NovelToon NovelToon
Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyesalan Suami
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Unamed

Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.

Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.

Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"

Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!

!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Sayang, Kamu Suka Dadaku?

Mendengar dialog yang sangat familier ini, Valeria Francesca seketika teringat akan salah satu plot penting di dalam novel aslinya.

Dalam cerita orisinal, setelah pemilik tubuh asli menerima panggilan telepon dari Valdo, dia akan langsung menemui Alessandro Dirgantara untuk meminta jalur belakang agar adiknya bisa masuk perusahaan tanpa seleksi. Meskipun saat itu status mereka berpacaran, Alessandro adalah tipe pria yang selalu memisahkan urusan pekerjaan dan pribadi dengan sangat tegas. Terlebih lagi, kualifikasi akademis Valdo bahkan tidak memenuhi batas ambang minimum untuk masuk ke Dirgantara Group, boro-boro untuk bisa langsung diterima bekerja.

Namun, pemilik tubuh asli tidak peduli. Bagaimanapun juga, Valdo adalah adik kandungnya, dan dia sudah telanjur sesumbar di depan keluarganya. Jika perkara sekecil ini saja tidak sanggup dia selesaikan, mau ditaruh di mana mukanya?

Oleh karena itu, pemilik tubuh asli terus merongrong Alessandro tanpa henti, mengungkit kembali utang budi penyelamatan nyawa, hingga menggunakan taktik klasik menangis, mengamuk, dan mengancam bunuh diri. Pada akhirnya, Alessandro terpaksa berkompromi dan mengatur agar Valdo bisa masuk ke Dirgantara Group.

Sialnya, setelah bergabung dengan perusahaan, Valdo tidak hanya sering datang terlambat dan pulang lebih awal setiap hari, tetapi juga bertindak semena-mena di kantor hanya karena mengandalkan status kakaknya sebagai kekasih sang CEO. Dia bahkan hampir menyebabkan kerugian finansial yang besar bagi perusahaan akibat kecerobohan kerjanya. Gara-gara insiden itu, sebuah celah keretakan mulai terbentuk di dalam hati Alessandro terhadap pemilik tubuh asli. Walaupun tidak diucapkan secara terang-terangan, kesannya terhadap wanita itu menjadi semakin buruk dari hari ke hari.

Tersentak kembali ke realitas, kesan Valeria terhadap keluarga ini menjadi semakin buruk. Nada suaranya berubah menjadi sangat dingin, "Bukankah pihak kampusmu sudah mengatur program magang untuk seluruh mahasiswa? Kenapa kamu tidak ikuti saja prosedur dari kampusmu?"

Nada suara Valdo di seberang sana terdengar penuh penghinaan, "Perusahaan magang pilihan kampus semuanya sampah, Kak! Mana bisa dibandingkan dengan korporasi raksasa? Lagipula, calon kakak iparku punya perusahaan sendiri. Kalau aku magang di sana, aku bisa langsung diangkat jadi karyawan tetap setelah lulus. Jalurnya jauh lebih mudah."

Valeria menyahut tanpa ampun, "Dia belum tentu jadi kakak iparmu. Berhenti memanggilnya dengan sebutan sembarangan seperti itu."

"Memangnya kenapa? Pelit sekali," Valdo sama sekali tidak menganggapnya serius. "Bukankah Kakak sendiri yang selalu bilang punya seribu satu cara untuk menaklukkan pacar kayamu itu? Cepat atau lambat kita juga akan menjadi keluarga, kan?"

Keluarga pemilik tubuh asli sangat kental dengan budaya patriarki yang lebih mengutamakan anak laki-laki daripada perempuan. Jika dulu dia tidak berhasil menempel ketat pada sosok Alessandro, tidak akan ada satu pun orang di keluarga itu yang sudi memedulikan keberadaannya. Sekarang di saat mereka butuh bantuan, mereka baru tahu cara mencarinya.

Valeria berujar dingin, "Aku tidak bisa membantu. Perusahaan itu bukan milikku, dan aku tidak punya hak untuk mengatur apa pun di sana. Selesaikan masalah pekerjaanmu sendiri."

Tanpa menunggu respons dari seberang sana, Valeria langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Valdo sempat mencoba menelepon kembali beberapa kali setelahnya, namun Valeria konsisten menolak semua panggilan tersebut.

