🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27. Tamu di sore hari (2)
Suara halaman rumah masih dipenuhi suara ribut para nakes yang belum selesai mengomentari fakta bahwa Galang ternyata sudah menikah diam-diam.
"Saya masih belum percaya sih."
"Dok Galang ternyata gercep juga ya,"
"Fix, ini nikah dadakan apa gimana?"
"Mana istrinya cantik lagi,"
"Ternyata dok Galang pinter juga nyari istri."
Ardi bahkan masih memegangi kepalanya sendiri seperti baru menerima hasil laboratorium yang mustahil.
Namun di tengah keramaian itu, Galang justru tidak benar-benar mendengar apa pun. Tatapnya tertahan pada Sekar, gadis yang saat ini mematung menatap Arif Ramdan Nugraha.
Begitu juga sebaliknya, Arif tidak lepas dari Sekar tanpa senyum, tanpa sapaan. Tetapi ada sesuatu dalam tatapan mereka yang terlalu penuh untuk disebut asing.
Dan Galang menyadari itu.
Laki-laki itu perlahan menyipitkan mata tipis.
Sekar yang sejak tadi terlihat tenang mendadak pucat lagi. Jemarinya bahkan tampak mencengkram ujung lengan bajunya sendiri.
Sedangkan Arif, untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini ia benar-benar kehilangan ekspresi santainya.
Tatapan dokter bedah saraf itu berubah kaku. Seolah baru saja memahami sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Hening beberapa detik.
Lalu Sekar tersadar lebih dulu.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan dan memaksakan senyum kecil.
"Mari masuk," ucap Sekar lalu menoleh ke arah Galang, namun wanita itu berkali-kali tidak berani menatap kedua mata suaminya. "Aku ke dalam dulu, A Galang santai aja. Biar aku siapin."
Galang masih memperhatikan gadis itu beberapa detik.
"Iya."
Sekar langsung berbalik terlalu cepat. Langkahnya menuju rumah terlihat terburu-buru meski berusaha tampak biasa saja.
Saat sampai di ruang tengah, ia langsung mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak, tangannya bahkan tampak gemetar ketika menyentuh meja dapur.
Kenapa ada Arif di sini?
Kenapa dunia terasa sempit sekali?
Sekar memejamkan mata sebentar berusaha untuk menenangkan diri. Dari luar rumah tampak mereka sudah duduk di tempat masing-masing. Laki-laki di luar, sedangkan perempuan di dalam. Faiz masih duduk di atas pangkuan Galang. Lalu suara tawa dan obrolan ringan kembali terdengar samar.
Arif duduk di dekat dinding rumah, tatapannya tak tentu. Kadang ia menatap Galang lalu kembali ke dalam rumah seolah tengah mencari-cari seseorang dan Melisa menyadarinya. Melisa memilih duduk di luar, di dekat Arif.
"Kak Arif kenapa? Apa kak Arif kenal sama istrinya dokter Galang?" bisik Melisa.
Arif tersadar cepat lalu menggeleng tipis. "Tidak, kita pernah bertemu sekali di Ciplaz Garut."
"Tapi...wajah istrinya dokter Galang tuh kaya gak asing, kaya familiar gitu. Aku kaya pernah lihat dia, tapi dimana ya.." gumam Melisa.
Ardi malah langsung nimbrung tanpa dosa.
"Yaelah, kenal mah gampang." Ia menepuk pundak Galang keras. "Yang nggak gampang tuh Galang bisa nikah."
Semua orang kembali tertawa.
Tetapi Galang tetap diam.
Tatapannya sempat bergeser ke arah pintu rumah tempat Sekar masuk tadi. Lalu kembali ke Arif. Dan entah kenapa ada rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh perlahan.
Sementara itu Arif mencoba menjaga ekspresinya tetap normal. Namun pikirannya tetap kacau. Gadis yang selama ini ia cari ternyata sudah menikah dengan Galang. Dengan dokter anestesi pendiam yang beberapa hari terakhir bekerja satu tim dengannya.
Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal. Potongan sandwich yang familiar, potongan buah, lalu pertemuan pertama mereka di basement parkiran Ciplaz siang itu.
"Dok Arif?"
Arif menoleh ketika Raka--perawat anestesi menyenggol lengannya.
"Kok bengong?"
"Nggak," jawabnya singkat.
Namun tepat saat itu, Sekar kembali datang dengan membawa nampan besar berisi teh hangat, kopi, dan pisang goreng.
Melihat Sekar kerepotan sendirian, salah satu suster senior membantu gadis itu.
"Biar saya bantu, neng." Ucapnya.
"Oh, terima kasih." Ujar Sekar.
Wajah gadis itu terlihat sudah tenang. Setidaknya terlihat begitu.
"Aduh...teh, repot banget." Ujar salah satu perawat perempuan.
"Nggak kok," jawabnya singkat seraya tersenyum.
Ia mulai membagikan gelas satu persatu di bantu oleh rekan Galang yang perempuan. Sekar duduk di dekat Galang dan melirik Faiz terlihat mengantuk, anak itu bahkan sesekali mengucek mata dan hidungnya.
"Faiz kayanya ngantuk, A. Sini, biar aku tidurkan dulu dia. Udah sore juga, kasian kena angin sore." Ujar Sekar seraya mengulurkan tangannya.
Galang bergerak, lalu dengan cepat anak itu berpindah pada Sekar. Sebelum pergi, ia menyapu pandang sopan.
"Silahkan di minum, saya ke dalam dulu." Ujar Sekar kembali tersenyum tipis.
Arif diam termangu. Ada banyak sekali perubahan dari di Sekar, ia terlihat jauh lebih dewasa dan lebih tenang. Namun sorot matanya masih sama seperti dulu.
