NovelToon NovelToon
PARTNER OF JUSTICE

PARTNER OF JUSTICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja / Pemain Terhebat / TKP / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Eun_Byeol

Di Daejeon, dua polisi dengan masa lalu rumit dipertemukan kembali sebagai partner kerja. Kim Da Eun yang dingin dan tegas harus bekerja sama dengan Lee Hyejin yang ceroboh namun cerdas.

Di tengah hubungan mereka yang penuh pertengkaran dan rahasia masa lalu, muncul kasus pembunuhan berantai misterius dengan jejak sepatu pendaki bertanda api sebagai petunjuk utama. Saat penyelidikan semakin berbahaya, keduanya mulai kembali dekat dan menyadari bahwa perasaan lama belum benar-benar hilang.

PARTNER OF JUSTICE adalah novel kriminal romantis tentang misteri, kepercayaan, dan dua polisi yang harus menghadapi penjahat sekaligus perasaan mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eun_Byeol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PESAN DARI PEMBURU

Hutan Daedunsan kembali sunyi.

Hanya suara napas berat para anggota tim yang masih terdengar setelah pengejaran singkat itu.

Kim Da Eun masih berdiri menatap jalur tempat pria bertopi hitam menghilang. Rahangnya mengeras, sementara tangan kanannya menggenggam kantong barang bukti yang berisi kalung berbentuk api.

"Dia sengaja mempermainkan kita," gumamnya.

Lee Hyejin mengangguk pelan.

"Bukan hanya mempermainkan."

"Apa maksudmu?"

"Dia ingin menunjukkan bahwa dia selalu selangkah di depan."

Ucapan Hyejin membuat semua orang terdiam.

Petugas Park menghela napas panjang.

"Kalau begitu, kenapa dia tidak membunuh kita tadi?"

"Itu pertanyaan yang sama yang sedang kupikirkan," jawab Wakil Kepala Nam.

Da Eun mengalihkan pandangannya ke sekitar hutan.

"Tidak..."

"Dia belum ingin kita mati."

Semua menoleh bersamaan.

"Dia ingin kita menemukan sesuatu."

Tim forensik segera memeriksa area tempat pelaku terakhir terlihat.

Tak jauh dari jalur pelarian, Hyejin menemukan bekas roda kecil di tanah.

"Sunbae."

Da Eun menghampiri.

"Apa?"

"Bukan sepatu."

Ia menunjuk bekas itu.

"Kereta dorong?"

Da Eun menggeleng.

"Terlalu kecil."

Hyejin memperhatikan lebih saksama.

"Lalu..."

"Trolley peralatan gunung."

Petugas Choi mengerutkan kening.

"Kenapa dia membawa trolley masuk ke hutan?"

Belum sempat ada yang menjawab, salah seorang petugas memanggil.

"Pak! Di sini!"

Mereka segera berlari.

Di balik semak-semak terdapat sebuah gubuk kayu tua yang hampir roboh.

Pintunya terbuka sedikit.

"Aneh..." bisik Park.

"Siaga."

Da Eun mengeluarkan pistolnya.

Seluruh anggota tim mengikuti prosedur penyisiran.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga!"

Brak!

Pintu didobrak.

Ruangan itu kosong.

Namun bau anyir darah memenuhi udara.

Di lantai terdapat bercak darah yang sudah mengering.

Sementara di dinding...

Seseorang menulis dengan cat merah.

"KALIAN TERLAMBAT."

Suasana langsung membeku.

Petugas Choi tanpa sadar menelan ludah.

"Ini..."

Hyejin mendekati tulisan itu.

"Jangan disentuh," ujar Da Eun.

Petugas forensik mulai mengambil foto.

Hyejin memperhatikan bentuk huruf-huruf itu.

"Sunbae."

"Hm?"

"Lihat cara dia menulis huruf 'A'."

Da Eun mendekat.

Huruf itu dibuat dengan garis miring yang sangat khas.

Seolah-olah penulisnya memiliki kebiasaan tertentu.

"Aku pernah melihat bentuk tulisan seperti ini..."

Da Eun berusaha mengingat.

Namun belum sempat pikirannya tersusun...

