NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Jarum jam merambat lambat melewati angka dua belas malam. Di lantai tertinggi penthouse milik Arlan, keheningan terasa begitu pekat, jenis kesunyian yang justru membuat bising isi kepala. Bianca berdiri bergeming di depan jendela kaca besar yang membentang dari langit-langit hingga menyentuh lantai kamarnya. Tirai abu-abu berat sengaja ia biarkan tersingkap, membiarkan lanskap Jakarta malam hari terserap masuk ke dalam netra jernihnya. Dari ketinggian ini, kerlip lampu jalanan dan gedung pencakar langit tampak seperti taburan berlian yang berserakan di atas kain beludru hitam. Megah, berkilau, sekaligus terasa sangat dingin.

Kedua tangannya bersedekap di dada. Di bawah balutan piyama katun sederhana berpola garis-garis samar, tubuh semampainya tetap memancarkan keanggunan yang tidak bisa didefinisikan oleh sekadar pakaian mahal. Itu adalah jenis karisma yang tumbuh dari tulang, sisa-sisa kemewahan masa lalu yang melekat erat meski ia telah mencoba membasuhnya dengan keringat sebagai pelayan.

Tatapan matanya menerawang menembus refleksi dirinya di kaca. Perlahan, ingatan Bianca terseret mundur pada labirin waktu sepuluh tahun yang lalu. Kamar seluas ini, kasur berpegas empuk, dan pemandangan kota yang menakjubkan sempat menjadi hal yang mustahil baginya. Dia mengingat malam-malam dingin di dalam sel sempit berukuran tiga kali empat meter di Surabaya, tempat di mana versi dirinya yang manja, arogan, dan kekanak-kanakan mati secara perlahan.

Di ruang sunyi penuh stigma sebagai narapidana itulah, Bianca justru menemukan cetak biru kekuatannya yang baru. Dia menolak untuk hancur. Di bawah temaram lampu sel yang sering berkedip, dia menghabiskan ribuan jam untuk membalik halaman-halaman buku tebal tentang seluk-beluk bisnis makro, hukum korporasi, hingga laporan keuangan tahunan perusahaan ayahnya.

Dia beruntung. Di tengah badai yang meruntuhkan dunianya, dia memiliki sosok kakak luar biasa seperti Kirana. Perempuan itu tidak pernah benar-benar melepaskannya. Kirana menempatkan Pak Haryo—seorang pengacara senior sekaligus ahli strategi bisnis kepercayaan keluarga—untuk mendampingi Bianca di dalam lapas. Lelaki tua itu bertindak sebagai mentor, pemantik diskusi, sekaligus pelatih mental yang membentuk Bianca menjadi seorang pemikir taktis.

Berbekal keteguhan yang keras kepala, Bianca berhasil menyelesaikan pendidikan jarak jauh dari balik jeruji besi. Dua gelar sekaligus dia renggut dari balik dinding penjara: Bisnis Manajemen dan Desain Interior. Dia keluar dari sana bukan lagi sebagai sosialita manja yang tidak tahu dari mana uang berasal, melainkan sebagai seorang perempuan mandiri dengan kecerdasan yang mumpuni, siap menghadapi segala bentuk manipulasi dunia luar.

Bianca menghela napas panjang. Embusan napasnya meninggalkan embun tipis di permukaan kaca jendela yang dingin. Perjalanannya ke desa terpencil di Jawa Barat, menyamar sebagai pelayan bernama Gita, sebenarnya adalah sebuah pelarian yang ia damba. Sebuah bentuk penebusan dosa atas masa lalunya, sebuah upaya untuk memeluk kedamaian yang sederhana tanpa embel-embel harta dinasti Adytama.

Arus takdir justru membenturkannya dengan Arlan Dirgantara. Lelaki posesif yang skeptis, dingin, sekaligus memiliki perlindungan yang teramat menyesakkan dada.

Sentuhan gawai di tangan kanannya membuyarkan lamunan Bianca. Layar ponsel pintarnya yang tersamar dengan casing murah berkedip pelan. Ia membuka kunci layar, lalu menekan sebuah nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Panggilan itu langsung tersambung pada dering kedua.

