Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
030
“Hmm, Roseo, apa sebelumnya kau sungguh tidak pernah menginap di hotel?” Tanya Mary.
“Ya, memang tidak pernah," jawab Roseo cepat.
"Lantas, jika kau ke kota, kau biasa menginap dimana?” Tanya Mary.
“Aku biasanya tidur di area pom bensin", jawab Roseo.
Mary terperangah.
Pria yang bahkan punya begitu banyak uang dalam rekeningnya lebih memilih untuk tidur di area pom bensin.
Yang benar saja!
"Oh, begitu. Lantas kenapa kau tidak pernah menginap di hotel?" Tanya Mary.
"Kalau hanya untuk tidur, aku tidak butuh tempat mewah seperti ini," jawab Roseo.
Mary merasa sangsi dengan jawaban Roseo.
"Ros, apa kau tidak pernah membawa teman kencanmu untuk menginap di hotel?" Tanya Mary.
"Apa? Teman kencan?!" Roseo terperangah.
"Ya, para wanita yang pernah menjadi istrimu, apa kau tidak pernah mengajak mereka untuk kencan di hotel?" Tanya Mary.
Roseo mengerutkan alisnya sebelum menjawab pertanyaan Mary yang terdengar semakin aneh.
"Mawary, aku tidak pernah mengajak para wanita yang menjadi istriku untuk pergi ke kota karena mereka tidak pernah punya urusan di kota," jawab Roseo diplomatis.
Mary kembali menarik senyumnya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa menjadi lebih spesial karena menjadi satu-satunya wanita yang pergi ke kota bersama Roseo.
"Hmm, Roseo, kalau begitu, aku mau mandi dulu. Apa kau mau ikut?" Tanya Mary.
Pertanyaan Mary jelas membuat Roseo merasa aneh.
Untuk apa Mary mengajaknya mandi bersama?
Apalagi yang diinginkan wanita itu?
Berkaca dari pengalaman sebelumnya, Mary mengajak Roseo untuk bermesraan hanya karena wanita itu punya keinginan yang harus dituruti Roseo.
Apa Mary sungguh ingin tidur di kamar terpisah? Batin Roseo bertanya-tanya.
Mary membuka rompi boleronya lalu mengambil jubah mandi yang ada di lemari.
"Roseo, di kamar mandi ada pemanas air dan bathup, sangat menyenangkan jika kita bisa berendam bersama," kata Mary.
Ajakan itu terdengar seperti sebuah jebakan yang disiapkan oleh Mary agar Roseo menuruti permintaan wanita itu.
Roseo harus menolak demi kebaikannya.
“Lebih baik kau mandi saja duluan, aku tunggu di luar saja,” ucap Roseo.
Mary terperangah karena Roseo menolak ajakannya.
“Roseo, ini bukan kamar mandi di rumahmu, jadi kau tidak perlu menungguku di luar,” sahut Mary.
"Ya, tapi lebih baik kau mandi saja duluan," ucap Roseo dengan tegas.
"Oh begitu, baiklah," kata Mary.
Mary segera masuk ke dalam kamar mandi, mata Roseo masih mengawasi Mary yang menghilang di balik pintu.
Apa kau sungguh berpikir, aku akan mengizinkanmu untuk tidur sendiri dan membiarkan pria lain menyelinap ke kamarmu diam-diam?! Batin Roseo.
Sementara itu, Mary yang berdiri di depan cermin hanya bisa menatap pantulan dirinya yang sedang terperangah.
Ia sungguh tak percaya, Roseo menolak ajakannya untuk mandi bersama. Padahal ada bathup yang bisa mereka gunakan untuk bermesraan seperti dalam salah satu film yang pernah Mary saksikan.
Entah mengapa Mary jadi merasa dongkol dengan penolakan dari pria itu.
Aku? Ditolak oleh pria tidak good looking itu?
Mary merasa harga dirinya terkoyak, tak terima karena Roseo menolaknya seperti ini.
Mary segera keluar dari kamar mandi.
"Roseo," panggil Mary.
Roseo yang sedang memeriksa sofa menoleh ke arah Mary.
"Ada apa?" Tanya Roseo.
"Bisa tolong bantu aku?"
Roseo menatap Mary yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Aku tidak bisa melepaskan gaunku," jawab Mary sambil menunjuk resleting di belakang gaunnya.
Roseo segera menghampiri Mary, Mary langsung berputar sambil menyibak rambutnya ke arah depan.
