Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kesalahan Sari
Tiga hari setelah pertemuan di kafe, Maya masih belum bisa melupakan kata-kata Sari.
“Aku beruntung punya calon ibu mertua sebaik Kakak.”
Kalimat itu terngiang setiap kali Maya melihat bayangannya sendiri di cermin. Setiap kali Yuni memanggilnya Ibu. Setiap kali Ardi menatapnya dengan mata yang penuh dosa.
Dia duduk di ruang keluarga, membuka buku sketsa yang sudah lama tidak disentuh. Galeri impian. Gambar yang dulu dia buat dengan harapan—bahwa suatu hari dia akan punya ruang sendiri, ruang yang hanya berisi keindahan, bukan rahasia. Sekarang, galeri itu hanya kertas usang dengan garis-garis yang mulai pudar.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Maya melihat layar. Sari.
Kak, hari ini ada waktu? Aku mau ajakin lihat butikku yang hampir jadi. Terus— emotikon senyum malu. Aku mau minta saran baju buat acara keluarga besok.
Maya membaca pesan itu dua kali. Jari-jarinya menggantung di atas keyboard. Dia tahu seharusnya menolak. Semakin jauh dari Sari, semakin sedikit luka yang akan dia timbulkan. Tapi Sari membutuhkannya. Sari percaya padanya. Dan Maya tidak tahu cara berkata tidak pada orang yang sudah dia khianati.
Jam berapa? balas Maya akhirnya.
Jam 2? Aku jemput ya.
Oke.
Maya menutup ponsel, menatap buku sketsa di pangkuannya. Dia membalik halaman demi halaman, melewati galeri, melewati bunga, melewati abstrak yang tidak selesai. Sampai di halaman terakhir, dia berhenti.
Sketsa wajah Ardi.
Garis rahang yang tegas, mata yang dalam, senyum yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun kecuali Maya. Dia menggambar itu suatu malam, ketika Ardi tertidur di sampingnya, dan dia tidak bisa tidur karena terlalu sibuk mengamati.
Maya menutup buku dengan cepat, seperti menutup rahasia yang tidak boleh dilihat siapa pun. Dia berdiri, berjalan ke kamar, berganti pakaian. Di cermin, dia melihat wanita yang sama seperti tiga tahun lalu ketika pertama kali datang ke rumah ini. Tapi matanya berbeda. Matanya penuh dengan luka yang tidak bisa dia tunjukkan.
---
Butik Sari berada di kawasan Kemang, toko kecil dengan etalase kaca yang masih tertutup kertas coklat. Di dalam, suara bor dan palu masih terdengar dari lantai atas, tapi ruang utama sudah mulai tertata. Rak-rak kayu putih, cermin besar di dinding, lampu gantung yang masih terbungkus plastik.
Sari berdiri di tengah ruangan, tangan di pinggul, mata berbinar. Rambut diikat ke belakang, wajah segar—sama sekali tidak seperti orang yang hatinya sedang terluka karena sikap dingin Ardi.
“Kak!” Sari berlari kecil menyambut Maya, memeluk erat. “Akhirnya jadi lihat. Masih berantakan sih, tapi aku excited banget.”
Maya membalas pelukan itu, merasakan hangat yang seharusnya membuat nyaman tapi justru menusuk. “Bagus, Sari. Suasananya hangat.”
“Iya kan?” Sari melepaskan pelukan, menarik Maya berkeliling. “Di sini nanti rak sepatu, di sini aksesoris, di sini—aku pengen bikin pojok khusus untuk busana muslim. Soalnya aku lihat banyak teman yang susah cari yang bagus.”
Maya mengangguk, mendengarkan Sari bicara tanpa henti tentang koleksi, desainer, rencana grand opening bulan depan. Di antara kata-kata itu, sesekali Sari menyebut nama Ardi.
“Ardi dulu yang kasih ide nama butik ini. Dia bilang, ‘Gunung’ itu kuat, ‘Indah’ itu elegan. Jadi Gunaindah.” Sari tertawa, tapi matanya tiba-tiba sayu. “Dia memang kreatif kalau mau.”
Maya tidak menjawab. Dia berjalan ke rak sepatu, menyentuh permukaan kayu yang masih halus.
