Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Semifinal – Seol vs Ryu Cheonmyeong (Bagian 1)
Matahari baru saja mencapai puncaknya saat kedua belah pihak memasuki arena.
Lembah Naga Putih belum pernah seramai ini. Tribun batu yang mampu menampung sepuluh ribu orang terisi penuh hingga ke ujung paling atas. Warna-warna jubah dari berbagai sekte dan klan memenuhi setiap sudut, tetapi ada dua warna yang mendominasi hari ini: biru tua Sekte Pedang Surgawi, dan merah darah Kultus Darah. Udara terasa panas dan padat, bukan hanya karena terik matahari, tetapi karena ketegangan yang telah membangun selama dua hari terakhir.
Semua orang tahu ini bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah pertemuan antara dua pendekar muda yang memiliki sejarah kelam. Sepupu yang tumbuh bersama, yang kini berdiri di sisi berlawanan dari kebaikan dan kejahatan.
Seol berdiri di sisi barat arena, pedang Seol Hwa tersandang di pinggangnya, luka di bahu kirinya masih terbalut rapi di bawah jubah. Rasa sakit masih ada—setiap gerakan tangan kiri masih terasa seperti ditusuk jarum—tetapi ia tidak menunjukkan apa pun di wajahnya. Ia telah mempersiapkan diri untuk hari ini selama dua setengah tahun. Rasa sakit fisik tidak akan menghentikannya.
Di sisi timur, Ryu Cheonmyeong berdiri dengan anggun, jubah merah gelapnya berkibar tertiup angin, rambut hitam panjangnya tergerai di bahu. Ia tidak membawa pedang—tidak perlu. Tangannya sendiri sudah menjadi senjata yang cukup mematikan. Dan di matanya, ada cahaya merah yang tidak bisa disembunyikan—cahaya yang sama seperti yang Seol lihat pada Kwak Jung, tetapi jauh lebih dalam, jauh lebih kuat.
“Ia sudah melewati batas,” bisik Gu di kepalanya. “Tidak seperti Kwak Jung yang masih berusaha menyembunyikan. Cheonmyeong telah sepenuhnya menyerah pada qi iblis. Tubuhnya sudah berubah. Hatinya sudah berubah. Yang tersisa hanya bayangan dari manusia yang dulu kau kenal.”
Seol menggenggam gagang pedangnya. “Aku tidak kenal dia. Yang aku kenal hanyalah monster yang menghancurkan hidupku.”
“Hati-hati. Kekuatannya sudah melebihi apa yang bisa kau tangani dengan teknik biasa. Kau harus—”
“Aku tahu.”
---
Babak Pertama – Ujian
“Mulai!” teriak wasit.
Cheonmyeong tidak bergerak.
Ia berdiri di tempatnya, tangan di belakang punggung, senyum tipis menghiasi bibirnya. Sikap yang sama persis seperti saat duel di hutan belakang dulu. Sikap yang mengatakan: “Kau tidak sebanding denganku.”
Seol tidak terpancing. Ia sudah belajar dari masa lalu.
Ia mengambil langkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Cheonmyeong masih tidak bergerak. Tiga langkah. Empat langkah.
Pada langkah kelima, Seol melesat.
Pedangnya berkelebat dalam pola yang sudah dilatih ribuan kali—tiga tusukan cepat ke dada, diikuti tebasan ke leher. Teknik Pedang Angin tingkat tiga. Cukup cepat untuk mengejutkan kebanyakan lawan.
Cheonmyeong menghindar tanpa bergerak dari tempatnya. Tubuhnya bergoyang seperti ilalang tertiup angin, setiap serangan meleset hanya dengan selisih milimeter. Dan pada serangan terakhir, ketika pedang Seol hampir mengenai lehernya, ia mengangkat satu jari.
Satu jari menangkis bilah pedang.
Bunyi ting metalik bergema di seluruh arena. Seol merasakan getaran menjalar dari ujung pedang ke tangannya, ke lengannya, ke seluruh tubuhnya. Getaran yang mengandung qi—qi gelap yang mencoba masuk ke meridiannya, membekukan aliran qi-nya dari dalam.
Ia mengalirkan qi-nya sendiri untuk menetralisirnya. Teknik yang sama seperti yang ia gunakan melawan Kwak Jung. Tapi kali ini, qi gelap itu jauh lebih kuat. Ia harus mengerahkan hampir seluruh kekuatannya hanya untuk menahan agar tidak meracuni meridiannya.
Cheonmyeong mengangkat alis. “Kau bertahan. Bagus. Dulu kau akan langsung jatuh.”
