NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SESUATU YANG GAWAT

​Di ruang kerjanya yang kini sunyi, Zaki menutup laptopnya dengan dentuman pelan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Seluruh karyawan sudah pulang sejak dua jam lalu, menyisakan deru mesin pendingin ruangan yang terdengar monoton dan sunyi yang mulai terasa mencekam.

​Zaki berdiri, meregangkan otot bahunya yang terasa kaku setelah seharian berkutat dengan laporan dan tekanan dari jajaran direksi. Ia mulai membereskan meja kerjanya, memasukkan beberapa dokumen penting seperti layout desain buatannya ke dalam tas kulit hitamnya, merapikan pulpen digital di atas meja, kemudian mematikan lampu ruangan.

​Namun, pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya melayang pada Naya.

Ya. ​Sejak pendakian kemarin, suasana di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih berat namun juga lebih hangat. Zaki tahu, ucapan itu adalah sesuatu hal yang lebih berat daripada tindakan. Dan, ia telah berjanji pada Naya untuk tetap bersama. Bukan karena tak ingin, namun sanggupkah ia untuk menepati janji tersebut? Batinnya getir.

​Zaki menatap layar ponselnya yang menyala. Ada pesan singkat dari Naya...

Aku sudah di rumah. Kikan baru saja tidur. Kamu udah selesai?

​​Pesan dari Naya di layar ponselnya baru saja membuat hati Zaki menghangat, namun notifikasi berikutnya yang muncul tepat di baris teratas bagaikan sirine peringatan yang memekakkan telinga. Itu pesan dari Namira, sering di sapa Mira, alias adik Zaki.

​Kak, masih di mana?

Zaki kemudian membalas. Jemarinya bergerak lincah menari di atas keyboard...

​Di kantor. Ini mau pulang. Ada apa, Ra?

​Tak sampai dua detik, balasan muncul.

Gawat, Kak! Ada sesuatu yang gawat di rumah. Nggak bisa aku jelasin lewat chat, Kak harus segera ke sini!

​Darah Zaki seolah turun ke kakinya. Ia mengabaikan semua hal yang masih berantakan di atas mejanya. Begitu ia keluar dari pintu lift, langkahnya bergerak cepat menuju area parkir. Beruntung, motornya langsung ia dapati tanpa perlu mencari.

​Ya sudah, tunggu. Kakak pulang sekarang.

Ketiknya singkat sebelum memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana katun hitamnya. Ia segera berbalik, langkah kakinya berderap cepat meninggalkan ruang kerjanya yang kini terasa menyesakkan.

​Di pelataran gedung, ia menyalakan motor besarnya. Suara deru mesin yang rendah dan bertenaga membelah kesunyian sore di area parkir. Saat melintas di depan gerbang utama, ia menyempatkan diri melempar senyum tulus kepada Pak Satpam yang bertugas. Pria paruh baya itu sudah sangat akrab dengannya. Sosoknya yang sabar dan caranya menjaga gerbang dengan penuh tanggung jawab selalu mengingatkan Zaki pada mendiang ayahnya.

​"Duluan ya, Pak!" seru Zaki singkat.

​"Hati-hati di jalan, Mas Zaki!" balas Pak Satpam sambil memberi hormat kecil.

​Zaki memacu kendaraannya. Ia tidak perlu memakan waktu berjam-jam untuk menembus kemacetan ibu kota yang mulai memuncak. Dengan kelincahan yang terasah, ia menyelip di antara deretan kendaraan yang merayap, memanfaatkan setiap celah sempit untuk mempercepat laju. Udara sore yang panas dan asap knalpot tidak ia pedulikan, fokusnya hanya satu. Rumah.

​Kecemasan yang dipicu oleh pesan Namira tadi bekerja seperti adrenalin yang memompa darahnya lebih cepat. Begitu ia sampai di halaman rumah, ia bahkan tidak mematikan mesin motornya dengan rapi. Ia langsung turun, melompat turun dari jok meski helm masih melekat erat di kepalanya.

