NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asam Lambung

Malam harinya sekitar pukul sebelas kurang seperempat.

Di deket perempatan taman kota, Rola kelihatan lagi antre beli batagor yang katanya di Mamang langganannya si Dena.

Tau dong batagor? Itu loh bakwan tahu yang dikasih bumbu kacang goreng, eh maksudnya bakwan tahu yang digoreng dulu baru setelahnya dikasih bumbu. Tau?

Nah, sejak lima belas menit yang lalu, pesanan Rola belum juga digoreng-goreng sama si Mamang penjualnya.

Dan terhitung masih ada sekitar empat antrean lagi sebelum pesanan itu bisa digoreng, yang jelas-jelas bikin lamanya Rola mengantre sudah pasti akan bertambah lama lagi.

Rola pun bermuram durja, antara harus lebih sabar menunggu batagor pesanannya mateng digoreng, atau alangkah baiknya beli pentol di Mamang sebelah sahaja yang kebetulan lagi senggang.

Pasalnya, kali ini Rola tidak sedang santai dalam kondisi ber-jajan ria seperti biasa, karena saat ini ia sedang diburu oleh waktu gara-gara Dena.

Iya, gara-gara Dena yang diam-diam minum alkohol di belakang temen-temennya—Alhasil, ketika baru datang ke rumah Rola, asam lambung Dena mendadak naik.

Saat itu juga Rola langsung panik ketika Dena tiba-tiba muntah-muntah di hadapannya sambil maksa-maksa Rola buat beliin makanan pengganjal sementara. Nah, itulah alasan mengapa Rola beli jajan di tempat langganan si Dena.

Sedangkan di rumah Rola. Dena masih menunggu Rola balik bawain batagor pesanannya. Dan sampai sekarang tuh anak masih aja muntah-muntah di halaman depan rumah sambil ngomel-ngomel kayak orang kesetanan.

Eh, tiba-tiba banget Dena malah nelpon.

"Eh, lo emang bangsat ya, Gar!" Dena ngomel-ngomel ke si Garin—temen SMP-nya yang anaknya si pemilik sekolah sebelumnya. Iya, sebelum sekolah itu dibeli Alvaro tanpa sepengetahuan Dena.

"Gara-gara lo nggak ngomong ke gue kalau sekolah itu udah dijual sama bokap lo ke orang lain. Gue jadi kena masalah!" Masih saja Dena nyerocos, marah-marah ke Garin.

Dari seberang udara terdengar suara Garin menghela napas.

"Ya sorry, Den. Gue bukan sengaja, gue cuma lupa," ujarnya, lirih.

"Kenapa lupa?"

"Ya nggak tau. Namanya juga lupa!"

"Ck! Kebanyakan coli sih!" decak Dena.

Garin langsung keki. "Sembarangan aja lo!"

Dena mendengus. "Emang kenapa sih Gar, sekolah itu harus dijual sama bokap lo? Emangnya nggak sayang?" tanyanya penasaran.

"Bukannya nggak sayang, Den. Tapi, perusahaan bokap gue pailit. Terpaksa sekolah itu akhirnya dijual," jawab Garin apa-adanya.

"Kenapa harus pailit?"

"Mana gue tau! Lo tanyain sendiri aja ke bokap gue!" sahut Garin membesengut.

Dena terdiam ketika rasa mual kembali datang, dan saking sakitnya Dena sampai hampir kejengkang.

"Den!"

"Iya?"

"Lo nggak apa-apa?"

"Kayaknya."

"Kok kayaknya. Gue mau nanya serius nih!"

"Nanya apa?"

"Di sekolah lo terlibat masalah apaan?" tanya Garin yang kini gantian pengen tau.

Dena memutar kedua bola matanya jengah, saat ternyata Garin menanyakan satu hal yang justru membuatnya kembali teringat pada satu masalahnya dengan Alvaro.

"Pake nanya!"

"Apaan? Bullying?"

"Ya iyalah. Lo kayak yang baru kenal gue aja!"

"Terus? Lo sama temen-temen lo akhirnya kena DO?"

"Enggak juga sih."

"Lah. Ya, bagus dong. Kalau gitu kenapa lo ngomel-ngomel ke gue?!"

Dena menghela napas. "Bagus sih bagus, Gar. Cuma ya gitulah. Setiap kemudahan harus ada yang dipertaruhkan," kata Dena.

"Apaan?!"

"Masa depan gue!" jawab Dena.

Sunyi beberapa detik.

"Masa depan gimana maksud lo?"

"Susah buat dijelasinnya, Gar. Udah dulu ya. Perut gue mules banget nih..."

