Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ketukan pintu yang teratur namun mendesak membuyarkan keheningan di dalam ruang perawatan VVIP.
Rina muncul di ambang pintu dengan wajah pucat, matanya melirik gelisah ke arah koridor.
"Pak Adrian, bisa keluar sebentar? Ada yang ingin bicara," bisik Rina pelan, suaranya gemetar.
Adrian mengangguk, melepaskan genggaman tangannya dari Liana yang mulai tertidur karena pengaruh obat.
Ia melangkah keluar, dan seketika langkahnya terhenti.
Dua orang polisi berseragam lengkap sudah berdiri tegak di depan pintu, memegang beberapa map dokumen dan kantong bukti plastik.
"Selamat sore, Pak Adrian Pratama. Kami dari kepolisian ingin menyampaikan perkembangan penyelidikan terkait kecelakaan di gedung bioskop semalam," ujar salah satu petugas dengan nada formal.
Adrian mengerutkan kening, rahangnya mengeras.
"Langsung saja, Pak. Apa hasilnya? Apakah ini murni kecelakaan?"
Petugas itu menggelengkan kepala. "Hasil pemeriksaan tim forensik dan rekaman CCTV cadangan menunjukkan adanya sabotase pada baut penyangga beban. Kami telah mengamankan barang bukti berupa alat pemotong kabel di lokasi, dan keterangan dari beberapa saksi mengarah pada satu nama."
"Jadi, Arum pelakunya?" tanya Adrian dengan suara yang rendah namun sarat akan amarah. Hatinya mencelos.
Ia tahu Arum marah, tapi ia tak menyangka wanita itu akan bertindak sejauh ini hingga membahayakan nyawa Liana.
Polisi itu mengangguk, lalu membuka map lainnya.
"Benar, Pak. Saudari Arum terlihat di area teknis sesaat sebelum acara dimulai. Namun, ada satu hal lagi. Kami menemukan bahwa ia tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh rekan bisnis Anda, Saudara Jordan."
Adrian terhenyak, punggungnya menyentuh dinding rumah sakit.
"Jordan?"
"Benar. Dari penyadapan komunikasi yang kami lakukan setelah laporan masuk, ternyata Saudari Arum dan Saudara Jordan telah menjalin hubungan gelap selama beberapa bulan terakhir. Mereka berencana menyabotase acara ini tidak hanya untuk menyakiti Nona Liana, tapi juga untuk menjatuhkan nilai saham perusahaan Anda agar Jordan bisa mengambil alih."
Adrian tertawa hambar, sebuah tawa pahit yang penuh penghinaan pada dirinya sendiri.
"Jadi, selama ini Arum berselingkuh dengan Jordan? Di belakangku?"
Ia merasa bodoh sekaligus muak. Ternyata pengkhianatan yang terjadi jauh lebih busuk dari yang ia bayangkan.
Arum yang selama ini menuduhnya berselingkuh, justru dialah yang lebih dulu bermain api dengan musuh dalam selimutnya sendiri.
"Kami sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan, namun informasinya mereka telah menuju bandara untuk melarikan diri ke luar negeri," tambah polisi itu.
Adrian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Tangkap mereka, Pak. Saya ingin mereka membayar setiap tetes darah yang keluar dari kaki Liana. Jangan biarkan mereka lolos."
Adrian menutup pintu ruang VVIP dengan pelan, nyaris tanpa suara.
Ia berdiri sejenak di depan tempat tidur, menatap wajah Liana yang terlelap.
Wajah itu tampak begitu tenang di bawah pengaruh obat bius, sangat kontras dengan badai informasi yang baru saja Adrian terima di luar sana.
Erwin, yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Adrian, menyadari perubahan drastis pada rahang pria itu yang mengeras dan sorot matanya yang meredup karena amarah yang tertahan.
"Ada apa?" tanya Erwin pendek. Suaranya rendah, tidak ingin membangunkan Liana atau ibunya yang sedang beristirahat di sofa seberang.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya memberikan isyarat dengan kepalanya ke arah pintu.
"Ikut aku sebentar."
Erwin mengerutkan kening, namun ia bangkit dan mengikuti Adrian keluar.
Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi menuju kantin yang berada di lantai bawah.
Di sana, suasana jauh lebih tenang, hanya ada beberapa perawat yang sedang menikmati kopi di jam istirahat mereka.
Adrian memesan dua gelas kopi hitam pekat, lalu duduk di sudut meja yang paling pojok, jauh dari pendengaran orang lain.
"Polisi baru saja ke sini," mulai Adrian setelah menyesap kopinya yang pahit. "Sabotase itu... pelakunya Arum."
Erwin tidak tampak terkejut, ia hanya mendengus sinis.
"Aku sudah menduganya. Wanita itu gila."
"Bukan cuma Arum, Erwin. Dia dibantu oleh Jordan," lanjut Adrian. Suaranya bergetar karena rasa muak.
"Dan yang paling menjijikkan, ternyata selama ini mereka berselingkuh di belakangku. Mereka merencanakan ini bukan hanya untuk mencelakai Liana, tapi untuk menghancurkan perusahaanku agar Jordan bisa mengambil alih."
