Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUNGAN DI ATAS GELOMBANG
Angin laut yang menderu di atas dek kapal patroli seolah ikut membeku saat Clarissa memberikan perintah untuk menggeledah Keyra. Dua petugas mendekat, tangan mereka siap merenggut paksa satu-satunya bukti yang tersisa. Keyra berdiri mematung, punggungnya menempel pada pagar besi kapal yang dingin dan basah.
Di hadapannya, Clarissa berdiri dengan keanggunan yang mematikan, menanti "sampah" tembaga itu jatuh ke tangannya.
---
"Jangan paksa aku melakukan cara kasar, Dokter," suara Clarissa halus, hampir seperti bisikan seorang teman, namun matanya tetap tertuju pada kepalan tangan Keyra. "Berikan cincin itu, dan aku pastikan kamu mendapatkan kamar perawatan yang layak."
Keyra menoleh sekilas ke arah tandu tempat Ghazali terbaring. Pria itu masih memejamkan mata, wajahnya pucat di bawah lampu sorot dek. Ghaz, kalau aku memberikan ini, pengorbanan Reno dan luka bahumu akan sia-sia, batin Keyra.
"Cincin ini diberikan padaku sebagai janji," Keyra mendongak, menatap lurus ke mata Clarissa. "Dan seorang dokter tidak akan pernah mengkhianati janji, apalagi kepada pasiennya yang paling berharga."
"Geledah dia!" bentak Clarissa, kesabarannya habis.
Saat tangan salah satu petugas mencengkeram bahu Keyra, Keyra melakukan gerakan nekat. Ia tidak melawan dengan tinju, melainkan memanjat pagar pembatas kapal dengan satu gerakan cepat. Tubuhnya kini bergantungan di antara dek kapal dan laut hitam yang bergejolak di bawah sana.
"BERHENTI! Atau aku melompat bersama cincin ini!" teriak Keyra.
Semua orang di dek terpaku. Clarissa membelalakkan mata, tidak menyangka wanita berjas lab yang tampak rapuh ini memiliki keberanian sebesar itu.
"Keyra! Jangan gila!" seru Bastian dari sudut dek yang dijaga ketat.
"Clarissa Aditama," suara Keyra kini bergetar namun tajam. "Jika ayahmu menginginkan apa yang ada di tanganku, katakan padanya... dia harus memastikan Kapten Ghazali tetap hidup. Karena hanya aku yang tahu bagaimana cara membuka kunci dari janji ini."
Keyra berbohong. Ia menggertak. Ia ingin Clarissa berpikir bahwa chip itu membutuhkan akses darinya agar mereka tidak berani menyentuh Ghazali atau dirinya lebih jauh.
Clarissa terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Ia menyadari bahwa jika Keyra melompat, ia akan kehilangan jejak data yang selama ini dicari ayahnya. "Tahan! Jangan mendekatinya!" perintah Clarissa pada petugasnya.
Ia melangkah perlahan menuju Keyra, wajahnya kembali tenang namun penuh muslihat. "Baiklah, Dokter. Kamu menang untuk saat ini. Simpan cincin sampahmu itu. Tapi ingat, begitu kita merapat di Pelabuhan, kamu tidak akan punya pagar untuk dipanjat lagi."
Keyra perlahan turun dari pagar, kakinya lemas saat menyentuh dek kembali. Ia segera digiring menuju ruang isolasi di bawah dek, dipisahkan dari Ghazali yang dibawa ke unit medis eksklusif kapal.
Di dalam ruangan sempit yang hanya berisi satu ranjang besi, Keyra duduk memeluk lututnya. Ia membuka kepalan tangannya, menatap cincin kabel tembaga itu. Chip mikroskopis di dalamnya masih aman.
Tiba-tiba, pintu isolasi berderit terbuka. Bukan petugas yang masuk, melainkan Yudha. Ia berhasil menyelinap setelah melumpuhkan satu penjaga di lorong.
"Dokter, dengar cepat," bisik Yudha, wajahnya penuh luka memar. "Kapal ini tidak akan ke dermaga umum. Mereka akan membawa kita ke pelabuhan pribadi milik Atharrazka di sisi utara. Kita harus keluar dari kapal ini sebelum mereka merapat, atau kita akan menghilang selamanya."
"Tapi Ghazali..."
"Bastian sedang mencoba menyabotase sistem navigasi kapal ini agar terombang-ambing sebentar. Kita punya waktu lima menit untuk membawa Kapten ke sekoci," Yudha menyerahkan sebuah pisau kecil pada Keyra. "Siapkan dirimu, Dokter. Malam ini kita akan melakukan pelarian terbesar dari tempat ini."
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....