Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam yang sunyi di rumah sakit itu hanya dipecah oleh bunyi detak ritmis dari monitor jantung.
Cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela menyinari wajah Baskara yang mulai kembali merona setelah melewati masa kritis yang mencekam.
Perlahan, kelopak mata Baskara bergetar. Ia mengerang pelan, merasakan sensasi panas yang menjalar di sekujur tubuhnya, terutama di bagian tulang belakang yang baru saja dioperasi.
Namun, rasa sakit itu tak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan saat menyadari tangannya tak menggenggam siapa pun.
"Am...bar..." bisiknya parau, tenggorokannya terasa kering seperti padang pasir.
Om Edward yang sedang memeriksa catatan medis di ujung ranjang segera mendekat.
"Baskara? Kamu sudah bangun? Syukurlah, Nak. Kamu benar-benar pejuang yang tangguh."
Baskara tidak memedulikan rasa sakitnya. Matanya yang sayu menatap liar ke sekeliling ruangan yang asing itu.
"Di mana istriku? Di mana Ambar, Om?"
Om Edward menghela napas panjang, tatapannya melembut namun penuh keprihatinan.
"Ambar ada di ruang sebelah. Dia pingsan karena syok hebat setelah melihat kejadian tadi. Tubuhnya sangat lemah, dia masih belum sadarkan diri sampai sekarang."
Mendengar itu, jantung Baskara berdegup kencang—kali ini bukan karena obat, tapi karena kekhawatiran yang luar biasa.
Ia mencoba menggerakkan bahunya, mengabaikan selang-selang yang menempel di tubuhnya.
"Pindahkan aku ke samping Ambar," perintah Baskara dengan suara yang lemah namun tak terbantahkan.
"Tapi Baskara, kamu baru saja keluar dari ruang operasi saraf yang sangat sensitif. Kamu harus istirahat total—"
"Aku tidak akan bisa istirahat kalau tidak melihatnya, Om," potong Baskara, matanya menatap tajam ke arah Edward.
"Tolong. Letakkan ranjangku di sampingnya. Aku harus tahu dia baik-baik saja."
Melihat keras kepalanya Baskara yang sangat mirip dengan mendiang ibunya, Om Edward akhirnya mengalah.Ia memberi isyarat kepada dua perawat pria untuk mendekat.
Dengan sangat hati-hati, mereka mendorong ranjang elektrik Baskara keluar dari unit intensif, melewati koridor yang sunyi, menuju ruang perawatan VVIP tempat Ambar berbaring.
Pintu terbuka tanpa suara. Di sana, di bawah temaram lampu tidur, Ambar tampak begitu rapuh dengan selang infus yang menancap di tangannya. Wajahnya yang cantik terlihat pucat pasi di atas bantal putih.
Perawat memosisikan ranjang Baskara tepat di sisi kiri ranjang Ambar.
Begitu jarak mereka cukup dekat, Baskara segera mengulurkan tangannya yang gemetar.
Ia meraih jemari Ambar yang dingin, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Aku di sini, Sayang," bisik Baskara lirih, matanya tak berkedip menatap wajah istrinya.
"Terima kasih sudah memanggilku pulang. Aku tidak akan pergi lagi."
Di tengah keheningan malam itu, Baskara terus menggenggam tangan Ambar, menolak untuk memejamkan mata sampai ia melihat wanita yang dicintainya itu kembali membuka mata dan tersenyum padanya.
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar VVIP, menyinari dua ranjang yang kini bersisian rapat.
Suasana rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan mencekam, seketika berubah menjadi lebih tenang saat jemari Ambar mulai memberikan tekanan kecil pada tangan yang sejak semalam tak pernah melepaskannya.
Kelopak mata Ambar bergetar pelan. Perlahan, ia membuka matanya, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menyambutnya.
Kepalanya masih terasa sedikit berat, namun rasa hangat di telapak tangannya menuntun kesadarannya kembali sepenuhnya.
Pandangan Ambar yang tadinya kabur mulai fokus, dan hal pertama yang ia tangkap adalah wajah pria yang paling ia cintai.
