Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Hitam di Perbatasan
Serangan pertama datang saat bulan merah tertutup bayangan hitam. Di Alam Bawah, gerhana bukan pertanda alam. Ia biasanya terjadi ketika ada kekuatan luar mencoba menekan langit neraka. Malam itu, bayangan hitam merayap di permukaan bulan seperti tinta, dan seluruh prajurit di Gerbang Tulang Barat tahu bahwa pengintai langit telah berubah menjadi penyerang.
Qi An berdiri di atas tembok dengan senyum dingin. Di bawahnya, kolam racun tua sudah dibuka. Permukaannya tampak seperti tanah kering, tetapi di bawah kerak tipis itu tersimpan cairan hitam yang bisa melumpuhkan roh. Hantu Hitam bersembunyi di antara bayangan pilar, sementara Nyonya Merah menyiapkan jaring darah di belakang gerbang.
Yao Tian berdiri di sisi lain tembok. Beberapa prajurit iblis masih menjaga jarak darinya, tetapi tidak lagi terang-terangan meludah seperti sebelumnya. Setelah ia membantu memperbaiki formasi, kebencian mereka belum hilang, namun berubah menjadi kecurigaan yang lebih diam.
Lin Xiurong datang terakhir. Ia mengenakan zirah merah gelap yang menutupi luka di dadanya. Tanda phoenix di dahinya menyala samar. Song Xiaolian berada di sisinya, membawa obat dan kipas tulang.
“Kau seharusnya beristirahat,” kata Yao Tian.
Lin Xiurong menatap garis putih di kejauhan. “Kau seharusnya tidak memberiku nasihat seolah aku istri sakit yang harus dipapah.”
“Aku hanya mengatakan luka itu belum pulih.”
“Aku tahu tubuhku sendiri.”
Qi An menyela dari atas tembok, “Kalau kalian ingin bertengkar seperti pasangan tua, lakukan setelah musuh mati.”
Lin Xiurong menatapnya tajam. Qi An langsung pura-pura sibuk memeriksa pedang.
Dari balik kabut, prajurit langit muncul. Tidak banyak, hanya lima puluh, tetapi semuanya membawa tombak cahaya. Di tengah mereka berdiri seorang wanita berzirah putih, wajahnya dingin dan matanya sekeras es.
Yao Tian mengenali wanita itu. “Mei Lian.”
Lin Xiurong menoleh. “Kenalanmu?”
“Jenderal langit tingkat kedua. Sangat disiplin. Tidak menyerang tanpa perhitungan.”
“Bagus. Aku lebih suka musuh yang bisa berpikir. Mereka mati dengan ekspresi lebih menarik.”
Mei Lian mengangkat tombaknya. Suaranya terdengar jelas meski jaraknya jauh. “Raja Iblis Lin Xiurong. Atas perintah pengawasan langit, kami meminta Yao Tian diserahkan untuk pemeriksaan. Jika kau menolak, gerbang ini akan dibuka paksa.”
Qi An tertawa keras. “Pemeriksaan? Kata yang bagus untuk penculikan.”
Mei Lian tidak menanggapi. Matanya tertuju pada Yao Tian. “Saudara seperguruan, kembalilah. Kaisar belum menjatuhkan hukuman. Jangan membuat keadaan semakin buruk.”
Yao Tian berdiri diam. Panggilan “saudara seperguruan” terasa seperti tali yang ditarik dari masa hidupnya sebagai dewa. Ia mengenal Mei Lian sebagai orang yang lurus, tidak licik, dan sangat percaya pada hukum. Justru karena itu, ia tahu wanita itu tidak akan mudah diyakinkan.
“Aku belum bisa kembali,” katanya.
“Karena dia?” Mei Lian menatap Lin Xiurong.
“Karena kebenaran belum selesai.”
Mei Lian mengerutkan kening. “Kebenaran tidak ditemukan dengan bersembunyi di bawah jubah iblis.”
Lin Xiurong tersenyum. “Aku keberatan. Jubahku mahal.”
Beberapa prajurit iblis menahan tawa. Situasi perang hampir pecah, tetapi raja mereka masih sempat menghina langit dengan santai.
Mei Lian tidak tersenyum. “Aku memberi tiga hitungan.”
“Tidak perlu,” jawab Lin Xiurong. “Aku juga tidak sabaran.”
