5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kehampaan
Saat tubuh Azzura ditelan oleh retakan hitam, seolah-olah detak jantung Jembatan Cahaya berhenti seketika. Keheningan yang mengerikan menyusul, sebelum akhirnya meledak dalam raungan ribuan bayangan yang merangkak keluar dari sisa-sisa energi Vanguard.
Di Atas Jembatan
"Jangan melamun!" Vera berteriak, suaranya parau. Ia menghantamkan perisainya yang retak ke tanah. Klang! Gelombang kejut perak memukul mundur belasan bayangan, namun tangannya bergetar hebat. "Dia mempercayakan sisi ini pada kita!"
Rachel tidak menjawab dengan kata-kata. Jarinya bergerak secepat kilat, menarik tali busur hingga glisando cahaya pelangi memenuhi udara. Setiap anak panah yang ia lepaskan meledak menjadi jaring energi, menjerat bayangan-bayangan itu sebelum mereka sempat menyentuh kaki Olivia.
"Aku tidak bisa menahannya lebih lama!" Olivia bersimpuh, tangannya tertanam di lantai kristal yang mulai menghitam. Pembuluh darah di keningnya menonjol.
"Kegelapan ini... dia memakan akar kehidupan. Dia bukan cuma merusak, dia menghapus keberadaan kita!"
Luna berdiri di tengah mereka, matanya berubah menjadi putih perak tanpa pupil. Suhu di sekitar mereka turun drastis hingga napas mereka menjadi kristal es.
"Satu menit," bisik Luna, suaranya bergema seperti ribuan lonceng kematian. "Azzura hanya punya satu menit sebelum gerbang ini menutup secara permanen—dan mengurungnya di sana selamanya."
Di bawah Realitas
Dua mata raksasa berwarna merah darah terbuka di tengah gumpalan itu. Tatapannya tidak mengandung kebencian, hanya kekosongan yang tak berdasar.
Gumpalan wajah-wajah itu menyusut, memadat, hingga membentuk siluet manusia yang dibalut jubah hitam pekat.
"Selamat datang, Pewaris Aether," suara entitas itu kini tenang, namun setiap kata terasa seperti guncangan gempa di kepala Azzura.
Azzura mencoba mengangkat tongkatnya, meski lengannya terasa seberat timah. "Siapa kau? Kenapa kau menyerang Euthopia?"
Sosok itu melangkah maju. Air hitam di bawah kakinya tidak beriak. Ia perlahan membuka penutup kepalanya,mengungkapkan wajah yang membuat jantung Azzura seakan berhenti berdetak.
Wajah itu adalah wajah Azzura sendiri. Namun lebih tua, dengan mata yang tidak lagi biru safir, melainkan abu-abu mati.
"Aku bukan menyerang," kata sosok itu datar. "Aku sedang mencoba menyelamatkan kalian dari siklus yang salah. Euthopia bukan surga, Azzura. Itu adalah penjara cahaya yang dibangun di atas kebohongan."
Azzura menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Ayahku... para tetua... mereka membangunnya untuk melindungi kita dari kehampaan seperti ini!"
"Kehampaan ini ada karena Euthopia mencuri energi semesta!" sosok itu membentak, suaranya menggelegar. "Setiap kali kalian menggunakan Mageia, kalian menciptakan lubang di dimensi ini. Aku adalah hasil dari semua lubang itu. Aku adalah sisa-sisa dari dirimu yang harus dibuang agar kau bisa tetap menjadi 'pahlawan' di atas sana."
Azzura terhuyung mundur. "Kebohongan..."
"Lihatlah ke bawah," perintah sosok itu.
Azzura menunduk. Di balik air hitam yang jernih secara ajaib, ia melihat teman-temannya di atas Jembatan. Ia melihat Vera yang patah hati, Luna yang putus asa, Rachel dan Olivia yang menangis.
"Jika kau menutup gerbang ini sepenuhnya dariku, kau akan menjadi pahlawan bagi mereka," bisik Sang Penenun di telinga Azzura. "Tapi kau akan menghukum seluruh semesta untuk hancur perlahan. Pilihannya: biarkan aku masuk untuk meruntuhkan Euthopia, atau tetaplah di sini bersamaku... selamanya."
Di atas, pertahanan mulai runtuh. Perisai Vera pecah menjadi serpihan kecil saat sebuah tangan bayangan raksasa menghantamnya. Rachel kehabisan anak panah, ia kini bertarung jarak dekat dengan belati cahaya yang mulai meredup.
"LUNA! WAKTUNYA HABIS!" teriak Vera sambil terbatuk darah.
Luna menatap retakan itu. Cairan hitam mulai meluap keluar, menelan es yang ia buat. "Tinggal sepuluh detik... Azzura, kumohon..."
BOOM!
Ledakan putih murni terjadi di kedua sisi sekaligus.
Di Jembatan Cahaya, empat putri itu terlempar ke belakang saat cahaya menyilaukan menyembur keluar dari tanah. Retakan itu menutup dengan suara dentuman yang menggetarkan seluruh Euthopia. Kegelapan lenyap. Bayangan-bayangan itu menguap menjadi debu.
Sunyi.
Hanya suara napas terengah-engah dari Vera, Rachel, Olivia, dan Luna. Mereka merangkak bangun, menatap lantai kristal yang kini kembali bersih dan utuh. Tidak ada retakan. Tidak ada kegelapan.
Dan tidak ada Azzura.
"Azzura?" Olivia memanggil, suaranya bergetar.
Hening.
Vera memukul lantai dengan tinjunya. "Sialan! Dia benar-benar melakukannya! Dia mengunci dirinya di sana!"
Rachel menunduk, air mata jatuh ke pipinya. Luna hanya menatap titik di mana retakan itu tadi berada, wajahnya pucat pasi.