Tetapi Galang yang duduk di dekat gadis itu kembali memperhatikan keduanya. Arif yang masih kaku seolah shock melihat sesuatu, sedangkan Sekar...gadis itu tampak menutupi sesuatu.
.
.
.
Begitu Sekar sampai di kamar mereka, ia langsung menidurkan anak itu. Faiz benar-benar sudah terjaga, suara tawa masih terdengar.
Gadis itu kembali mencoba menenangkan diri. Setelah menghirup napas panjang ia kembali keluar kamar dan duduk di antara rekan Galang yang perempuan. Pintu rumah sengaja di buka lebar.
"Eh, neng asli mana?" tanya perawat senior, namanya Bu Susan.
"Bandung," jawab Sekar.
Ardi yang duduk di dekat pintu nimbrung, "eh tunggu-tunggu, kamu dari Bandung? Seriusan?"
Sekar mengangguk, "iya. Saya asli dari Bandung."
"Dulu dokter Galang sama dok Ardi kuliah di Bandung kan? Di UNPAD?" tanya Raka perawat anestesi yang cukup dekat dengan panutannya.
"Iya. Jangan-jangan, diam-diam kalian sering ketemuan tanpa sepengetahuan gue ya Lang?" celetuk Ardi seraya mencomot pisang goreng.
Galang melirik Sekar, "nggak.Aku..." Galang melirik istrinya.
Sekar menatap lawan bicaranya, ia sangat ramah dan tersenyum. "Waktu A Galang kuliah di UNPAD mungkin saya lagi di jakarta."
"Jakarta?" tanya Melisa menatap.
Sekar menatap Melisa, lalu mengangguk. "Iya."
"Jakarta mana?" tanya Melisa seolah sedang mengingat sesuatu.
"Jakarta Selatan." Jawab Sekar.
"Jakarta Selatan?" kemudian Melisa melirik Arif yang masih menatap Sekar.
"Iya," jawab Sekar kembali dengan nada gugup.
"Wah, kebetulan dokter Arif juga dari Jakarta," seru Aidil seraya menoleh ke arah Arif. "Dokter Jakarta Selatan juga ya?"
Arif mengalihkan pandangannya dan menatap Aidil. "Iya. Saya dari Jakarta Selatan."
Bu Susan melirik Sekar, "Oh, neng Sekar lama di sana? Anak ibu juga kuliah di Jaksel. Daerah mana?" tanya nya seraya menepuk punggung tangan Sekar lembut.
"Di area Simprung." Ujar Sekar seraya menatap lawan bicaranya.
"Wah, kawasan elit dong. Berapa lama disana?" tanya Bu Rika bidan yang selalu menjodoh-jodohkan Galang dengan dokter Melisa.
"Delapan tahun mungkin ya...."
Melisa langsung menoleh Arif cepat, "bukannya rumah kak Arif juga di daerah Simprung juga ya?!"
Deg!
Sekar menatap Melisa cepat.
"Wah seriusan, Dok?!"
Arif terlihat tersenyum kaku, pandangnya kembali jatuh kepada Sekar lalu terkekeh kecil seraya meraih gelas berisi kopi hitam.
"Iya. Rumahku memang disana," jawab Arif.
Galang diam, rahangnya mengeras tipis. Dirinya sangat yakin, Sekar dan Arif bukan hanya sekedar teman lama, mana mungkin jika memang teman lama cara pandang Arif kepada istrinya terlihat berbeda, bahkan beberapa kali Sekar mencoba menghindari kontak mata dengan dokter bedah itu.
Adzan magrib terdengar saling bersahutan.
"Udah adzan magrib aja," seru Ardi.
🍁🍁🍁
Selepas magrib,
Rekan kerjanya Galang baru saja tiba dari masjid tak jauh dari rumah mereka. Sedangkan makanan sudah di siapkan Sekar dan di bantu para rekan kerja perempuan yang shalat di rumah.
"Makan dulu," ajak Galang.
"Widih....makanan rumahan nih." Seru dokter residen yang sedang libur di hari Minggu ini.
"Maaf, seadanya." Ujar Sekar.
"Ah ini udah lebih, teh. Malah maaf, kita kesini malah ngerepotin." Ujar Ardi nyengir.
Acara makan bersama tengah berjalan, mereka menikmati nasi liwet dengan berbagai masakan sederhana.
"Lang, pinter banget kamu cari istri. Udah cantik, pinter masak pula." Ujar salah Bu Susan yang memang cukup dekat dengan Galang sejak Galang koas.
Bu Susan ini sudah menganggap Galang dan Ardi sebagai anaknya saat itu, bahkan sampai sekarang.
"Ardi, tinggal kamu nih. Jadi kapan? Masa kalah sama Galang?" guyon Bu Susan.
Ardi nyengir, "cariin lah Bu, capek nyari sendiri. Mendingan di jodohin, tapi yang kaya istrinya dia." Ujar Ardi seraya melirik Galang.
Kata jodohin membuat Galang diam sesaat, ia melirik istrinya yang tengah ikut menikmati makanan. Mereka memang menikah karena wasiat, bahkan mungkin bisa di katakan karena di jodohkan.
🍁🍁🍁
Halo,
Please, lagi marak banget plagiat yang ATM ( Amati Tiru Menulis) jangan ya dek ya 😁😁😁
Tolong hargai para penulis yang udah berjam-jam riset, memilih kata.
Terima kasih,
Semoga karya ke dua Yehppee di sini bisa menghibur kalian semua🫶
Jangan lupa follow, komen, like, subscribe dan bintang limaaaaa
Bersambung...