Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 30
Fajar menyingsing di atas cakrawala Kota Bogor, membawa kabut tipis yang perlahan menguap digantikan oleh ketegangan yang merayap di menara kembar Mandala Group.
Di dalam ruang kerja CEO yang megah di lantai tiga puluh, Clarissa Alexandra berdiri menatap pemandangan kota di balik dinding kaca besar.
Setelan blazer biru tuanya tampak sangat rapi, menutupi tubuh moleknya yang semalam baru saja menerima pusaka yang besar milik Farrel di dalam mobil sport yang sempit.
Wajah cantiknya kembali memancarkan ketegasan sedingin es, tipikal seorang penguasa lini properti kelas atas.
Namun, jika ada yang jeli melihat, ada rona kepuasan yang samar di sudut matanya yang sayu efek dari dominasi mutlak Farrel yang membuatnya takluk luar dalam.
Farrel sendiri duduk santai di sofa kulit ruangan itu, menyilangkan kakinya dengan angkuh sambil menikmati secangkir kopi espreso.
Kemeja hitam kasualnya digantikan oleh kemeja flanel gelap yang lengannya digulung hingga sikut, memperlihatkan jam tangan kronograf mewah seharga miliaran rupiah yang diberikan oleh Sistem.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kayu ek ruang kerja itu terbuka. Sekretaris pribadi Clarissa melangkah masuk dengan wajah pucat.
"Lapor, Ibu CEO.
"Tim Investigasi Khusus dari Aliansi Pengusaha Jakarta telah tiba di lobi utama. Mereka... mereka membawa surat perintah resmi dari Kementerian Hukum dan didampingi oleh sepuluh agen bersenjata dari firma hukum korporat."
Clarissa melirik ke arah Farrel. Pria itu hanya mengangguk kecil, memberikan kode tenang melalui Mata Sang Penguasa yang menenangkan gejolak di dada Clarissa.
"Biarkan mereka masuk," perintah Clarissa dingin.
Tak butuh waktu lama, pintu ruangan digebrak terbuka dari luar. Sesosok pria paruh baya bertubuh kurus dengan setelan jas abu-abu mahal melangkah masuk dengan angkuh.
Matanya yang tajam di balik kacamata berlapis emas memindai seisi ruangan dengan tatapan meremehkan.
Dia adalah Hendra Wijaya, ketua auditor sekaligus tangan kanan dari faksi oligarki Jakarta yang mengendalikan aset mendiang Jenderal Hermawan.
"Selamat pagi, Ibu Clarissa Alexandra,"
ucap Hendra dengan suara melengking yang sarat akan intimidasi politik.
Ia langsung menghempaskan sebuah bundel dokumen tebal ke atas meja kerja Clarissa tanpa permisi.
"Saya rasa kita tidak perlu membuang waktu dengan basa-basi. Kami ke sini untuk mengambil alih secara sah empat puluh persen saham Mandala Group yang secara misterius dialihkan dari nama Jenderal Hermawan sebelum beliau wafat."
Clarissa berjalan mendekati mejanya, duduk di kursi kebesarannya dengan anggun tanpa memperlihatkan secercah pun kepanikan.
"Tuan Hendra, semua pengalihan saham di perusahaan ini telah tercatat secara digital di sistem pusat dan ditandatangani secara sah melalui otoritas hukum nasional. Tidak ada yang misterius dari transaksi bisnis."
Hendra tertawa sinis, merapikan letak kacamatanya dengan ujung jari.
"Sah secara digital? Jangan membodohi saya, anak manis"
"Aliansi Jakarta tahu betul siapa Jenderal Hermawan. Beliau tidak akan pernah menyerahkan sepeser pun asetnya pada wanita muda seperti Anda tanpa paksaan."
"Kami membawa tim ahli forensik digital. Jika dalam tiga jam kami menemukan indikasi pemalsuan, Mandala Group akan dibekukan, dan Anda... akan mendekam di penjara seumur hidup."
Mendengar ancaman itu, suasana di dalam ruangan seketika menjatuhkan suhunya hingga ke titik beku. Para staf dan sekretaris Clarissa yang berdiri di pojok ruangan tampak gemetar menahan takut.
Namun, di tengah intimidasi yang begitu pekat, suara tawa rendah dan berat terdengar memotong keheningan dari arah sofa.
"Tiga jam?"
Farrel bangkit berdiri dari sofanya. Tubuh tingginya yang setinggi seratus delapan puluh lima sentimeter melangkah maju.
Auranya memancarkan hawa panas maskulin bercampur karisma tingkat monster yang begitu padat hingga membuat Hendra dan para pengawalnya terkesiap mundur satu langkah secara instingtif.
