NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IRIK

Sudah tiba saatnya istirahat. Suasana kelas yang tadinya tegang oleh diskusi kelompok kini mulai mencair.

Aqeela merenggangkan kedua tangannya ke atas..

"AKHIRNYAAA! Istirahat juga!" serunya dengan suara penuh penghayatan, seperti orang yang baru saja selesai ujian paling berat seumur hidup. Ia menoleh ke samping, matanya berbinar. "Cha, ke kantin yuk! Laper nih, perutku udah keroncongan kayak orkestra!"

"Ayokk!" sahut Wulandari sambil berdiri. Tangannya sudah meraih botol minum besar yang setia menemani ke mana pun ia pergi. "Aku mau beli es teh manis."

Meysa ikut tersenyum, tapi senyumnya terasa berat. Perutnya sakit. Bukan sakit biasa, tapi sakit seperti diremas-remas dari dalam. Kepalanya juga pusing, dan penglihatannya sedikit buram di ujung-ujung. Ia berusaha terlihat baik-baik saja, seperti yang selalu ia lakukan.

"Kalian duluan aja," ucap Meysa pelan. "Aku masih ada sedikit lagi tugasnya."

Aqeela mengernyit. "Yakin?"

Meysa mengangguk.

Wulandari menatap Meysa lebih lama. "Ya udah, jangan kelamaan. Kita tunggu di kantin."

Pintu kelas tertutup. Langkah kaki Aqeela dan Wulandari perlahan menjauh, tertutup oleh gemuruh suara mahasiswa lain di koridor.

Kelas 302 kini sunyi.

Hanya Meysa yang masih duduk di kursinya, kepala tertunduk, tangan kiri memegang perut, tangan kanan memegang pulpen yang tidak pernah bergerak. Tidak ada tugas yang ia kerjakan. Tidak ada catatan yang ia tulis. Yang ada hanya rasa sakit yang merambat dari perut ke punggung, dari punggung ke kepala.

Dan Rangga.

Ia masih di sana, merapikan bukunya

Sunyi.

Hanya suara jentikan pulpen Rangga yang memecah keheningan.

"Kenapa masih di sini?" tanya Rangga dengan nada ketus."Sengaja ya kamu biar semua orang tahu hubungan kita?" lanjut Rangga, matanya menatap Meysa dengan sorot yang tidak suka.

"Mas, perut aku sakit,"

Rangga terdiam sejenak. Matanya menyapu wajah Meysa yang pucat, bibirnya yang kering, keringat dingin di pelipisnya.

Tapi ia membuang muka.

"Lain kali kalau pagi-pagi itu sarapan. Bukannya sibuk bersih-bersih rumah," ucapnya ketus. Ia mendorong kursinya ke belakang, bunyi besi menggesek lantai terdengar kasar. Lalu ia berdiri, mengambil bukunya, dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh.

Meysa tidak melihatnya pergi. Matanya sudah terpejam, kepalanya bersandar di punggung kursi.

"Bertahanlah, sayang," bisiknya pada perutnya. Tangan kanannya meraba saku jaket, kosong. Vitamin yang harus ia minum sejak pagi masih tertinggal di meja apartemen. Ia selalu lupa akhir-akhir ini.

Meysa mencoba berdiri.

Kakinya terasa seperti kapas. Pandangannya buram, berputar, lantai seolah bergelombang.

Sempoyangan.

Di depan pintu kelas, Renal baru saja kembali. Ia hendak mengambil jaket yang tertinggal di bangku belakang.

"Cha! Lo kenapa?" tanya Renal, suaranya setengah panik. Ia menatap wajah Meysa yang pucat, matanya terpejam. Napasnya lemah.

Tidak ada respon.

"Meysa! Meysa!" Renal menggoyang bahunya pelan, tapi gadis itu tetap diam. Tidak sadarkan diri.

"ASTAGA!" Renal panik. Tanpa berpikir panjang, Renal membopong tubuh Meysa yang mungil.

Saat keluar Beberapa mahasiswa menoleh. Ada yang bertanya, ada yang hanya memandang bingung. Renal tidak peduli. Ia terus berjalan menuju UKS, dadanya naik turun, keringat dingin mulai terbentuk di dahinya.

Rangga yang sedang berjalan bersama Januar, Abimanyu, dan Dimas. Mereka sedang tertawa karena Januar bercerita sesuatu yang lucu.

Tapi tawa Rangga berhenti ketika matanya menangkap sosok Renal yang berjalan tergesa-gesa.

Rangga berhenti sejenak..

"Wohh, Renal bawa siapa tuh?" tanya Abimanyu sambil menunjuk ke arah Renal..

Dimas mengernyit, matanya menyipit mencoba fokus. "Kayaknya cewek, tapi rambutnya nutupin muka. Siapa, ya?"

Januar mengangkat bahu. "Mungkin adik kelas yang pingsan. Biasalah, anak organisasi yang kelelahan."

Rangga tidak ikut berspekulasi. Ia membuang muka, berpura-pura tidak peduli. Tapi langkah kakinya melambat tanpa ia sadari, dan matanya tetap mengikuti sosok Renal sampai benar-benar menghilang di balik pintu UKS.

Di ruang UKS, Renal meletakkan Meysa di atas dipan putih dengan hati-hati, seolah tubuh gadis itu terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja. Kepala Meysa masih terkulai, napasnya lemah, dan kulitnya terasa dingin saat tangan Renal tanpa sengaja menyentuh pergelangan tangannya.

"Sebentar, Kak, saya panggilkan dokter," ucap perawat UKS yang kebetulan sedang merapikan lemari obat.

