NovelToon NovelToon
Keturunan Raja Alkemis

Keturunan Raja Alkemis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.

Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: LANGIT KEDUA – DUNIA YANG JAUH LEBIH LUAS

Gerbang besar berwarna perak itu perlahan menutup kembali di belakang punggung Chen Si, memisahkan sepenuhnya dirinya dengan dunia yang baru saja ia tinggalkan, Langit Pertama. Begitu melewati ambang batas itu, sensasi yang dirasakan Chen Si berubah drastis seketika. Seolah-olah ia baru saja keluar dari ruangan tertutup yang sempit menuju ke alam semesta yang tak bertepi.

Udara di sini berbeda total. Energi spiritual di Langit Pertama, yang dulu dianggapnya sangat padat dan murni, kini terasa seperti kabut tipis jika dibandingkan dengan apa yang ada di sini. Di Langit Kedua, energi spiritual begitu kental hingga terlihat seperti cairan yang mengalir di udara, membentuk sungai-sungai energi tak kasat mata yang berkelok-kelok di antara awan dan pegunungan yang menjulang tinggi. Hanya dengan bernapas dalam-dalam, Chen Si bisa merasakan setiap sel di tubuhnya menari gembira, menyerap kekayaan alam yang melimpah ruah ini.

Chen Si berdiri di atas sebuah dataran tinggi berbatu yang luas, yang tampaknya merupakan titik pendaratan utama bagi siapa pun yang berhasil menaklukkan Menara Langit dari bawah. Di sekelilingnya, pemandangan terbentang jauh ke cakrawala: pegunungan yang puncaknya menembus awan, hutan purba yang rimbun dengan pepohonan raksasa setinggi ribuan meter, dan sungai-sungai lebar yang airnya berkilauan seperti cairan perak. Langit di sini bukan lagi biru muda, melainkan biru tua pekat yang dihiasi oleh dua buah bulan besar yang bersinar bergantian, memberikan cahaya siang dan malam yang abadi.

"Jadi ini Langit Kedua..." gumam Chen Si pelan, matanya berkilat penuh kekaguman namun juga kewaspadaan tinggi. Ia bisa merasakan ribuan aura kuat yang tersebar di seluruh penjuru wilayah ini. Ada aura makhluk hidup yang berdenyut kuat, ada aura tanaman langka yang berusia ribuan tahun, dan ada juga aura bahaya yang samar namun mematikan, seolah ada mata-mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan.

Chen Si merasakan perubahan besar di dalam tubuhnya. Setelah menyerap energi raksasa dari inti Menara Langit dan meledakkan kekuatan saat melawan pengkhianatan Guang Ming, fondasi kultivasinya telah mengalami perubahan kualitatif. Ia sekarang berada di puncak level Penguasa Langit Puncak, satu langkah kaki lagi menuju ambang batas Alam Dewa. Namun, Chen Si sadar betul bahwa di sini, di Langit Kedua, level Penguasa Langit bukanlah sesuatu yang luar biasa. Di Langit Pertama, ia adalah raja mutlak, tapi di sini, ia hanyalah salah satu dari sekian banyak makhluk kuat yang mengisi dunia yang jauh lebih besar dan kejam ini.

"Kekuatan yang kumiliki sekarang mungkin cukup untuk menguasai Langit Pertama, tapi di sini... aku hanyalah semut kecil yang baru saja keluar dari sarangnya," batin Chen Si sambil mengepalkan tangannya. Tekadnya semakin mengeras. Semakin tinggi ia mendaki, semakin ia menyadari betapa luasnya dunia dan betapa panjangnya jalan yang harus ia tempuh untuk mencapai Kaisar Dewa Cahaya di puncak tertinggi.

Chen Si mengeluarkan Kompas Peta Emas peninggalan Golem Penjaga itu dari saku jubahnya. Benda peninggalan zaman purba ini ternyata masih berfungsi, bahkan kini bersinar jauh lebih terang daripada sebelumnya. Jarum kompas itu berputar cepat beberapa kali, sebelum akhirnya menunjuk ke arah utara, ke arah sebuah wilayah yang ditandai dengan gambar gunung berapi yang menyala abadi dan tulisan kuno yang samar-samar terbaca: KOTA AWAN ABADI – PUSAT PERDAGANGAN DAN INFORMasi LANGIT KEDUA.