"Ck, kau ini, bisa pakai tapi tak bisa melepas," Roseo berdecak.
"Roseo, pegawai butik membantuku memakai gaun ini," sahut Mary.
Roseo meneguk air liurnya saat melihat punggung Mary yang begitu menggoda.
Namun, akal sehat memberinya peringatan keras agar jangan sampai tergoda.
"Ros, apa yang kau tunggu?" tanya Mary.
"Sebentar, resletingnya terlalu kecil," jawab Roseo beralasan.
Roseo menurunkan resleting gaun Mary perlahan-lahan hingga sebatas pinggang Mary.
"Sudah," kata Roseo.
Mary memegangi depan gaunnya agar tidak langsung terjatuh saat ia berputar menghadap Roseo.
"Roseo, kau sungguh tidak mau kita mandi bersama?" Tanya Mary.
"Mumpung kita sedang berada di kamar hotel dengan fasilitas yang tidak bisa kau temukan di kamar mandi yang ada di rumahmu," kata Mary.
"Kau duluan saja, aku mau nonton televisi. Bagaimana cara menyalakannya?" Tanya Roseo.
Mary mendelik gusar, ia segera masuk kembali ke dalam kamar mandi.
"Mawary, bagaimana menyalakan televisi?" Tanya Roseo di depan pintu yang tertutup.
***
Mary sudah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi hanya memakai jubah mandi.
Matanya segera tertuju pada Roseo yang memandangi layar televisi yang tidak menyala. Pria itu menatap layar besar itu seakan sedang mengagumi sebuah lukisan abstak.
"Apa yang kau lakukan Roseo?" Tanya Mary.
"Aku masih belum tahu bagaimana cara menyalakan televisi besar ini," jawab Roseo.
Mary mendelik gusar, ia mengabaikan ucapan Roseo dan langsung naik ke tempat tidur.
"Mawary, apa kau juga tidak tahu caranya menyalakan televisi itu?" Tanya Roseo.
Mary lagi-lagi hanya bisa mendelik gusar.
"Roseo, apa kau sungguh hanya ingin nonton televisi saja?" Tanya Mary.
"Ya," jawab Roseo.
"Apa kau sungguh tidak ingin melakukan hal lain selain nonton televisi?" Tanya Mary.
"Aku mau nonton televisi sambil rebahan," jawab Roseo.
Mary memutar bola matanya, rasanya ia benar-benar kesal pada pria kampungan itu.
"Roseo, apa kau tidak mau bercinta denganku?" Tanya Mary.
Roseo terperangah mendengar pertanyaan Mary.
"Apa kau sungguh lebih memilih untuk nonton televisi sambil rebahan daripada bercinta denganku?"
"Kalau memang maumu seperti itu, baiklah!"
Mary mengambil remot televisi yang ada di samping nakas, mengarahkan ke arah televisi, sedetik kemudian layar besar itupun menyala.
"Silahkan kau tonton televisi itu, aku mau tidur! Dan jangan ganggu aku!"
Mary segera menarik selimut, menyembunyikan dirinya.
"Mawary, apakah kau mau aku bercinta denganmu agar kau bisa tidur sendiri di kamar terpisah?"
Mary terperangah mendengar pertanyaan Roseo, ia segera mengeluarkan kepalanya dari selimut.
"Jika kau memang hanya mau bercinta denganku agar aku menuruti keinginanmu itu, lebih baik, kita tidak perlu melakukannya".
Roseo segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang empuk dengan mata tertuju pada layar televisi.
Mary mendelik gusar.
"Roseo, apa kau sungguh berpikir, bahwa aku akan membukakan pintu untuk pria lain?" Tanya Mary.
"Ya, aku memang berpikir seperti itu," jawab Roseo.
"Roseo, aku hanya akan mengandung benihmu, bukan benih pria lain, sesuai dengan kesepakatan yang telah kita sepakati bersama!" Tukas Mary.
"Dan selama itupula, aku hanya akan bercocok tanam bersamamu, bukan dengan pria lain. Apa sampai sini kau masih belum bisa memahami hal itu?" Tanya Mary.
Roseo menatap Mary yang terlihat mengulas senyum namun dalam hati Mary jelas mengumpat kesal.
"Baiklah, kalau kau memang tidak mau. Kalau begitu, selamat tidur, Roseo," pamit Mary.
Mary segera menarik kembali selimutnya, dengan perasaan kesal namun tiba-tiba Roseo menahan selimut Mary.
"Ayo kita lakukan!"