Suaminya itu bersandar di tumpukan bantal di ranjang sebelah, wajahnya masih pucat dan lelah, namun sorot matanya berkilat penuh kehidupan.
Sebuah senyum tipis—senyum yang sangat Ambar rindukan—terukir di bibir Baskara yang sedikit pecah-pecah.
"Bas..." suara Ambar keluar dalam bisikan yang hampir tak terdengar, serak dan penuh kelegaan.
"Halo, Sayang," balas Baskara dengan suara bariton yang lembut.
"Terima kasih sudah bangun. Aku sudah menunggumu sejak subuh tadi."
Ambar mengerjapkan mata berkali-kali, seolah memastikan bahwa ini bukan mimpi indah yang sering ia alami di gudang gelap itu.
Ia merasakan genggaman tangan Baskara begitu nyata, begitu kuat.
"Kamu, benar-benar kembali," isak Ambar kecil, air mata haru mulai menggenang di sudut matanya.
"Aku pikir akan kehilanganmu semalam."
Baskara mengeratkan genggamannya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada istrinya.
"Suaramu yang menarikku kembali, Ambar. Aku mendengar semua yang kamu katakan di ruang operasi. Tentang masa depan kita, tentang calon bayi kita. Aku tidak mungkin membiarkanmu menghadapi itu sendirian."
Ambar mencoba untuk duduk, namun Baskara segera menahannya dengan isyarat lembut.
"Jangan bangun dulu, Ambar. Kamu masih sangat lemah. Tekanan darahmu sempat turun drastis semalam. Istirahatlah di sampingku."
Ambar mengangguk, ia memiringkan tubuhnya agar bisa lebih jelas menatap wajah Baskara.
Rasa syukur yang luar biasa memenuhi dadanya. Meskipun mereka berdua masih terhubung dengan selang infus dan kabel monitor, berada sedekat ini setelah melewati maut terasa seperti kemenangan paling besar dalam hidup mereka.
"Jangan pernah pergi lagi, Bas. Janji?" bisik Ambar lirih.
"Janji," jawab Baskara mantap. "Dan ada satu hal lagi yang harus kamu tahu, Ambar. Pagi ini, aku bisa merasakan panas di ujung jari kakiku. Operasi Om Edward sepertinya benar-benar bekerja."
Pintu ruang VVIP terbuka pelan saat sinar matahari pagi mulai meninggi.
Om Edward melangkah masuk dengan stetoskop yang melingkar di lehernya, diikuti oleh dua perawat yang mendorong kereta dorong berisi peralatan medis dan nampan sarapan yang mengepulkan aroma bubur ayam hangat.
"Selamat pagi, pasangan pejuang," sapa Om Edward dengan senyum kebapakan yang lega.
"Melihat kalian berdua sudah sadar dan saling menggenggam tangan seperti ini adalah pemandangan terbaik yang bisa didapatkan seorang dokter bedah."
Om Edward mulai memeriksa denyut nadi Baskara dan memeriksa area luka operasi di punggungnya dengan sangat teliti.
Sementara itu, seorang perawat dengan cekatan meletakkan dua mangkuk bubur di meja lipat di antara ranjang mereka.
Tiba-tiba, pintu terbuka kembali dan melihat Gabby dengan setelan kerja yang rapi namun tampak sedikit lelah masuk dengan langkah teratur.
"Tuan, Nyonya, syukurlah Anda berdua sudah melewati masa kritis," ucap Gabby sambil membungkuk hormat.
Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak menunjukkan gurat kelegaan yang tulus.
Gabby melangkah mendekati ranjang Baskara. Ia melihat tuannya masih kesulitan untuk menggerakkan bagian tubuh atasnya karena sisa bius dan nyeri pascaoperasi saraf yang sensitif.
Dengan sopan, Gabby menatap Ambar yang juga masih terbaring lemah dengan selang infus.
