NovelToon NovelToon
Nero Vano

Nero Vano

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.

Ikuti kisahnya~

Happy Reading ><

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 19: NAMA BARU, JIWA BARU (NERO POV)

Hari-hari gue di desa nggak lagi terasa seperti "masa hukuman". Sebaliknya, ini rasanya kayak pit stop panjang yang bener-bener ganti seluruh mesin dan bodi gue. Gue bukan lagi Nero yang dulu hobi bikin onar di Senopati.

Puncaknya adalah hari Jumat kemarin, pas gue duduk bareng Pak Malik, Davi, dan Ikdam di serambi masjid setelah shalat Ashar. Pak Malik natap gue dalem, terus senyum kebapakan yang bikin adem.

"Mas Nero," panggil beliau. "Karena Mas sudah mantap melangkah di jalan ini, bagaimana kalau Mas punya nama yang mencerminkan hijrahnya Mas? Biar jadi doa setiap kali orang memanggil."

Gue sempet mikir. Gue nggak mau kehilangan identitas gue sepenuhnya, tapi gue pengen ada 'stempel' baru di hidup gue. Setelah diskusi panjang yang penuh tawa dan sedikit perdebatan seru soal arti kata, akhirnya diputuskanlah sebuah nama yang bikin gue merinding pas denger.

Muhammad Nero Vane Akbar.

"Muhammad dari Rasulullah sebagai teladanmu, Nero Vane tetap ada sebagai pengingat asal-usulmu, dan Akbar... karena Tuhan Maha Besar yang sudah menuntunmu sampai ke titik ini," jelas Pak Malik dengan nada khidmat.

"Gila, nama lo sekarang final boss banget, Ro!" celetuk Ikdam sambil nepuk bahu gue kenceng. "Muhammad Nero Vane Akbar. Kedengerannya kayak nama penguasa sirkuit yang religius parah."

Semenjak hari itu, panggilan gue di desa mulai berubah. Anak-anak madrasah manggil gue "Kak Muhammad Nero" atau "Sir Nero". Tiap kali nama itu disebut, ada rasa tanggung jawab yang nyetrum di dada gue. Gue harus menjaga nama itu. Gue nggak boleh lagi sembarangan emosi atau bertingkah urakan.

Rutinitas gue sekarang bener-bener tertata.

04:00: Bangun Subuh, dengerin adzan yang dulu gue cuekin, sekarang malah gue tungguin.

08:00: Bantu Oma di kebun atau ngerapihin perpustakaan desa.

14:00: Siapin materi bahasa Inggris buat bocah-bocah madrasah.

16:00: Ngajar kelas "English for Future Scientists" nama kelas yang gue buat khusus biar terinspirasi dari Ainun.

Malam: Diskusi kitab sama Davi atau sekadar curhat filosofis sama Ikdam di angkringan.

Gue ngerasa ego gue bener-bener sudah "terbakar". Gue nggak lagi butuh pengakuan lewat kecepatan motor atau jumlah cewek yang ngantri DM gue. Pengakuan dari bocah desa yang bilang "Thank you, Sir Nero!" pas mereka bisa ngeja satu kalimat bahasa Inggris itu rasanya jauh lebih 'high' daripada menang balapan liar manapun.

Satu hal yang bikin gue paling tersentuh adalah pas Oma manggil gue buat makan malam.

"Muhammad Nero... ayo makan dulu, Sayang," panggil Oma dengan suara halusnya.

Gue berhenti sejenak, natap langit malam desa yang penuh bintang. Gue ngerasa jauh lebih kaya sekarang. Gue punya nama yang indah, keluarga yang dukung, sahabat yang tulus, dan sebuah harapan yang lagi terbang di langit Kairo.

"Gue emang belum sesempit Ustadz Davi, dan belum sepinter Profesor Ainun," gumam gue sambil senyum. "Tapi Muhammad Nero Vane Akbar hari ini, sepuluh kali lipat lebih bahagia daripada Nero yang kemarin."

.

.

.

Hari dimana Nero asik mengajar:

"Okay, guys! Listen up," teriak gue sambil ngetuk meja pakai penghapus.

