"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat Gisel
Gisel duduk di ruangan khusus untuknya sebagai staf admin gudang. Ia melepas nafas dengan pelan. Gisel tidak langsung senang dan menerima saat dipromosikan menjadi sekertaris Adrian. Baginya menjadi sekertaris pribadi Adrian bukan merupakan prestasi yang membanggakan melainkan hukuman "penjara" di dalam ruangan berAC yang dingin dengan bos yang menyebalkan.
Ingatan Gisel kembali di saat dia membantu Rendi agar tidak dipecat di ruang kerja Adrian.
Setelah Rendi keluar dengan perasaan lega sekaligus takut karena menjadi saksi perdebatan antara Gisel dan Adrian, terjadi perdebatan antara Gisel dan Adrian yang tidak diketahui oleh orang lain. Gisel masih mematung berdiri di depan meja Adrian. Ia menatap Adrian dengan dahi berkerut, seolah Adrian berbicara dengan bahasa Alien.
"Tunggu-tunggu... Tadi bapak bilang apa? Sekertaris?" ucap Gisel sambari mengedarkan pandangan di ruangan kerja Adrian.
"Suhunya normal, 16 derajat" ucap Gisel menatap ke arah AC yang terpasang di kedua sudut ruangan Adrian.
"Bapak gak lagi salah makan kan? atau salah minum obat ketika istirahat tadi" ucap Gisel mulai dengan tingkahnya.
Adrian duduk kembali dengan tenang, lalu merapikan lengan kemejanya.
"Saya tidak pernah bicara dua kali Gisel, kamu punya kapabilitas yang tidak dimiliki oleh staf lain di lantai 40 ini. Kamu tahu fakta di lapangan tanpa perlu menatap layar" ucap Adrian lalu menunjuk layar laptopnya.
Gisel langsung menggeleng keras tanda dia tidak mau dengan tawaran Adrian.
"Nggak mau!! Saya menolak! Mending bapak pecat saya. Serius pak! Saya sudah nyaman kerja sebagai staf gudang, dan saya sudah terbiasa menjalani pekerjaan itu pak" ucap Gisel
"Saya memilih untuk tetap di gudang yang panas, berdebu, adu mulut sama sopir truk, bau matahari, daripada saya harus berada di ruangan yang dingin ditambah lagi dengan bertatap muka tiap hari dan ngeliat muka bapak kayak kanebo kering plus robot kulkas 1000 pintu, my God bisa buat saya terserang gangguan jiwa alias gila pak" lanjut Gisel tanpa filter.
Adrian tersenyum nyaris tak terlihat mendengarkan umpatan Gisel untuknya, tapi anehnya Adrian tidak merasa tersinggung atau marah ketika Gisel mendumel dengan suara yang lantang dan jelas langsung di depannya.
"Kamu menolak kenaikan gaji tiga kali lipat dan tunjangan kesehatan penuh dibandingkan kamu sebagai seorang staf gudang? " ucap Adrian dengan tenang.
Gisel terdiam sejenak, kembali mendumel pelan namun bisa didengar oleh Adrian.
"Tawarannya menggiurkan sih, siapa yang tidak menolak duit, tapi tiap hari harus makan hati sama robot kulkas begini, bisa-bisa mati muda sebelum menikmati duitnya... "
"Yaaa... Saya tetap nggak mau! Saya nggak bisa pake baju kantoran yang membatasi ruang gerak saya. Saya lebih nyaman berpakaian seperti ini. Saya tidak terbiasa berpakaian dengan rapi pak. Dan lagi saya tidak pandai membuat kopi ala cafe. Kopi buatan saya pahit pak, sepahit hidup saya, semenjak ketemu bapak" ucap Gisel dengan tingkahnya yang konyol meninggikan suaranya.
"Saya tidak butuh barista, kopi bisa saya buat sendiri, saya butuh kamu yang kompleks dalam menjabarkan data-data gudang saya. Soal dress code... " Adrian menghentikan ucapannya sesaat dan menatap Gisel dari ujung kaki hingga ujung kepala. Adrian mencermati pakaian Gisel, celana jeans, kaos oblong, jaket kebesaran, sepatu kets, rambut panjang yang diikat asal-asalannya.
"Itu bisa diatur. Karena keputusan saya mutlak" lanjut Adrian memaksa Gisel untuk menjadi sekertaris pribadinya.
Gisel mulai emosi dan berkaca pinggang karena Adrian terus mendesak dan memaksanya.
"Pak Adrian yang terhormat! bapak tuh egois banget ya? Orang itu kalau nawarin kerjaan ya ditanya baik-baik mau atau nggak. Ini namanya penculikan profesi! Saya ini admin gudang pak! Habitat saya itu diantara kardus dan debu, bukan di antara marmer dan pendingin suhu"
Adrian menatap lekat, ada kilat tipis ketertarikan di matanya untuk Gisel yang berbeda, karena baru kali ini ada yang menolak "berkat" darinya.
