NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYELIDIKAN

Hilangnya mayat Gatra tidak ada yang mengetahuinya. Kuburan yang terbongkar, sudah rapi, seperti makam biasa.

Orang-orang tak menemukan kejanggalan yang terjadi di sekitar makam. Srikandi berdiri di sisi makam Gatra. Ia adalah orang yang berilmu, tanda-tanda bekas pembongkaran sangat terlihat jelas di matanya.

"Walau sudah tumbuh rumput, tetapi tanah ini basah dan hangat," gumamnya sambil meraba gundukan tanah.

"Tidak ada isinya, kemungkinan jenazah orang itu sudah diambil. Entah oleh ...," tiba-tiba gumamannya terhenti, ia melihat sesuatu di tanah.

"Apa ini. Kuku?" Srikandi mengorek tanah dan mengambil benda panjang berwarna hitam dan berujung runcing.

Srikandi merabanya, tampak seperti tulang bertekstur kasar, tebal dan ....

"Aroma kembang kantil?" Srikandi mengendus kuku itu.

"Tapi kuku ini bukan kuku hewan. Kuku hewan tak memiliki racun ... Tunggu dulu!" Srikandi berhenti.

Lalu ia memutuskan untuk pulang ke lereng bukit, di mana rumahnya berada.

"Terlalu lama di sini ... pasti akan membuat orang curiga," gumamnya lalu melangkah keluar makam.

Srikandi tak menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Berjalan sesuai arahan hati dan mengandalkan instingnya.

Ia melangkah ke arah aliran irigasi warga. Parit dengan aliran deras tampak bening berkilau ditempa cahaya. Apapun bisa dilihat dari atas permukaan.

Srikandi kembali menemukan sesuatu, ia berjongkok dan mengambil satu benda berupa senjata bintang. Ia mengantonginya.

Melihat suasana memungkinkan, tubuhnya melesat terbang. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, di udara Srikandi bisa merasakan hawa panas orang-orang yang lewat.

Itulah kehebatan campuran Ilmu Godokan Petapa Ijen dan Racun Hancur Raga. Srikandi merasakan, berapa banyak energi orang-orang berilmu tinggi melewati jalur itu.

"Aku memilih jalur yang lebih kuat aroma amis dibanding yang lain!" gumamnya, lalu kembali melesat melompati beberapa atap rumah dan pohon.

Hingga aroma amis itu berhenti tepat di sebuah bangunan besar milik istana. Markas prajurit khusus, Srikandi kini paham. Mayat dari tanah kuburan yang kosong sudah ada di tangan yang tepat.

"Sepertinya Prabu Raja, mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki," gumamnya.

Srikandi merogoh lipatan ikat pinggangnya, kuku yant ia temukan tadi dan senjata bintang.

"Apa perlu aku berikan ini?" gumamnya lagi.

"Tidak ... Di istana prabu. Pesta panen masih berlangsung. Aku berikan saja pada Prabu!" putusnya yakin.

Lalu ia kembali melompat menuju istana.

Srikandi mendarat di atas genting bangunan luar istana.

Dari sana ia bisa melihat halaman utama yang dipenuhi hiasan.

Pesta panen sedang berlangsung meriah. Para petani terbaik menerima hadiah dari kerajaan. Musik gamelan menggema, tarian rakyat dipertunjukkan, dan aroma makanan memenuhi udara malam.

"Ramai sekali ..." gumam Srikandi.

Ia mengamati dari kejauhan.

Prabu Laksa duduk di singgasana sederhana yang sengaja ditempatkan di halaman terbuka. Sang Raja tertawa bersama rakyatnya.

"Baginda ... ini aku Srikandi!" Srikandi menggunakan kekuatan batinnya memanggil sang raja.

Prabu Laksa menoleh arah barat di mana Srikandi berdiri. Ia melihat gadis itu ada di sebuah atap pendopo.

Lalu tubuh gadis itu pun melesat meninggalkan tempat itu. Prabu Laksa sangat tau jika ada sesuatu hal yang penting hingga Srikandi memanggilnya lewat kekuatan batin.

Prabu Laksa perlahan menurunkan cawan minumannya. Gerakan kepalanya yang menoleh ke arah barat hampir tak disadari oleh para menteri dan Adipati di sekelilingnya.

Namun batinnya yang tajam menangkap getaran suara Srikandi dengan sangat jelas. Sang Raja memberikan isyarat halus berupa anggukan kecil kepada Panembahan Pondohan yang berdiri siaga di belakang singgasana.

Tanpa menimbulkan kecurigaan di tengah riuhnya suara gamelan dan tawa para petani, Prabu Laksa bangkit dari duduknya. Ia beralasan hendak membasuh diri ke keputren belakang, tetapi langkah kakinya justru berbelok menuju lorong senyap pendopo barat yang terlindung dari keramaian pesta.

Kabut malam merayap tipis di antara tiang-tiang kayu jati pendopo. Prabu Laksa berdiri tegak dengan jubah besarnya yang melambai ditiup angin, sepasang matanya menatap lurus ke atas genting.

Sreeek...

Selembar daun kering bahkan tidak bergeser ketika kaki Srikandi mendarat dengan anggun dari atas atap. Gadis itu langsung berlutut satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang penguasa Kali Ireng.