Ia mengangkat tangan. Gerbang Tulang Barat terbuka sedikit, persis seperti celah lemah yang ingin dilihat langit. Mei Lian tidak bodoh. Ia tahu itu jebakan. Namun tugasnya bukan menaklukkan Alam Bawah. Tugasnya menarik Yao Tian keluar. Jika celah itu memberi kesempatan, ia harus mengambilnya.
Prajurit langit bergerak cepat. Sepuluh orang pertama melesat ke celah gerbang, membentuk perisai cahaya. Begitu kaki mereka menyentuh tanah di balik gerbang, kerak hitam pecah. Kolam racun Qi An menyembur seperti mulut makhluk lapar.
Perisai cahaya menahan sebagian racun, tetapi tidak semua. Dua prajurit jatuh berlutut, wajah mereka berubah pucat. Mei Lian segera membuat segel, menarik mereka mundur. Pada saat yang sama, Hantu Hitam menyerang dari bayangan. Cakarnya menyambar leher seorang prajurit, tetapi tombak Mei Lian menangkis tepat waktu.
Pertempuran pecah.
Langit membawa ketertiban. Alam Bawah membawa keganasan. Tombak cahaya turun seperti hujan putih, sementara api merah dan racun hitam naik dari tanah. Nyonya Merah tertawa ketika jaring darahnya menangkap tiga prajurit sekaligus. Song Xiaolian mengayunkan kipas, memutar kabut agar jalur evakuasi tetap tersembunyi.
Yao Tian tidak menyerang prajurit langit lebih dulu. Ia hanya menangkis serangan yang mengarah ke Lin Xiurong atau iblis lemah di belakang gerbang. Namun setiap tangkisan tetap terlihat seperti pengkhianatan.
Mei Lian akhirnya menyerangnya langsung. Tombaknya menghantam pedang Yao Tian dengan suara nyaring.
“Kau membuat semua orang kecewa,” katanya.
Yao Tian menahan serangan itu. “Mungkin mereka memang terlalu cepat berharap aku tidak pernah salah.”
“Kau berdiri bersama Raja Iblis.”
“Aku berdiri di antara dua kesalahan.”
“Dan memilih yang lebih gelap?”
Yao Tian melirik Lin Xiurong yang sedang membakar tiga tombak cahaya dengan satu gerakan tangan. “Gelap tidak selalu berarti dusta.”
Mei Lian menekan tombaknya lebih kuat. “Kalimat seperti itu adalah awal jatuhnya seorang dewa.”
“Kalau jatuh membuatku melihat tanah yang selama ini kuinjak, mungkin aku memang perlu jatuh.”
Di sisi lain gerbang, Lin Xiurong mulai kehilangan tenaga. Lukanya terbuka sedikit. Darah menodai zirahnya, tetapi ia tetap berdiri. Setiap kali api Phoenix keluar terlalu besar, tanda kutukan di tangan Yao Tian menyala dan membuat pria itu ikut merasakan sakit. Ia hampir goyah saat menangkis serangan Mei Lian.
Mei Lian melihat celah itu. “Ikatan kutukan.”
Yao Tian terkejut. “Kau tahu?”
“Aku membaca arsip perang lama. Jika kau terikat dengannya, maka membunuhmu bisa melemahkannya.”
Mei Lian mengubah arah tombak. Bukan ke Lin Xiurong, melainkan ke dada Yao Tian. Serangan itu cepat dan tepat. Yao Tian menangkis terlambat. Ujung tombak menembus bahunya.
Lin Xiurong merasakan sakitnya. Api di tangannya padam sesaat.
Qi An berteriak, “Yao Tian!” lalu terlihat kesal sendiri karena memanggil dengan nada cemas.
Mei Lian menarik tombaknya untuk serangan kedua. Kali ini Lin Xiurong bergerak. Dalam satu kedipan, ia muncul di depan Yao Tian dan menahan tombak itu dengan tangan kosong. Cahaya langit membakar telapak tangannya, tetapi ia tidak melepas.
“Dia milikku untuk kubunuh,” kata Lin Xiurong dingin. “Kau tidak mendapat giliran.”
Yao Tian menatap punggungnya, tidak tahu apakah harus merasa tersentuh atau takut.
Mei Lian menatap Lin Xiurong. Untuk pertama kalinya, keyakinannya goyah. Raja Iblis itu bisa saja membiarkan Yao Tian mati untuk melemahkan langit. Namun ia justru melindunginya meski terluka.