"Kalau kamu menolak saya akan anggap kamu tidak loyal kepada atasan. Jika kamu tidak loyal, saya tidak punya alasan untuk tetap mempertahankan Rendi dengan posisinya saat ini" ucap Andrian
"Kamu mau saya panggil Rendi ke sini untuk mendatangani black folder baru? " ancam Adrian.
"Bapak.. " Gisel tidak menyangka kalau Adrian menggunakan Rendi untuk memaksanya.
"Benar-benar robot kulkas beruang kutub yang tidak punya perasaan, bapak benar-benar licik ya! ini namanya pemaksaan dan juga pemerasan, sampe bawa-bawa nasib orang. Heran deh nggak ngotak" ucap Gisel Kesal.
Adrian senang mendapat signal dari Gisel tidak punya pilihan untuk menolaknya.
"Itu namanya stategi bisnis Gisel, kamu sudah menyelematkan nyawa perusahaan dari pembatalan kontrak klien Cikarang" ucap Rendi, Gisel terdiam sesaat.
"Jadi gimana? Meja itu sudah kosong sejak lama, kamu bisa merapikan barang-barang dan menempati meja tepat di pintu masuk saya" ucap Adrian tenang merasa Gisel sudah tidak ada pilihan lagi.
"Atau Rendi akan kehilangan pekerjaannya, konsekuensinya keluar dari perusahaan ini karena dipecat, tanpa saya jelaskan kamu sudah paham aturan perusahaan karena kau punya kontrak kerja dengan perusahaan Bramantyo Grup" ucap Adrian.
"Dasar Bos Sinting.. Egois.. Kulkas 1000 pintu.. Robot.. Kanebo Kering.. Beruang Kutub" ucap Gisel lalu berbalik tanpa mengindahkan permintaan Adrian untuk menjadikannya sekertaris. Saking kesal Gisel kembali membanting pintu ruangan Adrian.
Gisel kesulitan menelan salivanya, ia masih bingung dengan keputusan yang akan dipilih.
"Bodoh amat, itu nggak penting. Sekarang yang terpenting bang Rendi tidak dipecat dan 200 unit barang menuju Cikarang on proses eksekusi pengantaran sampai dengan besok pagi" ucapnya lirih kembali disibukkan dengan pekerjaannya sebagai staf gudang.
***
Setelah tugasnya selesai Gisel mendatangi kantor pusat. Gisel masih berat untuk mengambil keputusan. Begitu sampai di area devisi operasional dan logistik ia langsung menuju kursi sofa dan menghempaskan badannya.
Budi langsung berdiri mendekati Gisel yang terlihat lelah dan juga ada beban pikiran begitu juga Iwan dan Maya juga ikut duduk di sofa bersama Gisel.
"Ya ampun say, Gisel kuh! Kamu masih hidup ternyata, eyke pikir lu udah jadi perkedel di ruangan Adrian. Karena kata Pak Rendi yey sempat debat hebat membela Pak Rendi dengan memberikan catatan kucel lu itu" ucal Budi.
Gisel tdak langsung menjawab, dia menarik nafas pelan, "Bang Rendi kemana? " tanya Gisel.
"Ikut rapat di ruangan bersama pak Adrian, ada klien yang menambah pesanan. Rendi senang banget dengan bantuan kamu Sel, dan juga Rendi tidak dipecat" ucap Iwan
"Syukurlah, bang Rendi nggak jadi dipecat" ucap Gisel lesu.
"Iya Pak Rendy senang bingitz, berkat bantuan lu say. Lu abis darimana say? Tambah kucel amat"lanjut Budi memperhatikan Gisel yang duduk tanpa semangat seperti biasanya.
"Lagi ngurus 200 unit barang klien Cikarang sudah on proses lewat jalur darat, kemungkinan sampe besok di sana, pastinya pagi atau malam tergantung para sopir" ucap Gisel.
"Jadi lu dari gudang? " tanya Budi
"Iya" jawab Gisel lesu.
"Ada apa sih, kok lemes amat say? " tanya Budi yang masih penasaran dengan tingkah Gisel.
"Bang Budi... hiks hiks. wuaaaa aaaaaaaa aaaaaa" teriak Gisel dalam isak yang dibuat-buat untuk melepaskan kegundahan di dadanya.
"Napa sih say? " Budi menyandarkan Gisel di bahunya. "Ada apa say? Cerita dong say? Jangan buat kita-kita di sini cemas say" ucap Budi menenangkan Gisel.
"Beruang Kutub bang" ucap Gisel
"Lu diapain sama tu beruang? " tanya Budi dengan nada cepat.
Gisel menegakkan tubuhnya, kemudian berteriak sambil menangis melepaskan unek-unek dalam dirinya.
"Ada apa sih Sel? " tanya Maya penasaran.
Gisel segukan lalu menghapus air matanya.
