NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Pertempuran Di Meja Makan

​Suasana hangat masih menyelimuti ruang makan malam itu, seolah euforia menyambut kepulangannya ke tanah air belum sepenuhnya hilang.

Namun bagi Alden, setiap detik yang berlalu terasa bagai perjuangan yang berat untuk ia lalui. Waktu yang berjalan lambat seakan sengaja memperpanjang siksaan yang sedang ditanggung oleh tubuhnya sendiri.

​Ia terus memaksakan diri untuk tersenyum, menanggapi setiap obrolan dengan nada ringan, seolah tidak ada beban apa pun yang sedang dipikulnya.

Setiap kali tawa renyah terdengar dari bibir sang ayah, Alden akan buru-buru menyatukan kedua tangannya di bawah meja, meremas jemarinya sendiri demi mengalihkan fokus dari rasa sakit yang mulai menjalar.

​Dari seberang meja, ia memperhatikan ayahnya dan ibu tirinya saling bertukar pandang. Sesekali, tangan ayahnya menyentuh punggung tangan sang istri dengan penuh kasih, sementara wanita itu melayani suaminya dengan perhatian yang tulus, tanpa sedikit pun berlebihan.

Gerakan Ranti begitu alami saat menyendokkan sayur lodeh kesukaan Pak Armanto, sebuah gestur sederhana yang hanya bisa lahir dari rasa pengabdian yang tulus selama bertahun-tahun.

​Dulu, pemandangan seperti itu pasti akan memicu amarah yang meledak di dada Alden. Ia akan menganggapnya sebagai sandiwara murahan, sebuah penghinaan terang-terangan terhadap almarhumah ibunya.

Sembilan tahun lalu, ia mungkin sudah akan membanting sendok, mendorong kursi hingga berdecit nyaring, lalu pergi meninggalkan meja makan sembari melayangkan tatapan penuh benci pada wanita yang ia anggap sebagai penyusup itu.

​Namun kini, sembilan tahun jarak dan waktu telah mengubah cara pandangnya sepenuhnya. Ia mulai melihat ketulusan yang nyata di sana.

Ranti tidak pernah berusaha menggantikan posisi ibunya. Wanita itu hanya mencoba menjadi pendamping terbaik bagi ayahnya di masa tua, serta berusaha berbuat baik kepada Alden sebisa kemampuannya, meski sering kali ragu dan takut salah.

​Perlahan, rasa benci yang dulu membatu di hatinya mulai luntur, berganti rasa hormat dan kasih sayang yang tumbuh sedikit demi sedikit.

Kebencian, ternyata, adalah beban yang terlalu berat untuk dibawa seseorang yang mulai memahami esensi kehidupan bahwa berdamai dengan keadaan jauh lebih menenangkan jiwa daripada terus mencari siapa yang salah.

​Alden sadar, wanita yang dulu sangat ia benci itu tidak pernah bersalah. Ia hanyalah manusia biasa yang jatuh cinta, lalu berusaha menjalani hidup sebaik mungkin di tengah keadaan yang rumit.

Menatap mata Ranti yang kini mulai dihiasi kerutan halus di sudutnya, Alden hanya bisa merasakan kehangatan yang terlambat ia syukuri.

​Namun, di balik sambutan hangat itu, Alden hanya memasang senyum tipis yang sulit ditebak artinya. Sebuah senyuman yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhirnya.

​Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak pernah memperlihatkan rasa sakit atau penderitaan yang ia rasakan.

Jika hidupnya memang perlahan runtuh, ia ingin menghadapinya dengan tenang, tanpa menjadi beban bagi siapa pun.

Sudah terlalu banyak badai yang ia bawa ke rumah ini selama masa remajanya yang memberontak. Sekarang, saat ia pulang membawa tubuh yang ringkih, ia menolak membawa badai baru.

​Ia tak ingin setiap kali mereka menatapnya, yang terbayang hanyalah tubuh yang kian melemah dan ajal yang kian mendekat.

Ia menolak menjadi objek belas kasihan.

Ia tidak mau meja makan yang penuh kebahagiaan ini berubah menjadi tempat di mana orang tuanya menghitung sisa hari yang ia miliki sambil berlinang air mata.

​Ia ingin diingat sebagai Alden yang penuh semangat dan kuat, yang mampu membuat mereka tertawa dan merasa tenang.

Bukan dengan ratapan atau tatapan penuh iba yang menghancurkan harga dirinya sebagai seorang lelaki.

​Karena itu, saat makan malam berlangsung, Alden harus bertarung hebat dengan tubuhnya sendiri.

​Aroma rempah dari masakan yang biasanya menggugah selera kini terasa tajam dan menusuk hidung. Rasa mual yang berputar di perutnya tak kunjung reda, menekan tenggorokannya hingga ia beberapa kali harus menelan ludah untuk menahannya.l

​Nafsu makannya hilang sama sekali, seolah tubuhnya menolak menerima asupan apa pun. Sel-sel di dalam tubuhnya seperti sedang melancarkan mogok kerja, menolak memproses nutrisi yang sebenarnya sangat ia butuhkan untuk sekadar mempertahankan kesadaran.