"Siapa lu?! Pengawal? Berani-beraninya lu bicara di forum ini!"
bentak Hendra, mencoba menutupi debaran jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang karena ketakutan yang tidak rasional setelah melihat mata Farrel.
Farrel berhenti tepat di samping meja kerja Clarissa, meletakkan satu tangannya di sandaran kursi sang CEO, mengunci Clarissa dalam perlindungannya yang mutlak.
"Gua Farrel Aditama. Pemilik asli dari setiap jengkal tanah yang lu injek di kota ini, Hendra,"
bisik Farrel, suaranya yang berat bergaung dengan otoritas yang tidak bisa dibantah oleh logika manusia mana pun.
【 Ting! Pengaktifan Keterampilan Khusus: 'Indra Pendeteksi Kebohongan'! 】
【 Sistem Memindai Target Hendra Wijaya... 】
【 Analisis Kebohongan: Surat perintah Kementerian Hukum yang dibawa target adalah PALSU (Hasil pemalsuan dokumen tingkat tinggi dari Aliansi Jakarta untuk menggertak Mandala Group)! 】
Seringai kejam yang sangat menawan terukir di wajah tampan Farrel. Ia mengulurkan tangannya, mengambil bundel dokumen tebal di atas meja, lalu dengan santai merobeknya menjadi dua bagian di depan wajah Hendra.
Sreeet!
"Lu... lu gila?! Itu dokumen negara!" teriak Hendra dengan wajah memerah padam karena murka dan panik.
"Dokumen negara?"
Farrel maju selangkah, menundukkan wajahnya hingga jarak mereka begitu dekat. Mata Sang Penguasa milik Farrel mengunci manik mata Hendra, meremukkan kestabilan mental sang auditor kawakan dalam sekejap.
"Lu pikir gua gak tahu kalau surat perintah ini cuma kertas sampah yang lu cetak di kantor pribadi lu di Jakarta, hah?"
Mendengar kalimat Farrel, seluruh tubuh Hendra seketika menegang kaku. Pelipisnya dibanjiri keringat dingin, dan napasnya mendadak tersedat.
"Bagaimana... bagaimana bajingan daerah ini bisa tahu rahasia terdalam dari rencana kami?!" batin Hendra menjerit histeris.
【 Ting! Mental Target Hendra Wijaya runtuh total di hadapan kebenaran Anda! 】
【 Tingkat Kepatuhan Target akibat Intimidasi: 75% (Sangat Ketakutan dan Siap Membocorkan Rahasia)! 】
"Serang dia! Amankan bajingan ini!" perintah Hendra dengan suara gemetar pada sepuluh agen bersenjata di belakangnya.
Namun, sebelum para agen dari Jakarta itu sempat menyentuh sarung pistol di pinggang mereka, pintu ganda ruang kerja CEO kembali terbuka kasar.
Tiger bersama dua puluh personel elit Garuda Hitam merangsek masuk dengan senapan serbu HK416 yang sudah dikokang, langsung mengunci kepala sepuluh agen Jakarta tersebut dalam bidikan mati.
"Jangan ada yang bergerak, atau otak kalian gua bikin berceceran di atas karpet mahal ini," gertak Tiger dengan senyum haus darahnya yang khas.
Farrel tidak melirik kekacauan di belakangnya. Ia menjambak kerah jas abu-abu Hendra dengan satu tangan, mengangkat tubuh kurus pria itu hingga kakinya jinjit di atas lantai.
"Kembali ke Jakarta dan bilang sama bos-bos besar lu,"
bisik Farrel dengan nada suara sedingin es yang sanggup menghentikan detak jantung.
"Bogor bukan lagi wilayah yang bisa kalian gertak dengan kertas palsu. Mulai hari ini, setiap kaki orang Jakarta yang melangkah ke kota ini tanpa izin gua... gak akan pernah bisa pulang dalam keadaan bernyawa."
Farrel menghempaskan tubuh Hendra ke lantai marmer dengan kasar.
Hendra merangkak mundur dengan wajah dipenuhi ketakutan absolut, tidak ada lagi keangkuhan seorang pejabat ibu kota yang tersisa di dirinya.
"Tiger, usir anjing-anjing ini dari Bogor. Dan pastikan mereka tahu jalan pulang," perintah Farrel datar.
Setelah ruangan kembali sepi, Clarissa bangkit dari kursinya, langsung memeluk pinggang tegap Farrel dengan helaan napas lega yang teramat dalam.
Pengagumannya pada Farrel kini telah mencapai tingkat pemujaan yang mutlak. Pria supir angkot yang dulu diremehkan, kini telah menjelma menjadi perisai raksasa yang meremukkan taring para penguasa ibu kota hanya dengan beberapa patah kata.