​Tanpa membuang waktu untuk mengucapkan salam atau mengetuk pintu, Zaki nyelonong masuk. Ia membuka pintu utama yang ternyata tidak tertutup rapat, seolah-olah memang sengaja ditinggalkan terbuka dalam kepanikan.

​Braak!

​Pintu kayu tua itu beradu dengan dinding, menimbulkan suara dentuman keras yang mengagetkan seisi rumah.

"Zaki, kamu sudah pulang." Sapa Desi, ibunya. "Gak salam, kamu?"

​Zaki mulai melepaskan helm dari kepalanya. "Ma. Mira tadi chat aku katanya ada sesuatu yang gawat. Mira mana, Ma?"

​Desi memicingkan sebelah alisnya, sorot matanya tajam namun menyiratkan keKhawatiran yang ia coba tutupi. Jemarinya yang lentik menunjuk ke arah salah satu kamar di ujung lorong yang pintunya tertutup rapat. "Ada di kamar."

​Tanpa pikir panjang, Zaki segera melangkah menuju kamar sang adik. Langkahnya panjang dan terburu-buru, rasa was-was yang merayap di dadanya sejak pesan singkat itu muncul telah mengalahkan segalanya.

​Ceklek.

​Pintu itu terbuka lebar. Zaki segera masuk, namun napasnya tercekat di tenggorokan tepat saat matanya mendapati sang adik tengah duduk di meja belajar.

​"Mir," Seru Zaki dengan penuh khawatir.

Mira yang sibuk mengerjakan tugas dari sekolah, segera beranjak dari kursi belajarnya. "Eh, Kak Zaki udah pulang."

"Kamu chat Kakak ada yang gawat, apa?"

​Mira mengangguk mantap sambil menyodorkan buku tulisnya dengan wajah yang benar-benar terlihat tertekan. "Iya, Kak. Gawat banget buat aku dan nggak bisa aku jelasin lewat chat. Ini PR matematika materi aljabar, dan ini benar-benar darurat, Kak! Soalnya gurunya itu tipe yang kalau muridnya nggak ngerjain, bakal disuruh berdiri di depan kelas seharian. Galak banget!"

​Zaki menganga. Ia mematung di ambang pintu kamar adiknya dengan napas yang masih memburu. Dadanya naik-turun karena sisa adrenalin perjalanan yang ia tempuh dengan kecepatan tinggi tadi. Ia menatap buku aljabar itu, lalu menatap wajah adiknya yang polos tanpa dosa.

​"Jadi... ini yang kamu sebut gawat?" tanya Zaki, suaranya tercekat antara rasa lega yang luar biasa dan amarah yang mulai memuncak.

​Mira mengangguk sekali lagi, sangat yakin. "Iya, Kak! Gawat banget kan?"

​Zaki mendesis panjang, terdengar sangat konyol di telinganya sendiri. "Mira, kamu buat Kakak ngebut belain jalan, nerjang kemacetan parah, hampir kena tilang, bahkan Kakak tadi ninggalin Naya dalam kondisi yang..."

​Zaki berhenti tiba-tiba. Ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan, menyadari bahwa ia telah keceplosan menyebut nama wanita yang seharusnya ia jaga kerahasiaannya dari keluarga di rumah.

​Mira memiringkan kepalanya, matanya menyipit penuh selidik. "Apa? Na-naya? Naya siapa? Kak Zaki udah punya pacar?"

​Wajah Zaki memucat. "Eng-enggak! Bukan begitu maksud Kakak. Kamu salah dengar!"

​Namun, Mira tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Dengan kecepatan kilat, gadis remaja itu berlari keluar kamar menuju ruang tamu tempat ibu mereka, Desi.

​"Ma! Ma! Kak Zaki udah punya pacar, namanya Naya!" teriak Mira girang, suaranya memenuhi seluruh sudut rumah.

​"Gawat," gumam Zaki pelan, memejamkan mata sembari memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat. "Nyebelin banget si, Mira!"

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!