Ia menggerakkan jarinya. Gerakan kecil, hampir tidak terlihat. Tapi gelombang qi yang keluar dari ujung jarinya terasa seperti pukulan raksasa. Seol terlempar ke belakang, kakinya menggores lantai batu, baru berhenti setelah tiga langkah. Dadanya terasa sesak, napasnya tersengal.
Satu jari. Hanya satu jari.
Penonton bergumam. Beberapa dari Sekte Pedang Surgawi mulai terlihat cemas. Seol Hwa, yang berdiri di sisi arena, menggenggam erat gagang pedangnya. Baek Ho, di tribun penonton, mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
Seol berdiri tegak. Ia mengatur napasnya, memusatkan qi-nya. Luka di bahunya terbuka sedikit—ia merasakan kehangatan darah mengalir di bawah jubah—tetapi ia tidak peduli.
“Masih bisa berdiri?” Cheonmyeong tersenyum. “Mungkin aku perlu sedikit lebih serius.”
Ia mengambil langkah maju.
---
Kecepatan yang Berbeda
Dunia Seol berubah.
Cheonmyeong bergerak seperti kilat. Tidak ada peringatan, tidak ada persiapan. Satu detik ia berdiri sepuluh langkah di depan, detik berikutnya ia sudah berada di depan Seol, tinjunya menghunjam ke arah perut.
Seol tidak sempat menghindar. Ia hanya bisa menangkis dengan pedangnya.
Dug!
Pukulan itu mengenai bilah pedang dengan kekuatan yang luar biasa. Seol terpental ke belakang, kakinya kehilangan pijakan, tubuhnya berguling di lantai batu sebelum akhirnya berhenti dengan tangan kiri menahan beban. Rasa sakit meledak di bahunya. Ia menggigit bibirnya menahan jeritan.
Belum selesai.
Cheonmyeong sudah berdiri di depannya lagi, tidak memberi waktu untuk bernapas. Tendangan melingkar datang dari arah buta, diarahkan ke kepalanya.
Seol berguling ke samping. Tendangan itu menghantam lantai batu, memecahkannya menjadi serpihan-serpihan kecil yang beterbangan seperti pecahan kaca.
Ia mendorong tubuhnya berdiri. Pedang di tangannya terangkat, mencoba menciptakan jarak dengan tebasan cepat.
Cheonmyeong tidak menghindar. Ia membiarkan pedang itu mengenai lengannya.
Crak!
Seol merasakan getaran aneh—bukan seperti memukul batu, seperti yang ia rasakan saat melawan Baek Ho dari Sekte Tulang Besi. Ini berbeda. Ini seperti memukul air. Pedangnya tidak menemukan perlawanan, tetapi juga tidak melukai. Qi gelap di sekitar lengan Cheonmyeong menyerap seluruh kekuatan tebasan, membubarkannya seperti kabut terkena sinar matahari.
“Teknik Pelindung Darah,” kata Cheonmyeong, senyumnya melebar. “Hadiah dari Kultus Darah. Tidak ada pedang biasa yang bisa menembusnya.”
Ia mengangkat tangannya. Di telapak tangannya, qi gelap berkumpul, membentuk bola hitam kemerahan yang berdenyut seperti jantung. Seol merasakan tekanan dari bola itu—tekanan yang membuat dadanya sesak, yang membuat lututnya terasa lemas, yang membuat pikirannya berteriak untuk lari.
“Itu adalah Qi Penghancur Jiwa,” bisik Gu, nada panik mulai terdengar. “Jika terkena, jiwamu akan hancur. Kau tidak akan mati, tetapi kau akan menjadi… kosong. Tidak ada yang tersisa.”
Cheonmyeong melempar bola itu.
Seol menghindar dengan refleks terbaiknya. Tubuhnya bergeser ke kanan, hampir terjatuh karena luka di bahu, tetapi ia berhasil. Bola itu melesat melewati telinganya, mengenai lantai batu di belakangnya.
Ledakan kecil terjadi. Bukan ledakan api, tetapi ledakan kegelapan. Batu-batu di sekitar titik ledakan berubah menjadi abu-abu pucat, kehilangan warna, kehilangan kehidupan. Seol menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam pertarungan ini.
Ketakutan.
Bukan takut mati. Tapi takut menjadi kosong. Takut kehilangan semua yang telah ia perjuangkan. Takut kehilangan ingatan tentang ibunya, tentang Gu, tentang Baek Ho, tentang Seol Hwa.