Begitu Valeria melangkahkan kakinya kembali ke dalam ruang kerja utama, Alessandro terpantau sudah menyelesaikan menu makan siangnya. Ia melirik sekilas ke arah layar ponsel Valeria, lalu bertanya datar, "Siapa yang meneleponmu tadi?"

Valeria merangkai alasan acak, "Cuma instruktur yogaku, mengonfirmasi jadwal latihan kelas untuk besok."

Alessandro tidak meragukan kebohongan tersebut. "Kamu sendiri tidak mau makan sesuatu?"

Valeria menggelengkan kegalanya. "Aku sudah makan di rumah sebelum berangkat ke sini. Lagipula, porsi bubur ini kan memang sengaja kuracik khusus untuk memulihkan kesehatan lambungmu. Kalau aku ikut makan, porsimu nanti jadi berkurang."

Ia mulai mengemas kembali wadah tabung termal tersebut. "Karena kamu sudah selesai makan, kalau begitu aku izin pamit pulang sekarang ya."

Alessandro menatap lekat ke arah Valeria. Di dalam kalkulasi pikirannya, ia mengira wanita itu akan memanfaatkan momentum ini untuk merengek minta diizinkan menemaninya bekerja di kantor. Bagaimanapun juga, di masa lalu seorang Valeria Francesca sangat gemar berdiam diri dalam waktu lama di ruang kerjanya, bahkan sulit sekali untuk diusir pulang.

Setelah keheningan sejenak, Alessandro membuka suara, "Apa kamu mau tetap tinggal di sini?"

Valeria menghentikan gerakannya sejenak, memasang ekspresi bimbang. "Memangnya keberadaanku di sini tidak akan mengganggu fokus kerjamu, Ales?"

Alessandro menyahut datar, "Tidak apa-apa. Lagipula ini bukan pertama kalinya."

Valeria seketika bungkam kehilangan kata-kata. Ia hampir saja melupakan fakta sejarah bahwa pemilik tubuh asli di masa lalu memang sangat rajin datang setiap dua hari sekali hanya untuk mengganggu ketenangan Alessandro di kantor. Namun karena dirinya sendiri saat ini memang tidak memiliki agenda aktivitas penting lainnya di luar, bukankah akan jauh lebih menguntungkan jika ia memanfaatkan kesempatan ini untuk terus mendulang poin impresi baik?

Valeria meletakkan kembali wadah tabung termal tersebut ke atas meja. "Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu di sini sampai jam pulang kantor tiba."

Kebetulan sekali tayangan film bioskop yang ditontonnya semalam baru terselesaikan setengah jalan; ia bisa menggunakan ruang waktu ini untuk menuntaskannya hingga selesai. Terdapat sebuah sofa empuk di dalam ruangan tersebut. Ia melangkah santai menuju ke sana, mendudukkan tubuhnya, lalu mendongak menatap Alessandro. "Silakan lanjutkan pekerjaanmu, Ales. Aku tidak akan mengusik fokus kerjamu sedikit pun."

Usai memaparkan kalimat tersebut, ia segera membuka aplikasi video dan mulai meringkuk dengan nyaman di atas sofa untuk menonton.

Interior ruang kerja utama seketika kembali diselimuti kedamaian yang sunyi, hanya diisi oleh alur musik latar serta dialog dari film yang sedang disaksikan Valeria. Tidak ada satu pun pihak yang membuka suara.

Alessandro menegakkan sedikit pandangan matanya pasca-menyelesaikan peninjauan selembar berkas dokumen, menangkap visualisasi sosok Valeria yang sedang meringkuk manis di atas sofa dengan fokus perhatian yang tersedot sepenuhnya ke dalam layar ponsel.

Wanita itu menonton dengan sangat serius; ekspresi wajahnya bisa mendadak berubah tegang di satu detik lalu bertransformasi menjadi terchejut di detik berikutnya, seolah-olah dirinya sedang ikut masuk menjadi bagian dari adegan film tersebut. Beberapa helai rambut halus di area dahinya tampak bergerak lembut tertiup embusan angin, sementara pancaran berkas cahaya yang menyusup melewati sela rambutnya jatuh menyinari bulu mata lentiknya, memancarkan bayangan tipis yang sangat manis. Di setiap kali bulu matanya bergerak bergetar halus, bayangan tersebut akan ikut bergeser tipis.