“Kak,” suara Sari dari belakang. “Maaf ya aku cerita tentang Ardi terus. Aku nggak mau bikin kamu tidak nyaman.”
“Tidak apa-apa.”
“Aku cuma—aku belum bisa berhenti memikirkan dia.” Sari duduk di kursi yang masih terbungkus plastik, tangan memainkan ujung rambut. “Padahal aku tahu harus move on kalau dia terus begitu. Tapi susah banget.”
Maya duduk di samping Sari, tidak bicara.
“Kak, kamu kan tahu Ardi dari dekat. Menurut kamu, apa yang kurang dari aku? Kenapa dia jadi dingin?”
Maya menelan ludah, menatap lantai. “Bukan karena kau kurang, Sari. Mungkin—mungkin Ardi yang sedang bingung.”
“Atau mungkin aku terlalu membosankan?” Sari tersenyum pahit. “Dulu kami sering liburan bareng. Aku suka rencanain semuanya detail. Ardi bilang dia suka. Tapi sekarang—mungkin dia bosan.”
Maya tidak menjawab. Sari terus bicara, meluncur ke kenangan-kenangan yang seharusnya sudah mati.
“Tahun lalu aku sempet rencanain liburan ke Raja Ampat. Aku udah pesen tiket, pesen penginapan, semuanya. Tapi Ardi batal di menit terakhir karena kerjaan. Aku kecewa banget, tapi aku maklum.” Sari menarik napas, suaranya bergetar. “Tiketnya masih aku simpan. Sampai sekarang. Entah kenapa aku belum bisa hapus.”
Maya menoleh, menatap Sari. Ada sesuatu di matanya—bukan kemarahan, bukan kesedihan biasa. Harapan. Harapan yang masih menyala meskipun sudah seharusnya padam.
“Kak, aku mau cerita sesuatu.” Sari meraih tangan Maya, menggenggam erat. “Tapi kamu jangan bilang Ardi, ya.”
Maya mengangguk, meskipun dadanya terasa sesak.
“Aku masih punya rencana. Bulan depan, aku mau ajak Ardi ke Raja Ampat. Aku bilang ini perpisahan, supaya kami bisa tutup buku dengan baik kalau ternyata—ya, kalau dia nggak berubah. Tapi sebenarnya—” Sari tersenyum malu. “Aku masih berharap, di sana, tanpa gangguan, dia bisa sadar kalau aku yang terbaik untuk dia.”
Maya merasakan tangannya dingin. Sari merencanakan perjalanan dengan Ardi. Perjalanan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Dan Ardi—apakah Ardi tahu? Apakah Ardi setuju?
“Kak, menurut kamu ideku gila?” Sari menatap Maya dengan mata yang mencari validasi.
Maya butuh waktu beberapa detik untuk menjawab. “Aku—aku tidak tahu, Sari.”
“Aku tahu ini egois.” Sari melepaskan genggaman, menunduk. “Tapi aku nggak bisa diam. Aku nggak bisa kehilangan dia begitu saja.”
Maya tidak menjawab. Di dalam hatinya, ada suara yang berbisik: Kau juga egois, Maya. Kau juga tidak bisa melepaskan.
“Kak, kamu nggak akan bilang Ardi, kan?” Sari mengangkat wajah, mata basah. “Aku nggak mau dia tahu duluan. Nanti dia malah sengaja nggak datang.”
“Aku tidak akan bilang,” bisik Maya.
Sari tersenyum lega, memeluk Maya lagi. “Makasih, Kak. Aku tahu aku bisa percaya sama Kakak.”
Maya membalas pelukan itu, tapi tangannya tidak lagi hangat. Dia membayangkan Ardi dan Sari di Raja Ampat. Berdua. Di tempat yang indah. Jauh dari rumah, jauh dari Maya. Dan dia tidak tahu apakah Ardi akan menolak, atau justru—dia tidak mau memikirkan kemungkinan itu.
---
Maya pulang pukul lima sore.
Yuni sedang menyiapkan sayur di dapur, tidak menoleh. Rumah sunyi. Ardi mungkin masih di kantor.
Maya naik ke lantai dua, masuk kamar, duduk di tepi ranjang. Ponsel masih menggenggam pesan dari Sari yang dikirim setengah jam lalu:
Kak, jangan lupa ya. Ini rahasia kita berdua. Nanti aku kabari detailnya.
