Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Api yang Tak Bisa Disangkal
Setelah pertemuan nya dengan Sekte Fajar Besi, Lin Hai mengundang Lin Chen untuk berbicara secara pribadi.
Bukan di aula pertemuan atau ruang kerja resmi.
Melainkan di taman pribadinya.
Tempat itu tidak terlalu luas, hanya sebuah halaman tenang dengan dua kursi batu di bawah pohon cemara tua. Suara angin yang berembus pelan di antara ranting-ranting menjadi satu-satunya pengiring suasana.
Tempat seperti ini biasanya dipilih ketika seseorang ingin berbicara tanpa didengar orang lain.
Saat Lin Chen tiba, Lin Hai sudah menunggu.
Pria itu duduk sendirian sambil memegang secangkir teh hangat. Namun sejak kedatangan Lin Chen, ia lebih banyak memandangi permukaan teh daripada meminumnya.
"Duduklah."
Nada suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Lin Chen duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Hanya suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin.
Akhirnya, Lin Hai membuka percakapan.
"Pertemuan dengan Sekte Fajar Besi kemarin..."
Kalimat itu menggantung sesaat.
"Apa yang kau lakukan sebenarnya tidak sesuai prosedur."
Lin Chen mengangguk ringan. "Tapi saya tetap melakukannya."
Lin Hai menghela napas. "Ya."
Ia menyesap teh sebelum melanjutkan. "Dan yang membuatku kesal adalah... kau tidak salah."
Matanya menatap meja batu di antara mereka.
"Perhitungan yang kau tunjukkan akurat. Bahkan setelah aku memeriksanya kembali semalaman, hasilnya tetap sama."
Ada senyum pahit di sudut bibirnya. "Aku seharusnya menyadari hal itu lebih awal."
Lin Chen tidak menjawab.
Ia hanya membiarkan pengakuan itu mengalir dengan sendirinya.
Kadang-kadang, diam jauh lebih efektif daripada kata-kata.
Lin Hai kembali terdiam beberapa saat.
Kemudian ia mengangkat pandangannya. "Apa yang sebenarnya terjadi di Gunung Cang Lei?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Pertanyaan yang sejak awal ingin ia tanyakan.
"Aura yang kau miliki sekarang... bukan aura seseorang yang baru memperbaiki meridian."
Tatapan Lin Hai menjadi serius.
"Dalam waktu kurang dari satu bulan, kau berubah dari seseorang yang bahkan sulit mencapai Tingkat Kedua Kebangkitan Roh menjadi kultivator Pembentukan Inti Tingkat Menengah."
Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan hanya dengan keberuntungan."
Lin Chen menatap pohon cemara yang menjulang di atas mereka.
"Saya menemukan sesuatu."
"Sesuatu?"
"Sesuatu yang mengubah hidup saya."
Lin Hai menunggu penjelasan lebih lanjut.
Namun Lin Chen tidak melanjutkannya.
Ia hanya berkata,
"Semakin sedikit orang yang mengetahui tentang hal itu, semakin baik."
"Kau tidak percaya padaku?"
"Bukan begitu." Lin Chen menggelengkan kepalanya.
"Justru karena saya tahu betapa berbahayanya hal itu, saya tidak ingin menyeret siapa pun ke dalam masalah yang sama."
Angin kembali berembus pelan.
Lin Hai menatap pemuda di hadapannya.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa sulit membaca keponakannya sendiri.
Pemuda yang dulu selalu terlihat tenang kini masih tenang.
Namun ketenangan itu berbeda. Seolah apa pun yang terjadi tidak lagi mampu menggoyahkannya dengan mudah.
"Aku mendengar kau berencana pergi lagi."
Lin Chen mengangguk. "Dalam waktu dekat."
"Berapa lama?"
"Saya tidak tahu." Jawaban itu jujur.
"Mungkin setahun. Mungkin lebih."
Ia menatap langsung ke arah Lin Hai.
"Dunia yang harus aku hadapi jauh lebih besar daripada Kota Langit Biru"
Lin Hai terdiam.
Ia tidak membantah.
Karena ia bisa merasakan bahwa apa pun yang dialami Lin Chen di gunung itu telah membawanya ke jalan yang tidak lagi bisa dijangkau oleh Klan Lin.
"Klan ini masih menggunakan nama yang sama dengan nama saya."
Suara Lin Chen terdengar tenang.
"Terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu, saya tidak ingin melihat Klan Lin hancur karena keputusan yang dibuat tanpa memahami seluruh situasi."
Lin Hai mengangkat alisnya.
"Kau sedang menasihatiku?" Nada suaranya terdengar setengah geli.
Lin Chen tersenyum tipis. "Saya hanya menyampaikan informasi."
"Apa yang Paman lakukan dengan informasi itu adalah keputusan Paman sendiri."
Lin Hai tertawa pelan.
Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali ia mendengar seseorang berbicara kepadanya seperti itu.
Bukan sebagai bawahan.
Bukan sebagai keponakan yang harus patuh.
Melainkan sebagai seseorang yang berdiri sejajar.
Lin Chen berdiri.
Pembicaraan itu tampaknya sudah selesai. Namun ketika ia berbalik dan melangkah pergi, suara Lin Hai kembali terdengar.
"Lin Xiao."
Langkah Lin Chen berhenti.
Nama ayahnya.
Nama yang sudah lama tidak disebut di hadapannya.
"Dan Lin Yue."
Nama ibunya menyusul setelahnya.
Lin Chen tetap membelakangi pamannya.
"Sembilan tahun lalu, mereka adalah kultivator terhebat yang pernah dimiliki Klan Lin." Suara Lin Hai terdengar lebih pelan. "Dan mereka mencintaimu lebih dari apa pun."
Ia tersenyum samar.
"Mungkin karena aku tidak pernah memiliki anak sendiri, tapi cara mereka memperlakukanmu selalu membuatku iri."
Keheningan menyelimuti taman itu. "Aku tidak tahu di mana mereka sekarang."
Lin Hai mengucapkannya dengan tegas. "Itu adalah kebenaran."
Lin Chen tidak bergerak. Namun ia mendengarkan setiap kata.
"Aku tidak pernah diberi tahu tujuan sebenarnya dari misi mereka."
Tatapan Lin Hai mengarah ke langit. "Tapi aku tahu satu hal."
Nada suaranya menjadi lebih berat. "Ada seseorang yang mengetahui jawabannya."
Lin Chen perlahan menoleh.
"Siapa?"
Lin Hai menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu namanya."
"Tapi aku tahu tempatnya."
Matanya bertemu dengan mata Lin Chen.
"Di tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang bisa dijangkau Klan Lin."
"Di Istana Surgawi"
Keheningan kembali turun.
Namun kali ini berbeda.
Karena untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, Lin Chen menemukan petunjuk yang nyata.
Lin Chen mengangguk pelan.
"Saya mengerti."
Kemudian ia berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari taman.
Lin Hai tetap duduk di bawah pohon cemara tua itu, memperhatikan punggung keponakannya yang semakin menjauh.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa bahwa Klan Lin mungkin baru saja kehilangan seseorang yang seharusnya tidak pernah mereka lepaskan.
Dan mungkin...
Sudah terlambat untuk memperbaikinya.