"Hah? Lo kenapa, Den? Sakit?"

"Bye, Garin..."

Tut!

Dena akhirnya menutup panggilannya dengan Garin secara sepihak, dan kembali masuk ke dalam rumah di saat perut Dena tiba-tiba kembali terasa mual pengen muntah.

"Huekkk!!"

"Bangsat! Rola udah pulang belum sih. Lama banget beli batagor doang?!"

"Rolaaa!!!" teriaknya.

"Batagor gue mana? Plisss, pengan makannn!"

"Dena! Malu heh! Kedengaran orang tuanya Rola tuh!" seru Elsa yang udah kepalang gedeg gara-gara dari tadi dengerin Dena ngomel-ngomel, sekarang malah teriak-teriak di dalam rumah orang.

Akhirnya Elsa membekap mulut Dena dengan bantal sofa supaya diam.

Sementara Micin yang kebetulan lagi tiduran di karpet. Nggak sengaja malah kena semburan naga beracun dari mulut Dena yang lagi-lagi sulit dijinakkan.

Micin reflek terbangun, dan udah pasti langsung ngomel-ngomel ke si Dena gara-gara celananya basah kena muntah.

"Lo apa-apaan sih, Den! Kalau muntah tau tempat dong. Lo pikir gue tempat sampah!" sungutnya.

"Ya maaf, Mi. Perut gue lagi susah banget diajak kompromi. Gerak dikit sakit, kelamaan diem juga nggak enak," cicit Dena manja-manja sambil masukin ponselnya ke dalam tas selempang hasil triftingan.

"Ya kalau gitu lo rebahan aja!"

"Kan udah gue coba juga, Mi, tapi lo liat sendiri kan akhirnya gue muntah lagi."

Micin jadi tambah sewot, sampai-sampai matanya melotot bulet kayak dua biji cilok yang minta dicomot. "Salah siapa?! Udah tau punya riwayat lambung, minum nggak dipikir-pikir dulu!" omelnya.

Dena ya cuma nyengir-nyengir sambil matanya merem-melek nahan nyeri.

Dena kemudian duduk di sofa, ketika rasa nyeri di perutnya semakin susah diajak bekerja sama. Dena reflek memejamkan mata. Merem aja deh...

"Iyaa. Lagian lo kenapa sih, Den? Nggak biasanya lo berani minum, sendirian lagi!" tanya Elsa, curiga Dena lagi ada apa-apa.

"Ya, maaf Mi. Namanya juga musibah. Nggak ada yang tau, Mi," jawab Dena sembari masih sibuk mencengkram perutnya yang semakin bila dirasa, dengan kedua bola mata yang tetap terpejam rapat.

"Mi siape?! Gue Elsa bukan, Mimi!"

"Lah? Perasaan yang dari tadi ngajak gue ngomong Mimi—"

Elsa langsung memaksa Dena membuka mata.

"Mimi yang itu. Ini Elsa!" kesalnya sambil nunjuk muka si Micin yang masih manyun-manyun.

Dena terperanjat kecil. "Eca? Lo di sini juga?"

Elsa berdecak malas. "Ck! Lo sebenarnya lagi ada masalah apa sih, Den? Ayo dong cerita!" tekan Elsa sambil sibuk menyeka sekeliling bibir Dena yang belepotan muntahan.

"Nggak ada masalah apa-apa kok, Ca," jawab Dena santai.

"Bohong!"

"Kok bohong?"

"Kalau nggak lagi ada masalah, ngapain lo diem-diem minum di belakang kita sampai over kayak gini?" tanya Elsa lagi, kali ini sambil gadis itu sibuk mengelap lantai yang tidak sengaja Dena buat kotor.

"Muntahnya kena gue pula!" sewot Micin.

"Maaf, namanya juga nggak sengaja, Mi." Dena tersenyum tipis.

"Iyaa, tapi jawab dulu. Kenapa lo diem-diem berani minum di belakang kita?!" paksa Micin.

"Lagi pengen aja."

"Pengen?"

"Emang kenapa? Nggak boleh?"

"Ck! Gue tau lo bohong! Lo minum karena lagi banyak pikiran kan?" decak Elsa.

"Pikiran apa sih? Lo nggak usah sok tau, Ca!"

"Gue bukannya sok tau. Tapi gue emang tau. Sejak tadi siang lo kelihatan beda, dan biasanya itu jadi pertanda lo lagi ada perkara," kata Elsa semakin bertambah curiga.

"Ya nggak, Mi?"

Micin ngangguk-ngangguk.