Cheonmyeong melihat ketakutan itu. Senyumnya melebar.
“Kau takut,” katanya. “Bagus. Rasa takut adalah awal dari kekalahan. Dulu kau selalu takut padaku. Di desa, di ujian, di duel di hutan—kau selalu takut. Dan kau akan selalu takut. Karena kau tidak pernah berubah. Kau masih sampah yang sama.”
Seol menggenggam pedangnya erat-erat. Di dalam dadanya, pusaran qi-nya berputar liar, tidak stabil, terpengaruh oleh ketakutan yang mulai meracuni pikirannya.
“Seol!” suara Gu di kepalanya tajam. “Jangan dengarkan dia! Kau sudah berubah! Kau bukan sampah lagi! Ingat semua yang telah kau lalui! Ingat—”
Tapi Seol tidak bisa mendengar. Pikirannya dipenuhi oleh masa lalu. Wajah Cheonmyeong yang menertawakannya di ujian. Tangannya yang menjentikkan jari ke dahinya. Kata-kata sampah yang menghantuinya setiap malam.
Mungkin dia benar. Mungkin aku tidak pernah berubah. Mungkin aku masih—
“Seol!”
Suara itu bukan dari Gu. Suara itu dari luar. Dari tribun penonton.
Ia menoleh.
Baek Ho berdiri di tribun, tangannya terangkat, matanya berkaca-kaca tetapi penuh tekad. “Kau bukan sampah! Kau pernah bilang padaku bahwa kau akan menjadi lebih kuat! Kau sudah menjadi lebih kuat! Jangan kalah sekarang!”
Di samping Baek Ho, Yoon Jae berdiri dengan tangan terkepal. “Kau mengalahkan sepuluh murid luar tanpa pedang! Kau mengungkap rahasia Kwak Jung! Kau sudah sampai sejauh ini! Jangan menyerah!”
Dan di sisi arena, Seol Hwa berdiri diam. Ia tidak berteriak. Ia tidak meneriakkan dukungan. Tapi matanya—matanya yang hitam pekat—menatap Seol dengan sesuatu yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Keyakinan.
Seol menarik napas dalam-dalam.
Ia teringat ibunya, yang tersenyum di atas tempat tidur, bangga meski anaknya pergi. Ia teringat Gu, yang mengorbankan satu ekornya untuk menyelamatkannya. Ia teringat Baek Ho, yang memberinya roti di hari-hari tergelap. Ia teringat Seol Hwa, yang meminjamkan pedangnya, yang memberinya kesempatan.
Ia teringat semua orang yang percaya padanya. Yang berjuang bersamanya. Yang menunggunya kembali.
Dan di dalam dadanya, pusaran qi yang kacau itu mulai tenang. Tidak langsung. Perlahan. Seperti air yang mulai jernih setelah badai.
Ia mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Cheonmyeong.
“Kau bilang aku tidak berubah,” katanya, suaranya tidak lagi bergetar. “Kau salah.”
Ia mengangkat pedangnya. Bukan dengan tangan yang gemetar, tetapi dengan tangan yang mantap. Qi-nya mengalir deras dari pusat dadanya ke ujung jari, ke bilah pedang, ke udara di sekelilingnya.
“Aku sudah berubah. Aku bukan lagi orang yang kau kenal. Aku bukan lagi orang yang takut padamu. Aku adalah Ryu Seol. Murid Sekte Pedang Surgawi. Dan aku tidak akan kalah.”
Cheonmyeong mengerutkan kening. Senyumnya menghilang untuk pertama kalinya.
“Kau… kau—”
Seol tidak memberi waktu. Ia melesat maju dengan kecepatan yang belum pernah ia capai sebelumnya. Tujuh bayangan muncul di sekelilingnya—Pedang Bayangan tingkat dua—tapi kali ini, bayangan-bayangan itu tidak hanya ilusi. Mereka menyerang.
Cheonmyeong terkejut. Ia menghindar, menangkis, tetapi bayangan-bayangan itu terlalu banyak. Dua bayangan mengenai lengannya, tiga mengenai dadanya, dua lagi mengenai punggungnya. Tidak ada yang benar-benar melukai—teknik Pelindung Darah masih aktif—tetapi untuk pertama kalinya, Cheonmyeong mundur.
Satu langkah.
Seol melihat itu. Ia tidak memberi waktu. Ia terus menekan, setiap tebasan, setiap tusukan, setiap bayangan, datang lebih cepat, lebih keras, lebih liar. Ia tidak lagi memikirkan teknik. Ia tidak lagi memikirkan strategi. Ia hanya menyerang. Dengan semua yang ia miliki.
