Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.Peremuan Antara Dua Kubu Yang Berbeda
Koridor utama Akademi Kuoh saat jam istirahat biasanya dipenuhi oleh gelak tawa siswa yang berhamburan menuju kantin atau atap sekolah. Namun, siang ini, atmosfer di lorong lantai dua mendadak berubah. Udara yang tadinya hangat terpapar sinar matahari mendadak terasa kaku, seolah-olah ada dua frekuensi suara yang saling beradu dan membatalkan satu sama lain.
Ren melangkah keluar dari kelas 2-B dengan santai, jemarinya masih bertautan erat dengan tangan Bibi Dong. Sang Permaisuri berjalan di sampingnya dengan dagu terangkat, matanya yang berwarna ungu gelap menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang mengintimidasi. Setiap pasang mata yang berpapasan dengan mereka secara otomatis beralih arah; tidak ada yang berani memutus "ruang pribadi" yang diciptakan oleh kehadiran pasangan ini.
Tepat di persimpangan koridor menuju kantor kepala sekolah, dua sosok asing berdiri mematung. Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan aksen emas yang mencolok—pakaian formal utusan Gereja. Salah satunya berambut biru pendek dengan helai hijau yang eksentrik, sementara yang lain memiliki rambut pirang panjang yang dikuncir dua.
Xenovia Quarta dan Irina Shidou.
Langkah kaki Ren terhenti sekitar lima meter di depan mereka. Ia menyandarkan bahunya pada dinding koridor, sementara Bibi Dong berdiri tegak di sampingnya, memicingkan mata ke arah tas panjang yang disampirkan di punggung Xenovia. Tas itu memancarkan aura suci yang tajam, seperti ribuan jarum tak kasat mata yang mencoba menusuk kulit.
"Aroma yang sangat menusuk," ucap Bibi Dong, suaranya jernih namun penuh dengan nada jijik yang tidak disembunyikan. "Kalian membawa besi karatan yang diberkati itu ke dalam tempat pendidikan? Sangat tidak beradab."
Irina Shidou tersentak, matanya yang cokelat melebar saat menatap Bibi Dong. Ia merasakan sebuah tekanan yang sangat asing—bukan energi iblis yang gelap, melainkan sesuatu yang jauh lebih agung namun sangat menekan jiwanya. "Siapa... siapa kalian? Kami tidak merasakan tanda-tanda iblis dari kalian, tapi... aura ini..."
Xenovia melangkah maju satu langkah, tangannya secara instingtif memegang tali tas senjatanya. Matanya yang tajam mengunci sosok Ren yang tetap tenang di balik kacamata hitamnya. "Irina, diamlah. Pria ini... dia bukan manusia biasa. Ruang di sekitarnya seolah-olah tidak tersentuh oleh doa-doa kita."
Ren terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang meredam kebisingan siswa di kejauhan. "Doa kalian terlalu berisik, Utusan Gereja. Kalian datang ke sini untuk menemui Rias Gremory, bukan? Gedung tua ada di arah sebaliknya. Jangan membuang waktu kalian dengan mencoba mengukur kedalaman lautan yang tidak bisa kalian seberangi."
[SISTEM: Analisis target selesai. Xenovia Quarta—Pemegang Excalibur Destruction. Tingkat sinkronisasi: Tinggi. Status emosi: Terancam secara pasif.]
[SISTEM: Deteksi niat bertarung dari Xenovia. Ia mempertimbangkan untuk menarik senjatanya di area publik.]
[REN: Biarkan dia mencoba. Jika dia menarik pedang itu di sini, aku akan membiarkan Dong'er yang mematahkan keyakinannya.]
Bibi Dong melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan Xenovia. Perbedaan tinggi badan dan wibawa membuat Xenovia secara tidak sadar menahan napas. Bibi Dong mengulurkan tangannya, bukan untuk menyerang, melainkan untuk merapikan sedikit kerah jubah putih Xenovia yang agak miring dengan gerakan yang sangat meremehkan.
"Besi ini..." bisik Bibi Dong tepat di telinga Xenovia, suaranya sedingin es di puncak pegunungan. "Excalibur? Di duniaku, kami menyebut benda seperti ini sebagai mainan untuk anak-anak yang takut pada kegelapan. Jangan pernah berfikir untuk menghunuskan benda kusam ini di depanku, atau aku akan memastikan Tuhanmu pun tidak akan mengenali sisa-sisa jiwamu."
Xenovia gemetar. Ia ingin membalas, ingin meneriakkan kata-kata suci untuk mengusir rasa takutnya, namun lidahnya terasa kelu. Kehadiran Bibi Dong terasa seperti kaisar yang sedang menghakimi seorang pemberontak kecil.
"Dong'er, sudahlah," Ren memanggil dengan nada lembut yang sangat kontras dengan situasi panas itu. "Kita punya janji untuk makan siang di atap. Jangan biarkan debu-debu ini merusak selera makanmu."
Bibi Dong menarik tangannya kembali, menatap Xenovia dan Irina untuk terakhir kalinya dengan pandangan kosong. Ia berbalik dan kembali merangkul lengan Ren. "Kau benar, Suamiku. Bau logam ini benar-benar merusak suasana pagi yang indah."
Mereka berdua berjalan melewati kedua utusan gereja itu seolah-olah mereka hanya tiang bangunan yang tidak berarti. Begitu jarak mereka menjauh, Irina baru bisa mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.
"Xenovia... kau baik-baik saja?" tanya Irina dengan suara gemetar. Ia melihat tangan Xenovia yang memegang tali tas senjatanya masih bergetar hebat.
"Dia... wanita itu..." Xenovia menatap punggung Bibi Dong yang menghilang di belokan koridor. "Aura suci di pedangku... dia meredup saat wanita itu mendekat. Irina, kita harus segera menemui Rias Gremory. Ada entitas di sekolah ini yang jauh lebih berbahaya daripada seluruh keluarga Gremory jika mereka digabungkan."
Di kejauhan, di ujung koridor, Ren tersenyum tipis. Ia bisa merasakan detak jantung kedua utusan gereja itu yang tidak beraturan melalui Six Eyes.
"Investasi pada Issei akan segera diuji, Dong'er," gumam Ren saat mereka mulai menaiki tangga menuju atap. "Gereja, Iblis, dan Malaikat Jatuh... semuanya akan segera berkumpul di satu titik. Dan kita akan duduk di barisan terdepan untuk menonton kehancuran mereka."
Bibi Dong tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu Ren. "Selama aku bisa menontonnya bersamamu, aku tidak keberatan jika seluruh kota ini harus terbakar."