NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Fantasi Timur / Ruang Ajaib
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!!

oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menaklukkan Lin yan? kasih aja makanan

Pukul 10.00 pagi. Langit cerah, matahari bersinar hangat. Tapi di dalam kastil megah kaki Gunung Qingcheng, suasana tidak cerah.

Lin Yan masih berguling-guling di ranjangnya.

Sudah satu jam ia berguling. Dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri, lalu melingkar seperti kucing malas. Rambut pendeknya sudah seperti sarang burung, bantal sudah penyok, selimut sudah lepas.

【Ini sudah satu jam. Apa yang kau lakukan?】

"Berguling."

【Aku lihat. Tapi kenapa?】

"Bosan."

【Bosan guling? Atau bosan hidup?】

"Keduanya."

Lin Yan berhenti berguling. Ia menatap langit-langit dengan mata kosong. "Sistem, aku ingin memotong sesuatu."

【...JANGAN.】

"Tapi aku bosan. Zombie level 3 yang kemarin rasanya... kurang. Mereka mati terlalu cepat."

【Karena kau terlalu kuat. Itu masalahmu.】

"Bukan masalahku. Masalah mereka." Lin Yan duduk, rambutnya berdiri ke segala arah. "Aku butuh hiburan. Misi yang lebih seru. Atau zombie yang lebih kuat. Atau..."

【Atau kau bisa makan. Perutmu keroncongan.】

Lin Yan menunduk, memegang perutnya. Benar. Ia belum sarapan. "Feng'er masak apa pagi ini?"

【Dia masak bubur ayam. Tadi sempat naik manggil, tapi kau pura-pura tidur.】

"Bukan pura-pura. Aku benar-benar tidur."

【Tapi kau berguling-guling.】

"Tidur guling."

【...Aku menyerah.】

Lin Yan akhirnya bangkit, berjalan ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian, ia turun dengan penampilan santai: kaos oblong hitam, celana olahraga biru tua, rambut pendek dibiarkan berantakan. Tidak ada jaket, tidak ada tudung, tidak ada pedang. Hanya permen lolipop rasa anggur di mulut.

Di ruang makan, Lin Feng sedang membereskan meja. "Jie, sudah bangun? Buburnya masih hangat."

Lin Yan duduk, mengambil sendok. Satu suapan, dua suapan, tiga suapan. Enak, seperti biasa. Tapi ada yang kurang.

"Feng'er, kau masak bubur setiap hari. Tidak bosan?"

Lin Feng mengangkat bahu. "Tidak ada pilihan. Di sini cuma kita berdua yang bisa masak, lagipula aku waktu tinggal sendiri tidak terlalu banyak belajar memasak jadi banyak yang belum pernah ku coba buat. Lagipula yang lain sibuk kerja."

Lin Yan mengerutkan kening. Ia menatap adiknya yang tampan yang mulai lelah, tangan yang kapalan, kantung mata yang tipis. Lin Feng melakukan semuanya: memasak, membersihkan, mengurus tamu, membantu di laboratorium. Tanpa mengeluh. Tapi pasti capek.

【Sadar, kan? Adikmu kelelahan.】

"Aku tahu."

【Makanya, lain kali kalau ketemu orang yang bisa masak, bawa pulang.】

"Kayak gampang aja."

【Percayalah. Kalau kau lihat, kau tahu.】

Lin Yan menghela napas, kembali menyuap bubur. Tapi pikirannya sudah ke mana-mana.

Setelah sarapan, Lin Yan duduk di balkon, menghadap hutan. Permen lolipop di mulut, angin pagi membelai rambutnya. Di bawah, Li Mei sedang berlatih memukul pohon besar dengan tinju, membuat pohon itu bergoyang. Kekuatan fisik level 2-nya mulai stabil, tapi masih belum bisa membunuh zombie level 3 dengan satu pukulan.

【Dia butuh latihan lebih keras.】

"Biarkan. Itu urusannya bukan urusan ku."

【Dan kau? Tidak mau latihan?】

"Tidak. Aku mau bermain."