Cheonmyeong mundur lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Penonton mulai bersorak. Mereka melihat seorang pemuda yang terluka, yang dikatakan sampah, yang tidak memiliki peluang, kini mendorong monster itu mundur.
Tapi Seol tahu. Ia tidak bisa terus seperti ini. Setiap serangan menguras qi-nya. Luka di bahunya semakin terbuka, darah mengalir deras di bawah jubah. Dan Cheonmyeong… Cheonmyeong masih belum terluka. Ia hanya terkejut. Begitu ia pulih dari keterkejutannya, ia akan membalas.
“Seol,” bisik Gu. “Kau tidak bisa mengalahkannya seperti ini. Teknik Pelindung Darah terlalu kuat. Pedang biasa tidak bisa menembusnya.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?”
Gu diam sejenak. Seol merasakan kehangatan di dadanya berdenyut lebih cepat—denyut yang tidak biasa.
“Ada satu cara. Tapi kau tidak akan menyukainya.”
“Apa?”
“Aku akan memberimu kekuatan. Kekuatan sejati. Bukan hanya sedikit qi seperti dulu. Kali ini, aku akan membuka hampir seluruh kekuatan yang kumiliki.”
Seol merasakan darahnya membeku. “Tidak. Gu, kau sudah kehilangan satu ekor. Jika kau—”
“Aku tahu risikonya. Tapi jika kau kalah hari ini, Cheonmyeong tidak akan berhenti. Ia akan membunuhmu. Ia akan membunuh teman-temanmu. Ia akan menghancurkan semua yang kau cintai. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“Gu—”
“Dengar, bocah. Aku sudah hidup ribuan tahun. Aku sudah melihat kerajaan bangkit dan hancur. Aku sudah melihat teman-teman mati di depanku. Tapi kau…” Suara Gu berubah. Menjadi lebih lembut. Lebih manusia. “Kau adalah yang terbaik dari semuanya. Kau layak untuk diperjuangkan.”
Seol merasakan air mata menggenang di matanya. “Gu…”
“Terima kekuatanku. Dan kalahkan dia.”
---
Di Dalam Kesadaran Seol – Saat yang Sama
Dunia berubah.
Arena menghilang. Penonton menghilang. Cheonmyeong menghilang. Seol berdiri di tengah kehampaan yang bercahaya ungu, dan di depannya, Gu berdiri dalam wujud aslinya.
Rubah putih raksasa dengan delapan ekor yang menjulur seperti lidah api, mata merah delima yang bersinar seperti bara, dan bulu seputih salju yang bercahaya di tengah kegelapan.
Gu menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, Seol melihat ekspresi di wajah rubah itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan sinis. Bukan sarkastik. Bukan marah.
Kasih sayang.
“Kau sudah cukup kuat, Ryu Seol. Kau tidak perlu aku lagi. Tapi untuk hari ini… biarkan aku membantumu sekali lagi.”
Ia mengangkat satu cakarnya. Di ujung cakar itu, cahaya ungu berkumpul—cahaya yang sama yang menyelamatkan Seol saat duel di hutan belakang, tetapi kali ini jauh lebih terang, jauh lebih kuat.
“Ini adalah kekuatan satu ekorku. Setelah ini, aku hanya akan memiliki tujuh ekor. Aku akan tidur sangat lama. Mungkin bertahun-tahun. Mungkin… aku tidak akan bangun lagi.”
Seol menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau.”
“Kau tidak punya pilihan.” Gu tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. “Sekarang, ambil kekuatan ini. Dan menang.”
Cahaya itu melesat dari cakar Gu ke dada Seol.
---
Kembali ke Arena
Seol membuka matanya.
Di dalam dadanya, pusaran qi-nya telah berubah. Tidak lagi seperti sungai yang mengalir deras. Sekarang seperti lautan yang bergelora. Qi ungu memancar dari setiap pori tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, dari ujung pedang hingga ujung bayangan yang mengelilinginya.
Cheonmyeong terpaku. Matanya melebar.
“Apa—?”
Seol mengangkat pedangnya. Cahaya ungu menyala di bilahnya, dan untuk pertama kalinya, teknik Pelindung Darah Cheonmyeong mulai bergetar.
“Sekarang,” kata Seol, suaranya bergema dengan dua nada—suaranya sendiri, dan suara Gu di belakangnya. “Giliranku.”
Ia melesat maju. Dan kali ini, Cheonmyeong tidak bisa mengikuti kecepatannya.
---