Menatap siluet raga Valeria yang sedang diselimuti oleh kehangatan sinar mentari sore, seberkas riak emosi misterius kembali melesat cepat menembus sistem batin Alessandro—terlampau kilat untuk bisa ditangkap maknanya oleh logika. Ia kembali menurunkan pandangan matanya untuk melanjutkan penandatanganan dokumen.

Sementara di sisi lain, seiring berjalannya alur film, sepasang kelopak mata Valeria perlahan mulai didera oleh rasa kantuk yang berat. Cengkeraman jemari tangannya pada gawai ponsel perlahan mulai mengendur tanpa ia sadari.

Kurun waktu beberapa puluh menit berselang, Alessandro mendadak mendengar gema suara debuman tumpul dari arah lantai karpet. Ia menegakkan pandangannya dan mendapati Valeria ternyata sudah terhanyut masuk ke dalam fase tidur lelap. Satu lengan lentiknya tampak terkulai lemas di tepi sofa, sementara gawai ponselnya sudah tergelincir jatuh di atas lantai karpet.

Alessandro meletakkan kembali pena dan berkas dokumennya, lalu menegakkan posisi tubuh tegapnya untuk melangkah mendekati area sofa. Valeria terpantau sudah tertidur dengan sangat nyenyak. Permukaan layar ponsel di atas karpet ternyata masih berada di dalam kondisi menyala aktif memutar jalannya film, di mana sebuah suara bariton pria asing dengan intonasi sombong terdengar menggema menggunakan bahasa Inggris:

"Baby, do you like my big pecs?"

Alessandro: "..."

Ia membungkukkan tubuh tegapnya untuk memungut gawai ponsel tersebut. Menatap visualisasi seorang pria bule berotot kekar di dalam layar yang sedang memamerkan bentuk otot dadanya dengan gestur provokatif di depan sang tokoh utama wanita, Alessandro sempat terdiam membisu selama beberapa saat. Ia mematikan paksa tayangan film tersebut, lalu meletakkannya di atas meja kerja.

Setelah itu, ia melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang istirahat untuk mengambil selembar selimut tipis, lalu menyelimuti tubuh ramping Valeria secara perlahan. Tepat di saat ia baru saja selesai merapikan setiap sela ujung selimut tersebut, Valeria yang entah sedang bermimpi apa, mendadak mengulurkan satu tangan lentiknya untuk mencengkeram erat ujung lengan kemeja milik Alessandro.

Bibir ranumnya tampak bergerak-gerak memuntahkan sebaris igauan kalimat yang teramat melantur, "Hei cowok ganteng... berapa tarif harga jika aku ingin menyewamu untuk menemaniku sepanjang malam ini..."

Alessandro menurunkan pandangan mata tajamnya untuk menatap ke arah sela jemari tangan Valeria yang sedang mencengkeram erat kain lengan kemejanya, sebelum akhirnya memindahkan kembali fokus pandangannya lurus mengunci ke arah wajah sang wanita. Siraman cahaya mentari sore jatuh menyinari permukaan wajah cantiknya, memberikan efek kelembutan visual pada setiap gurat wajah Valeria. Rona kulitnya terlihat sangat putih bersih dan halus, bahkan keberadaan helaian bulu-bulu halus di area pipinya pun dapat tertangkap jelas oleh mata telanjang.

Tepat pada detik krusial tersebut, sebuah getaran asing yang sangat lembut seolah-olah sedang tumbuh berkembang dan menyebar merata di dalam sudut lubuk hati Alessandro yang paling dalam, menyapu bersih seluruh tembok pertahanan sikap dingin serta kendali kaku yang selama ini ia agungkan.

Garis pandangan matanya perlahan bergerak menyapu mulai dari area sepasang mata sang wanita, turun menuju ke arah ujung hidung bangirnya, hingga akhirnya berhenti terkunci rapat pada permukaan bibir ranumnya yang lembut. Sepasang bibir manis tersebut tampak sedikit terbuka, memancarkan rona merah muda yang segar dan sangat menggoda.