【Maksudmu membunuh zombie?】

"Membunuh, memotong, mencabik, bermain." Lin Yan berdiri, meregangkan tubuh. "Aku pergi ke kota timur. Kabarnya di sana banyak zombie level 3."

【Jangan terlalu brutal. Nanti ada yang lihat.】

"Siapa yang mau lihat? Di kota timur tidak ada orang."

Lin Yan memejamkan mata. Sekejap, tubuhnya lenyap dari balkon.

Ia muncul di atap gedung pertokoan di kota timur. Dari ketinggian, ia melihat pemandangan yang familiar: jalanan hancur, mobil terbengkalai, mayat bergelimpangan, dan di mana-mana, zombie berkeliaran. Tapi hari ini, ia tidak ingin pakai es.

Ia ingin bermain dengan tangan kosong.

Lin Yan melompat turun, mendarat di tengah jalan. Dua zombie level 3 langsung mendekat, mata merah menyala, gerakan cepat. Lin Yan tidak bergerak. Ia menunggu hingga zombie pertama hampir menyentuhnya, lalu tangannya mencengkeram leher zombie itu.

KRAK!

Leher zombie patah, tapi tidak mati. Lin Yan melemparnya ke dinding, lalu membalikkan badan, menendang zombie kedua hingga terbang. Ia berjalan ke zombie pertama, mengangkat kakinya, dan menginjak kepala zombie itu hingga hancur.

"Satu."

Zombie kedua bangkit, masih goyah. Lin Yan mencengkeram lengannya, menarik hingga terlepas dari sendi. Darah hitam menyembur. Zombie itu menjerit bukan erangan biasa, tapi jeritan sakit. Lin Yan tersenyum.

"Kalian bisa merasa sakit? Bagus."

Ia mengambil lengan itu, memukulkan ke kepala zombie sampai hancur. Darah dan otak berhamburan.

【...Kau sadar kau psikopat?】

"Iya. tapi menyenangkan"

Dengan semangat baru, Lin Yan mulai membersihkan kota timur. Satu per satu zombie tumbang bukan dengan es, tapi dengan tangan kosong. Ia mencabik, mematahkan, merobek, membanting. Darah hitam membasahi kaosnya, wajahnya, rambutnya. Di tengah jalan, ia berdiri di atas tumpukan mayat, tertawa kecil.

"Sistem, ini baru namanya hiburan!"

【...Aku tidak akan komentar apapun.】

Setelah satu jam, Lin Yan mulai bosan lagi. Ia berjalan tanpa tujuan, melewati toko-toko tutup, gang-gang sempit. Di sebuah gang belakang, ia melihat pintu toko kelontong yang terkunci dari dalam. Ada suara.

Lin Yan mendekat, menempelkan telinga. Suara panci, suara kompor, dan... suara memasak? Ia menendang pintu. BRAK!

Di dalam, seorang wanita paruh baya menjerit, memegang wajan sebagai senjata. Tubuhnya sedang tidak kurus tidak gendut, rambut diikat sederhana, pakaian kotor tapi rapi. Wajahnya pucat ketakutan.

"J-Jangan bunuh aku! Aku cuma ibu rumah tangga biasa! Aku tidak punya apa-apa!"

Lin Yan mengamati. Di belakang wanita itu, ada kompor portable, wajan berisi nasi goreng setengah matang, dan beberapa bahan sederhana seperti telur, kecap, bawang, cabe. Aroma sedap tercium.

"Kau sedangemasak?"

Wanita itu mengangguk cepat. "I-Iya. Stok makanan habis, ini sisa-sisa terakhir. Aku cuma mau makan sebelum... sebelum..." Ia tidak bisa melanjutkan.

Lin Yan mendekat. Wanita itu mundur, tapi Lin Yan mengambil wajan dari tangannya, lalu duduk di kursi toko.

"Masak aja. Aku lapar."

Wanita itu bingung. "T-Tapi..."

"Masak. Jangan ulangi lagi."

Dengan tangan gemetar, wanita itu menyelesaikan nasi gorengnya. Ia menyajikan di piring plastik, dengan acar timun dan kerupuk sisa. Lin Yan mengambil sendok, memasukkan ke mulut.