"Selamat malam, Nona Bianca," suara bariton yang sarat akan pengalaman dan kesetiaan terdengar di ujung telepon. Pak Haryo selalu terjaga untuknya.

"Malam, Pak Haryo," jawab Bianca, suaranya mengalun rendah, sangat tenang dan berwibawa. Nuansa lembut seorang pelayan bernama Gita menguap begitu saja, menyisakan intonasi tegas seorang putri mahkota. "Mahendra dan Stella sudah mulai bergerak di Jakarta. Mereka nekat membawa foto masa lalu saya ke lobi kantor hari ini."

Ada jeda sejenak di seberang sana, disusul helaan napas berat. "Apakah Tuan Arlan terpengaruh, Nona? Jika perlu, saya bisa mengintervensi jalur hukum agar Mahendra tidak melangkah lebih jauh."

"Tidak perlu untuk sekarang," Bianca menyunggingkan senyum tipis, ada kilat apresiasi yang melintas di matanya saat mengingat bagaimana tubuh tegap Arlan melindunginya tadi siang. "Arlan menanganinya dengan caranya sendiri. Dia sangat keras kepala. Besok subuh, kami akan kembali ke villa di Jawa Barat untuk melanjutkan proyek agro-resort yang sedang dikerjakan Dirgantara Group. Mahendra kemungkinan besar akan mengalihkan sasarannya ke sana, memanfaatkan isu sengketa lahan dengan warga lokal."

"Saya mengerti, Nona. Saya sudah menempatkan beberapa orang di wilayah hulu Jawa Barat secara senyap. Bram juga sudah mengamankan dokumen tandingan terkait batas tanah ulayat milik keluarga Adytama yang bertetangga langsung dengan lahan Dirgantara. Kami siap bergerak begitu Anda memberikan aba-aba."

"Bagus. Terima kasih, Pak Haryo. Pantau terus pergerakan rekening Stella. Mahendra pasti menyuplai dana segar agar perempuan itu tetap mau menjadi pionnya yang berisik."

"Baik, Nona. Jaga diri Anda di sana."

Sambungan telepon terputus. Bianca perlahan menurunkan ponselnya, meletakkannya di atas meja nakas di samping tempat tidur. Kamar kembali dilingkupi kesunyian yang magis.

Dia melangkah kembali ke dekat jendela, menatap kegelapan malam yang perlahan mulai memudar di ufuk timur. Sebuah gumaman lirih lolos dari bibirnya yang ranum.

"Sejujurnya... aku tidak ingin melibatkan diriku terlalu jauh dengan dunia kalian lagi," bisik Bianca pada bayangannya sendiri. "Aku hanya ingin kedamaian di balik kebun teh itu."

Raut wajahnya mendadak mengeras, menyisakan gurat kedewasaan yang dingin. "Tetapi kalian sepertinya penasaran sekali denganku. Kalian ingin melihat Bianca yang dulu? Baik. Aku akan masuk ke dalam permainan kalian. Mari kita lihat seberapa jauh Mahendra dan Stella bisa bertahan sebelum aku membuat jalan mereka menjadi labirin yang mustahil untuk dilewati."

**

Pukul empat pagi, kabut tebal masih merayap rendah menyelimuti aspal ibu kota yang basah. Di dalam kabin SUV hitam besar milik Arlan, keheningan terasa begitu padat. Arlan sengaja memilih berangkat sebelum matahari terbit, memotong jarak ratusan kilometer menuju wilayah hulu Jawa Barat demi satu tujuan mutlak: menyembunyikan Bianca dari pusaran badai yang sengaja diledakkan oleh Stella kemarin siang. Di samping itu, ada agenda mendesak terkait proyek agro-resort Dirgantara Group yang harus segera ia selesaikan di dekat villa mewah keluarganya.

Sepanjang jalur bebas hambatan, tidak ada obrolan santai. Kedua orang di dalam mobil itu fokus pada layar gawai masing-masing, menciptakan ritme kerja yang sunyi sekaligus intens.