Renal duduk di kursi plastik di samping dipan. Matanya tidak lepas dari wajah Meysa yang pucat. Dalam hati ia bertanya-tanya, "apa yang sebenarnya terjadi pada gadis ini? Kenapa ia terlihat sekurus itu? Kenapa wajahnya pucat sekali? Kenapa ia selalu terlihat lelah?"

Pintu UKS terbuka. Seorang dokter dengan kacamata dan jas putih masuk, diikuti perawat tadi yang membawa tensimeter.

Dokter itu mendekat, memeriksa denyut nadi Meysa, memeriksa tekanan darah, lalu membuka kelopak matanya sebentar. Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu menatap Renal.

"Kamu pacarnya?" tanya dokter,

Renal terkejut. Kepalanya langsung menggeleng "Bukan, Dok. Kami berdua saudara. Saya cuma kebetulan melihat dia pingsan, jadi saya bawa ke sini."

Dokter itu mengangguk pelan, lalu melanjutkan pemeriksaan. Tangannya menekan pelan perut Meysa di beberapa titik, lalu berhenti di satu tempat. Matanya menyipit.

"Sudah berapa bulan?" tanya dokter tiba-tiba.

Renal bingung. "Berapa bulan apanya, Dok?"

Dokter menatap Renal. "Kehamilannya. Sudah berapa bulan? Dari pemeriksaan cepat, perutnya sudah mulai terlihat membuncit meskipun masih kecil."

Dunia Renal seakan berhenti berputar, ia tercengang mendengar ucapan Dokter."Hamil?"

Dokter mengernyit. "Kamu saudaranya, kan? Kenapa kamu tidak tahu, dia sedang hamil?"

Renal cepat-cepat menenangkan diri. "I-iya, Dok. Tapi saya jarang pulang ke rumah, jadi saya gak tahu, kalau anak ini hami." Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya

Dokter itu menghela napas. "Iya. Dari tanda-tanda fisiknya sudah terlihat, kondisi ibunya kurang sehat. Kurang gizi, dan tekanan darahnya rendah, sepertinya kurang istirahat. Kalau tidak segera ditangani, bisa membahayakan ibu dan janinnya."

Renal hanya bisa mengangguk, pikirannya kacau balau.

Dokter itu menulis resep, memberikannya pada perawat. "Beri vitamin dan infus cairan dulu. Setelah sadar, suruh dia kontrol ke dokter kandungan." Ia menatap Renal. "Kamu sebagai saudara harus lebih perhatian."

"Siap, Dok," ucap Renal dengan gugup.

Setelah dokter dan perawat keluar, Renal duduk di kursi

"Astaga..." Desis pria itu.

Tak lama kemudian, Meysa mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Matanya berkedip-kedip, jari-jarinya bergerak pelan, lalu ia mencoba membuka mata. Langit-langit putih ruang UKS adalah hal pertama yang ia lihat.

Di sampingnya, Renal segera beranjak. Ia mengambil gelas plastik berisi teh manis hangat yang sudah disiapkan perawat tadi.

"Cha, minum dulu," ucap Renal sambil menyodorkan gela.

Meysa menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia minum sedikit, lalu menatap Renal dengan mata masih sayu. "Terima kasih, Mas Renal."

"Jangan bilang terima kasih," potong Renal cepat. Ia menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Meysa, menatap gadis itu dengan tatapan tajam.

"Meysa, gue mau tanya sesuatu, dan lo harus jujur."

Meysa terdiam.

"Lo hamil?" tanya Renal. Suaranya pelan, tapi setiap kata terdengar jelas.

Meysa menunduk. Tangannya yang masih memegang gelas teh mulai gemetar. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Lalu, pelan-pelan, ia mengangguk.

Renal mengusap wajahnya dengan kasar, dari dahi ke dagu, seperti berusaha menghapus kenyataan yang baru saja ia dengar. Ia menghela napas panjangm

"Kenapa lo masih kuliah? Apa Rangga—"

Belum selesai kalimatnya, Meysa sudah memotongnya."Rangga belum tahu."

"BELUM TAHU? HAH, GIMANA CERITANYA ECHA?" bentak Renal, membuat gadis didepannya tersentak..

1
Emi Sudiarni
kok sedikit bangat up ny
partini
lah Ternyata ada yg tidak suka sama mereka berdua,,jangan menyerah be strong maysa kalau kamu pergi tanda nya kamu kalah sama tuh curut
Humaira
Ya ampun Thor sedikit banget bacanya
Emi Sudiarni
makanya jdi suami jgn jhat..
partini
jahat banget sih di tendang,biar tuh sia Rangga hidup dalam penyesalan
MochiFlora: Terkutuklah kamu Rangga 🤣
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjutkan seru bngat
MochiFlora: Terima kasih kaka 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Bagus pak Soerya buat anakmu menyesal
Humaira
Lagi lagi dibikin keguguran
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Ranita Rani
mumet q liat cwe kya gini,,,,
Ranita Rani
karakter meysa terlalu lemah,,,
partini
WTF gila kamu. ga
Emi Sudiarni
emang kelewatan rangga ini
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
MochiFlora: Terima kasih sudah mampir kakak 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Sumpah gereget banget sama si Meysa
partini
giman mau di kasih tau orang nya aja najis lihat dia
Emi Sudiarni
lanjut kak seru ceritany
Emi Sudiarni
hadir kan kak author cwok yg naksir meysa biar rangga cmburu
Humaira
APASIH NGESELIN BANGET SI ULAT BULU EMILY 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!