Matanya membelalak.

Rasanya... enak. Bukan enak biasa tapi enak yang membuat jiwa terasa tenang. Gurih, pedas, manis, semua seimbang. Nasi goreng kampung yang sederhana tapi terasa seperti makanan bintang 5. Ada sesuatu yang hangat di setiap suapan, seperti masakan rumahan yang hilang.

Lin Yan menghabiskan satu piring dalam hitungan menit. "Tambah."

Wanita itu terkejut, tapi segera mengambil wajan lagi. Piring kedua, ketiga dan Lin Yan makan seperti orang kelaparan. Setelah piring ketiga, ia berhenti, menghela napas puas.

"Siapa namamu?"

"B-Bibi Li. Nama lengkapku Li Sulan."

"Bibi Li, dari sekarang kau ikut aku."

Bibi Li terkejut. "M-Maksudnya?"

"Aku punya tempat aman. Di sana banyak orang. Kau bisa masak untuk mereka." Lin Yan berdiri, membuang bungkus permen. "Aku butuh orang yang bisa masak enak. Adikku kasihan kalau masak terus."

Bibi Li hampir menangis. "A-apa aku bisa? Aku tidak punya kekuatan apa-apa. Aku cuma ibu rumah tangga biasa..."

"Tidak perlu kekuatan. Cuma perlu masak." Lin Yan sudah berjalan ke pintu. "Bawa bahan-bahan yang ada. Kita pergi."

Di perjalanan pulang, Lin Yan mengeluarkan mobil militer hitam dari ruang dimensi. Bibi Li terbelalak, tapi tidak berani bertanya. Di dalam mobil, ia bertanya pelan, "Tuan... umur berapa?"

"18."

"Astaga... masih muda. Aku punya anak seumuran."

Lin Yan tidak menjawab. Setelah hening, ia bertanya, "Anakmu?"

Bibi Li menunduk. "Hilang. Saat kiamat pertama. Aku tidak tahu dia di mana."

Lin Yan diam. Lalu berkata, "Maaf."

Bibi Li mengusap air mata. "Tidak apa-apa. Aku sudah pasrah. Yang penting sekarang aku selamat. Terima kasih, Tuan."

Sesampai di kastil, Lin Yan turun, membuka pintu untuk Bibi Li. Lin Feng yang sedang menyapu teras melihat, langsung menghela napas panjang.

"Jie, bawa orang lagi?"

"Iya. Namanya Bibi Li. Jago masak."

Lin Feng mengangkat alis. "Jago masak?"

"Kau coba nanti." Lin Yan sudah berjalan masuk. "Kasih dia kamar di lantai dua kastil. Soalnya dia wanita sendiri, jangan di apartemen dulu."

Lin Feng menghela napas, lalu tersenyum ramah pada Bibi Li. "Selamat datang. Jangan kaget, kakakku memang seperti itu."

Li Mei yang sedang berlatih di halaman melihat, lalu mendekat. "Ada orang baru?" Ia mengamati Bibi Li wanita paruh baya, sederhana, tidak ada kekuatan yang terdeteksi.

"Ini Bibi Li. Jago masak," kata Lin Feng.

Mata Li Mei berbinar. "Jago masak?!" Ia hampir melompat. "Akhirnya! Aku sudah bosan makan bubur terus!"

Bibi Li tersenyum canggung. "A-aku coba semampu aku."

Dari dalam kastil, suara Lin Yan terdengar. "Bibi Li, besok kau masak sesuatu yang enak. Aku lapar"

"Baik, Tuan!"

Malam harinya, Bibi Li memasak di dapur kastil. Lin Feng membantu memotong sayur, Li Mei ikut mengupas bawang (dengan kekuatan super, ia menghancurkan beberapa bawang membuat Bibi Li tertawa). Menu sederhana: sayur asem, ayam goreng, tempe orek, sambal terasi, dan lalapan.

Aroma sedap menyebar ke seluruh kastil. Para penghuni apartemen yang lewat ikut penasaran. Profesor Chen, Profesor Lin, Xiao Li, Xiao Wang, Xiao Yue, Xiao Ning, bahkan Li Weiguo dan Xiao Qiang, semua datang.

