NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: SABOTASE DI RUNWAY

Aula megah di Museo di Roma malam itu dipenuhi oleh aroma bunga lili dan prestise yang kental.

Cahaya lampu sorot yang putih kebiruan membelah kegelapan, menciptakan jalanan cahaya di atas lantai yang akan menjadi saksi lahirnya bintang baru dalam dunia mode Italia.

Ini adalah Roma Fashion Week Emerging Talents, dan satu slot eksklusif telah diberikan kepada butik "L'Atelier" milik Alesha.

Sebuah langkah strategis yang didorong oleh pengaruh rahasia Matteo di balik layar.

Di balik panggung, suasana sangat kacau.

Suara uap dari setrika berdiri, aroma hairspray yang menyesakkan, dan teriakan para pengatur gaya menciptakan simfoni ketegangan.

Alesha berdiri di depan manekin, melakukan sentuhan akhir pada gaun yang ia beri nama "Resilience".

Gaun itu adalah perpaduan antara struktur tegas maskulin dengan kelembutan sutra yang mengalir, sebuah refleksi dari perjalanannya sendiri.

"Sepuluh menit lagi, Nyonya!" teriak seorang asisten panggung.

Alesha menoleh, mencari Elena, model utama yang seharusnya membawakan gaun penutupnya. Elena adalah satu-satunya yang bisa membawakan karakter gaun itu dengan sempurna.

Namun, Elena tidak ada di tempatnya.

"Di mana Elena?" tanya Alesha, suaranya mulai meninggi.

"Dia... dia bilang ingin ke toilet dua puluh menit yang lalu, tapi belum kembali," sahut Giulia dengan wajah pucat.

Alesha merasakan firasat buruk yang dingin merayap di tengkuknya. Ia segera berlari menuju area toilet di belakang panggung. Di sana, ia hanya menemukan sebuah ponsel yang retak di lantai dan secarik kain satin putih yang sangat ia kenali potongan kecil yang sama dengan kain berdarah yang dikirim ke butiknya tempo hari.

Darah Alesha mendidih. Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah sabotase.

Kiara, atau siapa pun yang menggunakan nama kakaknya, telah melangkah terlalu jauh. Mereka tidak hanya mengancam nyawanya, tapi juga mencoba menghancurkan impian yang ia bangun dengan keringat dan air mata.

"Nyonya, gilirannya sudah tiba! Jika Elena tidak muncul, kita harus membatalkan slot ini!" Marcello muncul di balik tirai, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak cemas.

Alesha menatap gaun di manekin itu, lalu menatap cermin. Wajahnya penuh dengan kemarahan yang murni. Sifat bar-bar-nya yang biasanya ia tekan di depan para bangsawan kini meledak keluar.

Ia tidak akan membiarkan siapa pun, baik itu kakaknya yang menghilang atau hantu-hantu dari masa lalu Matteo, menghentikannya malam ini.

"Siapa bilang kita butuh Elena?" desis Alesha.

"Maksud Anda?" Marcello tertegun.

"Ambilkan sepatu hak tinggi itu. Dan bantu aku masuk ke dalam gaun ini sekarang juga!"

Musik mulai menghentak.

Irama tekno-klasik yang berat mengguncang fondasi aula. Para kritikus mode dan bangsawan Roma yang duduk di barisan terdepan mulai berbisik-bisik saat lampu sorot padam sejenak.

Di barisan terdepan, Matteo duduk di kursi rodanya. Wajahnya tampak setenang telaga, namun jemarinya mencengkeram erat pegangan kursi roda. Ia sudah tahu tentang hilangnya Elena melalui laporan cepat Marcello, dan ia sedang bersiap untuk memerintahkan pencarian besar-besaran setelah acara ini.

Ia merasa gagal melindungi satu hal yang paling berarti bagi Alesha.

Tiba-tiba, lampu sorot menyala dengan cahaya merah darah yang intens.

Seorang wanita muncul dari balik kegelapan. Itu bukan Elena yang jangkung dan anggun. Itu adalah Alesha.

Gumam terkejut merambat di seluruh aula. Para fotografer segera mengarahkan lensa mereka, lampu flash meledak seperti kembang api.

Alesha berdiri di ujung runway dengan gaun hitam-emasnya yang megah, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini dibiarkan terurai liar, memberikan kesan singa betina yang siap menerkam.

Alesha tidak berjalan dengan gaya model tradisional yang meliuk-liuk dan lembut.

Sebaliknya, ia melangkah dengan hentakan kaki yang kuat, seolah setiap langkahnya adalah sebuah klaim atas tanah yang ia injak.

Bahunya tegak, dagunya terangkat tinggi dengan tatapan mata yang menantang siapa pun yang berani meremehkannya.

Ia tidak berjalan,ia menyerbu.

Langkah-langkahnya penuh tenaga, gaun sutra di tubuhnya berkibar liar mengikuti gerakan tubuhnya yang dinamis.