Maya membalas dengan emotikon jempol, mematikan layar.
Dia membuka laci samping ranjang, mengeluarkan buku sketsa, membuka halaman terakhir. Wajah Ardi menatapnya dari kertas. Maya menatap gambar itu lama, lalu menutup buku, menyimpannya kembali.
Di luar, langit mulai gelap. Pintu terbuka.
Ardi masuk dengan langkah pelan, kemeja sudah diganti kaos rumah, rambut masih basah. Wajah lelah, tapi mata mencari Maya.
“Kamu baru pulang?” tanyanya.
“Iya. Sari ajak lihat butiknya.”
Ardi duduk di samping Maya, meraih tangannya. Tangan Maya dingin. “Kamu baik-baik saja?”
“Iya.”
Ardi menatapnya, tidak percaya. “Kamu berbeda.”
Maya menoleh, tersenyum tipis. “Tidak. Aku hanya lelah.”
Ardi tidak bertanya lebih lanjut. Dia mengangkat tangan Maya, mencium punggung tangannya perlahan. “Malam ini aku masak. Biar kamu istirahat.”
Maya mengangguk. Ardi berdiri, berjalan ke pintu, lalu berhenti. Dia menoleh, mata tiba-tiba gelisah.
“Maya.”
“Hm?”
“Kau tidak akan pergi, kan?”
Maya menatapnya. Di bawah lampu kamar yang redup, wajah Ardi rapuh. Maya ingin berkata aku tidak akan pergi. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Hanya keheningan.
Ardi menunggu. Lalu tersenyum pahit. “Maaf. Aku terlalu cemas.”
Dia keluar, menutup pintu. Maya duduk sendirian, mendengar Ardi mulai memasak di lantai bawah.
Dia membuka ponsel, membaca pesan Sari lagi. Ini rahasia kita berdua. Maya merasakan beratnya rahasia yang harus dia simpan. Bukan hanya rahasianya sendiri dengan Ardi—tapi sekarang rahasia Sari juga. Dua rahasia yang bertabrakan, yang suatu hari akan meledak.
---
Pukul delapan malam, Ardi selesai memasak.
Maya turun. Meja dapur tertata: sup ayam, tumis kangkung, telur dadar sedikit gosong di pinggir. Ardi berdiri di samping kompor, mengelap tangan, tersenyum malu.
“Aku lupa telurnya terlalu lama.”
Maya duduk, mencicipi sup. Hangat, sedikit asin. Rasanya seperti rumah—rumah yang tidak pernah mereka miliki.
“Enak,” kata Maya.
Ardi duduk di seberang, ikut makan. Mereka makan dalam diam. Tapi malam ini, diam itu terasa berbeda. Bagi Maya, diam ini seperti jurang yang perlahan melebar.
“Ardi,” Maya memecah keheningan.
“Ya?”
“Kau—apa kau masih sering bicara dengan Sari?”
Ardi berhenti mengunyah. “Tidak. Hanya sesekali. Kenapa?”
Maya menunduk, memainkan sendok. “Tidak ada. Aku hanya penasaran.”
“Kau cemburu?” Ardi tersenyum.
Maya mengangkat wajah, tersenyum tipis. “Mungkin.”
Ardi meraih tangannya di atas meja, menggenggam erat. “Kau tidak perlu cemburu. Aku sudah memilih.”
Maya menatap tangan mereka yang bertaut, lalu menatap Ardi. Kau sudah memilih, tapi kau tidak tahu Sari masih berusaha. Kau tidak tahu aku menyimpan rahasia.
Dia tidak mengucapkan semua itu. Hanya tersenyum.
---
Pukul sepuluh, mereka naik ke lantai dua. Ardi masuk ke kamar Maya tanpa bertanya. Mereka berbaring berdua.
Tapi Maya tidak bisa tidur. Dia menatap langit-langit, mendengar napas Ardi yang perlahan teratur. Di sampingnya, pria yang dia cintai. Pria yang masih dicintai Sari.
Ponselnya bergetar di meja samping.
Maya mengambilnya, mengecilkan kecerahan layar.