"Tempat yang tepat untuk memulai," pikir Chen Si. Sebagai orang asing yang baru tiba, hal pertama yang ia butuhkan adalah informasi: bagaimana susunan kekuatan di sini, siapa saja penguasa wilayah ini, di mana letak sekte-sekte besar, dan seberapa jauh jarak ke Langit Ketiga.

Chen Si tidak terbang terburu-buru. Ia mengaktifkan teknik penyembunyian aura miliknya, menyembunyikan cahaya emas khas Klan Naga agar tidak terlalu mencolok, lalu berubah menjadi seberkas cahaya biasa yang melesat menuju arah utara. Kecepatannya luar biasa, membelah udara tanpa suara berlebihan, menembus awan dan angin kencang yang menjadi penghalang alami di Langit Kedua.

Namun, baru saja ia menempuh perjalanan sekitar seribu kilometer, tiba-tiba peringatan bahaya berdentang keras di kepalanya. Insting bertahan hidup yang tajam, yang telah diasah ribuan kali dalam pertempuran hidup dan mati, memberi sinyal merah.

WUSH! WUSH! WUSH!

Tiga sosok manusia melesat keluar dari balik awan gelap yang terbentuk secara alami di tengah jalan. Mereka memblokir jalan Chen Si dengan gerakan cepat dan lincah. Ketiganya mengenakan jubah hitam dengan pola awan merah, wajah mereka tertutup kain, hanya menyisakan mata yang menatap tajam dan serakah ke arah Chen Si.

"Hei, anak muda!" seru salah satu dari mereka, sosok yang paling kekar dengan aura setara Penguasa Langit Awal. "Kau baru datang ke Langit Kedua ya? Energi di tubuhmu masih segar dan murni sekali. Ini wilayah kekuasaan Kelompok Badai Merah. Siapa pun yang lewat harus membayar pajak jalan. Serahkan semua harta, batu roh, dan bahan berharga yang kau bawa, lalu minggir. Kalau tidak... nyawamu jadi milik kami!"

Chen Si melayang berhenti di udara, menatap ketiga perampok udara itu dengan tatapan datar tanpa emosi. Di Langit Pertama, perampok sekalipun biasanya punya batasan dan aturan, tapi di sini, baru melangkah kaki saja ia sudah disambut dengan ancaman pembunuhan dan perampokan. Tampaknya hukum rimba berlaku jauh lebih keras di dunia yang lebih tinggi ini.

"Pajak jalan?" ulang Chen Si pelan, suaranya dingin. "Kalian tahu siapa aku? Dan kalian yakin... kalian sanggup mengambil apa yang kubawa?"

Sosok pemimpin perampok itu tertawa keras, diikuti tawa dua rekannya. "Hahaha! Bocah ingusan dari bawah berani bertingkah! Di Langit Kedua, kekuatan adalah hukum! Kami melihat kau keluar dari Gerbang Menara Langit tadi. Pastilah kau membawa banyak harta rampasan dari sana. Sayang sekali... harta itu tidak akan sempat kau nikmati. Bunuh dia, ambil semuanya!"

Ketiga perampok itu langsung menyerang bersamaan! Tangan mereka berubah menjadi cakar energi berwarna merah darah, menyambar ke arah dada dan leher Chen Si dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Serangan mereka mengandung racun khusus khas Langit Kedua yang bisa melumpuhkan energi lawan dalam sekejap mata.

Namun, bagi Chen Si, gerakan mereka ini terlalu lambat, terlalu kasar, dan terlalu penuh celah.

Chen Si tidak mundur selangkah pun. Ia bahkan tidak mengeluarkan senjata. Dengan gerakan yang tampak santai namun penuh ketepatan maut, ia mengangkat tangan kanannya, menjentikkan jari pelan ke arah depan.

"Jentikan Naga: Hancurkan Segalanya."

TRANG!!!

Suara benturan keras terdengar, diikuti jeritan memilukan. Ketiga perampok itu terlempar mundur seperti bola yang dipukul pemukul raksasa. Energi cakar mereka hancur berantakan bahkan sebelum menyentuh ujung jari Chen Si. Tubuh mereka terluka parah, tulang-tulang mereka remuk, dan mereka jatuh berputar-putar ke bawah selembar daun kering.