Seberkas gelombang gejolak rasa asing tampak menari-nari di dalam sepasang manik mata hitam Alessandro di saat postur tubuh tegapnya perlahan mulai bergerak merunduk turun mendekati wajah Valeria.

Namun tepat pada detik berikutnya, daun pintu kayu jati ruang kerja utama mendadak didorong terbuka secara agresif oleh Sekretaris Susan yang langsung melangkah masuk, "Pak CEO Alessandro..."

Untaian kosakata kalimat dari balik bibir sang sekretaris seketika langsung terputus kaku di udara. Sepasang manik matanya langsung melebar sempurna dipenuhi oleh kejutan dan ketidakpercayaan yang mendalam tepat di saat menangkap visualisasi siluet tegap Alessandro yang saat itu posisinya sedang merunduk intim di atas tubuh Valeria.

Pergerakan tubuh Alessandro seketika terhenti kaku. Ia memutar poros kepalanya perlahan untuk menatap Sekretaris Susan, memancarkan sepasang sorot mata tajam yang steril total dari adanya kehangatan manusia.

Sekretaris Susan yang baru saja berhasil memulihkan kesadarannya seketika langsung mengubah rona kulit wajahnya menjadi pucat pasi akibat didera rasa ketakutan yang hebat. Ia dengan gerakan panik segera menarik mundur langkah kakinya sebanyak dua langkah ke belakang, berujar terbata-bata, "P-Pak CEO Alessandro... mohon maaf sebesar-besarnya, saya bersumpah tidak mengetahui jika Anda saat ini sedang sibuk..."

Alessandro secara perlahan mulai menegakkan kembali posisi postur tubuh tegapnya, di mana sepasang bibir tipis tegas miliknya terbuka sedikit untuk meluncurkan kalimat dingin, "Sekretaris Susan... Anda tercatat sudah bekerja di perusahaan ini dalam kurun waktu yang cukup lama, apakah Anda sudah resmi melupakan regulasi paling dasar mengenai kewajiban mengetuk pintu sebelum melangkah masuk?"

Gema riuh ketegangan tersebut seketika langsung sukses mengusik kenyamanan tidur Valeria. Bulu mata lentiknya tampak bergerak bergetar halus sebelum akhirnya sepasang mata bulatnya resmi terbuka kembali. Ia mengangkat satu tangan lentiknya untuk mengucek matanya perlahan, melayangkan garis pandangan matanya ke segala arah dengan pembawaan yang dipenuhi oleh kebingungan, "Loh? Kok bisa aku sampai ketiduran di tempat ini?"

Ia secara naluriah langsung bergerak menggeledah keberadaan gawai ponselnya, hingga akhirnya mendapati benda digital tersebut entah bagaimana sudah berpindah posisi tergeletak manis di atas meja kerja raksasa. Tepat di saat dirinya baru saja berniat untuk menjangkau ponsel tersebut, ia mendongak dan menangkap siluet tegap Alessandro yang sedang berdiri kokoh tepat di hadapannya, membuat Valeria sempat tertegun kaku sejenak dilanda heran. "Kenapa kamu berdiri di depanku seperti ini, Ales?"

Di detik berikutnya, garis pandangan matanya melewati celah lengan tegap sang pria hingga menangkap eksistensi Sekretaris Susan yang sedang berdiri kaku di belakangnya dengan raut wajah penuh ketakutan dan kegelisahan, persis laksana seseorang yang baru saja tertangkap basah berbuat salah.

Gema suara bariton Alessandro taktis langsung memutus fokus perhatian Valeria, "Saya melihat kamu tadi tertidur lelap, makanya saya menyelimutimu menggunakan selimut ini."

Valeria menurunkan pandangan matanya ke bawah dan memang benar adanya mendapati selembar selimut tipis sedang menutupi tubuhnya. Menatap pembawaan Valeria yang saat itu penampakannya masih didera sisa kantuk yang kental, Alessandro kembali bersuara, "Posisi tidur meringkuk di atas sofa ini tidak akan nyaman untuk tubuhmu. Masuklah untuk melanjutkan tidurmu di dalam ruang istirahat pribadi saya."

Valeria menggelengkan kepalanya menolak, "Tidak usah tidur lagi, Ales. Aku takut jika dipaksa tidur sekarang, aku justru bakal terjebak insomnia nanti malam. Aku izin ke kamar mandi dulu ya untuk membasuh wajahku."

