NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMAKIN TERASA DEKAT

Motor Keano melaju membelah jalanan sore.

Angin menerpa jaket mereka, lampu jalan mulai menyala satu per satu, Nara duduk di belakang dengan tenang, sesekali melihat sekitar seperti mencoba menghapal kota baru yang asing baginya.

Beberapa menit perjalanan berlalu sebelum Nara akhirnya bicara.

"Kamu sekolah di mana, Keano?"

Keano sedikit meninggikan suara agar terdengar.

"SMAN Garuda."

Nara langsung merespons cepat, "Hah? Serius?"

Keano melirik lewat kaca spion, "Iya. Kenapa?"

Nara tertawa kecil, terdengar hampir tidak percaya.

"Aku juga bakal sekolah di sana."

Keano refleks mengerem sedikit pelan, "Hah?"

Motor kembali stabil.

"Maksudnya… lo mau pindah ke sana?"

"Iya," jawab Nara. "Mama kamu belum bilang?"

Keano menggeleng kecil.

"Gak ada briefing lengkap sih."

Nara tersenyum.

"Aku baru pindah dari Bandung, udah lama banget ya kita gak ketemu, mulai minggu depan masuk sekolah baru, tante bilang sekolahnya bagus… terus kebetulan ada kamu juga."

Keano hanya diam beberapa detik, otaknya langsung bekerja, sekolah yang sama.

Lingkungan yang sama.

Berarti…

Nara akan melihat kehidupannya sehari-hari.

Termasuk Senja, motor berhenti di lampu merah.

Keano menatap lurus ke depan.

Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat Senja duduk di belakang motornya, cara Senja memegang ujung jaketnya pelan.

Lampu berubah hijau, Motor kembali melaju.

Di sisi lain — Perpustakaan Sekolah

Senja menutup bukunya.

Perpustakaan sudah hampir kosong sekarang.

Arelina duduk di depannya sambil memperhatikan wajah Senja yang terlihat sedikit lebih diam dari biasanya.

"Lu ingat keano ya?"

Senja langsung mengangkat kepala.

"Hah?"

Arelina menyeringai.

"Biasanya pulang boncengan. Sekarang enggak."

Senja ingin menyangkal.m, tapi ia gagal.

Tangannya tanpa sadar membuka chat Keano lagi.

Pesan terakhir masih terlihat.

"Hati-hati di jalan."

Senja menghembuskan napas kecil.

"...aneh aja."

Arelina tersenyum lembut, "Namanya juga mulai kebiasaan."

Senja tidak membalas.

Namun di dalam hatinya, ia sadar_hari ini terasa sedikit kosong, ia belum tahu…

bahwa mulai minggu depan, seseorang baru akan masuk ke kehidupan mereka.

Dan orang itu…

baru saja duduk di belakang motor Keano.

Malam Hari — Rumah Keano

Motor berhenti di depan rumah.

Nara melepas helm, "Wah… makasih ya."

Keano mengambil koper kecilnya, "Iya, santai."

Pintu rumah terbuka.

Mama Keano keluar sambil tersenyum hangat.

"Nara! Akhirnya sampai juga."

Nara langsung memeluknya.

Keano berdiri di belakang, memperhatikan.

Lalu mamanya menoleh padanya, "oh iya, Keano. Mama lupa bilang."

Nada suaranya santai.

"Nara nanti sekolah bareng kamu ya, Mama sudah urus pindahannya."

Keano mengangkat alis.

"...jadi beneran?"

"Iya dong. Mulai minggu depan." Mama Keano tersenyum puas.

"Biar kamu ada temen juga di sekolah."

Keano hanya mengangguk pelan.

Tapi di dalam pikirannya muncul satu bayangan.

Koridor sekolah, Kelas IPA.

Senja, ia tidak tahu kenapa…

tapi firasatnya mengatakan—

hidup dan sekolahnya sebentar lagi tidak akan sesederhana biasanya.

Malam datang perlahan.

Kamar Keano hanya diterangi lampu meja belajar.

Tas sekolahnya masih tergeletak di kursi, jaketnya bahkan belum sempat ia rapikan sejak pulang dari bandara.

Dari ruang tengah terdengar suara Mama dan Nara sedang mengobrol santai.

Keano duduk di tepi tempat tidur, ponsel di tangan.

Layar chat Senja masih terbuka.

Ia mengetik.

Hapus.

Mengetik lagi.

Hapus lagi.

"...kenapa jadi mikir dulu sih?" gumamnya pelan.

Akhirnya ia menarik napas dan menekan kirim.

Keano:

(Udah sampe rumah?)

Tidak sampai satu menit—

balasan muncul.

Senja:

(Udah. Kamu gimana? Udah selesai jemputnya?)

Keano tersenyum kecil.

Ia membalas sambil merebahkan diri di kasur.

Keano:

(Udah. Baru nyampe juga.)

Titik tiga muncul di layar, Senja sedang mengetik.

Keano memperhatikan layar itu tanpa sadar… menunggu.

Senja:

(Capek ya pasti.)

Keano tertawa kecil sendiri.

Keano:

(Lumayan, tapi lebih aneh gak nganter lo pulang.)