“Kenapa?” tanya Mei Lian.
Lin Xiurong mendorong tombak itu hingga retak. “Karena aku lelah orang lain memilih akhir ceritaku.”
Ia melepaskan api Phoenix, bukan untuk membunuh, tetapi untuk memisahkan medan. Api itu membentuk tembok merah antara pasukan langit dan gerbang. Mei Lian mundur, membawa prajuritnya yang terluka.
Sebelum pergi, ia menatap Yao Tian. “Aku akan melaporkan semua yang kulihat. Berharaplah Kaisar masih mau mendengar.”
Yao Tian menjawab, “Aku juga berharap begitu.”
Ketika pasukan langit mundur, bulan hitam perlahan bergerak dari wajah bulan merah. Gerhana berakhir, tetapi Gerbang Tulang Barat penuh retakan.
Lin Xiurong menatap Yao Tian yang terluka. “Kau merepotkan.”
Yao Tian menahan nyeri. “Aku tahu.”
“Jangan membuatku melindungimu terlalu sering.”
“Aku akan mencoba.”
Qi An mendekat sambil membawa obat dengan wajah masam. “Aku tidak cemas. Aku hanya tidak mau Yang Mulia sakit karena kau mati bodoh.”
Yao Tian hampir tersenyum. “Tentu.”
Di kejauhan, Mei Lian menghilang bersama cahaya langit. Namun di antara sisa kabut perbatasan, seekor gagak hitam bermata merah terbang rendah. Ia menyaksikan semuanya, lalu terbang menuju arah Sumur Janji.
Mei Lian kembali ke perkemahan langit dengan luka bakar tipis di lengannya dan laporan yang jauh lebih berat daripada lukanya. Ia duduk sendiri di dalam tenda cahaya, menatap segel komunikasi di depannya. Menurut aturan, ia harus melaporkan bahwa Yao Tian melindungi Lin Xiurong, Gerbang Tulang Barat menolak pemeriksaan, dan pasukan langit gagal membawa pulang target.
Namun yang ia lihat di medan perang tidak sesederhana itu.
Yao Tian tidak menyerang langit dengan niat membunuh. Lin Xiurong tidak membantai prajurit yang jatuh. Tawanan mereka bahkan disembuhkan cukup agar tidak mati. Alam Bawah, yang selama ini digambarkan sebagai sarang kebiadaban, bertarung dengan aturan yang aneh tetapi nyata. Sementara segel pada prajuritnya berasal dari sumber yang tidak ia kenali sebagai titah Kaisar.
Mei Lian menyentuh luka di lengannya. Api Phoenix menyisakan rasa panas yang berbeda dari api iblis biasa. Di dalamnya ada amarah, tetapi juga kendali. Jika Lin Xiurong benar-benar ingin membunuhnya, ia mungkin tidak akan kembali.
Segel komunikasi menyala. Wajah Dewa Kekejian muncul lebih dulu, bukan Kaisar Dewa.
“Laporkan,” katanya.
Mei Lian menunduk. “Operasi gagal menarik Yao Tian. Namun ada kejanggalan. Segel larangan pada prajurit tidak berasal dari jalur titah Kaisar. Saya meminta pemeriksaan ulang.”
Wajah Dewa Kekejian mengeras. “Kau gagal, lalu mencari alasan?”
“Tidak. Saya melaporkan fakta.”
“Faktanya, Yao Tian berkhianat dan Lin Xiurong menahan dia.”
“Faktanya, Lin Xiurong bisa membunuh kami dan tidak melakukannya.”
Hening.
Dewa Kekejian berkata pelan, “Jenderal Mei Lian, belas kasihan pada iblis adalah awal pembusukan hukum.”
Mei Lian menatapnya. “Maka menyembunyikan perintah dari Kaisar adalah apa?”
Segel komunikasi padam sebelum ia mendapat jawaban.
Mei Lian duduk diam. Ia tahu pertanyaannya berbahaya. Tetapi setelah melihat medan perang dengan matanya sendiri, ia tidak bisa kembali menjadi prajurit yang hanya menerima perintah. Di luar tenda, para prajurit langit merawat luka. Beberapa membicarakan Yao Tian dengan kebencian, tetapi satu orang berbisik bahwa iblis yang menawannya justru memberinya air.
Retakan kecil mulai muncul di pihak langit. Dan dalam perang tiga alam, retakan kecil bisa menjadi jurang.