"Soal ibu tiri lo lagi ya?" terka Elsa saat Dena tidak memberi tanggapan dan malah menutup kedua telinganya tidak peduli.

"Atau, lo beneran kena santet?!" tuduh Micin.

Dena langsung melotot. "Astaghfirullah! Bisa-bisanya lo bilang gue kena santet, Mi!"

"Kalau enggak kena santet, terus lo kenapa?"

"Udah gue bilang gue nggak apa-apa. Lo berdua kenapa sih, nanyain masalah gue mulu!" sewot Dena.

"Ya, lo sendiri segala pake minum, padahal udah tau lemah lambung!" tekan Elsa.

"Tolol!" geram Micin.

"Udah, buruan cerita! Atau kita tinggal pulang nih!" ancam Elsa.

"Kalau mau pulang ya sana," sahut Dena santai. "Dari pada di sini lo berdua cuma berisik!" usirnya.

"Mending pulang!"

Elsa langsung mendelik, Micin pun jadi pengen banget nonjok wajah Dena yang seenak jidat main ngusir.

"Lo apasih, Den! kita datang kesini karena khawatir sama lo! Kenapa kita lo usir!" sungut Micin.

"Denaaa!" pekik Elsa ketika Dena malah diem aja.

"Apa sih, Ca?!"

"Cepet cerita!"

"Cerita apaan?!"

Micin dengan kesadaran penuh langsung menjitak kepala Dena. "Masalah lo!"

"Gue nggak ada masalah apa-apa! Bisa nggak sih lo berdua nggak usah maksa!" sahut Dena.

"Tapi lo aneh banget, Den!"

"Aneh gimana?"

"Ya aneh aja. Kek sejak tadi siang lo keliatan nutupin sesuatu dari kita," kata Micin.

"Enggak!"

Elsa dan Micin kompak mencebikan bibir tipis mereka.

"Yaudah kalau nggak percaya!" dengus Dena yang gara-gara kebanyakan ngomong, perutnya jadi tambah nyeri.

Elsa menghela napas. Masih ingin berdebat tapi kasihan sendiri melihat Dena yang udah kesakitan. "Bener? Lo lagi nggak ada masalah?"

"Kalau lo ketahuan bohong. Awas ya!" kecam Micin.

Dena melirik mereka. "Tadinya gue emang nggak ada masalah, tapi nggak tau kenapa sekarang jadi ada!" katanya sambil meringis menahan ngilu.

"Tuh kan ngaku!"

"Cepetan cerita! Lo ada masalah sama siapa?" tanya mereka, kompak.

Elsa dan Micin kontan memperhatikan baik-baik, menunggu jawaban Dena.

Sunyi.

"Sama lo berdua!" sentak Dena kali ini beneran kesal.

Micin langsung beraksi. "Anjing! Kenapa kita sih?!"

"Ya lo berdua nggak ada percaya-percayanya ke gue!"

"Kita bukan nggak percaya! Kita cuma nanya, lo lagi ada masalah apa?!"

Dena tetap diam dan malah nyanyi-nyanyi sendiri sambil nutupin kuping.

Micin menghela napas, kesal teramat berat. "Terserah lah. Lo mau gimana juga gue bodo amat!"

"Yaudah!"

"Hihhh!"

Dena reflek meringkuk, ketika rasa nyeri di perut semakin tak tertahan lagi. "Aaaakkk... Aduh sakit banget. Tolong, Mi. Perut gue..."

"Bodo!" sewot Micin.

"Caaa!!!"

"Apa?"

"Laper?!"

Elsa yang sebetulnya udah dibuat geram oleh sikap Dena yang kelewatan aneh, tapi tetep masih punya rasa kasihan pada Dena, segera menelepon Rola agar sebaiknya segera pulang.

...***...

Di depan gerobak batagor, semangat Rola masih tak pernah kendor, saat sudah lebih dari setengah jam lamanya ia beranjak pergi, hingga kini ia tak kunjung pulang kembali.

Sedangkan sudah lebih dari lima kali Elsa menelpon—memaksanya untuk segera pulang.

Katanya, Dena udah lebih dari kayak orang kesurupan.

"Sabar, Njing! masih antre nih!" sewot Rola.

"Kalau lama nggak usah jadi beli aja deh! Kasihan Dena udah kayak mau mati!" cetus Elsa dari seberang telepon.

"Kagak bisa, Ca! Gue udah terlanjur pesen, masak iya gue tinggal!"

"Masih lama nggak?"

"Ya, lumayan..."

"Tinggal aja deh—"

Tut!