Erwin terdiam. Ia menatap Adrian dengan tatapan yang sedikit melunak, meski tetap kaku. Pengkhianatan berlipat ganda seperti itu pasti memukul harga diri pria mana pun.
"Jadi, kamu dikhianati oleh tunanganmu dan rekan bisnismu sendiri?" Erwin menggelengkan kepala.
"Lalu, apa rencanamu sekarang? Mereka kabur ke luar negeri?"
"Polisi sedang mengejar mereka ke bandara. Aku juga sudah mengerahkan tim IT-ku untuk melacak pergerakan rekening Jordan," Adrian mengepalkan tangan di atas meja.
"Aku tidak akan membiarkan mereka lolos. Tapi sekarang, fokus utamaku adalah Liana. Aku tidak mau dia tahu tentang Arum dan Jordan sekarang. Kondisi mentalnya sedang tidak stabil karena kakinya dan kehamilan itu."
Erwin menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Adrian dengan serius.
"Kali ini aku setuju denganmu. Jangan beri tahu dia dulu. Biarkan dia fokus pada pengobatannya di Korea nanti. Biar aku yang mengurus perlindungan di sekitar Liana, dan kamu... selesaikan tikus-tikus itu sampai ke akarnya."
Di kantin yang remang itu, dua pria yang biasanya saling hantam kini duduk berdampingan, menyusun rencana untuk melindungi satu wanita yang sama.
Musuh mereka kini bukan lagi satu sama lain, melainkan bayang-bayang masa lalu yang berusaha menghancurkan masa depan mereka.
Dua jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam di kantin rumah sakit.
Gelas kopi di depan Adrian sudah mendingin, menyisakan ampas hitam yang pekat, persis seperti suasana hatinya.
Tepat saat ia hendak beranjak, ponsel di saku jasnya bergetar hebat.
Nama detektif yang menangani kasus sabotase itu muncul di layar.
Adrian segera mengangkatnya, sementara Erwin yang duduk di seberangnya langsung memasang telinga, matanya menatap tajam menuntut jawaban.
"Halo? Bagaimana?" suara Adrian terdengar rendah namun penuh penekanan.
"Kami berhasil, Pak Adrian. Tim intelijen bandara baru saja mencegat Saudari Arum dan Saudara Jordan di gerbang imigrasi Terminal 3.
Mereka sedang mencoba melewati pemeriksaan paspor untuk penerbangan ke Singapura.
Saat ini keduanya sudah kami amankan di pos polisi bandara untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Adrian mengembuskan napas panjang, sebuah perasaan lega yang bercampur dengan kemarahan yang masih membara.
"Terima kasih, Pak. Pastikan mereka tidak mendapatkan jaminan apa pun. Saya akan segera mengirim pengacara saya ke sana."
Setelah mematikan telepon, Adrian menatap Erwin.
"Mereka tertangkap. Di imigrasi."
Erwin hanya mendengus, sebuah senyum sinis yang puas tersungging di bibirnya.
"Bagus. Biarkan mereka membusuk di sana. Setidaknya satu beban berkurang."
Keduanya kemudian bangkit dan melangkah kembali menuju ruang VVIP. Namun, begitu pintu kamar terbuka pelan, suasana di dalam sudah berubah.
Liana tidak lagi terlelap. Ia sedang bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi, dibantu oleh Mamanya.
Matanya yang sembab menatap ke arah pintu dengan sorot yang penuh selidik.
"Kalian ke mana saja?" tanya Liana lirih namun tegas.
"Lama sekali di luar. Tadi ada polisi juga, kan? Rina bilang kalian bicara serius."
Adrian dan Erwin saling lirik sejenak, mencoba menyembunyikan ketegangan yang baru saja mereka lalui.
Adrian melangkah mendekat, mencoba mengatur ekspresi wajahnya sealami mungkin.
"Hanya urusan administrasi rumah sakit dan pernyataan saksi untuk kecelakaan kemarin, Li," jawab Adrian lembut sambil mengusap kening Liana.
"Polisi hanya butuh keterangan tambahan agar asuransi dan semuanya lancar."
Liana menatap Adrian lama, seolah mencoba mencari kebohongan di balik mata pria itu.
"Benarkah? Bukan karena ada hal lain yang kalian sembunyikan dariku? Tentang, siapa yang menjatuhkan besi itu?"
Suasana kamar mendadak hening. Erwin yang biasanya ceplas-ceplos, kali ini memilih diam dan pura-pura sibuk merapikan tas di sudut ruangan.
"Fokuslah pada kesembuhanmu, Nak," sela Mama Liana sambil membelai rambut putrinya.
"Masalah itu biar Mas Adrian dan Erwin yang urus. Yang penting sekarang kamu makan dulu, ya? Tadi suster sudah antar buburnya."
Liana menghela napas panjang, ia tahu mereka merahasiakan sesuatu, namun ia terlalu lelah untuk berdebat.
"Aku tidak lapar, Ma. Aku hanya ingin cepat-cepat ke Korea. Aku ingin bisa berdiri lagi,.demi bayi ini."
Perkataan Liana yang menyebutkan bayinya membuat Adrian terenyuh.
Ia berjanji dalam hati, Arum dan Jordan tidak akan pernah menyentuh Liana lagi seumur hidup mereka.
ditunggu crazy upnya