Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara pemburu dan diburu
Setelah Xiao Ba berjalan keluar dari balik tirai air terjun dengan jubah yang masih menetes air.
Angin laut yang berhembus dari celah antara tebing enam dan tujuh langsung menghantam tubuhnya, dingin dan tajam, namun tidak cukup untuk mengusik ketenangan yang sudah mengakar dalam dirinya. Ia menggeleng sekali, membiarkan butiran air beterbangan dari rambutnya, lalu mulai bergerak.
Bukan ke arah yang jauh dari ancaman.
Melainkan ke arah yang memungkinkan ia mengamati ancaman itu dari jarak yang aman.
Penguasaan medan adalah senjata yang nilainya tidak kalah dari kekuatan tempur. Dan di kawasan Tebing Tujuh Roh ini, tidak ada seorang pun yang penguasaan medannya melampaui pemuda berambut hitam yang sudah menghabiskan lebih dari sepuluh hari menjelajahi setiap sudut kawasan ini.
Ia bergerak melalui lorong-lorong sempit yang hanya ia tahu keberadaannya, naik melalui celah-celah batu karang yang cukup untuk satu tubuh ramping, melewati satu formasi mineral yang ia tahu akan meredam jejaknya secara alami, hingga akhirnya ia tiba di posisi yang ia cari.
Sebuah tonjolan batu karang yang mencuat dari sisi tebing enam pada ketinggian yang cukup untuk memberikan pandangan ke hampir seluruh kawasan antara tebing lima dan tebing tujuh, namun tersembunyi dari bawah oleh overhang batu yang mencuat di atasnya.
Posisi yang sempurna untuk mengamati tanpa diamati.
Ia berbaring di atas batu karang itu, melepaskan indra spiritualnya secara hati-hati, sangat hati-hati, membatasi jangkauannya agar tidak terlalu jauh karena ia tahu bahwa pelepasan indra spiritual yang terlalu kuat bisa terdeteksi balik oleh seseorang di level Prajurit Surgawi Tingkat 9.
Dari posisi itu, ia menemukan Penatua Utama Keluarga Yun.
Pria tua itu sedang berdiri di tepi area terbuka antara tebing lima dan tebing enam. Matanya menyapu kawasan sekitarnya dengan ekspresi yang sudah berubah dari tadi. Tidak lagi terlihat seperti seseorang yang melakukan pengejaran rutin, melainkan lebih terlihat seperti seseorang yang sudah menyadari bahwa apa yang ia kejar bukanlah apa yang ia kira sebelumnya.
Dua orang pengikutnya berdiri sedikit di belakang, menunggu instruksi.
Xiao Ba mengamati pergerakan Penatua Utama itu selama beberapa waktu, membaca pola pencariannya, mencatat ke area mana ia tidak pergi dan ke area mana ia lebih sering mengarahkan perhatiannya.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Penatua Utama itu sama sekali tidak bergerak ke arah gua di balik air terjun.
Bukan karena ia tidak menemukan lokasi itu. Dari posisi pengamatannya, Xiao Ba bisa melihat bahwa sesekali pandangan Penatua Utama itu terarah ke arah umum di mana gua itu berada. Namun setiap kali pandangannya mengarah ke sana, ia berhenti lalu mengalihkan arahnya.
Seperti ada sesuatu yang mencegahnya mendekati tempat itu.
Xiao Ba mengerutkan kening.
Lalu, perlahan, ia menyadari apa yang sedang terjadi.
Gua di balik air terjun itu bukan sekadar tempat dengan konsentrasi energi yang tinggi. Ada sesuatu di sana yang bahkan bagi seseorang di level Prajurit Surgawi Tingkat 9 memberikan sinyal untuk tidak sembarangan mendekat. Sesuatu yang auranya melampaui pemahaman level itu.
Mungkin itulah alasan mengapa tempat itu tidak pernah ditemukan dan dimasuki oleh siapa pun selama beratus-ratus tahun.
Bukan karena tidak ada yang tahu keberadaannya.
Melainkan karena semua orang yang cukup kuat untuk mendeteksinya secara tidak sadar memilih untuk tidak mendekatinya.
Xiao Ba menyimpan pemahaman itu di dalam benaknya.
Ia kembali mengamati Penatua Utama Keluarga Yun yang kini mulai bergerak ke arah kawasan antara tebing tiga dan tebing empat, memperluas jangkauan pencariannya.
Tiba-tiba, indra spiritualnya menangkap sesuatu yang lain.
Dua aura yang bergerak dari arah gerbang masuk kawasan tebing, bergerak dengan cepat dan cukup terarah untuk menunjukkan bahwa mereka tahu ke mana mereka akan pergi.
Ia mempertajam indra spiritualnya dengan hati-hati.
Xiao Tian dan Xiao Xiyun, masih bergerak bersama, kini sudah berada di kawasan antara tebing dua dan tebing tiga.
