NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Sudah dua minggu Sarah kembali masuk ke sekolah. Semua jalan seperti biasa. Tapi ayahnya tak kunjung pulang, bahkan ibunya semakin sibuk dari biasanya sehingga Sarah hampir tidak bisa melihat Ibunya di rumah  padahal ibunya tidak ada pekerjaan apapun.

"Sar, Lo udah ada rencana kuliah di mana?" Tanya Tamara yang saat ini sedang bersantai di samping lapangan. Saat ini mereka sedang ada ujian praktek olahraga.

Sarah menggeleng, lalu kemudian mereka berdua menghela napas. Salah satu dilema ketika sudah menjadi siswa tingkat akhir di Sekolah Menengah atas.

Tiba-tiba kelebihan air yang telah mereka dan duduk di samping sara dengan nafas yang tersenggal-senggal karena telah berlari. Sarah kali memberikan sebotol air mineral pada Fabian dan laki-laki itu langsung menerimanya dan menekuk habis air mineral itu.

"Makasih," ucapannya setelah selesai meminum air.

"Eh, Fabian lu udah putusin untuk ambil jurusan apa saat kuliah nanti?" Kalau ini tawar penasaran dengan rencana yang dipilih oleh siswa teladan seperti Fabian.

Fabian mengipasi wajahnya menggunakan tangan karena cuacanya yang terasa sangat panas hari ini."Gue mau masuk teknik kimia," jawabnya.

Tamara mengangguk, sudah ia duga jika siswa teladan seperti Fabian pasti sudah memiliki target yang jelas.

"Kalau Lo?" Fabian mengajukan pertanyaan itu kepada Sarah.

Sarah menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia tidak tahu.

"Nggak apa-apa kok, masih ada satu semester lagi untuk memikirkan jurusan apa yang mau Lo ambil nanti. Nggak usah buru-buru, belum bisa pikirin matang-matang mulai dari sekarang," Fabian memberikan senyuman manis sehingga siapapun yang melihatnya mungkin akan terbawa perasaan.

"Giliran ke Sarah aja omongan lu lembut banget terus segala di disenyumin, giliran lo ngomong sama gue atau Kayla, asem banget ngelebihin asem Jawa." Celetuk Tamara yang kemudian dipelototi oleh Fabian.

"Tuh tuh! Liat kan Sar? Cowok ini muka dua. Pikirin lagi deh kalau mau sama dia."

"Tamara." Panggil Fabian dengan senyuman khas yang hanya dimiliki oleh laki-laki itu. Senyuman yang menandakan jika Tamara berulah lagi, Fabian akan melakukan sesuatu yang mungkin akan disesali oleh gadis itu kemudian.

"Ampun," Tamara menyatukan kedua tangannya lalu mengarahkannya ke kabinet seakan ia meminta ampun.

Perdebatan antara Tamara dan Fabian membuat Sarah tertawa. Tapi yang paling Sarah pahami adalah kemanapun Tamara pergi ia pasti akan menemukan teman untuk berdebat. Gadis itu cukup unik dan memiliki daya tarik tersendiri yang membuat orang-orang merasa gemas.

Gemas ingin memukul karena kesal.

"Oh iya Sarah, lo mau nggak pergi ke festival kuliner sama gue malam ini?"Fabian mengalihkan perhatiannya pada Sarah.

"Festival yang lagi viral itu ya?"

Fabian mengangguk.

"Ikut dong." Sahut Tamara lalu bergelayut manja di lengan Sarah, memohon untuk diajak.

"Bol-"

"Gak." Fabian memotong ucapan Sarah." Maaf Sar, gue pengen berdua sama lo dulu, boleh gak?"

Sarah menoleh ke arah Tamara yang sudah mengerucutkan bibirnya.

"Yaudah, Tapi besoknya sama gue ya Sar, oke?" Tamara memilih mengalah.

Cara kembali menatap ke arah kalian dan laki-laki itu menatapnya penuh harap. Cara menghilangkan nafas kemudian menyetujui ajakan Fabian.

Laki-laki itu tersenyum senang." Nanti malam gue jemput ya, jam tujuh."

"Oke."

Tamara menyenggol lengan Sarah lalu menarik turunkan alisnya, seolah menggoda Sarah.

...

Malam harinya, Sarah sudah siap dengan pakaian kasualnya. Ia memilih Manggarai rambutnya dan hanya merias diri seadanya. Meski begitu wajahnya masih terlihat cantik dengan riasan yang sederhana.

Sarah pun turun ke bawah dan mendapati Fabian yang sudah sedari tadi menunggunya di ruang tamu.

"Udah siap?" tanya Fabian begitu melihat Sarah sudah turun dari kamarnya.

"Udah, yuk kita berangkat." Ujar Sarah dengan semangat kemudian berjalan keluar. Fabian mengekor dari belakang, sesaat laki-laki itu terpesona dengan Sarah yang terlihat semakin cantik di matanya.

