Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
**
Lampu National Stadium Singapura mendadak padam, menyisakan kegelapan yang membuat detak jantung ribuan orang berpacu serentak. Detik berikutnya, dentuman bass yang berat menggetarkan lantai stadion, diikuti oleh sorotan lampu laser yang menyambar-nyambar ke arah panggung. Puluhan dancer profesional muncul dengan gerakan yang sangat sinkron, membuka pertunjukan dengan energi yang luar biasa. Sorak-sorai fans pecah, memanggil nama satu pria yang menjadi pusat semesta malam itu.
Tiba-tiba, dari bagian atas panggung, sebuah platform hidrolik perlahan turun membawa sosok yang sudah dinanti. Elvano Alvendra berdiri di sana, mengenakan jaket perak metalik yang memantulkan cahaya lampu panggung. Dengan mikrofon di tangan dan tatapan yang tajam namun tenang, ia memulai lagu pembuka yang upbeat. Suaranya yang dalam dan hangat seketika mendominasi seluruh ruangan, membuat suasana stadion seolah meledak oleh antusiasme VALS.
Di barisan kursi VVIP, Selena Nayumi terpaku. Masker medis yang menutupi separuh wajahnya tidak bisa menyembunyikan binar kagum di matanya. Ia memegang lightstick dengan tangan yang sedikit gemetar, menatap pria di atas panggung itu dengan perasaan tidak percaya.
“Benarkah dia pria yang sering meminta dibawakan kue kering? Kenapa dia terlihat seperti dewa di atas sana?” gumam Selena pelan di balik maskernya.
Selama ini, Selena hanya mengenal Elvano sebagai calon suaminya dalam perjodohan yang kaku. Ia tahu Elvano adalah orang besar, tapi melihatnya secara langsung menguasai panggung global seperti ini memberikan efek kejut yang berbeda. Elvano tampak begitu mahal, berkelas, dan sangat berkuasa di bawah lampu sorot.
Di pertengahan konser, musik melambat menjadi instrumen piano yang lembut. Elvano menyeka keringat di pelipisnya dengan gerakan elegan yang membuat fans kembali histeris. Ia mulai berjalan ke pinggir panggung, mendekati barisan penonton untuk berinteraksi.
“Terima kasih sudah hadir malam ini. Melihat kalian semua di sini, rasanya lelahku selama latihan berbulan-bulan terbayar tuntas. VALS adalah energi terbesarku,” ucap Elvano melalui mikrofon dengan suara yang terdengar sangat personal, seolah ia sedang berbicara empat mata dengan masing-masing penonton.
Elvano menceritakan sedikit tentang perasaannya, tentang bagaimana ia merasa kesepian di puncak karirnya sebelum akhirnya menemukan alasan untuk terus bernyanyi. Sambil berbicara, langkah kakinya membawanya menuju sisi kanan panggung, tepat di atas area kursi VVIP nomor urut satu.
Secara tidak sengaja, mata Elvano menyapu barisan depan. Di sana, ia menangkap sosok wanita yang duduk tenang dengan masker putih. Meskipun wajahnya tertutup, Elvano mengenali mata itu. Mata yang selalu menatapnya dengan penuh empati setiap kali ia pulang dalam keadaan lelah. Apalagi, kursi itu adalah posisi strategis yang ia pilihkan sendiri secara khusus.
Elvano sempat tertegun sejenak. Langkah kakinya terhenti tepat di atas posisi Selena. Untuk beberapa detik, dunia di sekelilingnya seolah sunyi. Ia tidak menyangka wanita itu benar-benar akan datang menyeberangi lautan demi kejutan ini.
“Ada seseorang di sini yang membuatku merasa... rumah tidak lagi terasa jauh,” ucap Elvano tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah Selena tanpa ada seorang pun yang menyadari maksud sebenarnya.
Selena menahan napas, merasa jantungnya hampir meledak karena tatapan itu. Namun, sebagai aktor papan atas, Elvano segera menguasai dirinya. Ia memberikan senyum tipis yang sangat mematikan di layar besar, lalu kembali melanjutkan interaksinya dengan fans sebelum memulai lagu ballad andalannya.
Konser terus berlanjut dengan sangat memuaskan. Elvano memberikan segalanya—suara, emosi, hingga aksi panggung yang masterpiece. Hingga akhirnya, lagu penutup selesai dibawakan dan kembang api menyala megah di atas stadion, menandakan konser telah berakhir.
**
Riuh rendah suara puluhan ribu penonton masih menggema di dinding-dinding National Stadium, menciptakan getaran halus yang terasa hingga ke lantai beton lorong VVIP. Selena menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang belum juga melambat sejak lagu terakhir Elvano selesai dibawakan. Ia segera berdiri, meremas kalung akses khusus berwarna emas di lehernya dengan jemari yang sedikit dingin.
Baru saja Selena hendak melangkah keluar dari barisan kursi terdepan, seorang pria berseragam resmi Zenithra Entertainment dengan alat komunikasi di telinganya tiba-tiba muncul dan menghalangi jalannya. Wajah staf itu tampak sangat pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Maaf, Nona. Apakah Anda dr. Selena Nayumi?” tanya staf pria itu dengan suara yang sedikit bergetar.
Selena mengernyitkan dahi. Ia merasa heran sekaligus waspada. Bagaimana mungkin staf di Singapura bisa mengetahui identitasnya, padahal ia sudah menutupi wajahnya dengan masker sejak awal?
