Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 : A sakit
Pembicaraan seru antara Vano dan Azima berlanjut hingga di kafetaria. Duduk berhadapan sembari menikmati makan malam .
Valira mengambil posisi duduk di sisi temaram yang tidak begitu terlihat jelas dan posisi itu tepat bersebelahan dengan tempat duduk Azima dan Vano. Valira Menyimak setiap kata per kata dari diskusi alot Azima dan Vano. Memang tidak terdengar kata kata romantis . Tapi, cara Vano bertutur dan menatap Azima sudah cukup bukti bagi Valira.
Ya, dia menganggap Azima dan Vano adalah sepasang kekasih. Padahal, Vano sudah terbiasa bertutur halus dan lembut pada nona muda nya. Lagian , selama perbincangan hangat itu, Vano sama sekali tidak memanggil Azima dengan panggilan ' nona '. Terlalu nyaman atau terlalu serius, hanya ia yang tau.
Valira keluar dari kafetaria dalam keadaan marah dan kecewa. Ia sudah menjatuhkan pilihan hati nya pada Vano, tapi ternyata, Vano sudah memiliki cinta yang lain.
Selesai makan, Vano dan Azima kembali ke rumah sakit.
Sesuai prediksi mereka, A akan duduk sembari mengetik, mengerjakan beberapa proposal usaha untuk di kirim ke rekan kerja nya.
Dan, itu benar benar terjadi. Azima melipat kedua tangan didepan dada, sementara Vano melangkah pelan tanpa suara melewati Azima . Tatapan Azima tajam. Seketika atmosfer berubah dingin.
Sepuluh menit berlalu, barulah A sadar kalau di dalam ruangan, ia tidak sendiri lagi.
" Kalian sudah datang." Ujar A santai.
" Dari sepuluh menit lalu." Ketus Azima.
" Kok aku tidak dengar."
" Mas ini benar benar , ya...Aku hanya memancing menggunakan mac book jelek mu itu. Ternyata kamu memang lebih mementingkan pekerjaan dari pada kesehatan mu sendiri !! " Azima menarik macbook di pangkuan A dengan paksa.
" Eh,,tunggu Zi.." Tangan A berusaha meraih macbook di tangan Azima, tapi gerakan Azima jauh lebih lincah hingga tangan A yang berusaha keras mengambil harta karun nya, berakhir menyentuh udara kosong.
' Tap .'
Laptop tertutup.
A meringis memijit kepala nya. " Belum di enter itu , Zi..." Ucap A lemah.
" Bukan urusan ku!"
A menghela nafas , ratusan juta hilang dalam sekejap mata. Vano yang jadi penonton tak bisa berbuat apa apa selain diam dan menyaksikan adegan penindasan adik pada kakak nya.
" Aku membawa mu ke sini bukan untuk bekerja, mas. Uang tidak ada artinya kalau kamu sendiri tidak bisa menjaga kesehatan mu.Coba kamu pikir pakai otak pintar mu itu, segala kemewahan yang kamu dapatkan selama ini akan habis membayar organ organ buatan yang akan menopang kehidupan singkat mu. Mas mau itu terjadi? Jika memang mas di diagnosa demam typoid, jangan coba coba menganggap remeh penyakit mu ini. Banyak yang beranggapan penyakit ini terjadi hanya karena kelelahan, istirahat sebentar sudah aman. NO!! Kira kira, jika usus mu bocor, kamu mau apa? Atau bakteri itu mulai menginvasi otak mu hingga kamu mulai tidak sadar, apa kamu masih bisa cari uang? Aku tidak usah mengatakan hal yang paling buruk nya, kan?! Aku yakin mas tidak mau mendengar nya ! " Pidato Azima.
Semua diam.
Azima berubah profesi, dari seorang adik baik dan penurut menjadi dokter sungguhan dengan banyak nasehat dan larangan tentang kesehatan.
Di kala mode penasehat medis itu muncul , bukan hanya A, bahkan kedua orang tua nya sekalipun yang memiliki profesi sama akan bertekuk lutut tak mampu melawan. Lalu, apa mungkin A harus mencoba menjadi pembangkang?
Tidak, dia tidak berani. Di perusahaan dialah raja sesungguhnya, tapi bersama Azima, ia seperti kucing mungil dengan mata polos tanpa dosa dan tidak berdaya.