​Di piringnya, makanan hanya ia aduk perlahan. Sedikit nasi dan lauk yang sempat ia ambil nyaris tidak berkurang. Mengunyah saja terasa seperti pekerjaan berat yang harus ia paksa.

​Ranti yang sejak tadi memperhatikan dengan kepekaan seorang ibu akhirnya menyadari hal itu.

Pandangannya beberapa kali jatuh pada piring Alden yang nyaris tak berkurang.

​Keningnya perlahan berkerut. Ada kekhawatiran yang muncul di benaknya. Rasa tidak percaya diri yang dulu sering menghantuinya saat berhadapan dengan Alden mendadak muncul kembali. Ia tak tahu apakah masakannya kurang cocok di lidah Alden setelah sembilan tahun pria itu terbiasa dengan kuliner luar negeri, atau ada hal lain yang membuat pria itu kehilangan selera makan.

​"Mas Alden, kok makannya sedikit sekali?" tanyanya lembut, memecah keheningan di antara denting sendok dan garpu.

​Ia menoleh penuh perhatian, meletakkan sendoknya sendiri ke tepi piring. "Apa rasanya kurang pas? Atau ada yang nggak kamu suka? Bilang saja sama Ibu."

​Kekhawatiran terdengar jelas dalam suaranya.

Sebagai seorang ibu, ia tak bisa mengabaikan piring Alden yang masih nyaris penuh. Ia bahkan tampak hendak berdiri, menjangkau ujung meja, siap masuk ke dapur dan menyiapkan apa pun yang mungkin bisa membuat Alden makan lebih banyak.

​Pak Armanto pun ikut menoleh. Sorot matanya penuh perhatian saat memandang putranya. Tangan tuanya yang memegang gelas air putih tertahan di udara.

​"Iya, benar kata Ibu," ujarnya pelan, suaranya yang berat mengandung nada tegas sekaligus cemas. "Makanan itu harus masuk, Nak. Tubuhmu lagi butuh tenaga buat pulih. Jangan makan sedikit-sedikit begitu."

​Jantung Alden berdegup lebih cepat, berkejaran dengan rasa mual yang kian memuncak akibat kepanikan yang tiba-tiba menyerang.

​Ia tak boleh membuat mereka curiga. Ia tak ingin suasana hangat di meja makan itu berubah menjadi penuh kecemasan dan kesedihan karena dirinya.

​Dengan cepat ia mengumpulkan sisa tenaga yang dimilikinya, memaksa otot-otot wajahnya yang kaku menahan nyeri untuk bergerak, lalu menarik sudut bibirnya membentuk senyum selebar mungkin.

​Ia bahkan menyendok makanan dalam porsi yang cukup besar dan memasukkannya ke mulut dengan lahap, mengunyahnya dengan gerakan cepat yang dibuat-buat, seolah tak ada masalah apa pun dengan indra pengecap atau lambungnya.

​Padahal, di balik senyum itu, ia sedang berjuang keras menahan rasa mual yang datang bergelombang. Yang sebenarnya ia inginkan saat itu hanyalah berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya.

​"Ah, nggak kok, Bu, Pa. Makanannya enak banget. Rasanya masih sama persis seperti yang dulu Alden makan," jawab Alden sambil tersenyum, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar atau terdengar parau. Ia sengaja menaikkan intonasi suaranya agar terdengar santai dan ceria.

​Ia menatap kedua orang tuanya dengan wajah setenang mungkin. Tak boleh ada keraguan, tak boleh ada kegelisahan yang terlihat pada binar matanya.

​Padahal, di balik senyum itu, dadanya dipenuhi gelombang kecemasan yang terus berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.

​"Cuma... hari ini lagi kurang lapar saja. Perut rasanya masih agak penuh, jadi nafsu makan belum datang," ujar Alden sambil menepuk pelan perutnya.

​Ia bahkan sempat terkekeh kecil, berusaha membuat alasannya terdengar biasa.

​Dalam hati, ia berharap penjelasan itu cukup meyakinkan.

Setidaknya untuk saat ini.

Ia tidak ingin setiap suapan yang gagal masuk ke perutnya berubah menjadi sumber kekhawatiran baru bagi kedua orang tuanya.

​Ranti tampak mengembuskan napas lega.

Raut cemas yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan mencair.

"Syukurlah kalau begitu. Ibu sempat khawatir masakannya nggak cocok."

"Tentu cocok, Bu."

Alden tersenyum.

"Kalau nggak cocok, dari dulu juga Alden nggak bakal betah nambah sampai dua kali."

Ucapan itu berhasil membuat Ranti tertawa kecil.

"Ya sudah. Kalau memang belum lapar, nggak apa-apa. Nanti kalau sudah ingin makan atau sekadar ngemil, bilang saja, ya. Makanannya Ibu simpan supaya tetap hangat."

Alden mengangguk.

"Siap, Bu."

"Betul itu, Nak," sambung Pak Armanto dengan senyum hangat. "Jangan sungkan selama berada di rumah ini. Yang penting sekarang kamu nyaman dan kondisi kamu terjaga."

"Iya, Pa."

Setelah itu, percakapan kembali mengalir ke topik-topik ringan.

Suasana meja makan perlahan kembali terasa hangat dan akrab.

Alden ikut tersenyum, sesekali menanggapi obrolan mereka seperti biasa.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!