Tidak ada senyum palsu. Yang ada hanyalah ekspresi "liar" yang murni sebuah kombinasi antara keberanian jalanan San Lorenzo dan martabat seorang Al-Ricci.

Saat ia sampai di ujung runway, tepat di depan barisan para kritikus paling kejam di Italia, Alesha berhenti.

Ia tidak berpose manis. Ia hanya menatap lurus ke arah kamera, lalu melirik tajam ke arah Matteo yang duduk hanya beberapa meter darinya.

Tatapannya seolah berkata, Lihat, aku tidak butuh diselamatkan.

Ketegangan di aula itu begitu pekat hingga orang-orang seolah lupa cara bernapas.

Keberanian Alesha menyebarkan aura yang begitu kuat hingga pakaian yang ia kenakan tidak lagi terlihatnya seperti kain, melainkan sebuah zirah.

Alesha berbalik dengan gerakan cepat yang membuat ujung gaunnya menyabet udara, lalu ia berjalan kembali menuju balik panggung dengan langkah yang tetap tak tergoyahkan.

Satu detik keheningan menyelimuti aula.

Lalu, seperti bendungan yang runtuh, tepuk tangan membahana.

Bukan sekadar tepuk tangan formalitas, melainkan sorakan apresiasi atas sebuah pertunjukan yang melampaui standar mode.

Mereka tidak hanya melihat sebuah desain, mereka melihat sebuah karakter.

Di belakang panggung, Alesha bersandar di dinding, napasnya tersengal-sengal. Adrenalinnya masih memuncak, membuat tangannya sedikit bergetar. Ia telah melakukannya.

Ia telah mengubah sabotase menjadi sebuah kemenangan.

Pintu belakang panggung terbuka. Marcello mendorong kursi roda Matteo masuk ke dalam ruangan yang kini mulai sepi karena para model lain telah keluar.

Alesha menatap Matteo, bersiap untuk menerima kritik atau teguran karena telah melakukan tindakan yang "tidak pantas" bagi seorang istri Al-Ricci.

Namun, apa yang ia temukan justru sebaliknya.

Matteo tidak mengatakan sepatah kata pun pada awalnya. Ia menghentikan kursi rodanya tepat di depan Alesha. Di bawah lampu neon yang redup, Alesha bisa melihat mata kelabu Matteo yang biasanya sedingin es kini berkilat dengan emosi yang sangat panas.

"Kau benar-benar gila," gumam Matteo, suaranya rendah dan serak.

"Aku melakukan apa yang harus kulakukan," sahut Alesha, mencoba kembali ke mode defensifnya.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menang."

Matteo tiba-tiba meraih tangan Alesha, menariknya lembut agar wanita itu menunduk sedikit ke arahnya.

Ia menatap wajah Alesha yang masih penuh dengan riasan tajam, melihat peluh di dahinya, dan keberanian yang masih terpancar dari matanya.

Untuk pertama kalinya di hadapan Marcello dan para asisten yang masih tersisa, Matteo tidak mencoba menyembunyikan apa pun. Ia menatap Alesha dengan tatapan bangga yang begitu murni tatapan seorang pria yang menyadari bahwa wanita di hadapannya bukan lagi sekadar kontrak, melainkan rekan hidup yang setara.

"Malam ini, seluruh Roma tahu siapa Alesha Al-Ricci," ucap Matteo, ibu jarinya mengusap punggung tangan Alesha dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian.

"Dan aku... aku adalah pria paling beruntung karena mereka tidak tahu bahwa singa betina ini adalah milikku."

Alesha terpaku.

Kata-kata "milikku" biasanya akan membuatnya marah, namun saat keluar dari mulut Matteo dengan nada seperti itu, rasanya justru seperti sebuah perlindungan.

Keangkuhan Matteo yang biasanya menyebalkan kini terasa seperti pengakuan atas kekuatan Alesha.

"Mereka menculik Elena, Matteo," bisik Alesha, suaranya mulai melemah seiring dengan hilangnya adrenalin.

"Ini tentang Kiara. Aku yakin itu."

Wajah Matteo segera berubah menjadi sangat serius, namun genggamannya pada tangan Alesha semakin menguat.

"Aku tahu. Dan siapa pun yang menyentuh milikku, siapa pun yang mencoba merusak malammu, mereka akan menyadari bahwa berurusan dengan seorang Al-Ricci adalah kesalahan terakhir yang pernah mereka buat."

Matteo menarik tangan Alesha ke bibirnya, memberikan kecupan singkat namun penuh janji di atas buku jarinya.

"Ayo kita pulang. Perang ini baru saja memasuki babak baru, dan kali ini, kita akan menyerang bersama."

Alesha mengangguk, merasakan sebuah kekuatan baru yang mengalir di nadinya. Di tengah kekacauan dan misteri yang menyelimuti mereka, untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar aman.

Bukan karena Villa yang dijaga ketat, tapi karena pria yang duduk di kursi roda ini telah menunjukkan bahwa di balik gunung esnya, ada api yang siap membakar dunia demi dirinya.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!