Makan malam bersama di ruang makan besar. Untuk pertama kalinya, meja makan yang panjang itu hampir penuh. Lin Yan di ujung, Bibi Li di sampingnya (karena dia yang masak), Lin Feng di sisi lain, dan sisanya duduk di mana saja.

"Ini enak banget!" seru Li Mei setelah menyantap ayam goreng. "Bibi Li, kau bisa masak kayak di restoran!"

Bibi Li tersenyum malu. "Ah, biasa saja. Masakan rumahan."

"Ini lebih dari biasa," kata Profesor Chen sambil menyantap sayur asem. "Rasanya... hangat. Seperti masakan istri saya dulu." Ia menunduk sebentar, mungkin mengenang.

Lin Yan tidak banyak bicara. Ia makan dengan lahap, matanya berbinar. Setelah kenyang, ia meletakkan sendok dan menatap Bibi Li.

"Bibi Li."

"Iya, Tuan?"

"Kau tinggal di sini. Masak untuk semua orang. Kamar di lantai dua kastil, dekat Li Mei. Kalau butuh sesuatu, bilang adikku."

"Terima kasih, Tuan. Aku tidak akan mengecewakan."

Lin Yan mengangguk, lalu berdiri. Sebelum naik ke lantai tiga, ia berhenti sebentar.

"Oh iya. Masakannya enak."

Itu saja. Lalu ia pergi.

Tapi bagi Bibi Li, pujian singkat itu terasa seperti penghargaan tertinggi. Ia tersenyum, matanya berkaca-kaca.

Li Mei merangkul bahunya. "Selamat datang di Surga Gila, Bibi Li."

Di balkon lantai tiga, Lin Yan duduk di kursi malas, permen lolipop di mulut. Di bawah, ia melihat lampu-lampu taman menyala, apartemen dan laboratorium terlihat rapi, dan dari dapur, masih terdengar suara tawa.

【Senang?】

"Iya. Makanan enak, orang-orang mulai betah."

【Kau berubah, Lin Yan.】

"Berubah? Aku masih malas, masih psikopat, masih suka memotong zombie. Tapi... mungkin sedikit lebih... manusiawi?"

【Itu sudah lebih dari cukup.】

Lin Yan tersenyum kecil. Di kejauhan, ia melihat Bibi Li sedang berbincang dengan Lin Feng di taman. Adiknya tertawa lepas sesuatu tawa yang jarang ia dengar akhir-akhir ini.

"Sistem."

【Iya?】

"Besok aku mau misi."

【Lho, tadi bilang bosan, sekarang mau misi? Tiba-tiba banget】

"Aku bosan disini Mulu, setidaknya di luar aku bisa bermain-main"

【Ada misi khusus: bersihkan Rumah Sakit Umum Daerah. Hadiah peralatan medis lengkap.】

"kok cuman alat? Kenapa gak sekalian rumah sakit?"

【suka suka saya dong, kan saya yang ngasih misi】

"yaudahlah terima. Tapi bangun ruang medisnya suruh Xiao Ming dan Li Weiguo. Aku malas."

【Bisa diatur.】

Lin Yan memejamkan mata, menikmati angin malam. Di bawah, kehidupan terus berjalan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa... cukup.

1
Norimi Dwel
lanjut thor
XIA LING
semangat 💪
nana
lanjut kak
Etty Rohaeti
lanjut
semangat kak
Marsya
yg dipungut udah 10 orang slain adiknya lin yan,dan punya profesi unggulan semua,keren👍👍👍👍👍👍👍
Salsa billa 1494
lanjut thorrrrr💪
aku
wkwkwkwkk.... dada datar 🤣🤣🤣 aduduh ngakaknya 🤣🤣🤣/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
nana
apa nih, lin Yan itu cewek loh🤭
Herli Yani
wah wah wah luar biasa 🤭
XIA LING
bagus sih, cocok untuk orang yang suka protagonisnya pria nya telat jadi gak ketebak gittuu cerita nya
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!