Usai memaparkan kalimat tersebut, ia segera menyibak selimut tipisnya, menurunkan sepasang kaki anggunnya dari sofa, lalu mengayunkan langkah kakinya menuju ke arah toilet luar ruangan.

Tepat pasca-menghilangnya siluet tubuh ramping Valeria melintasi ambang pintu, Alessandro memutar tubuh tegapnya kembali untuk melempar pandangan mata tajam lurus menatap Sekretaris Susan. Merasakan pekatnya intimidasi dari sepasang sorot mata tersebut, Sekretaris Susan semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah lantai.

Intonasi suara Alessandro terdengar sangat datar namun sarat akan ancaman tegas yang tidak dapat diganggu gugat, "Sekretaris Susan... jika di kemudian hari Anda kembali melakukan kesalahan amatir seperti ini lagi... maka Anda dipersilakan untuk segera mengemas seluruh barang pribadi Anda dari meja kerja lalu angkat kaki meninggalkan perusahaan ini selamanya."

Di dalam area toilet, Valeria segera mengguyur permukaan kulit wajah cantiknya menggunakan kucuran air dingin. Suhu sedingin es dari air yang membasahi wajahnya seketika langsung sukses membuat kesadaran jiwanya kembali bugar benderang seratus persen.

Sialan, tujuan awalku datang ke tempat ini kan untuk memanen pasokan poin impresi baik, lalu mengapa skenarionya malah berakhir dengan drama ketiduran memalukan seperti ini?

Ia menyeka sisa air di wajahnya dengan raut kekesalan yang kentara, lalu membalikkan tubuhnya untuk melangkah keluar meninggalkan area toilet. Pasca-membasuh wajahnya menggunakan air dingin, fokus pikiran Valeria kini dirasa sudah menjadi jauh lebih jernih dan segar benderang.

Di sepanjang rute perjalanan langkah kakinya untuk kembali menuju ke dalam ruangan, ia tidak sengaja berpapasan dengan Sekretaris Susan yang saat itu baru saja melangkah keluar melintasi ambang pintu ruang kerja utama. Sepasang kelopak mata milik Sekretaris Susan tampak memancarkan rona merah pekat bekas tangisan, sementara permukaan wajah kaku miliknya masih menyimpan kedudukan emosional akibat dirundung rasa dongkol dan malu yang mendalam. Wanita karier itu bahkan sama sekali tidak melayangkan pandangan ke arah Valeria di saat ia mengayunkan langkah kakinya untuk pergi menjauh dari area selasar.

Valeria menatap lekat ke arah punggung Sekretaris Susan yang kian menjauh, meluncurkan sebaris rasa curiga di dalam hatinya. Sungguh aneh bin ajaib. Biasanya di dalam setiap detik posisi mereka berdua saling berbenturan, Sekretaris Susan selalu konsisten meluncurkan untaian kalimat sindiran ketus nan tajam untuk menyerang batinnya. Lalu mengapa untuk hari ini tabiatnya mendadak berubah drastis menjadi sejinak dan sesunyi ini? Valeria memilih untuk tidak membuang sisa energi pikirannya untuk membedah misteri perubahan perilaku sang sekretaris, lalu melangkah tegas kembali memasuki interior ruang kerja utama sang CEO.

Tepat di detik perdana dirinya kembali melintasi ambang pintu, ia langsung disuguhkan oleh visualisasi siluet tegap Alessandro yang saat itu sedang berdiri menatap keluar menembus permukaan kaca jendela raksasa, di mana seluruh penjuru atmosfer di sekeliling tubuh tegapnya tampak diselimuti oleh seberkas hawa dingin yang angkuh dan berjarak. Tidak bisa ditebak teka-teki pemikiran apa yang sedang menari-nari di dalam logikanya saat ini.

Valeria mengunci kembali daun pintu di belakang garis punggungnya, lalu melayangkan pertanyaan dengan intonasi nada suara yang sarat akan rasa penasaran, "Sebenarnya apa yang baru saja terjadi di antara dirimu dengan Sekretaris Susan, Ales? Tadi di koridor luar aku tidak sengaja berpapasan dengannya, dan gurat ekspresi di wajahnya terlihat sangat berantakan dan tidak wajar."