"Hari ini kita nggak belajar grammar yang bikin puyeng. Hari ini, kelas English for Future Scientists bakal simulasi misi ke Mars. Do you copy?"

"Copy, Sir Nero!" sahut bocah-bocah itu serempak. Sumpah, dipanggil 'Sir' itu rasanya aneh tapi nagih. Ada wibawa yang harus gue jaga, beda banget sama panggilan 'Ro' di bengkel yang biasanya dibuntuti kata makian.

Gue udah nyiapin properti seadanya. Botol plastik bekas, kardus mi instan, sama lakban. Gue bagi mereka jadi tiga tim: The Mechanics, The Pilots, sama The Botanists.

"Kelompok Ikbal, kamu bagian Mechanics. Tugas kamu bikin roket dari botol ini. Tapi syaratnya, kamu cuma boleh nanya bahan-bahan ke saya pakai bahasa Inggris. Kalau bilang 'minta lakban', saya nggak akan nyahut. Kamu harus bilang, 'Sir, I need the duct tape, please.' Paham?"

Ikbal garuk-garuk kepala. "Sir, I need... anu... that thing... yang lengket, Sir!"

"Duct tape, Bal. Ulangin," tuntun gue sambil nahan tawa.

Gue muter ke meja lain. Di pojok, ada Siti sama kelompoknya yang lagi serius gambar tanaman di Mars. "Sir, is this a tomato?" tanya Siti sambil nunjuk gambarnya yang lebih mirip jeruk purut.

"Yes, it is. But in Mars, maybe it's purple, Sit. Biar estetik dikit," canda gue.

Pas lagi asik-asiknya, si kecil Aris tiba-tiba nyeletuk, "Sir Nero, kalau di Mars ada balapan motor nggak?"

Gue tertegun bentar. Gue jongkok di samping kursinya, terus senyum tipis. "Di sana nggak ada balapan motor, Ris. Adanya balapan ilmu. Siapa yang paling pinter, dia yang nyampe duluan ke bintang-bintang. That's why we learn, okay?"

Aris manggut-manggut sok paham, terus lanjut nempel kardus.

Gue berdiri lagi, ngeliat sekeliling ruangan madrasah yang cuma diterangi lampu neon 15 watt ini. Dulu, jam segini biasanya gue lagi sibuk milih outfit buat nongkrong atau ngecek tekanan ban motor. Sekarang? Tangan gue penuh noda spidol sama sisa-sisa lem, tapi entah kenapa, gue ngerasa lebih 'ganteng' begini.

"Sir, look! The rocket is ready!" teriak Ikbal bangga sambil ngangkat botol plastik yang udah dipasangin sayap kardus miring-miring.

Gue tepuk tangan kenceng. "Good job! Next week, we'll fly it to the moon."

Pas kelas selesai dan mereka rebutan salim sama gue, ada satu rasa hangat yang merayap di dada. Sesuatu yang nggak bisa dibeli pakai uang bokap atau validasi anak-anak Senopati.

Gue ngeraih HP di saku, ngelihat pantulan muka gue di layar yang mati. Gue Muhammad Nero Vane Akbar, dan gue baru aja ngerasa jadi manusia paling berguna di dunia cuma gara-gara botol plastik dan bahasa Inggris belepotan.

Gue langsung masukin HP lagi. Gue mau simpen momen ini buat diri gue sendiri dulu, sebelum nanti mungkin... gue ceritain lewat email buat seseorang di Kairo.

1
한스Hans
semangat ya ☕
Thinker Bell ><: yetts, thanks😄👍
total 1 replies
Jeje Bobo
Nama neneknya keren pasti funky bebs
Thinker Bell ><: kan mantan sosialita kota, yang sengaja tinggal di kampung buat ngabisin sisa umur. biasa orang kaya.... 😄
total 1 replies
Jeje Bobo
Turun kasta 🫠 sedihnya untuk cm di novel yh say
Thinker Bell ><: nanti juga balik lagi kok ke kota/Shhh/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!