Rola memutus panggilan Elsa sepihak sambil langsung berpikir keras bagaimana baiknya ia bisa memotong antrean.

Paling tidak bisa untuk mempersingkat waktu agar sedikit lebih cepat.

"Masih lama nggak sih, Mang?" tanya Rola sambil nyomot satu potong batagor yang lagi anget-angetnya di penirisan.

"Paling lima belas menit lagi, Neng. Sabar ya. Antre..." jawab si Mamang.

Rola berhenti ngunyah. "Yah, masih lama dong..."

"Iya Neng, kan antre sesuai urutan."

"Nggak bisa dipercepat, Mang? Ini darurat!"

"Enggak!" jawab si Mamang singkat.

Rola menghela napas berat, sambil kipas-kipas ia lalu melirik kanan kiri sampai akhirnya terhenti di sebuah kotak tusukan batagor di sebelah wajan penggorengan.

Saat itu juga satu tak-tik lama Dena langsung teringat di kepalanya.

"Minta tusukannya dulu boleh nggak sih, Mang?" pintanya.

"Boleh, Neng... ambil aja." Rola langsung tersenyum, lalu buru-buru mencomot satu tusukan, tapi sebelah tangan yang satunya diam-diam memutar knop kompor si Mamang buat dikecilin apinya.

Tidak ada satu detik, api di kompor langsung mengecil tanpa disadari si Mamang yang lagi fokus bungkusin pesanan orang lain.

"Buat apa sih Neng? Kan batagornya belum mateng?" tanya si Mamang.

Rola cuma senyum-senyum manja, dan langsung ngalih-in perhatian si Mamang dengan menunjuk ke arah wajan penggorengan. "Ya gimana mau mateng Mang, orang apinya kecil gitu," ujarnya sok dramatis, padahal itu gara-gara ulahnya.

"Loh?" Si Mamang langsung panik.

"Kok apinya kecil, Neng?"

"Ye, saya mana ngerti Mang, gasnya abis kali?"

"Iya kalik ya." Si Mamang hendak mengeceknya, tapi udah duluan Rola tahan supaya kedoknya tidak ketahuan.

"Ntar aja deh, Mang! Nanggung!" tahan Rola.

"Apanya yang nanggung?"

"Itu batagornya ... yang udah terlanjur digoreng dibungkus dulu aja. Kan kasihan yang udah antre dari tadi, masak iya harus nungguin si Mamang ganti tabung gas dulu," kata Rola.

"Tapi, ini setengah mateng, Neng? Memangnya ada yang mau?" tawarnya.

Rola melirik ke arah para pembeli yang lainnya. "Ada yang mau nggak?"

Semuanya menggeleng.

"Enggak ah, saya nunggu yang mateng aja," ujar salah satunya.

"Iya, saya juga," imbuh ibu-ibu di sebelahnya yang lain juga ikut-ikutan.

"Yaudah deh, yang setengah mateng buat saya aja nggak apa-apa, Mang," kata Rola tersenyum tipis.

Si Mamang nurut, lalu buru-buru bungkus-in batagor setengah matang itu untuk Rola.

"jadinya berapa, Mang?"

"Nggak usah bayar, Neng, bawa aja."

"Gratis?"

"Iya bawa aja. Tapi, nanti di rumah jangan lupa digoreng lagi, biar nggak bikin sakit perut."

Rola mengangguk saja, lalu buru-buru pergi menjauh sebelum kedoknya ketahuan.

"Makasih banyak, Mang..." teriaknya.

Sementara si Mamang yang baru tersadar gasnya tidak benar-benar habis, seketika melirik tajam ke arah Rola. Eh di kejauhan Rola lagi tertawa-tawa sambil menjulurkan lidah.

Mayan, dapet gratisan walaupun setengah matang.

Si Mamang langsung naik pitam. Ia sadar baru saja kena tipu. "Ooo... kamu ya! Berani-beraninya bohongin saya!" gerutunya.

Rola udah ngilang aja dari pandangan si Mamang.

"Kenapa sih, Bang?" tanya ibu-ibu yang sedang mengantre.

"Saya abis ketipu, Bu. Sama anak yang tadi."

"Yang cantik barusan?"

Mamang batagor ngangguk-ngangguk. "Iya, saya juga jadi keinget dulu pernah ketipu dengan cara yang sama. Anaknya juga sama cantik kayak yang barusan," katanya.

Mamang batagor bengong sebentar.

"Apa jangan-jangan itu temennya ya..."

Si Mamang batagor mulai curiga.

"Wah, lain kali saya harus lebih hati-hati nih!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!