NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Bab 29

Raffan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Siap. Katakan pada saya apa yang harus dilakukan. Aku akan memastikan mereka yang membuat Mika 'pergi' merasakan neraka di dunia sebelum mereka benar-benar mati.”

Hendra mengangguk pelan, jemarinya yang terampil mengeluarkan sebuah kunci sensor modern dengan gantungan berbentuk not balok kecil dari dalam tas kulitnya. Ia meletakkannya di samping dokumen tabungan ratusan miliar tadi.

"Saya hampir melupakan satu hal, Pak Raffan. Ini kunci apartemen Nona Mikayla. Memang bukan apartemen mewah di pusat kota, tapi lokasinya sangat privat dan aman untuk Anda tinggal sementara waktu. Selain itu..." Hendra menjeda sejenak, membalik halaman dokumen ke bagian aset bisnis. "Nona Mikayla memiliki dua toko pakaian anak-anak, butik Sweet Melody. Mengenai ini, mendiang tidak meninggalkan pesan khusus.”

Raffan menatap kunci itu dengan dahi berkerut. Dunianya selama ini adalah debu tambang, alat berat, dan manajemen kru lapangan yang keras. Membayangkan dirinya berdiri di antara gaun-gaun mungil dan pita merah muda terasa sangat tidak masuk akal.

"Untuk toko pakaian... saya benar-benar tidak berpengalaman, Pak Hendra," Raffan menghela napas panjang, suaranya terdengar sangsi. "Saya hanyalah pekerja tambang. Tangan saya kasar, saya tidak tahu cara mengelola butik anak-anak atau bicara soal mode.”

Hendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti. "Jangan merendah, Pak Raffan. Meskipun Anda bekerja di tambang, jabatan Anda di sana cukup tinggi. Anda mengelola ratusan nyawa dan logistik bernilai triliunan. Manajemen adalah manajemen, apapun komoditasnya. Namun..." Hendra menatap mata Raffan dengan tajam. "Bagaimana dengan Ilham? Apakah dia bisa dilibatkan?"

Mendengar nama adiknya yang satu lagi, tatapan Raffan sedikit melunak. Ia teringat bagaimana Ilham adalah orang pertama yang berani berteriak di depan muka ibu mereka demi membela harga diri Mikayla.

"Ilham..." Raffan terdiam sejenak, menimbang-nimbang. "Dia orang yang detail. Selama ini dia yang paling mengerti urusan administrasi dan dia punya selera yang lebih lembut daripada saya. Sepertinya dia bisa. Ilham punya hati yang tulus untuk Mika, dia tidak akan membiarkan butik itu hancur.”

Raffan mengepalkan tangannya di atas meja. Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya.

"Pak Hendra, serahkan butik Sweet Melody itu pada Ilham. Biarkan dia yang mengelola operasionalnya. Itu akan menjadi tempat persembunyian yang bagus untuknya dari tekanan Ibu dan keluarga Abimanyu," ujar Raffan tegas. "Sementara saya... saya akan menggunakan 113 miliar itu untuk menjadi 'hantu' di bursa saham dan properti. Saya akan menyerang Elang dari sisi yang dia banggakan: bisnisnya.”

"Besok pagi, temui Ilham," perintah Raffan pada Hendra. "Berikan dia kunci butiknya, tapi jangan beritahu soal nominal tabungan saya dulu. Biarkan dia fokus membangun kembali warisan Mika. Saya ingin melihat siapa saja yang masih berani mendekati Ilham saat mereka mengira kita sudah jatuh miskin."

Hendra mengangguk patuh. "Sangat bijaksana, Pak Raffan. Saya akan segera mengatur pertemuan dengan Pak Ilham di apartemen tersebut.”

Malam itu, di kamar hotelnya, Raffan tidak lagi memandangi foto Mikayla dengan tangisan. Ia menatapnya dengan janji. Janji bahwa butik Sweet Melody akan menjadi saksi bisu kebangkitan mereka, sementara Elang Abimanyu akan segera merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, bahkan oksigen untuk bernapas di dunia bisnis Jakarta.

Di Berlin, Michelle yang sedang menjalani terapi pemulihan sel saraf di sebuah klinik eksklusif, tersenyum tipis saat menerima notifikasi dari Hendra bahwa misi telah dijalankan.

Pesan dari Hendra: "Paket telah diterima. Kakak Anda setuju untuk melawan. Perang dimulai."

"Gunakan uang itu dengan bijak, Kak," bisik Michelle sambil menatap salju yang mulai turun di luar jendela. "Jadilah monster yang akan melahap mereka semua, selagi aku menyiapkan kejutan yang lebih besar dari sini.”