A mengatur posisi tidur yang semula setengah duduk menjadi lurus, kemudian menarik selimut perlahan dan memejam kan mata. Begitupun Vano, ia beranjak menuju sofa dan meluruskan tubuhnya . Menutup mata berpura pura tidur merupakan cara paling efektif untuk mencegah serangan verbal beberapa jurnal buku kesehatan yang memungkinkan di paparkan Azima dan bisa menjadi mimpi buruk bagi A maupun Vano.
Tidak ada yang bisa mendebat Azima. Jadi sebaiknya mereka mengambil jalur aman , menyelamatkan diri masing masing.
Tengah malam, A terlihat gelisah. Azima yang baru selesai sholat qiyamul lail menghampiri sang kakak. Azima menempel kan punggung tangan di kening A, panas.
" Kamu demam lagi." Gumam Azima , lalu mengisi air minum dalam gelas dan membangun kan A.
" Mas..mas.."
" Mmmm.."
" Minum dulu. Aku sudah panggil perawat . Badan mu panas sekali."
" Ooo.."
Air minum habis bersamaan dengan seorang perawat yang masuk mengukur suhu dan memberikan obat.
Azima duduk di samping tempat tidur, membaca ayat ayat Allah dengan lirih sembari menjaga Azzam yang nampak mulai lelap. Raut sang kakak tercinta juga terlihat jauh lebih tenang dari sebelum nya.
Setengah jam kemudian, Azima kembali menempelkan punggung tangannya di kening A.
" Alhamdulillah...demam nya sudah turun." Azima menutup Al-Qur'an kemudian mengusap kepala A .
" Jangan sakit lagi ya , mas...Kamu jauh dari kami." Netra Azima berembun.
*
*
Keesokan hari nya.
Hasil kultur sudah keluar dan A benar di diagnosa demam tifoid. Diagnosa keluar, A berubah jadi mumi hidup. Azima tidak mengijinkan sedikitpun A beranjak dari tempat tidur . Duduk pun tidak boleh.
A jadi frustasi.
" Bagaimana kalau aku mau bab dan bak, Zi? " Keluh A.
" Tinggal bilang saja, kan ada aku."
A menghela nafas kasar.
" Kenapa? "
A tidak menjawab.
" Kalau kamu sudah menikah, biar kamu suruh sekalipun aku sudah tidak mau."
" Cih...sekarang pun aku tidak sudi."
" Why? Apa barang mu kecil? Malu?"
Sontak saja Vano tergelak tak mampu menahan. Ia sudah selesai memakai sepatu dan bersiap keluar, tapi kalimat tanpa saringan itu menarik perhatian dan menggelitik perutnya.
" Diam kau ! !" Tunjuk A pada manusia yang sedang tertawa di pojokan.
Bibir Vano mengatup rapat. Telunjuk A serasa menusuk mulut nya.
" Maaf , tuan A."
" Sebaiknya kau segera pergi!! "
" Siap, tuan."
*
*
Vano meninggalkan rumah sakit. Di parkiran, tanpa sengaja bertemu dengan Valira.
" Valira? "
Valira menoleh . Ia nampak terkejut .
" Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Vano menghampiri Valira dan menutup kembali pintu mobil nya.
" Oo,,hai Vano. Aku mengantar opa ku berobat." Valira tersenyum kikuk.
Rasa marah dan kecewa masih menggelayuti hatinya mengingat kebersamaan Vano dan seorang wanita semalam.
" Bagaimana keadaan opa mu?"
" Alhamdulillah, beliau baik. Opa ku punya penyakit jantung, jadi setiap bulan harus kontrol dan rutin minum obat."
Sebenarnya, opa Valira sedang menjalani rawat inap di rumah sakit tersebut. Bukan kontrol di poliklinik seperti pengakuan nya barusan.
" Syukurlah . Hari ini, kamu tidak ke restoran?"
" Tidak. Mungkin besok. Hari ini aku ada jadwal lain. "
Wajah Vano nampak kecewa.
" Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu." Pamit Vano dan mendapatkan anggukan kepala dari Valira.
" Tunggu..."
Vano berbalik. " Ada apa?"
" Mmm..Apa keluarga mu sedang menjalani perawatan ?"
" Oh,,seorang kerabat. "
Valira ingin bertanya lebih jauh, siapa wanita yang Vano temui semalam? apa hubungan Vano dengan wanita berhijab besar itu? Tapi semua pertanyaan itu tertahan di tenggorokan nya.
" Baiklah, hati hati di jalan. "
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