"Kita naik apa ke sana?" Tanya Sarah tidak melihat kendaraan apapun di depan rumahnya.

"Naik ini," Fabian memperlihatkan sebuah sepeda berwarna abu-abu dengan keranjang di depan. Terlihat sangat lucu.

Awalnya Sarah tersenyum lebar melihat sepeda itu, yang seketika dia menyadari sesuatu. Saat ini ia sedang menggunakan rok pendek, sepertinya sangat kurang pas apabila ia harus menaiki sepeda itu.

Fabian yang peka lalu merasa canggung. Seharusnya iya memberitahu Sarah terlebih dahulu jika mereka akan menggunakan sepeda menuju ke sana. Niatnya ingin memberi kejutan tapi malah seperti ini jadinya.

"Maaf ya Sarah, harusnya gue bilang dulu sama lu atau mau beli pesanan taksi aja?"

"Nggak usah Fabian, lo tunggu dulu aja ya gue mau ganti bawahan dulu." Udah Sarah lalu bergegas pergi Mas kembali ke dalam rumah untuk mengganti roknya.

....

Sesampainya di tempat tujuan, Sarah menikmati semua makanan yang tersedia di festival. Jujur saja, saat ini Sarah merasa sangat senang. Entahlah, kapan lagi ia bisa merasakan kebebasan seperti ini.

"Sar, gue tinggal ke toilet sebentar ya." Ucap Fabian sambil memegangnya perutnya.

"Pasti ini karena mie pedas yang tadi kan? Udah gue bilang jangan pesan mie yang terlalu pedas nanti lo sakit perut."

Fabian hanya menunjukkan senyum tipis, sebelumnya Ia memang diperingati oleh gadis itu agar tidak memesan mie yang terlalu pedas. Tapi dia mau memesan mie tersebut. "Gue tinggal dulu sebentar ya, jangan kemana-mana."

"Iya."

Fabian pun pergi meninggalkan Sarah yang berdiri di depan sebuah penjual lolipop.

Cara memperhatikan seorang anak kecil yang berusaha meraih sebuah permen yang terpajang sebagai hiasan di pohon. Anak kecil itu melompat-lompat dengan sangat lincah, sehingga tanpa serasa dari ia tersayang kecil.

Sarah menghampiri anak kecil itu." Adik mau ini?" Katanya Sarah sambil menunjuk Lollipop dan sedari tadi anak kecil itu coba raih.

Anak kecil itu menganguk, ia pun mengambil permen yang di maksud dan memberikannya pada gadis itu.

"Makasih," ucap anak itu. Bisa Sarah tebal jika anak itu mungkin berusia kisaran 10 tahun.

"Nama kamu siapa?" tanya Sarah.

"Aku Risya."

"Nama yang cantik, persis seperti orangnya," puji Sarah.

Risya tersenyum manis begitu di puji olehnya." Kakak juga cantik," balas Risya.

Sarah tersenyum lebar, anak gadis di depannya ini sangat pintarmu membalas pujiannya. Tapi ketika diperhatikan, cara seperti tidak asing dengan wajah Risya.

"Kamu ke sini sama siapa?"

"Sama mama, nah itu mama aku!" Risya menunjuk arah wanita yang sibuk membeli sebuah makanan di salah satu outlet.

Wajah Sarah yang semula tersenyum langsung berubah datar begitu melihat wanita yang ditunjuk oleh anak gadis itu.

Wanita itu ternyata wanita yang sama dengan yang dia lihat saat di hotel beberapa hari yang lalu lalu bersama ayahnya. Ya, wanita itu adalah selingkuhan ayahnya.

Wajah Sarah mengeras, tangannya terkepal kuat menahan amarah yang mungkin bisa meledak kapan saja.

"Kakak kenapa?"

"Papah Risya mana?" Tanya Sarah berusaha menahan emosi.

"Kerja," celetuk gadis itu dengan polos.

Sarah kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto Devan pada gadis itu.

"Itu kan papah aku," teriak Risya girang ketika melihat foto Devan di ponsel Sarah.

Sarah terdiam, sedetik kemudian dia tertawa kencang. Ia sedang menertawakan nasibnya, bahkan ia tidak peduli jika saat ini ia sedang menjadi pusat perhatian.

"Risya, sini." Wanita yang merupakan ibu gadis itu datang dan menarik Risya untuk menjauh dari Sarah.

Wanita itu buru-buru membawa Risya pergi. Sebelum benar-benar pergi wanita itu sempat bersitatap dengan Sarah. Sarah balas menatap wanita itu dengan tatapan tajam, jika saya tatapan bisa membunuh orang, mungkin wanita itu sudah terbunuh sekarang

"Papah brengsek!"

1
Queen AL
baru satu bab, bab berikut2nya jangan pake gue lo thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!