Arlan sesekali melirik wanita di sebelah kemudinya. Bianca duduk dengan punggung tegak, jemarinya bergerak lincah di atas tablet, memeriksa jadwal logistik dan menyusun ulang agenda pertemuan Arlan dengan para kepala desa di wilayah hulu. Ketenangan wanita tiga puluh tahun itu benar-benar di luar ekspektasi Arlan. Setelah seluruh hinaan dan gunjingan sebagai mantan narapidana yang menerpanya di lobi kantor, tidak ada air mata, tidak ada keluhan pasrah. Sisi dewasa dan tegar yang memancar dari balik pakaian bersahajanya justru membuat Arlan kian terpikat oleh pesona misterius yang sulit dijelaskan.

Saat mobil mulai menanjak memasuki daerah perbukitan Jawa Barat yang berliku, keheningan itu pecah oleh getaran ponsel Arlan. Nama Doni berkedip di layar.

Arlan menekan tombol terima. "Ya, Don. Berikan aku laporan yang bersih."

Suara Doni di seberang telepon terdengar sangat tegang, memantul di dalam kabin mobil yang sunyi. "Arlan, situasinya memburuk di Jakarta sejak dua jam lalu. Mahendra tidak lagi menggunakan cara-cara bawah tanah. Dia baru saja menggerakkan jaringan media massa miliknya untuk melempar rumor ke publik."

Arlan mempererat cengkeramannya pada kemudi, matanya menyipit menatap jalanan berkabut di depan.

"Rumor apa?"

"Mereka menyebarkan berita bahwa kamu sengaja menyembunyikan seorang mantan narapidana kasus besar dari Surabaya sebagai asisten pribadi. Narasi yang mereka bangun sangat kejam, Ar. Mahendra menuduhmu memanfaatkan latar belakang kriminal wanita tersebut untuk melakukan manipulasi pajak dan penggelapan dana pembebasan lahan perkebunan di proyek Jawa Barat."

Mendengar hal itu, rahang Arlan mengetat hingga urat-urat di lehernya menonjol kaku. Siasat kotor ini terbaca dengan sangat jelas sekarang. Stella dan Mahendra bekerja sama bukan untuk menghancurkan hidup seorang pelayan seperti Gita. Masa lalu kelam Bianca hanya dijadikan batu pijakan, sebuah alat pemukul yang dirancang khusus untuk meruntuhkan kredibilitas Arlan di hadapan dewan komisaris Dirgantara Group.

"Dewan komisaris sudah mulai panik, Ar," lanjut Doni, suaranya sarat akan kecemasan. "Beberapa pemegang saham asing meminta klarifikasi sebelum pasar saham dibuka besok pagi. Mahendra tahu benar titik lemah kita. Dia menuntut dewan direksi mengadakan rapat darurat untuk meninjau kembali posisimu sebagai CEO jika skandal moral ini tidak segera diselesaikan."

"Selesaikan? Maksud mereka aku harus memecat asistenku untuk membersihkan nama?" desis Arlan, suaranya bariton, rendah, dan penuh dengan intimidasi yang tertahan.

"Secara kalkulasi bisnis... iya, Ar. Itu jalan paling cepat untuk menenangkan pasar. Kamu dipaksa memilih: mempertahankan posisi tertinggimu di perusahaan, atau melindungi wanita yang saat ini ada di sampingmu."

"Pantau terus pergerakan saham mereka, Doni. Jangan biarkan satu pun komisaris mengambil keputusan sepihak sebelum aku tiba di villa. Aku yang memegang kendali di sini," Arlan langsung memutus sambungan telepon dengan satu sentakan kasar.

Atmosfer di dalam mobil mendadak drop hingga ke titik beku. Arlan merasakan gejolak amarah yang luar biasa di dadanya. Mantan istrinya dulu mengkhianatinya demi harta, membuat jiwanya skeptis dan dingin terhadap komitmen. Kini, takdir seolah sengaja melemparnya ke dalam situasi di mana dia harus mempertaruhkan seluruh kekuasaan yang ia agungkan demi seorang wanita misterius bernama Gita, wanita yang ia lindungi dengan obsesi posesif yang kian tak terkendali.