______

Suasana koridor apartemen yang sunyi itu terasa mencekam bagi Raffan. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menempelkan kartu akses yang diberikan Pak Hendra pada panel pintu. Bunyi bip pendek diikuti suara kunci yang terbuka terasa seperti lonceng pembuka kotak pandora masa lalu.

Ceklekkk...

Raffan melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang mungil namun tertata sangat apik. Aroma vanila dan kayu cendana, aroma khas Mikayla langsung menyambut indra penciumannya, membuatnya sesak napas seketika. Apartemen ini memang tidak seluas rumah utama Abimanyu, tapi di sini, Raffan bisa merasakan napas kehidupan adiknya yang sesungguhnya. Tanpa kepalsuan, tanpa tekanan.

Ia berjalan menuju kamar utama yang pintunya sedikit terbuka. Di sana, Raffan tertegun.

Kamar itu sangat rapi, seolah Mikayla baru saja pergi sebentar untuk membeli kopi dan akan segera kembali. Di atas meja kerja kayu yang minimalis, tumpukan buku-buku manajemen perbankan dan novel-novel favorit adiknya tersusun rapi menurut gradasi warna. Lemari pakaian yang setengah terbuka memperlihatkan deretan blazer kerja dan gaun-gaun sederhana yang selalu Mikayla banggakan karena ia beli dari hasil keringatnya sendiri.

Raffan berlutut di samping tempat tidur, tangannya mengusap sprei berwarna abu-abu muda yang halus. Pertahanannya runtuh total. Isak tangis yang sejak kemarin ia tahan di depan Pak Hendra, kini pecah di ruangan sunyi itu.

"Seharusnya Kakak pulang lebih awal, Mika..." ratapnya, suaranya teredam oleh bantal yang masih menyimpan aroma rambut adiknya. "Kakak terlalu sibuk mengejar tanah dan emas di Sulawesi, sampai lupa kalau kamu sedang berjuang sendirian melawan monster-monster itu.”

Ia melihat sebuah kalender kecil di atas meja. Ada sebuah lingkaran merah di tanggal yang tinggal menghitung hari.

"Sebentar lagi hari ulang tahunmu," bisik Raffan parau. "Kamu bilang tahun ini kita harus makan malam berdua saja, tanpa Ibu, tanpa Naura, tanpa Elang. Kakak sudah siapkan kado yang paling bagus untukmu... tapi kenapa sekarang Kakak malah merayakan ulang tahunmu di depan gundukan tanah?”

"Mika, Kakak berjanji," Raffan bicara pada kehampaan kamar itu. "Ulang tahunmu tahun ini akan menjadi hari kematian bagi reputasi keluarga Abimanyu. Aku tidak akan membiarkan setetes pun air matamu sia-sia."

Raffan segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ilham.

"Ham, ke apartemen Mika sekarang. Jangan tanya kenapa. Kita punya banyak pekerjaan. Dan bawa kunci butik itu... kita akan buat Sweet Melody menjadi pusat badai yang akan menghancurkan Naura dan Ibu.”

Di Berlin, Michelle yang sedang memantau GPS dari apartemennya melalui sistem keamanan rahasia yang dipasang Ethan, memejamkan mata sesaat. Ia mendengar isakan kakaknya melalui penyadap suara yang tertanam di sana.

"Maafkan aku, Kak Raffan," batin Michelle. "Aku harus membiarkanmu terluka sedikit lagi, agar kemarahanmu bisa menjadi api yang membakar mereka sampai ke akar. Setelah semuanya abu, aku akan datang menjemputmu.”

Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang masih membara oleh skandal keluarga Abimanyu, Michelle Aviel Leon memulai babak baru di jantung Eropa. Di Berlin, ia tidak lagi menjadi wanita yang harus menunduk di hadapan keluarga suami atau menelan penderitaan dalam diam.

Ia telah berubah lebih tajam dan lebih dingin. Dan jauh lebih berkuasa, Identitas lamanya perlahan ia tinggalkan, digantikan oleh sosok yang dibangun dari luka, pengkhianatan, dan keputusan yang tidak pernah setengah hati.

Michelle tidak memberi dirinya waktu untuk berlarut dalam masa lalu. Begitu tiba di Berlin, ia langsung melangkah ke fase berikutnya memperkuat apa yang selama ini menjadi senjatanya, kecerdasan.

Ia mendaftarkan diri di salah satu sekolah bisnis paling bergengsi, mengambil program Master of Science in Global Finance & Strategic Management jalur yang dulu sempat dirampas darinya.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!