Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.Getaran
Di dalam gedung tua yang diselimuti tanaman merambat, ruang Klub Ilmu Gaib terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Sinar matahari sore yang menembus jendela kaca besar tidak mampu menghangatkan suasana di dalam. Rias Gremory duduk di kursinya, jemarinya tertaut erat di atas meja kayu mahoni. Di hadapannya, Xenovia Quarta dan Irina Shidou berdiri tegak, namun ada sesuatu yang berbeda dari postur mereka—sebuah ketegangan yang tidak bisa disembunyikan oleh jubah putih gereja yang mereka kenakan.
Akeno Himejima baru saja meletakkan nampan berisi cangkir teh, namun matanya yang tajam langsung menangkap sisa-sisa getaran di tangan Xenovia.
"Kalian tampak seperti baru saja melihat malaikat maut di koridor sekolahku," ucap Rias, suaranya tenang namun mengandung selidik yang mendalam. "Apa yang terjadi? Bukankah kalian ke sini untuk membahas fragmen Excalibur yang hilang?"
Xenovia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Ia melirik Irina, yang hanya bisa menunduk sambil meremas salib perak di lehernya.
"Rias Gremory," Xenovia memulai, suaranya sedikit parau. "Kami baru saja berpapasan dengan 'anomali' itu. Pria berambut putih dan wanita yang bersamanya. Siapa mereka sebenarnya? Kenapa... kenapa pedang suci di punggungku meredup seolah-olah ia merasa malu berada di hadapan mereka?"
Mendengar deskripsi itu, Rias memejamkan matanya sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, merasakan denyut sakit di pelipisnya. "Saiba Ren dan Bibi Dong. Mereka adalah... variabel yang tidak bisa aku masukkan ke dalam perhitungan mana pun. Jika kalian mencari jawaban tentang siapa mereka, kalian salah alamat. Aku sendiri sedang berusaha bernapas di bawah bayang-bayang mereka."
Irina mendongak, wajahnya pucat. "Wanita itu... Bibi Dong... dia menyentuh kerah jubahku seolah-olah aku ini hanya debu jalanan. Aku tidak merasakan aura iblis, tidak juga malaikat jatuh. Tapi tekanannya... itu seperti berdiri di depan pintu gerbang penghakiman Tuhan yang sedang murka."
Akeno terhenti saat menuangkan teh. "Dia menyentuh kalian? Kalian beruntung masih bisa berdiri di sini dan berbicara. Semalam, di taman kota, mereka memojokkan seorang perwira Malaikat Jatuh seolah-olah dia hanyalah serangga yang sayapnya dipetik satu per satu."
[SISTEM: Deteksi gelombang kecemasan kolektif di dalam ruangan. Rias Gremory: 92%. Xenovia Quarta: 88%.]
[SISTEM: Analisis taktis—Pihak Gereja mulai meragukan otoritas mereka sendiri di wilayah Kuoh akibat intervensi mental Bibi Dong.]
Xenovia mengepalkan tinjunya di atas meja. "Jika apa yang kau katakan benar, maka keberadaan mereka jauh lebih berbahaya daripada pencurian Excalibur. Bagaimana kau bisa membiarkan entitas seperti itu berkeliaran di sekolahmu, Gremory? Apakah kau sudah kehilangan harga diri sebagai pewaris keluarga agung?"
Rias membuka matanya, kilatan merah darah muncul sejenak di pupilnya. "Harga diri tidak ada gunanya jika kau berhadapan dengan sesuatu yang bisa menghapus eksistensimu hanya dengan jentikan jari, Xenovia. Aku sudah mencoba menegosiasikan batasan dengan Ren. Dan sejauh ini, dia hanya ingin 'menonton'."
"Menonton apa?" tanya Irina ragu-ragu.
"Menonton bagaimana kita semua—Iblis, Malaikat Jatuh, dan Gereja—saling mencabik satu sama lain demi besi tua yang kalian sebut pedang suci itu," sahut Ren dari arah pintu yang mendadak terbuka tanpa suara.
Seluruh orang di ruangan itu tersentak. Kiba Yuuto yang berada di sudut ruangan secara otomatis menarik pedangnya, namun tangannya membeku saat melihat Bibi Dong melangkah masuk tepat di samping Ren. Sang Permaisuri tidak lagi mengenakan tas sekolahnya; ia berjalan dengan tangan yang tertaut di depan, memancarkan aura kedaulatan yang seketika menelan seluruh otoritas Rias di ruangan itu.
"Gedung ini terlalu berdebu untuk membicarakan hal-hal yang tidak masuk akal," ucap Bibi Dong sambil menyapu ruangan dengan tatapan meremehkan. "Kalian bicara tentang pedang yang patah seolah-olah itu adalah jantung dunia. Sangat menyedihkan."
Ren berjalan santai menuju meja Rias, mengabaikan pedang Kiba yang mengarah padanya. Ia mengambil cangkir teh milik Rias yang belum sempat diminum, menyesapnya sedikit, lalu mengernyit. "Masih terlalu manis. Akeno, kau harus belajar mengurangi gula jika ingin menyajikan teh untuk tamu yang benar-benar berkuasa."
Xenovia menarik Excalibur Destruction dari tasnya, namun pedang itu tidak bercahaya seperti biasanya. Logamnya tampak kusam, seolah-olah kesuciannya terhisap oleh kehadiran Bibi Dong yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
"Jangan coba-coba, Ksatria Gereja," bisik Bibi Dong, matanya berkilat ungu gelap. "Satu inci saja logam itu keluar dari sarungnya, aku akan membiarkan suamiku melihat bagaimana aku mengubah ruangan ini menjadi taman bunga yang tumbuh dari abu kalian."
Suasana membeku. Rias hanya bisa terduduk diam, menyadari bahwa ruang klubnya—benteng kekuasaannya—kini telah sepenuhnya dikuasai oleh pasangan yang tidak diundang ini.