Di sampingnya, Bianca mendengar setiap kata yang keluar dari ponsel Arlan. Dia tidak menunjukkan kepanikan. Otak taktisnya yang telah diasah selama sepuluh tahun dari balik jeruji besi Surabaya langsung bekerja melakukan kalkulasi matang. Di balik ketenangannya, ada rasa bersalah yang meremas ulu hatinya. Arlan berdiri di posisi sulit ini semata-mata karena dirinya. Pria itu mengorbankan reputasinya yang bersih tanpa tahu bahwa nama "Gita Ivara" yang dibelanya mati-matian adalah sebuah identitas samaran.

Bianca Adytama, nama aslinya, adalah kunci dari seluruh permainan ini. Sisi cerdas dari masa lalunya sebagai pewaris tunggal dinasti properti bangkit sepenuhnya. Dia tahu, jika dia hanya diam dan membiarkan Arlan menjadi tameng sendirian, Mahendra akan memenangkan papan catur ini.

"Tuan Arlan," Bianca membuka suara, memecah ketegangan yang mendidih di antara mereka. Suaranya mengalun tenang, sangat berkelas, mengikis kesan seorang bawahan. "Mahendra tidak mengincar saya. Targetnya adalah kursi Anda. Dan cara terbaik untuk mematahkan serangan media adalah dengan menyerang balik pondasi hukum dari lahan perkebunan yang mereka perdebatkan."

Arlan melirik Bianca sekilas, alisnya bertaut tajam. "Bagaimana kamu bisa berpikiran sejauh itu, Gita? Ini urusan korporasi tingkat tinggi, bukan sekadar masalah administrasi villa."

"Saya hanya membaca situasi dari sudut pandang logika yang paling dasar," Bianca menjawab dengan senyum tipis yang penuh teka-teki, menyembunyikan fakta bahwa dia memahami hukum agraria lebih baik daripada tim pengacara Dirgantara Group. "Jika kita bisa membuktikan bahwa seluruh aliran dana pembebasan lahan di desa Jawa Barat ini bersih dan dilindungi oleh dokumen perwalian yang sah, tuduhan manipulasi pajak itu akan gugur dengan sendirinya. Publik akan melihat ini sebagai fitnah persaingan bisnis yang murah."

Arlan terdiam. Analisis yang keluar dari mulut wanita berusia tiga puluh tahun itu terlalu rapi, terlalu taktis untuk ukuran seorang gadis yang mengaku hanya ingin mencari kedamaian sebagai pelayan desa. Kecurigaan di hati Arlan kian meruncing, bergesekan dengan rasa kagum yang mendalam atas ketegaran wanita di sampingnya.

***

1
Mundri Astuti
weeiiih Bianca kerennn...ni baru adiknya kirana
Muft Smoker
aq emnk gx baca cerita sebelum ny ,,
tp baca versi bianca yg skrang ,,
kayak ny cerita versi ini gx kalah keren ma cerita yg sebelum ny ,,
Oma Said
lanjutkan....
Eskael Evol
luar biasa
ryuka
bianca kamu yg kuat ya🔥🔥🔥🔥🔥
Eskael Evol
jalang tidak tahu malu kau Stella
Eskael Evol
jujur aja apa salahnya
Verawati Naycyl
bagus Bi .. hancurkan Stella dan Mahendra...
Eskael Evol
sepertinya arlan dan Stella ada di cerita sebelum nya da yg tau kah reader
Eskael Evol
kerenn ceritanya👍
ms. yati74
ketenangan Bianca bagai bom waktu yg bisa meledak kapan pun jg....untuk menghancurkan Stella pewangi ruangan dan Mahendra sebenarnya ga perlu Arlan yg turun tangan kalau Bianca mau
Mukeseh
lagi thor 😍😍 q subuh" bzcdnya
Verawati Naycyl
mulai seru nich..
ms. yati74
Stella pewangi ruangan cari gara gara....weees cepet di bejek bejek sak Mahendra nya di bikin jadi gelandangan yooo bang Ar
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!