Beberapa detik tidak ada balasan.

Lalu—

Senja:

(Aku juga tadi… agak aneh.)

Jantung Keano berdetak sedikit lebih cepat.

Ia bangkit duduk.

Keano:

(Aneh gimana?)

Balasan datang lebih lama kali ini.

Seolah Senja berpikir dulu.

Senja:

(Biasanya ada yang nunggu di parkiran.)

Keano tersenyum lebar tanpa sadar.

Tangannya bergerak cepat.

Keano:

(Besok gue balikin kebiasaan itu.)

Di sisi lain—Kamar Senja

Senja duduk bersila di tempat tidur. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, lampu kamar redup, suasana tenang.

Ia membaca pesan itu berulang kali.

Senyumnya pelan muncul.

Senja:

(Gak usah dipaksa.)

Balasan langsung masuk.

Keano:

Bukan dipaksa.

(Gue emang mau.)

Deg.

Senja menatap layar lebih lama.

Pipinya terasa hangat.

Ia mengetik perlahan.

Senja:

(Kamu baik banget sama semua orang ya?)

Pesan terkirim.

Beberapa detik hening.

Lalu muncul balasan.

Keano:

(Enggak kok.)

Titik tiga muncul lagi.

Keano:

(Cuma sama orang tertentu.)

Senja menahan napas kecil.l, jarinya berhenti di atas layar, entah kenapa… ia tahu maksudnya.

Hening nyaman memenuhi percakapan mereka.

Tidak perlu kata banyak.

Hanya keberadaan satu sama lain.

Beberapa saat kemudian—

Keano:Senja

Senja:(Iya?)

Keano:

(Besok lo ke perpus lagi?)

Senja tertawa kecil.

Senja: (Mungkin )

Keano:(Oke. Berarti gue tau harus nyari lo di mana.)

Senja menggigit bibir menahan senyum.

Di dua kamar yang berbeda—

dua orang yang sama-sama lelah hari itu…

ternyata menutup malam dengan perasaan yang sama, perasaan hangat yang pelan-pelan tumbuh tanpa mereka sadari.

Layar ponsel Senja masih menyala.

Percakapan mereka belum benar-benar selesai.

Beberapa detik hening… sampai pesan baru muncul lagi.

Keano:

Senja, lo udah makan?

Senja tersenyum kecil.

Pertanyaan sederhana.

Tapi anehnya terasa seperti diperhatikan.

Senja:

Udah. Kamu?

Balasan datang cepat.

Keano:

Baru mau, dari tadi ngobrol sama tamu mama.

Senja sedikit penasaran.

Senja:

Yang kamu jemput tadi?

Keano:

Iya.

Senja mengetik… lalu berhenti.

Ia tidak tahu kenapa ingin bertanya lebih jauh.

Akhirnya ia tetap menulis.

Senja:

(Temen mama kamu ya?)

Keano membaca pesan itu sambil bersandar di dinding kamar.

Ia sempat berpikir untuk langsung menjelaskan semuanya, tentang Nara, tentang sekolah yang sama, tapi entah kenapa…

ia ingin mengatakan langsung besok.

Keano:

(Iya. Anak temennya mama.)

Tidak sepenuhnya bohong.

Tapi juga belum seluruhnya cerita.

Senja mengangguk kecil meski hanya sendirian di kamar.

Beberapa detik kemudian—

Keano:

(Lo lagi ngapain sekarang?)

Senja menatap langit-langit kamar.

Senja: (Rebahan, mikirin tugas… tapi malah buka chat.)

Keano tertawa pelan.

Keano:

(Sama. Harusnya makan, malah chat lo.)

Senja menutup wajahnya dengan bantal kecil.

Senyumnya makin jelas sekarang.

Hening lagi.

Tapi bukan hening canggung, hening nyaman.

Lalu pesan baru muncul.

Keano: Senja.

Senja: Iya?

Beberapa detik berlalu sebelum balasan datang.

Seolah Keano benar-benar mempertimbangkan kata-katanya.

Keano:

(Gue seneng lo mau nemenin gue chat malam ini)

jantung Senja berdebar, kalimat itu sederhana.

Tapi terasa tulus sekali, ia menatap layar lama, lalu membalas pelan.

Senja:

(Aku juga seneng)

Di kamar Keano, ia tersenyum sendiri.

Untuk pertama kalinya sejak lama—hari biasa terasa penting.

Keano melihat jam.

Sudah hampir malam.

Keano:

(Tidur cepet ya, besok gue jemput lagi.)

Senja menatap pesan itu.

Kata lagi terasa hangat.

Senja:

Iya. (jangan telat.)

Keano: Demi lo, gak mungkin telat.

Senja tertawa kecil.

Senja:

Selamat malam, Keano.

Keano membaca pesan itu beberapa detik sebelum membalas.

Keano:

(Malam, Senja.)

Layar perlahan meredup, di dua tempat berbeda—

mereka sama-sama memejamkan mata dengan senyum kecil.

Tidak ada pengakuan, tidak ada status.

Tapi sesuatu di antara mereka…

sudah mulai terasa seperti rumah.

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!