"Hatur sembah Gusti Raja!" seru Srikandi mengatup kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas kepala.

"Diterima Srikandi!" sahut Prabu lembut tapi penuh ketegasan.

"Bangkitlah!" titahnya sambil merengkuh bahu Srikandi.

Srikandi berdiri menatap pria yang seusia ayahnya.

"Kapan Sri Baginda Raja mengumumkan kematian Ayah?" tanya Srikandi.

"Sri ... Kau kesini pasti bukan untuk menanyakan itu kan?" sahut Prabu Laksa menatap gadis belia itu penuh ketegasan.

Srikandi sebenarnya ingin marah, tetapi di hadapannya adalah seorang raja. Ia menjunjung tinggi pria yang ada di depannya itu.

"Hamba menemukan ini," ujarnya lalu merogoh lipatan kain dan menyerahkannya pada Prabu Laksa.

"Kuku dan senjata bintang?" Prabu menatap Srikandi.

Gadis itu menghela nafas panjang, ia masih ingin menyimpan plakat yang juga ia temukan.

"Sri!" panggil Prabu Laksa lagi sambil menadahkan tangannya.

"Serahkan semua apa yang kamu temukan, Nduk!" lanjutnya memberi perintah dengan menggunakan ilmu tentunya.

Gadis sekeras Srikandi, tak mungkin hanya mengandalkan diri saja. Dari tadi, Prabu Laksa merasakan jika gadis itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk tidak menunduk padanya.

Namun, Srikandi tentu salah mencari lawan. Prabu Laksa sudah malang-melintang di dunia persilatan. Kerahan ilmu Srikandi bukan ilmu sembarangan, terlebih gadis itu kini mampu mengeluarkan hawa murni dari campuran Godokan Petapa Ijen dan Racun Rusak Raga.

Srikandi akhirnya mengeluarkan plakat yang ia dapatkan pada rajanya.

"Kau yakin hanya ini?" tanya Prabu lagi.

"Ada tiga pria berpakaian serba hitam. Mereka bernama Ki Rawok, Ki Sonta dan Ki Panggang dan terselip mereka membicarakan Temenggung Pancasona ...," wajah Prabu Laksa menegang.

Berita tentang tentara hitam sudah ia dengar bahkan ketika ayah dari Srikandi masih hidup.

"Kandi!" panggil Prabu, panggilan khusus yang sering dipanggil ayah gadis itu.

"Daulat hamba!' sahut Srikandi.

"Jika kau menemukan apapun. Langsung beritahu aku!" perintah Prabu Laksa tegas.

Srikandi menatap rajanya.

"Tidak Nok Ayu. Kamu tidak boleh bergerak sendiri. Sekarang kamu adalah tanggung jawabku!" seru Prabu Laksa tegas.

"Jadi Ayah benar-benar sudah pergi Sri Baginda?" tanya Srikandi lirih.

Prabu Laksa menatap wajah Srikandi, kini mata gadis itu sudah menggenang air yang sebentar lagi tumpah.

"Nok Ayu, percayakan padaku. Aku pasti akan memberikan keadilan itu padamu!" janji Prabu Laksa.

Srikandi mundur, ia tak menjawab apapun. Lalu, tubuhnya melesat meninggalkan Prabu Laksa sendirian dengan perasaan bersalah.

Pria itu tiba-tiba merasa nyeri di dadanya. Ia menekan keras dadanya dan mengerahkan semua kekuatannya. Perlahan rasa sakit itu pun mereda.

"Nok Ayu, kini aku tau kenapa Adipati Sengko begitu marah mendatangiku saat mendengar kau menangis ...," gumamnya lirih.

"Maafkan aku Nok. Aku tidak bisa menjaga ayahmu. Tetapi semua ini adalah permintaan ayahmu sebagai bukti kesetiaannya, mengorbankan nyawa demi keselamatan semuanya ...."

Bersambung.

Ah ... kasihan Srikandi.

Next?

1
Anita Barus
Srikandi geram PD paman nya yg melepas para tikus tsbt kerna dia blm sem0at membalaska😍n kematian ayah nya
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Deyuni12
ada gtu perang d bikin prank 😄,hanya ada d cerita othor yg seru ini sh 😊😊😊

lanjut
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
keren 👍👍👍👍
Benny Badaruddin
keadilan untuk ayahmu pasti terbalas
Benny Badaruddin
semangat 💪
Benny Badaruddin
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Deyuni12
🥺🥺🥺🥺🥺
Srikandi
Anita Barus
raja saja merasa sakit dada nya sedih campur aduk melihat Srikandi berlinang air mata dan langsung pergi meninggal kan raja begitu saja
Anita Barus
waduh siapa yg menenteng mayat tersbt dan siapa pula makhluk yg menyerupai babi itu tambah penasaran lanjut
Anita Barus
🤣🤣🤣 Baginda mengancam akan membuang bibi Srikandi ke selatan menyusul suaminya .makanya dia takut .
vania larasati
lanjutt
Deyuni12
lanjut
Deyuni12
galak banget nh si Rukmi,sleper juga nh
Deyuni12
nyari kesempatan Mulu nh Rukmi
Anita Barus
penasaran lanjut
Anita Barus
serem juga KLO sampai sda acara menjulatin darah gitu gitu
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!