"Nyonya Ambar, jika Anda mengizinkan, biarkan saya yang membantu menyuapi Tuan Baskara pagi ini. Anda juga harus fokus menghabiskan sarapan Anda agar stamina Anda segera pulih," ucap Gabby dengan nada bicara yang sangat profesional namun penuh perhatian.
Ambar menatap Gabby, lalu beralih menatap suaminya.Ia tahu dirinya sendiri masih merasa pening dan lemas untuk bisa duduk tegak dan menyuapi Baskara dengan benar.
Ambar memberikan senyum tipis yang tulus dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Silakan, Gabby. Terima kasih sudah membantu menjaga Bas selagi aku masih seperti ini," jawab Ambar lembut.
Gabby pun menarik kursi, mengambil mangkuk bubur yang hangat, dan mulai menyuapi Baskara dengan penuh kesabaran.
Sementara itu, Om Edward beralih memeriksa kondisi Ambar, memastikan bahwa syok emosional semalam tidak meninggalkan dampak permanen pada detak jantungnya.
Di ruangan itu, keheningan yang damai tercipta. Suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik menjadi melodi kehidupan yang baru bagi mereka, sebuah awal dari proses pemulihan panjang yang akan mereka lalui bersama.
Gabby menyendokkan bubur hangat dengan perlahan, gerakannya tetap tenang meski suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah tegang.
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Baskara, memastikan suaranya hanya terdengar oleh sang majikan, namun Ambar yang berada tepat di samping mereka tetap bisa menangkap getaran kegelisahan dari nada bicara sang asisten.
"Tuan, ada laporan penting dari kantor pusat. Saham Mahendra Corp sempat merosot tajam pagi buta tadi karena isu liar mengenai kematian Anda yang tersebar di kalangan investor," bisik Gabby.
"Namun, Thomas bergerak cepat. Dia merilis pernyataan resmi tentang perjalanan bisnis rahasia Anda dan berhasil meredam kepanikan pasar sebelum penutupan bursa pagi."
Baskara mendengarkan dengan rahang yang mengeras.
Matanya yang tajam menatap langit-langit kamar, mencoba memproses informasi tersebut di tengah rasa nyeri yang masih mendera punggungnya.
"Lalu, bagaimana dengan Thomas?" tanya Baskara dengan suara serak yang penuh otoritas.
"Apakah dia sudah menangkap tikus yang mencabut oksigenku saat aku di ruang operasi?"
Gabby terdiam sejenak, ia meletakkan mangkuk bubur di meja samping ranjang dan menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Wajahnya menunjukkan gurat penyesalan yang mendalam.
"Belum, Tuan. Pelakunya sangat licin. Dia menggunakan masker dan menyelinap melalui jalur darurat yang tidak terjangkau CCTV lama," jawab Gabby dengan suara rendah.
"Tapi Thomas telah melakukan investigasi mandiri. Berdasarkan postur tubuh dan sisa rekaman di area parkir. Thomas yakin bahwa Jayden adalah pelakunya."
Mendengar nama itu disebut, suasana di ruangan VVIP itu seketika membeku.
Ambar, yang sedari tadi mencoba untuk tetap tenang, langsung menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Baskara.
Matanya membelalak lebar, penuh dengan kengerian dan kemarahan yang bercampur menjadi satu.
Cangkir air putih yang dipegangnya bergetar hebat di tangannya.
"Jayden?" desis Ambar, suaranya gemetar oleh rasa tidak percaya.
"Dia, benar-benar ingin membunuhmu, Bas? Setelah semua yang dia lakukan pada keluargaku, sekarang dia berani menyentuhmu di sini?"
Baskara menatap istrinya, lalu beralih menatap Gabby.
Sorot matanya kini bukan lagi sorot mata pasien yang lemah, melainkan sorot mata seorang predator yang sedang terluka namun tetap mematikan.
"Cari dia, Gabby," perintah Baskara dingin.
"Katakan pada Thomas, aku tidak butuh dia dibawa ke kantor polisi. Bawa dia langsung ke hadapanku setelah aku bisa berdiri dari ranjang ini. Aku sendiri yang akan membalas setiap detik sesak napas yang aku rasakan semalam."