"Baru kali ini aku liat preman nangis" ucap Iwan merasa geli tingkah Gisel.
"Kebangetan banget bang Iwan, orang lagi sedih juga" ucap Gisel
"Sedih kenapa sih sel? " tanya Maya.
"Saya kiamat bang? Wuah aaaaaaaa" Gisel kembali histeris.
"Gimana maksudnya kiamat? " tanya Budi memperjelas.
"Maksudnya gimana Sel? Kamu dipecat sebagai ganti pak Rendi? " tanya Maya dengan cemas.
Gisel menggeleng lemah "Lebih parah dari dipecat May. Saya dijadikan tumbal oleh Bos Robot Kulkas 1000 pintu, Si Robot manipulatif, beruang kutub itu menyuruh saya menjadi sekertarisnya, di lantai 40 tempat tu beruang kutub hibernasi. Saya kena musibah May"
Iwan tersedak kopi yang sedang di minumnya.
"uhuk.. uhuk.. " Iwan terbatuk, Maya segera memberi air mineral dan tisu kepada Iwan.
"Hati-hati pak minumnya" ucap Maya.
"Sekertaris? Kamu? Yang kalau ngomong nggak ada filternya" ucap Iwan seadanya.
Budi matanya berbinar-binar, dan langsung histeris manja.
"Demi apa say? Jadi sekertarisnya Adrian ? Aduh itu bukan musibah say. Itu adalah anugerah paling indah yang pernah ada You Know. aaaaaa" Budi histeris manja menanggapi ucapan Gisel.
"Kamu bisa liatin wajah tamvan Adrian tiap Hari Gisel. iii eyke iri,, eyke dengki sama yey" ucap Budi lalu memukul pundak Gisel dengan gemas dengan kedua kepalan tangannya.
Gisel langsung mendumel kesal "Iri matamu Bang Budi, saya nggak mau bang. Abang tahu nggak, saya sempat menolak mentah-mentah tawaran gila dari robot kulkas itu" ucap Gisel.
"Jangan ditolak say, itu sudah jadi rejeki kamu, tiap hari dekat dengan babang tamvan Adrian yang buat eyke melting setengah mati" ucap Budi.
"Bang Budi saya lebih baik di gudang, adu mulut sama sopir truk, daripada jadi kacungnya Adrian robot kulkas 1000 pintu. Tapi kalian tahu dia bilang apa? " ucap Gisel dibalas dengan gelengan pelan oleh rekannya.
"Dia bilang sampai saya menolak maka dia akan tetap pecat bang Rendi. Ini sungguh tidak adil bang" ucap Gisel.
"Wah, gila pak Adrian benar-benar ingin kamu di sana Sel, sampai menjadikan pak Rendi sebagai tumbal nasib" ucap Maya dengan khas polosnya.
"Aduh nggak usah pikir banyak say, itu namanya takdir. Kali aja pak Adrian tersepona dengan omelan dahsyat kamu say, yang cetar membahana " ucap Budi dengan nada manja.
Gisel menanggapinya dengan gelengan kepala yang lemah.
"Say kalau yey jadi sekertaris pribadi Adrian, penampilan lu harus diubah say, jangan seperi tampang preman dan kuli seperi ini" Budi menarik lembut jaket yang digunakan oleh Gisel.
"Bodo amat, Besok kalau tu beruang kutub tetap memaksa, saya akan datang dengan penampilan terjelek saya, biar dia malu, ilfeel dan akan mengembalikan saya ke gudang lagi" ucap Gisel.
"Gak sudi saya jadi kacungnya, apalagi hanya duduk manis di samping dia, bikin kopi, nyatet jadwal, ikut dia rapat terus menerus" Dumel Gisel.
Iwan menggeleng kepalanya "Tapi sel, jadi sekertaris Pak Adrian itu gajinya gede loh, tiga kali lipat dari gaji admin gudang, jadi hidup loh mewahan dikit, semua cicilan kamu akan terbayarkan dengan cepat, apalagi dengan motor kamu" ucap Iwan memberi nasehat kepada Gisel.
Gisel terdiam sejenak "Nah itu dia masalahnya bang, kenapa dia pintar banget narik orang pake duit? Dasar Bos LICIK!! mentang-mentang kaya, semuanya mau dibeli pake duit, liat saja kalau dia tetap memaksa besok, saya bakal bikin hidup dia tidak tenang dan ruangannya untuk hibernasi makin panas dan dia tidak tenang melakukan hibernasi gara-gara omelan maut saya"
"Sabar say,, sabar. Terima saja, ini kesempatan emas untuk lu berkarir say, eyke tahu yey pasti bisa melewati semuanya" ucap Budi
"Semangat Sel" ucap Maya
"Mmm, benar Sel, semangat" tambah Iwan.
"Jahat banget sih kalian" ucap Gisel dibalas tawa renyah mereka, dan masih terdengar dumelan khas Gisel mengumpat Adrian.
to be continue