NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Aku menyakitinya dua kali"

Namun, harapan itu tidak pernah datang.

Nayla tetap diam. Benar-benar mengabaikannya.

Arkan menutup pintu pelan.

Lalu, tanpa menoleh lagi, ia berlari menuju kamarnya.

Ia langsung melompat ke atas kasur, lalu bersembunyi di balik selimut. Kepalanya ditutup dengan bantal, menahan tangis yang akhirnya pecah juga.

Ia menangis tersedu-sedu.

Dalam isaknya, Arkan mencoba mengingat—apa ia telah melakukan kesalahan?

Apakah karena ia terlalu sering menempel pada Nayla?

Tangisnya pecah di balik bantal. Suaranya teredam, namun rasa sakit di hatinya terasa begitu nyata.

Hati Nayla mulai gelisah. Tanpa sadar, air matanya jatuh perlahan.

Ia teringat tangis Arkan yang tertahan. Rasa sakit itu ikut menjalar di dadanya, meski ia tahu—ia hanya ingin memberi batasan.

Namun, setelah pintu tertutup pelan tadi, hatinya justru semakin tak tenang. Seolah Arkan benar-benar berusaha tidak mengganggunya.

Logikanya terus berusaha membenarkan—ia harus menjaga jarak. Terlebih, keberadaan ayah Arkan membuatnya tidak nyaman.

Tapi kemudian…

Suara isak tangis kecil itu kembali terdengar.

Nayla langsung bangkit. Gerakannya terburu-buru, hampir saja membuatnya terjatuh.

Ia membuka pintu kamar Arkan dengan pelan.

Dan seketika, hatinya mencelos.

Bodoh… aku malah menyakitinya dua kali…

Air matanya kembali mengalir. Ia cepat-cepat mengusapnya, menahan tangis sekuat mungkin.

“Arkan…”

Suaranya melembut saat tangannya menyentuh tubuh kecil yang meringkuk di balik selimut—yang sejak tadi bergetar pelan.

Arkan terdiam.

Ia merasakan sentuhan lembut di punggungnya.

Dalam diam, ia berharap… itu Nayla.

Perlahan, ia mengintip dari balik selimut.

Dan saat melihatnya, hatinya menghangat—meski rasa takut itu masih tersisa.

“Kakak…” ucapnya pelan, hampir berbisik.

Nayla menahan tangisnya semakin kuat.

Penyesalan memenuhi dadanya. Ia membenci dirinya sendiri karena telah membuat Arkan menangis.

“Sini… peluk,” ucapnya lirih, suaranya sedikit bergetar.

Tanpa ragu, Arkan langsung memeluknya erat.

Tangisnya pecah, meski ia masih berusaha menahannya.

Hati Nayla terasa perih.

Anak sekecil ini… yang kekurangan kasih sayang, bahkan harus menahan tangisnya sendiri.

Nayla memeluknya semakin erat.

“Nangis saja… jangan ditahan,” bisiknya penuh rasa bersalah.

Isak tangis kecil terdengar di antara pelukan itu.

Nayla ikut menangis.

“Kakak… maaf…” ucap Arkan tersedu.

“Arkan janji nggak bakal nakal lagi…”

Hati Nayla terasa semakin perih.

“Kakak yang seharusnya minta maaf, sayang,” ucapnya lirih.

Ia menangkup kedua pipi Arkan, menatapnya dalam.

“Kamu nggak salah, oke…”

“Kakak yang salah. Harusnya Kakak nggak marah sama kamu.”

Suaranya penuh penyesalan.

“Maafin Kakak ya, Arkan…”

Ia kembali menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan.

“Kamu sama sekali nggak salah.”

“Tadi itu… Kakak bukan marah sama Arkan. Kakak lagi marah sama seseorang… maaf ya,” ucap Nayla lembut.

Tangis Arkan perlahan mereda setelah mendengar itu.

Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap Nayla yang masih meneteskan air mata. Dengan tangan kecilnya, ia menghapusnya pelan.

“Siapa yang bikin Kakak marah? Sini, aku pukul,” ucapnya penuh keyakinan.

“Aku benci orang itu.”

“Kakak kasih tahu aku siapa orangnya… nanti aku bilangin ke Papah.”

Nayla seketika tertawa kecil.

“Kamu mau tahu siapa yang bikin Kakak marah, hm…?” tanyanya lembut, sambil mencium hidung Arkan yang masih memerah karena menangis.

Arkan mengangguk tegas. Matanya masih berkilat, seolah menyimpan sisa amarah kecilnya.