Dan di depan mereka, bergerak dengan arah yang berbeda namun menuju area yang sama, sebuah aura lain yang lebih familiar.
Fu Jingmi dari Keluarga Fu.
Xiao Ba memperhatikan ketiga aura itu untuk beberapa saat.
Fu Jingmi bergerak sendirian, terpisah dari adik laki-lakinya, Fu Haocun, yang tampaknya berada di kawasan tebing yang berbeda. Ia bergerak dengan waspada, menghindari pertemuan dengan kultivator lain sambil mencari Kristal Roh Laut di celah-celah yang cukup tersembunyi.
Xiao Tian dan Xiao Xiyun bergerak ke arah yang akan memotong jalur Fu Jingmi dalam beberapa menit ke depan.
Dan dari cara mereka bergerak, dari formasi mereka yang sudah menyesuaikan posisi untuk mengepung, terlihat jelas bahwa pertemuan itu bukan kebetulan.
Xiao Ba mendesah pelan.
Ia turun dari tonjolan batu pengamatannya, mulai bergerak ke arah yang akan membawanya ke sana sebelum pertemuan itu terjadi.
Bukan karena ia merasa berkewajiban untuk menyelamatkan siapa pun.
Melainkan karena dalam perhitungan dinginnya, membiarkan Xiao Tian dan Xiao Xiyun bebas bergerak menggunakan kekerasan untuk merampas hasil buruan kultivator lain di dalam kawasan ini hanya akan membuat situasi semakin rumit nantinya.
Dan ada batas antara membiarkan sesuatu terjadi dengan sadar memilih untuk tidak mencegahnya.
Ia tiba di lokasi tepat saat Xiao Tian dan Xiao Xiyun menghadang Fu Jingmi di sebuah platform batu sempit di antara dua formasi tebing yang tinggi.
Fu Jingmi berdiri dengan sikap waspada. Tangannya sudah bergerak ke gagang pedangnya, matanya membaca situasi dengan cepat.
"Tuan Muda Xiao Tian," ucapnya dengan nada yang terkendali. "Ada yang bisa saya bantu?"
Xiao Tian berdiri dengan tangan terlipat di dada, ekspresinya mengandung kepuasan dari seseorang yang merasa situasi sudah berada sepenuhnya di bawah kendalinya.
"Kristal yang kamu kumpulkan hari ini," katanya langsung. "Serahkan semuanya."
Fu Jingmi tidak menjawab seketika.
Ia menatap Xiao Tian, lalu Xiao Xiyun yang sudah bergerak ke posisi yang memotong jalur mundurnya, lalu kembali ke Xiao Tian.
"Ini bukan cara yang terhormat, Tuan Muda Xiao Tian."
"Terhormat?" Xiao Tian mendengus. "Di dalam kawasan tebing ini, yang berlaku adalah kekuatan. Dan kekuatanmu tidak cukup untuk membantah permintaanku."
Fu Jingmi mengepalkan tangan pedangnya lebih erat.
"Seberapa yakin kamu dengan itu?"
Suara yang datang bukan dari Fu Jingmi.
Melainkan dari arah yang sama sekali tidak mereka antisipasi, dari atas, dari tonjolan batu karang di sisi kanan platform itu, di mana sesosok pemuda berambut hitam yang jubah putihnya masih sedikit lembap sedang duduk santai dengan satu kaki tergantung ke bawah.
Xiao Tian membekukan dirinya selama satu detik penuh sebelum ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang mencampur antara terkejut dan amarah.
"Xiao Ba."
"Xiao Tian." Xiao Ba mengangguk singkat. Nada suaranya tidak mengandung permusuhan, namun juga tidak mengandung kehangatan. "Aku pikir kita sudah cukup lama berada di dalam kawasan ini untuk masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Ternyata kamu lebih tertarik mengurusi urusan orang lain."
Xiao Tian merapatkan rahangnya. "Kamu tidak ada hubungannya dengan ini."
"Mungkin tidak." Xiao Ba turun dari tonjolan batu itu dengan gerakan ringan yang membuat kakinya mendarat di permukaan platform tanpa suara sama sekali. "Tapi aku kebetulan lewat dan kebetulan melihat. Agak sulit untuk pura-pura tidak melihat."
Ia berdiri antara Fu Jingmi dan dua orang dari garis keturunan pengkhianat di keluarganya sendiri.
Xiao Xiyun bergerak sedikit, mempertimbangkan ulang posisinya yang tadinya sudah diperhitungkan untuk mengepung satu orang, namun kini ada tambahan yang tidak ia perhitungkan.
"Xiao Ba," kata Xiao Xiyun dengan suara yang berusaha terdengar ringan, "ini bukan urusanmu. Kamu tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan di sini."
"Benar," jawab Xiao Ba. "Aku tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. Yang berarti aku juga tidak punya alasan untuk tidak ikut campur kalau aku mau."
Logika yang sederhana namun tidak bisa dibantah.
pertahankan👌