Intonasi suara bariton Alessandro sama sekali tidak memancarkan emosi, "Bukan masalah besar. Kerjanya tadi melakukan sebaris kesalahan minor di dalam penanganan tugas kantor, makanya saya memberikan teguran tegas untuk menegakkan disiplin dirinya."

Mendengar pengakuan lempeng tersebut, fokus batin Valeria secara otomatis langsung melesat teringat kembali pada perkara Valdo yang beberapa puluh menit lalu nekat menelepon untuk meminta jalur belakang magang perusahaan. Seorang Alessandro Dirgantara terbukti bisa bersikap setegas dan sedingin ini bahkan kepada sesosok sekretaris pribadi yang setiap hari setia mendampingi rute kerjanya di kantor, apalagi jika objek masalahnya diganti menjadi adik kandung pemilik tubuh asli yang tabiatnya terkenal malas dan tak berguna.

Jika dirinya sampai nekat menggunakan modal utang budi masa lalu untuk memasukkan Valdo agar bisa bekerja magang di dalam korporasi raksasa ini... maka dengan kapasitas tabiat buruk Valdo, pemuda nakal itu dipastikan bakal langsung memicu petaka masalah besar dalam kurun waktu kurang dari tiga hari kerja saja. Jika skenario terburuk itu sampai resmi meledak ke permukaan, maka rute tanggal eksekusi hukuman mati bagi keselamatan nyawanya dipastikan bakal langsung dimajukan jauh lebih awal oleh sang algojo Alessandro.

Menangkap visualisasi Valeria yang sejak tadi hanya berdiri mematung laksana seseorang yang sedang didera oleh lamunan batin yang panjang, Alessandro melayangkan pertanyaan, "Ada masalah apa?"

Fokus jiwa Valeria seketika langsung tersentak kembali ke dimensi realitas nyata pasca-mendengar gema suara bariton sang pria, ia dengan gerakan kilat segera menggelengkan kepalanya bertenaga, "A-ah tidak ada apa-apa kok, Ales. Mungkin kesadaranku saat ini saja yang belum berhasil terkumpul seutuhnya pasca-bangun tidur tadi."

Sembari kalimat tersebut meluncur dari balik bibirnya, ia melangkahkan sepasang kakinya mendekati area meja kopi untuk memungut kembali gawai ponsel miliknya. Tepat di detik ujung jemari tangannya baru saja bersentuhan langsung dengan permukaan layar kaca ponselnya yang terasa dingin, fungsi otaknya mendadak menangkap seberkas kejanggalan tingkat tinggi yang membuatnya tersentak kaku.

Tunggu sebentar, ada yang tidak beres di sini!

Dirinya ingat betul sebelum kesadaran jiwanya terhanyut masuk ke dalam fase tidur lelap tadi, kondisi layar ponselnya kan sedang menyala aktif memutar jalannya tayangan film bioskop. Lalu siapa yang sudah lancang mematikan paksa aplikasi video tersebut?

Meningat kembali detail genre dari film bioskop yang sengaja ia tonton—sebuah tayangan film yang dipenuhi oleh visualisasi barisan pria bule berotot kekar dengan sekeranjang adegan sensual yang sangat provokatif... Valeria seketika langsung menelan ludahnya berat dilanda ketakutan mental tingkat tinggi.

Ia memutar lehernya secara kaku laksana sesosok robot yang kehabisan oli, lalu melayangkan pertanyaan interogasi tipis menggunakan intonasi suara yang bergetar bimbang, "A-Ales... soal tayangan film bioskop yang tadi sempat terputar aktif di layar ponselku saat aku ketiduran... apakah kamu... kamu sendiri yang mematikan paksa fungsinya?"

____

Bersambung~~

1
Azzuhri Siregar
thor cerita satu bab jangan terlalu panjang lama-lama bacanya agak mengantuk. cerita nya bagus tapi satu bab itu terlalu panjang jadi bosen
FearMe: iya ini bab 20++ udah diperbaiki
total 1 replies
falea sezi
lanjt
Retno Isma
panjang bgt. 🫰🫰
Anne Soraya
lanjut
Putri Amalia
semoga ngk Hiatus yah author 😭
FearMe: semoga ya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!