Sari: Kak, maaf ganggu malem-malem. Aku baru dapat kabar. Tiket Raja Ampat jadi berangkat minggu depan. Ardi belum tahu. Aku minta tolong, jangan bilang ya. Biar ini kejutan. Nanti aku kabarin lagi detailnya.
Maya menatap layar, membaca berulang kali. Minggu depan. Ardi akan pergi dengan Sari. Berdua. Jauh dari rumah, jauh dari Maya.
Dia menoleh, menatap Ardi yang sudah tertidur. Wajahnya tenang, tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bahwa pacarnya masih berharap. Tidak tahu bahwa Maya menyimpan rahasia.
Maya membalas: Aku tidak akan bilang.
Dia mematikan ponsel. Di sampingnya, Ardi bergerak, tangan meraih pinggangnya, menarik mendekat.
“Kamu masih bangun?” bisik Ardi, suara serak.
“Iya. Sebentar lagi tidur.”
Ardi mengangguk, mengecup pundaknya pelan, kembali terlelap.
Maya tetap terjaga. Di kegelapan, dia mendengar detak jantungnya sendiri, cepat dan tidak teratur. Dia memikirkan Sari yang masih menyimpan tiket. Memikirkan Ardi yang akan pergi. Memikirkan rahasia yang dia simpan.
Untuk pertama kalinya, Maya bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang sebenarnya aku lakukan? Apakah ini cinta, atau obsesi yang menghancurkan semua orang?
Dia tidak punya jawaban.
---
Pagi datang dengan langit kelabu.
Maya turun lebih lambat. Yuni sibuk di dapur, Ardi sudah berpakaian rapi, duduk dengan kopi.
“Kamu bangun,” sapanya.
Maya mengangguk, duduk di seberang.
“Ada apa dengan kamu?” tanya Ardi. “Dua hari ini kamu aneh.”
“Tidak ada.”
“Maya.”
Maya mengangkat wajah, tersenyum. Senyum yang sudah dilatih. “Aku hanya banyak pikiran. Tentang Yuni, Rudy, Bram.”
Ardi menatapnya lama, tidak percaya. Tapi tidak memaksa. “Aku di kantor. Mungkin pulang malam.”
“Iya.”
Ardi berdiri, mencium kening Maya cepat, pergi. Pintu tertutup. Mobil melaju.
Yuni masih di dapur. Maya duduk sendirian.
Ponsel bergetar. Sari.
Kak, tiket udah jadi. Kamis depan. Doain ya, semoga Ardi mau ikut.
Maya tidak menjawab. Dia membuka buku sketsa. Galeri impian yang mati. Sketsa wajah Ardi yang terlalu lembut.
Dia merobek halaman itu.
Suara kertas disobek terdengar keras. Yuni menoleh sekilas, tidak bertanya. Maya melipat kertas bergambar Ardi menjadi empat, delapan, enam belas, sampai menjadi lipatan kecil yang dia masukkan ke saku.
Dia berdiri, berjalan ke taman belakang, membakar lipatan kertas itu. Api kecil melahap garis-garis yang pernah dia gambar dengan penuh perasaan. Ketika api padam, yang tersisa hanya abu abu-abu.
Maya menatap abu yang beterbangan, merasakan sesuatu mati di dalam hatinya. Bukan cinta. Tapi ilusi bahwa semua ini akan berakhir bahagia.
Ponsel bergetar lagi. Sari.
Kak, satu lagi. Aku undang kamu juga ikut ke Raja Ampat. Biar rame. Ardi pasti setuju kalau kamu ikut. Kita bertiga seperti dulu. Setuju?
Maya menatap layar. Sari mengundangnya ikut. Ke tempat yang sama. Dengan Ardi. Bersama-sama. Seperti keluarga harmonis. Seperti tidak ada yang salah.
Dia ingin menolak. Tapi jari mengetik sendiri: Aku ikut.
Pesan terkirim.
Maya memasukkan ponsel ke saku, menatap langit kelabu. Abu sketsa Ardi masih menempel di jarinya, hitam dan sulit dibersihkan.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di Raja Ampat. Tapi dia tahu, ketika Ardi dan Sari bertemu di sana, dengan Maya di antara mereka—sesuatu akan pecah.