“Iya, benar. Ada apa ya?” tanya Selena dengan nada bingung sekaligus menyelidik.
Pria itu membungkuk sedikit, menunjukkan rasa hormat yang sangat dalam. “Saya asisten lapangan yang ditugaskan oleh Tuan Darian untuk menjemput Anda. Beliau meminta saya membawa Anda melalui jalur belakang agar tidak berpapasan dengan kerumunan fans yang mulai keluar. Mari, Nona, lewat sini,” ajak staf itu sambil memberi isyarat ke arah pintu darurat yang terjaga ketat.
Selena sempat ragu sejenak, namun mengingat Darian adalah satu-satunya orang yang tahu keberadaannya di sini, ia pun mengiyakan. Ia mengikuti langkah cepat staf tersebut menyusuri lorong-lorong beton yang dingin, melewati tumpukan kotak peralatan panggung dan kabel-kabel besar yang melintang.
Langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor menuju area backstage. Saat tiba di sebuah lorong panjang yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang tunggu utama, Selena mendadak menghentikan langkahnya. Di ujung lorong, ia melihat sekelompok orang berjalan terburu-buru.
Di tengah kerumunan itu, sosok pria jangkung dengan jaket kulit perak yang kini tampak kusam oleh keringat sedang berjalan dengan napas yang masih terengah-engah. Elvano Alvendra. Ia tampak sangat lelah, namun aura karismatiknya masih terpancar kuat meski rambutnya sudah berantakan. Di sampingnya, Darian berjalan sambil memegang tablet dan handuk, diikuti oleh beberapa bodyguard.
Darian yang pertama kali menyadari keberadaan Selena langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah tim yang mengikuti Elvano dan memberikan kode tegas dengan tangannya.
“Semuanya, langsung ke ruang ganti dan siapkan kepulangan. Berikan waktu lima menit untuk Tuan Elvano di sini. Kosongkan lorong ini!” perintah Darian dengan suara yang tenang namun absolut.
Tim yang sudah terlatih itu tidak banyak bertanya. Mereka menunduk patuh dan segera memutar arah atau masuk ke ruangan lain, menyisakan Elvano yang kini berdiri mematung di tengah lorong sunyi tersebut. Darian memberikan kerlingan mata penuh arti kepada Selena sebelum ia sendiri ikut menjauh, memberikan ruang privasi bagi pasangan rahasia itu.
Selena perlahan melepas maskernya, menampakkan senyum lebarnya yang hangat—senyum dr. Sunshine yang selalu dirindukan Elvano. Di bawah lampu neon lorong yang temaram, wajah Selena tampak begitu bersinar di mata Elvano.
Elvano menatap Selena dengan tatapan yang sulit diartikan. Napasnya masih naik-turun dengan cepat, dadanya bergerak naik seiring dengan detak jantung yang masih terpompa sisa adrenalin panggung. Ia seolah sedang melihat sebuah fatamorgana di tengah rasa lelahnya yang luar biasa.
Selena melangkah pelan mendekati Elvano, begitu pun dengan Elvano yang mulai menggerakkan kakinya yang terasa berat untuk mendekat ke arah calon istrinya. Jarak di antara mereka semakin terkikis hingga aroma parfum maskulin Elvano yang bercampur keringat mulai tercium oleh Selena.
“Butuh pelukan?” tanya Selena dengan suara lembut, matanya menatap dalam ke netra gelap Elvano yang tampak sayu karena kelelahan.
Elvano terdiam sejenak, menatap wajah Selena seolah sedang memastikan bahwa ini nyata. “Apakah boleh? Aku sangat kotor dan berkeringat sekarang,” tanya Elvano dengan suara bariton yang serak.
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Selena langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Elvano tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung merengkuh tubuh mungil Selena ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
Elvano mengembuskan napas panjang, membiarkan seluruh beban di pundaknya seolah luruh saat itu juga. Pelukan Selena terasa begitu nyaman, hangat, dan beraroma seperti rumah yang selalu ia dambakan di tengah kesendiriannya di puncak karir.
“Kamu luar biasa malam ini, El. Konsernya sangat sukses. Semua orang meneriakkan namamu dengan penuh cinta,” bisik Selena sambil mengusap punggung Elvano dengan gerakan menenangkan, memberikan dukungan moral yang selama ini tidak pernah didapatkan Elvano dari siapa pun.
Elvano mempererat pelukannya, menghirup aroma rambut Selena yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
“Terima kasih, Selena. Terima kasih sudah mau datang jauh-jauh ke sini. Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan ada di antara penonton tadi,” ucap Elvano tulus, suaranya terdengar sangat personal, berbeda jauh dengan cara bicaranya di depan publik.
Selena melepaskan pelukannya sedikit agar bisa menatap wajah Elvano, namun tangannya masih melingkar di pinggang pria itu.
“Ini kejutan untukmu. Darian sangat membantu merahasiakan ini semua,” kata Selena sambil terkekeh kecil.
Elvano menyunggingkan senyum tipis—senyum asli yang hanya ia miliki untuk Selena. “Aku sangat bahagia dengan kejutan ini. Ini adalah hadiah terbaik untuk akhir turku,” jawab Elvano sambil mengusap pipi Selena dengan ibu jarinya.
***