Nayla terkekeh pelan.

“Ada deh…” ucapnya sambil tersenyum.

“Ya udah, kalau Kakak nggak mau kasih tahu…”

Arkan beranjak turun dari kasur.

“Mau ke mana?” tanya Nayla cepat.

“Aku mau bilang ke Papah,” ucapnya tegas sambil melangkah pergi.

“Eh, Arkan—” panggil Nayla panik.

Arkan menoleh.

“Sini…” titah Nayla.

“Kalau Kakak nggak mau kasih tahu, aku tanya ke Papah saja. Pasti Papah tahu.”

“E-eh, tunggu!”

Nayla langsung menarik tangan Arkan dan mendudukkannya kembali di atas kasur.

“Kamu benar-benar mau tahu?” tanyanya memastikan.

Arkan mengangguk tegas.

Nayla menghela napas.

“Tapi kamu janji… nggak boleh cari ribut. Oke?”

Arkan langsung menggeleng.

“Nggak, aku mau pukul orangnya,” ucapnya polos tapi serius.

Nayla memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang.

“Kalau gitu, Kakak pergi saja ya…” ancamnya.

Arkan seketika cemberut.

“Iya… aku nggak bakal cari ribut,” ucapnya pelan, terpaksa.

Nayla akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Arkan menatapnya lekat—

menunggu.

“Yang bikin Kakak marah itu…”

Nayla terdiam sejenak, menatap mata Arkan, seolah ingin membaca reaksinya.

“…Papahmu.”

Arkan membeku.

Nayla melihatnya menelan ludah, lalu terkekeh pelan—meski ada kegelisahan yang terselip di dalamnya.

“Gimana?” tanyanya hati-hati.

“Nggak…” jawab Arkan pelan.

Ia langsung berbaring dan memeluk Nayla erat.

Meski ada rasa takut yang menyelinap di hatinya, ada juga amarah kecil yang mulai tumbuh.

Ia kesal…

Keheningan menyelimuti mereka cukup lama, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga akhirnya, Nayla membuka suara.

“Arkan tadi ke kamar Kakak mau ngapain?” tanyanya lembut, menatap wajah Arkan yang masih sembab.

“Arkan…” ia memulai, suaranya sedikit ragu.

“Tadi Papah pulang bawa banyak mainan. Arkan mau kasih lihat ke Kakak. Emm… terus Papah bilang kita mau makan malam sama Kakak juga, ” ucapnya pelan, sedikit terbata.

Arkan kembali memanggil, lebih lirih,

“Kakak…”

“Hm, kenapa?”

Arkan terdiam sejenak, tampak bimbang.

“Kakak marah… karena nggak mau makan malam sama Arkan, ya?” tanyanya sendu.

Nayla terdiam, menatap Arkan lekat.

Arkan beberapa kali mengalihkan pandangannya, seolah menghindar. Ada ketakutan yang samar di matanya—dan kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan.

Nayla tersenyum tipis.

“Enggak kok, Kakak cuma nggak suka bajunya,” ucapnya lembut, sembari mengelus pipi bulat Arkan.

Arkan menatapnya sebentar, lalu kembali menunduk.

“Kenapa?” tanya Nayla pelan, mulai merasa ada yang janggal.

“Kakak nggak suka bajunya, ya…” ulang Arkan lirih.

Nayla terdiam.

Ada sesuatu yang terasa tidak beres.

Wajah Arkan terlihat jauh lebih sedih dari sebelumnya—bukan sekadar soal baju.

“Itu… baju pilihan Arkan. Arkan pengen lihat Kakak pakai baju itu,” ucapnya lirih, berusaha menahan tangis.

“Arkan kan nggak punya Mama… Arkan pengen punya foto bagus sama Kakak sama Papah…”

Nayla menggigit bibirnya, pikirannya berputar cepat.

“Kalau Kakak nggak suka… nggak apa-apa,” lanjut Arkan, suaranya mulai bergetar. Isaknya pun perlahan terdengar.

Tanpa berpikir panjang, Nayla langsung menarik Arkan ke dalam pelukannya.

“Nanti Kakak pakai bajunya, ya… Kakak suka kok. Apalagi kalau Arkan yang pilih, Kakak suka banget,” ucapnya lembut.

Arkan seketika bersorak senang.

“Yey! Arkan punya foto ulang tahun lengkap!” serunya riang, lalu mencium pipi Nayla.

Nayla sedikit tertegun.

“Ulang tahun?” tanyanya memastikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!