Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Mendengar omelan kesal dari suaminya, Nada tersenyum tipis. Sorot matanya yang sayu bergerak menatap langit-langit kamar rawat VIP yang putih bersih, sebelum akhirnya kembali tertuju pada manik mata hitam Kelvin yang masih menyiratkan sisa-sisa kepanikan.
"Lagipula, Mas... kalau aku mati, bukankah itu hal yang bagus untukmu?" ujar Nada lirih, suaranya terdengar begitu tenang tanpa beban. "Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menyingkirkanku dari rumahmu. Kamu bisa bebas kembali dan menikah dengan perempuan yang benar-benar kamu cintai, bukan?"
Namun, belum sempat Nada melanjutkan kalimatnya untuk menyebut nama Catalina, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak turun drastis.
"Cukup, Denada!" potong Kelvin tajam.
Suara baritonnya yang berat bergema penuh penekanan di keheningan malam. Rahang Kelvin mengetat hebat, dan sepasang matanya menatap Nada dengan kilatan emosi yang begitu pekat dan dingin. "Jangan pernah mengucapkan kata mati lagi di depanku. Jangan berani-berani membicarakan hal itu lagi," lanjutnya dengan nada suara yang bergetar menahan amarah sekaligus rasa takut yang amat sangat yang tak mampu ia sembunyikan.
Nada tertegun sejenak melihat reaksi Kelvin yang begitu meledak-ledak. Wanita itu menaikkan sebelah alisnya, mengunci tatapan mata Kelvin yang tampak gelisah. Sebuah senyuman penuh arti kembali terukir di bibir ranumnya.
"Kenapa, Mas? Apa kamu... takut kehilangan diriku?" tanya Nada dengan nada memancing, suaranya pelan namun terdengar begitu menusuk tepat di pusat pertahanan Kelvin.
Kelvin seketika bungkam seribu bahasa. Ruangan itu mendadak diselimuti keheningan yang mencekam selama beberapa saat. Kelvin terdiam lama, matanya menatap Nada dengan sejuta arti yang bergejolak di dalam dadanya. Di satu sisi, ketakutan saat melihat Nada bersimbah darah tadi siang adalah hal paling nyata yang mencabik-cabik kewarasannya. Namun di sisi lain, ego tinggi seorang Kelvin Alexander dan gengsinya yang setinggi langit menolak keras untuk mengakui perasaan itu. Ia tidak sudi mengakui bahwa gadis desa yang semula ia benci setengah mati ini telah berhasil menembus celah hatinya.
"Jangan terlalu percaya diri, Denada. Aku hanya tidak mau reputasi perusahaanku hancur karena ada relawan yang tewas di lokasi proyekku," jawab Kelvin ketus setelah berhasil menguasai suaranya, membuang muka demi menyembunyikan kebohongannya.
Melihat Kelvin yang mati-matian bersembunyi di balik tameng gengsinya, Nada justru merasa semakin gemas. Naluri menggoda di dalam dirinya kembali bangkit, mengabaikan rasa nyeri yang masih berdenyut di kepalanya.
Nada mengerucutkan bibirnya manis, lalu menunjuk pipi kirinya yang sedikit tergores dengan jari lentiknya yang bebas dari jarum infus. Ia menatap Kelvin dengan tatapan mata yang sengaja dibuat memelas namun penuh bumbu rayuan.
"Aduh, Mas... tapi pipiku yang ini mendadak rasanya sakit sekali," keluh Nada manja, suaranya dibuat mendayu-dayu. "Sepertinya efek obat biusnya sudah habis. Sakitnya tidak akan hilang kalau tidak dicium oleh suamiku sendiri. Cepat cium di sini, Mas, biar sakitnya sembuh."
Kelvin yang mendengar godaan itu seketika menoleh kembali. Wajah tampannya berkedut menahan kesal, dan daun telinganya perlahan merona merah karena perpaduan antara dongkol dan salah tingkah.
"Kau... benar-benar sudah sehat rupanya," gerutu Kelvin ketus, sembari berdiri dari kursinya dan melangkah mundur satu langkah untuk menjaga jarak agar imannya tidak kembali goyah seperti semalam. "Tidurlah. Jika kau masih banyak bicara, aku akan memanggil dokter untuk menyuntikmu dengan obat tidur!"