Mereka terkejut luar biasa. Pemuda di depan mereka ini jelas-jelas baru saja naik dari Langit Pertama, tapi kekuatannya... kekuatannya jauh melampaui level Penguasa Langit Awal seperti mereka!

"Ka... Kau... Kau Penguasa Langit Puncak?!" seru pemimpin itu dengan suara gemetar ketakutan, darah mengalir dari mulutnya. Ia sadar, ia baru saja mengganggu makhluk yang jauh di atasnya.

Chen Si melayang turun perlahan ke depan mereka, bayangannya menutupi tubuh ketiga perampok itu. Matanya bersinar dingin, menatap mereka seolah menatap serangga menjijikkan.

"Aku tidak suka orang yang menghalangi jalanku," kata Chen Si pelan namun menekan hati. "Kalian bertindak atas kemauan sendiri, atau ada yang menyuruh mengawasi pendatang baru dari Langit Pertama?"

Pemimpin perampok itu gemetar hebat. Tekanan yang dipancarkan Chen Si membuatnya sulit bernapas. "Ka... Kami... Kami hanya kelompok kecil... Kami tidak tahu apa-apa... Kami cuma disuruh mengawasi gerbang dan melaporkan siapa saja yang keluar... Itu saja!"

"Disuruh oleh siapa?" desak Chen Si.

"Oleh... Oleh Sekte Awan Gelap, kekuatan besar yang menguasai wilayah ini..." jawab perampok itu terbata-bata.

Chen Si mengangguk pelan. Sekte Awan Gelap. Satu nama baru dicatatnya dalam ingatan. Tampaknya di sini, setiap inci tanah dikuasai oleh kekuatan besar, dan pendatang baru dianggap sebagai mangsa empuk atau ancaman yang harus diawasi ketat.

"Baik. Karena kalian sudah memberi tahu, aku tidak akan membunuh kalian," kata Chen Si, membuat ketiga perampok itu lega sejenak, namun kalimat berikutnya membuat darah mereka membeku. "Tapi aku harus mengambil kembali 'pajak' yang seharusnya kalian bayar padaku karena sudah membuang waktuku."

Chen Si mengayunkan tangan, dan tiga sinar emas tipis melesat masuk ke dalam tubuh ketiga orang itu. Dalam sekejap, seluruh batu roh, harta, dan inti energi yang mereka miliki tersedot keluar dan terbang masuk ke dalam tas penyimpanan Chen Si. Mereka dibiarkan hidup, tapi kini menjadi orang biasa tanpa kekuatan apa pun, nasib yang jauh lebih buruk bagi seorang kultivator.

"Terima kasih untuk uang jalannya," kata Chen Si santai, lalu kembali melesat ke arah utara, meninggalkan tiga sosok yang tergeletak pucat pasi penuh penyesalan.

Perjalanan masih panjang. Chen Si tahu, pertemuan dengan perampok ini hanyalah awal dari ribuan pertempuran dan konflik yang menantinya di dunia yang jauh lebih kejam dan penuh intrik ini. Di depan sana, Kota Awan Abadi menanti, dan di balik tembok-tembok megahnya, tersembunyi rahasia, persaingan, dan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.

(1.420 kata)

 

BAB 15: KOTA AWAN ABADI – PERTEMUAN DAN PERSAINGAN

Setelah menempuh perjalanan selama dua hari dua malam penuh tanpa henti, menembus angin kencang dan melewati beberapa wilayah berbahaya yang dipenuhi binatang buas level tinggi, akhirnya Chen Si melihat tujuan perjalanannya.

Di kejauhan, terlihat pemandangan yang membuatnya tertegun sejenak. Di atas sebuah dataran tinggi yang tingginya tak terukur, melayanglah sebuah kota raksasa yang dikelilingi awan putih lembut. Kota itu bukan dibangun di atas tanah biasa, melainkan di atas lempengan batu terapung raksasa yang dikunci di udara oleh formasi sihir kuno. Bangunan-bangunan di sana menjulang tinggi, terbuat dari kristal berwarna-warni dan kayu langka, memancarkan cahaya yang indah namun juga agung. Itulah Kota Awan Abadi, pusat perdagangan terbesar di wilayah utara Langit Kedua.

