NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: RIAK GAIRAH DI BALIK TIRAI KEMENANGAN

Setelah pusaran cahaya perak dan emas meredakan badai sihir darah di halaman rumah, penduduk desa perlahan-lahan bubar dengan sisa-sisa keterkejutan mereka. Mereka membawa tubuh Tetua Gidion yang sudah tak berdaya ke kuil desa untuk diadili secara adat kelak. Atas desakan Dion yang ingin memberikan ketenangan, warga setuju untuk meninggalkan area sekitar rumah Mayang, memberikan privasi yang sangat dibutuhkan oleh sepasang kekasih yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka semua. Ibu Mayang, Marta, yang tahu diri bahwa putrinya dan pemuda misterius itu butuh waktu bersama setelah bertaruh nyawa, memilih untuk beristirahat di rumah kerabatnya di ujung desa.

Kini, rumah kayu sederhana milik Mayang mendadak terasa begitu sunyi, namun pekat oleh atmosfer yang berbeda. Tidak ada lagi ketegangan maut, yang tersisa hanyalah debaran jantung dua insan yang saling bertatapan di ruang tengah yang berantakan. Sinar matahari pagi yang murni merobos masuk melalui celah pintu yang rusak, menerpa wajah Mayang yang masih tampak kelelahan namun memancarkan kecantikan yang luar biasa pasca-ledakan kekuatannya.

Dion melangkah mendekat tanpa suara, memotong jarak di antara mereka. Rambut hitamnya yang berantakan terkena angin badai tadi justru menambah kesan liar dan maskulin. Ketika ia berdiri tepat di depan Mayang, aura protektif dan dominan yang sempat tertahan selama pertempuran kini kembali mencuat, namun kali ini diselimuti oleh kabut hasrat yang sangat pekat.

"Kau luar biasa semuam, Mayang," bisik Dion, suaranya baritonnya terdengar serak, bergetar rendah tepat di depan wajah gadis itu. "Penyatuan energi kita tadi... aku bisa merasakan seluruh jiwamu mengalir masuk ke dalam dadaku."

Mayang mendongak, menatap sepasang mata abu-abu badai Dion yang kini telah menggelap sepenuhnya, memancarkan dahaga dewasa yang begitu nyata. Sentuhan tangan Dion yang besar dan hangat mendarat di pinggangnya, menarik tubuh mungil Mayang hingga menempel sempurna pada dada bidangnya yang kokoh. Sentuhan itu seketika mengirimkan sengatan listrik yang membuat lutut Mayang mendadak lemas, memicu kembali memori gairah mereka di pondok hutan kemarin malam.

"Dion... semua ini berkat dirimu," jawab Mayang dengan suara yang nyaris berbisik, napasnya mulai memburu seiring dengan jemari Dion yang mulai merayap naik, menyusuri lekuk punggungnya di balik jubah beludru merah yang kini melonggar.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Mayang untuk berpikir lebih jauh, Dion menundukkan kepalanya. Bibir tegasnya langsung mengunci bibir manis Mayang dalam sebuah ciuman yang dalam, panas, dan menuntut. Ini bukan lagi ciuman penahan rasa sakit, melainkan perayaan atas kemenangan dan rasa syukur karena mereka berdua berhasil bertahan hidup. Lidah Dion menjelajah dengan dominasi mutlak, meraup seluruh desahan lembut yang lolos dari sela-sela bibir Mayang yang memerah. Mayang melenguh rendah, mengalungkan kedua lengan lentiknya ke leher kekar Dion, menyerahkan seluruh kendali dirinya pada jerat gairah pria itu.

Dion mengangkat tubuh mungil Mayang dengan mudah dalam sela-sela pagutan mereka, membawa gadis itu melangkah cepat menuju kamar tidur sederhana di sudut ruangan. Begitu tubuh Mayang direbahkan di atas ranjang kayu, Dion langsung mengungkungnya dari atas, menatap lekat-lekat wajah Mayang dengan rambut hitam yang tersebar acak di atas bantal.

Tangan kekar Dion bergerak dengan terampil menanggalkan jubah beludru merah Mayang, melemparkannya begitu saja ke lantai kamar. Kini, Mayang hanya mengenakan gaun putih tipisnya yang sempat kotor karena debu pertempuran. Dion menunduk, memindahkan kecupan panasnya dari bibir ke rahang tegas Mayang, lalu turun menghisap perlahan kulit leher jenjangnya yang seputih susu, meninggalkan tanda kepemilikan yang samar namun membakar.

Setiap embusan napas panas Dion di kulitnya membuat tubuh Mayang melengkung sensitif, jemarinya meremas erat kain kemeja hitam Dion yang melekat ketat di punggung kekar pria itu. "Dion... ahh, rasanya begitu panas..." rintih Mayang dengan mata yang setengah terpejam, sepenuhnya mabuk oleh sensasi dewasa yang diberikan Dion.

Dion terkekeh rendah, sebuah suara seksi yang bergetar di dada bidangnya yang kini telah menempel pada dada Mayang. Tangan Dion merayap ke ujung gaun putih Mayang, perlahan menyibaknya naik ke atas, mengekspos sepasang tungkai kaki Mayang yang mulus dan sensitif. Sentuhan telapak tangan Dion yang kasar di paha bagian dalam membuat Mayang gemetar hebat, sensasi terbakar itu menjalar cepat menuju inti keintimannya.

Dengan satu gerakan tangkas, Dion melepaskan kemeja hitamnya sendiri, memamerkan bentuk tubuhnya yang sempurna—perpaduan otot-otot dada yang tegap, perut yang rata, dan guratan urat yang menonjol maskulin di bawah siraman cahaya fajar. Ketika dada telanjang mereka saling bersentuhan, panas tubuh mereka seolah menyatu, membakar habis sisa-sisa keraguan yang ada di dalam benak masing-masing.

Dion menyejajarkan kembali wajahnya dengan Mayang, mempertemukan hidung mereka yang bersentuhan. "Kau adalah milikku sekarang, Mayang. Seluruh jiwa dan ragamu sudah terikat denganku," bisik Dion dengan nada posesif yang begitu kuat sebelum kembali melumat bibir Mayang dengan intensitas yang kian liar.

Tangan Dion bergerak semakin berani, menanggalkan sisa-sisa kain yang menghalangi penyatuan sejati mereka. Di bawah temaram kamar tidur yang hangat, desahan demi desahan sensual saling bersahutan dengan ritme yang kian cepat dan menuntut. Setiap sentuhan, kecupan, dan pergerakan Dion di atas tubuh Mayang dilakukan dengan kelembutan seorang kekasih namun penuh dengan kekuatan seorang pemburu yang sedang mengklaim mangsa paling berharganya. Mayang menyerahkan dirinya sepenuhnya, membiarkan gairah yang membara membawa mereka berdua terbang melayang melupakan sejenak misteri kelam yang masih mengintai di balik kabut lembah yang kini telah sirna. Penyatuan raga mereka pagi itu menjadi segel tak kasat mata bahwa apa pun badai yang akan datang menerpa hubungan mereka nanti, jiwa mereka sudah terlanjur melebur menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!