memutus suasana yang semakin intim tersebut.
"Kau... jadilah kekasihku."
"Mustahil."
Jawaban ketus dan instan itu membuat Han Ping'er meledak dalam tawa yang sangat renyah. Ia tertawa terbahak-bahak hingga harus memegangi perutnya, punggungnya berguncang hebat di depan Yun Zhu.
"Hahaha! Tunggu dulu!" Ia mengusap sudut bibirnya pelan, mencoba meredakan tawanya yang pecah. "Maksudku adalah bantu aku dengan itu."
Yun Zhu tetap diam, menunggu penjelasan lebih lanjut dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Tuan Muda Qin itu, dia selalu mengejarku. Benar-benar menyebalkan, aku sedikit kesulitan menyingkirkannya."
"Jadi kau ingin aku berpura-pura menjadi kekasihmu untuk menjauhkannya darimu?"
Han Ping'er berdiri tegak, rambut putihnya yang panjang berkibar saat ia mengibaskan kepalanya.
Ia mengacungkan jari telunjuknya ke arah Yun Zhu dengan penuh percaya diri, memperlihatkan aura dominannya sebagai putri bangsawan.
"Benar! Kau memang cepat paham."
Yun Zhu menundukkan kepalanya sejenak. Ia tidak peduli dengan urusan asmara orang lain, namun ia tahu bahwa berurusan dengan keluarga Qin bukanlah hal yang sepele.
Ia menimbang-nimbang keuntungan apa yang bisa ia peras dari situasi ini.
"Apa yang akan kau berikan?"
Mendengar pertanyaan pragmatis itu, Han Ping'er kembali tersenyum lebar.
Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memamerkan seluruh tubuhnya yang terbungkus sempurna oleh gaun putih tipis yang menonjolkan setiap lekuk indahnya.
"Setelah selesai, kau bebas meminta apa saja." Ia melangkah maju satu tindak, mendekatkan wajahnya yang cantik hingga napas hangatnya terasa di pipi Yun Zhu.
"Hal-hal mesum juga boleh..." bisiknya tepat di depan bibir Yun Zhu.
Tanpa terpancing sedikit pun, Yun Zhu menggunakan telapak tangannya untuk menjauhkan wajah Han Ping'er dengan gerakan pelan namun tegas.
"Aku ingin dua teknik dan dua senjata magis."
Han Ping'er tertegun. Ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya yang merah muda membelalak karena benar-benar terkejut dengan permintaan yang sangat kaku tersebut.
"Itu yang kau minta? Yang benar saja!"
"Tidak bisa? Kalau begitu kesepakatan batal."
"Bukan begitu!" Han Ping'er segera menahan lengan Yun Zhu saat pemuda itu hendak beranjak. "Maksudku kau tidak meminta hal lain selain itu?"
"Aku membutuhkan teknik, sangat butuh."
Han Ping'er menghela napas panjang, tampak sangat kecewa karena daya tarik kewanitaannya seolah tidak memiliki nilai di mata pemuda ini. Ia menepuk dahinya pelan dengan ekspresi frustrasi.
"Bodoh."