Bzztt...

Ponselnya bergetar.

Nama Kang Dae Hyun muncul.

"Ya?"

"Sunbae! Saya baru selesai mencocokkan sidik jari di jam tangan Kim Beom Seok."

"Hasilnya?"

"Ada satu sidik jari yang tidak cocok dengan database kepolisian."

"Itu artinya?"

"Pelaku belum pernah ditangkap."

Da Eun menghela napas kecewa.

"Tapi..."

"Ada kabar lain."

"Apa?"

"Sidik jari itu ditemukan juga di sebuah berkas lama."

Da Eun langsung menegang.

"Berkas apa?"

"Kasus orang hilang... delapan tahun lalu."

Semua yang mendengar percakapan itu langsung saling berpandangan.

"Korbannya siapa?" tanya Da Eun cepat.

"Seorang mahasiswa kedokteran."

"Namanya..."

Dae Hyun berhenti beberapa detik.

"Han Ji Woo."

Nama itu membuat Hyejin membelalak.

"Itu tidak mungkin..."

Da Eun menoleh.

"Kau mengenalnya?"

Hyejin mengangguk pelan.

"Han Ji Woo pernah menjadi relawan di rumah sakit tempat kakakku bekerja."

"Apa dia pernah ditemukan?"

"Tidak."

"Semua orang mengira dia melarikan diri."

Suasana berubah semakin tegang.

Jika sidik jari misterius itu ada dalam kasus lama, berarti pelaku telah beraksi jauh sebelum pembunuhan Kim Beom Seok.

Dan mungkin...

Korbannya jauh lebih banyak.

Sore hari.

Tim kembali ke kantor Kepolisian Daejeon.

Semua barang bukti langsung dibawa ke laboratorium.

Da Eun berdiri di depan papan investigasi.

Foto-foto korban kini bertambah.

Di samping foto Kim Beom Seok kini terpasang foto Han Ji Woo.

Hyejin masuk sambil membawa map baru.

"Sunbae."

"Ada apa?"

"Saya menemukan sesuatu di arsip."

Ia membuka map itu.

"Itu laporan orang hilang."

Da Eun membacanya perlahan.

Tiba-tiba matanya berhenti pada satu kalimat.

Korban terakhir terlihat mengenakan kalung berbentuk api yang diberikan seseorang tak dikenal.

Da Eun langsung mengangkat wajahnya.

Kalung.

Bentuk api.

Sama persis dengan kalung yang mereka temukan di Daedunsan.

"Itu bukan aksesori biasa..." bisik Hyejin.

"Itu penanda."

Da Eun mengepalkan tangannya.

"Semua korban menerima kalung yang sama."

"Artinya pelaku memilih mereka terlebih dahulu."

Belum sempat mereka menyusun kesimpulan, terdengar suara langkah tergesa dari luar.

Petugas Park masuk dengan wajah pucat.

"Pak!"

"Ada apa?"

"Seseorang mengirim paket ke kantor."

"Paket?"

"Tidak ada nama pengirim."

Da Eun dan Hyejin saling berpandangan.

Kotak itu segera dibawa ke ruang pemeriksaan.

Tim penjinak bom memastikan tidak ada bahan peledak.

Setelah dinyatakan aman, Da Eun membuka kotak itu perlahan.

Di dalamnya hanya ada tiga benda.

Sebuah foto Hyejin.

Jam pasir kecil.

Dan secarik kertas.

Da Eun membaca isi surat itu dengan suara pelan.

"Detektif Kim...

Kalian sudah menemukan jejakku.

Sekarang biarkan aku menemukan orang yang paling berharga bagi kalian.

Waktu terus berjalan."

Ruangan mendadak sunyi.

Tatapan semua orang perlahan beralih kepada Hyejin.

Jam pasir itu mulai mengalir, seolah menjadi hitungan mundur.

Hyejin menarik napas dalam.

"Sunbae..."

Da Eun menatap foto di tangannya dengan sorot mata yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Bukan sekadar marah.

Melainkan tekad seorang polisi yang kini menghadapi musuh yang berani mengancam orang yang ingin ia lindungi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!