Dari kejauhan, suara hiruk-pikuk dan kegemparan terdengar samar. Ribuan sosok terbang keluar masuk gerbang kota, ada yang naik kendaraan awan, ada yang menunggangi binatang terbang, dan ada pula yang melayang sendiri dengan kekuatan mereka. Energi spiritual di sekitar kota ini begitu padat hingga membentuk kabut emas yang menyelimuti seluruh wilayah udara di bawahnya.

Chen Si mendarat di titik pendaratan resmi di bagian selatan kota. Begitu menginjakkan kaki di jalanan batu putih yang luas, ia langsung merasakan perbedaan suasana yang sangat mencolok dibandingkan tempat mana pun yang pernah ia kunjungi. Di sini, setiap orang yang berpapasan dengannya memancarkan aura kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Level Penguasa Langit yang dulu langka di Langit Pertama, di sini terlihat berjalan-jalan di pinggir jalan seperti pedagang biasa atau warga kota. Chen Si bahkan bisa merasakan setidaknya puluhan aura yang jauh lebih kuat darinya, aura yang telah menyentuh ambang Alam Dewa.

"Hidup di sini bukanlah hal mudah," batin Chen Si sambil berjalan santai menyusuri jalan utama. Matanya mengamati sekeliling dengan waspada namun tenang. Ia masih menyembunyikan aura aslinya, membiarkan orang lain mengira dia hanya seorang kultivator Penguasa Langit biasa, tidak terlalu lemah tapi juga tidak terlalu mencolok.

Tujuan pertamanya adalah Menara Informasi, bangunan tertinggi di pusat kota yang menjadi sumber segala pengetahuan, peta, dan berita terkini di seluruh Langit Kedua. Di sana, ia berharap bisa mendapatkan gambaran jelas tentang peta kekuatan, lokasi sekte besar, serta rute aman menuju gerbang Langit Ketiga.

Namun, baru beberapa langkah berjalan, suara keributan terdengar dari arah depan. Kerumunan orang berkumpul di pinggir jalan, memberi ruang hormat dan ketakutan. Dari arah utara, datanglah rombongan besar yang berjalan dengan angkuh. Di depan, dua belas pengawal berbadan tegap dengan jubah berhias awan gelap berjalan berbaris rapi. Di tengah, ada seorang pemuda berwajah tampan namun dingin, mengenakan jubah sutra mahal berwarna hitam dengan sulaman awan emas. Aura pemuda itu kuat, setara Penguasa Langit Puncak, dan matanya memandang sekeliling dengan pandangan meremehkan seolah semua orang di bawahnya hanyalah debu.

"Itu... Tuan Muda Gu Yan dari Sekte Awan Gelap!" bisik seseorang di dekat Chen Si. "Dia anak dari Tetua Gu, salah satu penguasa kota ini. Jangan menatap matanya, kalau tidak kau akan celaka!"

Chen Si sama sekali tidak menunduk atau menghindar. Ia terus berjalan lurus di tengah jalan, tidak memberi ruang sedikitpun. Sikap santai dan berani ini langsung menarik perhatian rombongan itu.

Salah satu pengawal menggeram marah. "Hei orang buta! Tidak lihat siapa yang lewat? Minggir!"

Chen Si tetap berjalan, matanya menatap lurus ke depan. "Jalan ini milik umum. Kalian yang mau lewat, minggirlah sendiri."

Suasana seketika hening. Kerumunan orang menahan napas, tidak percaya ada orang yang berani menentang rombongan Sekte Awan Gelap di kota mereka sendiri. Gu Yan berhenti melangkah, menoleh perlahan ke arah Chen Si, senyum miring penuh kebencian terukir di bibirnya.

"Berani sekali," kata Gu Yan pelan, suaranya dingin menusuk tulang. "Orang asing ya? Pakaianmu terlihat kasar, pasti baru naik dari Langit Pertama yang kumuh itu. Di sini, aturannya beda. Siapa yang tidak tahu tempatnya... harus diajari sopan santun."

Gu Yan mengangkat tangan pelan, memberi isyarat pada pengawal terkuatnya. "Patahkan kakinya, bawa dia ke markas. Aku ingin tahu dari mana asalnya dan siapa yang berani mendukungnya

1
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Tamima II
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪 bantai....
Tamima II
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
mengejar cahaya
terimakasih saran nya nanti saya perbaiki.🙏🙏🙏
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh akan ada pembantaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!